Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 69) "Penolakan Luna"


__ADS_3


Riders, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya ISTRI CANTIK MAFIA KEJAM tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗🤗


-


"Untuk apa kau mengajakku bertemu di sini?"


Soojin meletakkan cangkir kopinya ke tempat semula setelah kedatangan Luna. Wanita itu mengangkat wajahnya seraya mengurai smrik tipis di sudut bibirnya. "Duduklah dulu, tidak perlu terburu-buru. Aku hanya tidak ingin kita menjadi canggung satu sama lain." Ujarnya. Soojin memanggil salah seorang pelayan cafe dan memesankan minuman untuk Luna


"Kita bisa bincang-bincang dari hati ke hati." Imbuhnya.


"Tapi sayangnya waktu-ku terlalu berharga untuk mendengarkan semua omong kosongmu. Jika kau memanggilku kemari hanya untuk mendengarkan basa-basimu saja, lebih baik aku pergi." Ujar Luna seraya bangkit dari duduknya.


"Tinggalkan, Zian!!"


Tapp..!!


Luna menghentikan langkahnya setelah mendengar permintaan Soojin. Wanita itu menoleh dan menatap dingin pada mantan istri suaminya tersebut. "Apa maksudmu?" Tanya Luna meminta penjelasan.


Soojin menghampiri Luna dengan langkah angkuh."Apakah kata-kataku masih belum jelas untukmu? Tinggalkan, Zian dan pergi sejauh mungkin dari hidupnya." Pintanya sekali lagi.


Luna menyeringai sinis. "Meninggalkan, Zian oppa? Kenapa aku harus melakukannya? Aku tidak mau." Tegas Luna. "Lagi pula, Zian oppa sendiri yang lebih memilihku di bandingkan dirimu. Jika kau memang mencintainya. Lalu kenapa dulu kau mencampakkannya, aku tau jika dalam pernikahan kalian tidak ada cinta di dalamnya."


"Tapi jika kau benar-benar mencintainya, seharusnya kau berjuang dan berusaha lebih keras lagi untuk membuat dia menatapmu bukan malah meninggalkannya. Dan lagi pula aku memiliki sebuah alasan yang sangat kuat untuk tetap berada di sisinya. Jadi jangan pernah berharap jika aku mau melepaskan dia untukmu, karena sampai katak beranak kadal sekalipun aku tidak akan melepaskan dia untuk siapapun. Soo, jangan bermimpi untuk memilikinya lagi." Luna menepuk pipi Soojin yang kemudian tangannya di sentak cepat oleh wanita itu.


"Sialan kau!!"


"Ketahuilah, Soojin-ssi. Jika saat ini aku sedang mengandung anak Zian dan janin ini adalah bukti dari cinta kami berdua. Zian oppa, sangat mencintaiku dan begitu pula sebaliknya. Jadi...!" Luna mengantung ucapannya lalu menghampiri Soojin. "Jangan pernah berharap untuk mengambilnya dariku karna sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskan dia untuk siapa pun. Termasuk dirimu." Bisik Luna dengan seringai tajam penuh kemenangan. Bahkan Luna sampai berpura-pura hamil demi membuat hati Soojin semakin memanas.


"Kaaauuuu...!" geram Soojin sambil mengacungkan tangannya di depan wajah Luna.


Luna menepis tangan Soojin dan menatapnya tak suka. "Jauhkan tanganmu itu, Bibi!! Kau sangat tidak sopan,"


Sementara itu...


Gadis itu kebingungan ketika pria tampan yang jalan bersamanya tiba-tiba menghentikan langkahnya dan mengintip ke dalam cafe dari jendela kaca di samping kanan mereka. Kedua mata pria itu menyipit guna memastikan jika tidak ada yang salah pada penglihatannya.


"Omo? Bukankah itu, Luna? Sedang apa dia dan penyihir itu di sana?" serunya dengan kedua mata membelalak sempurna.


"Adrian Lee. Sebenarnya apa yang kau lihat? Ayo, kita bisa terlambat. Aku tidak ingin kehabisan barang bagus jika sampai datang terlambat."


"Kau pergi saja sendiri. Ada hal penting yang harus aku lakukan. Aku pergi dulu."


Adrian meninggalkan gadis itu sendiri di sana. Bahkan dia tidak peduli dengan panggilan dan teriakkan gadis itu yang berteriak dan memintanya untuk berhenti. Bahkan dia mengancam untuk putus tapi tetap tidak di hiraukan oleh Adrian. Padahal belum genap satu jam mereka berdua jadian dan menjadi sepasang kekasih.


Adrian harus pergi ke kantor Zian sekarang juga dan memberi tau dia mengenai pertemuan Luna dan Soojin. Adrian takut jika wanita gila itu sampai melakukan sesuatu pada Luna mengingat jika mantan istri Zian adalah wanita yang nekad.


-

__ADS_1


Brakkk...!!!


Dobrakan keras pada pintu mengalihkan perhatian tiga orang yang sedang melakukan pembicaraan penting di dalam ruangan bernuansa putih tersebut. Di dalam ruangan itu ada Zian, Reno dan seorang pria setengah baya yang Adrian ketahui sebagai Hans William yang tak lain dan tak bukan adalah ayah kandung Luna dan Viona.


"Apa kau tidak memiliki sopan santun, Adrian Lee," geram Zian sambil menatap Adrian tidak senang.


Tanpa menghiraukan tatapan mengintimidasi Zian, Adrian melangkah memasuki ruangan itu dan menghampiri Zian dengan nafas naik turun seperti habis berlari maraton.


"Gawat, Zian gawat. Aku melihat, Luna bertemu dengan, Soojin di cafe langganan kita. Mereka terlihat seperti beradu argument tapi aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan dengan jelas karna jarak kami terlalu jauh. Aku cemas jika wanita gila itu akan melakukan sesuatu yang buruk pada Luna, kau tau sendiri bukan bagaimana ular betina itu. Zian, sebaiknya kau segera ke sana dan susul mereka sebelum nenek sihir itu melakukan sesuatu yang buruk pada, Luna,"


Kedua mata Zian membelalak. "Apa?" dan memekik kaget mendengar penuturan Adrian.


Tanpa berfikir panjang dan menghiraukan semua orang di dalam ruangan itu, Zian bergegas pergi. Pria itu menyambar mantel hitamnya dan pergi ke cafe di mana Luna dan Soojin bertemu. Ia memiliki firasat buruk tentang hal ini. Zian sangat takut bila wanita itu sampai melakukan sesuatu pada Luna mengingat bagaimana sifat Soojin.


Mobil yang Zian kendarai terlihat melaju kencang pada jalanan yang lumayan legang. Sepasang mutiara abu-abunya fokus pada jalanan di depannya. Dalam hatinya Zian bersumpah, dia akan membunuh Soojin dengan tangannya jika wanita itu sampai berani melukai Luna.


Dan setibanya di sana. Zian melihat beberapa orang memegangi Soojin yang sepertinya sedang mengamuk. Dan beberapa orang lagi bersama Luna mencoba menenangkan wanita itu supaya tidak terpancing juga. Zian mempercepat langkahnya dan bergegas masuk ke dalam cafe.


"YAKK..!! APA YANG KALIAN LAKUKAN? LEPASKAN AKU DAN BIARKAN AKU MENGHABISI WANITA ITU." Amuk Soojin sambil terus berontak.


"Tenanglah, Nyonya. Atau kami akan membawamu ke rumah sakit jiwa." Ancam salah seorang pengunjung yang memegangi wanita itu.


"AAARRKKHH...!! KALIAN SEMUA MEMANG BRENGSEK, JANGAN IKUT CAMPUR URUSANKU. LEPASKAN AKU DAN BIARKAN AKU MEMBUNUHNYA. WANITA SIALAN ITU HARUS MATI DI TANGANKU, LEPASKAN BRENGSEK." Teriak Soojin yang semakin tidak terkendali.


"Tolong bawa wanita itu ke rumah sakit jiwa. Dia mulai tidak waras." Seru seseorang dari arah belakang. Sontak saja semua orang di cafe tersebut menoleh.


"Oppa." Seru Luna kemudian menghampiri Zian.


"Hhmm." Luna mengangguk.


"KAU MEMANG BRENGSEK, ZIAN QIN. AKU PASTI AKAN MEMBALAS PENGHINAAN INI. YAKKK...!! LEPASKAN AKU, AKU TIDAK GILA, AKU TIDAK GILA." Soojin terus saja berteriak di sepanjang jalan sambil melempari Zian dengan berbagai sumpah serapahnya dan berkali-kali juga Soojin mengatakan jika dia akan membunuh Luna.


Pandangan Zian kemudian bergulir pada Luna. Zian mendesah berat. "Kita pulang." Ucap Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.


Tiba-tiba Luna menghentikan langkahnya membuat Zian mau tidak mau ikut berhenti juga. "Tapi, Oppa. Ngomong-ngomong bagaimana kau bisa tau jika aku bertemu dengan ular betina itu?" tanya Luna penasaran.


"Adrian, yang memberitahuku. Kebetulan dia tidak sengaja melihatmu berdebat dengan, Soojin," jawab Zian.


"Ahhh, jadi begitu. Oppa, setelah ini kau mau pergi kemana lagi? Apa kau mau kembali ke Kantor?" tanya Luna memastikan.


"Hn, ada pertemuan penting tiga puluh menit lagi. Bagaimana kalau kau ikut ke Kantor saja?" usul Zian yang kemudian di sambut antusias oleh Luna.


"Aku rasa bukan ide buruk, baiklah aku akan ikut ke Kantor denganmu,"


.


.


Luna kembali menghela naplfas dalam untuk yang kesekian kalinya. Rasanya dadanya sangat sesak. Dua jam terjebak dalam ruangan tertutup tanpa melakukan sesuatu membuatnya mulai merasa bosan. Bibirnya mengerucut sebal dengan atensi yang sedang dipandangnya.

__ADS_1


"Oppa, tidak adakah hal seru yang bisa kulakukan?" keluh wanita cantik itu tanpa mengalihkan tatapannya dari Zian yang tengah sibuk dengan tumpukan dokumen di atas meja karjanya.


Zian mengalihkan perhatiannya kemudian menoleh menghadap pada Luna. Manik tegasnya menyiratkan sebuah pertanyaan, 'apa?' pada atensi coklat terang yang sedang duduk di sofa.


Luna mendesah lalu membawa punggungnya untuk bersandar dengan nyaman pada sandaran sofa tempat ia duduk. Wanita itu menundukkan kepalanya dan mulai memainkan jari-jari lentiknya pertanda jika ia benar-benar bosan.


"Oppa, lihatlah ikan-ikanmu di dalam akuarium itu, mereka berdua bertingkah seolah-olah sedang mengejekku!" wajahnya memutar dan tangannya menunjuk akuarium di samping kanan meja kerja Zian.


Lantas Zian menggulirkan tatapannya, menghadap akuarium di sampingnya. Tak ada yang salah; pikirnya. Dua ikan miliknya hanya saling memutari tubuh mereka satu sama lain. Lalu, ia kembali memfokuskan netranya pada Luna yang juga menatap padanya.


"Kenapa?" tanyanya.


Luna mendengus. Dasar tidak peka; pikirnya kesal. Luna mengambil bolpoin milik Zian yang tergeletak di atas meja. "Ayolah, Oppa! Sudah dua jam aku diam di sini tanpa kepastian, dari tadi aku hanya diam tanpa melakukan hal berarti. Dan dua ikan milikmu itu.." tangannya kembali menunjuk ke arah akuarium. Luna mencerutkan bibirnya, "Mereka saling memutari tubuh satu sama lain seperti halnya sepasang kekasih yang sedang berkencan."


Zian mendengus geli. Melihat ekspresi Luna membuat dia tak tahan untuk tidak menjitak kepala coklatnya. "Kau bosan?" tanya Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.


"Tentu saja aku bosan. Memangnya siapa yang tidak akan bosan jika hanya diam seperti orang bodoh tanpa melakukan apapun, seandainya saja kau ada di posisiku. Pasti kau juga akan merasakannya," tutur Luna. Wanita itu menyipitkan matanya.


Zian masih setia menatap wajah sebal Luna yang menurutnya sangat menggemaskan itu, dan mendengar gerutuannya memberikan hiburan tersendiri untuk Zian. "Lalu kau ingin supaya aku melakukan apa?"


Luna sedikit melonjak dari duduknya. Zian nyaris saja membuatnya terkena serangan jantung karna tiba-tiba ada di sampingnya.


"Bukankah tadi kau yang mengajakku kemari? Tapi setibanya di sini kau malah mengabaikan dan mengacuhkanku. Apakah hal itu adil untukku?" celoteh Luna sambil mencerutkan bibirnya.


Zian tertawa renyah melihat muka sebal milik istri cantiknya ini. Ia menarik pelan ujung hidung mancung sang istri dan mulutnya berujar. "Kau marah?" tanya Zian kemudian mencium singkat bibir Luna.


Kemudian Luna menarik tangan Zian yang menakup kedua pipinya. "Oppa, lepas! Sakit!" jerit Luna.


Zian lagi-lagi tertawa semakin keras dan langsung menurunkan tangannya dari pipi Luna. Zian memang paling suka melihat wajah kesal Luna, karna menurut Zian wanita itu sangatlah menggemaskan.


Kemudian Zian bangkit dari duduknya tanpa mengindahkan tatapan sebal Luna padanya, Zian menepuk pelan celana bahanya yang sedikit kusut akibat terlalu lama duduk. Pria itu kemudian mengulurkan tangannya ke arah Luna seraya tersenyum tipis.


"Ayo pergi keluar! Hari ini aku akan mengikuti kemanapun kau ingin pergi."


Luna tersenyum lebar dan langsung menyambut uluran tangan Zian dengan hati berbunga. Zian memang paling tau bagaimana caranya mengembalikan suasana hati Luna yang buruk. Zian Qin, kau memang suami idaman!!


-


"KYYYAAA....!!"


Rio menjerit histeris ketika dirinya, Satya dan Frans menginjakkan kakinya di pantai. Mata mereka langsung disambut dan dimanjakan oleh kumpulan pasukan biki** yang baru saja melintas di depan mereka berdiri.


Susah payah Satya menelan salivanya melihat bagaimana bentuk melon perempuan-perempuan itu yang besar dan berisi. Sampai-sampai Satya membayangkan ketika dirinya di manjakan oleh mereka dengan memberinya asupan vitamin A.


Seolah tak ingin melewatkan kesempatan emas yang mereka miliki. Ketiga pemuda itu menyusul pasukan biki** yang berjalan ke bibir pantai. Setidaknya mereka mendapatkan ciuman manis dari mereka.


"Paman, saatnya kita berpesta!!!"


-

__ADS_1


Bersambung.


.......


__ADS_2