
Baca dan like koment juga new novel Author ya. Dijamin seru apalagi yang suka cerita Vampire.
-
Tak sedetik pun Viona melepaskan pelukkannya pada tubuh suaminya. Viona takut jika pelukkan itu terlepas maka Kevin, bukan tapi Nathan akan menghilang lagi dari jangkauan matanya. Dan Viona tidak menginginkan hal tersebut terjadi lagi. Cukup satu kali dia kehilangan Nathan, dan Viona tidak ingin hal serupa terjadi untuk yang kedua kalinya.
Viona menutup matanya saat merasakan kehangatan pelukkan pria itu pada tubuhnya. Kehangatan yang sangat Viona rindukan. "Oppa. Jika kau memang masih hidup, lalu kenapa kau tidak pernah datang menemuiku? Dan bagaimana mata kirimu bisa normal kembali?" tanya Viona penasaran. Wanita itu mengangkat wajahnya.
"Ceritanya sangat panjang. Aku melakukan operasi secara bertahap demi mendapatkan mata kiriku kembali. Karna jika mata kiriku tetap cacat, maka aku akan lebih mudah untuk dikenali. Bukan hanya operasi pada mata kiriku saja, tapi aku juga merubah pola pada tribal dilenganku.
Setelah operasiku selesai, kemudian aku merubah identitasku menjadi Kevin Xiao. Dan sejak saat itu nama Nathan sudah mati. Sekarang aku lebih dikenal dengan nama Kevin Xiao, sibartender." Jelas Nathan panjang lebar.
"Dan siapa bilang jika aku tidak pernah datang menemuimu. Bahkan aku selalu mengawasimu dan melindungimu dari orang-orang yang ingin menyakitimu. Aku selalu ada disampingmu, hanya saja kau tidak tidak menyadarinya," ujar Nathan.
"Jadi mulai sekarang kau tidak ingin dipanggil Nathan Oppa lagi? Hm, baiklah mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan sebutan Kevin Oppa saja,"
Nathan menggeleng. "Tidak, kau boleh tetap memanggilku Nathan jika kita sedang berdua saja. Tapi saat bersama orang lain aku akan tetap menjadi orang asing bagimu. Kita harus pura-pura tidak saling mengenal, aku harap kau bisa bersabar sebentar lagi. Setelah semuanya selesai aku akan kembali menjadi Nathan yang kau kenal dulu,"
Viona mengangguk."Baiklah, aku mengerti." Nathan menarik bahu Viona dan membawa wanita itu kedalam pelukkannya. Dagu Nathan bersandar pada kepala coklat Viona. "Oppa, bisakah kau menunjukkan tribal barumu padaku?" Viona mengangkat wajahnya dan menatap Nathan penuh harap. Nathan mengangguk.
Nathan melepas jaket hitamnya dan menyisahkan tanktop putih yang melekat pas ditubuh kekarnya. Viona terpaku melihat bagaimana indahnya tribal itu menghiasi lengan kanan suaminya, sempurna. "Mereka sangat indah, Oppa," ucap Viona sambil meraba permukaan lengan kanan Nathan yang terhiasi tribal.
"Kau menyukai mereka?"
Viona mengangguk. "Ya, aku sangat menyukainya." Jawabnya.
"Keadaanmu sudah semakin membaik dan dokter juga mengijinkanmu untuk pulang. Aku sudah membawakan pakaian ganti untukmu. Setelah ini aku akan mengantarmu pulang,"
Viona menggeleng. "Aku tidak mau pulang. Bisakah malam ini kita bersama? Aku sangat-sangat merindukanmu, Oppa. Bagaimana kalau kita bermalam diapartemenku saja?" usul Viona memohon.
Nathan menatap wajah Viona kemudian mengangguk. "Aku rasa tidak buruk," jawab Nathan dan membuat senyum di bibir Viona menggembang lebar.
"Yee.. Kau memang yang terbaik Oppa, aku semakin mencintaimu," ucap Viona lalu berhambur ke dalam pelukkan Nathan. Nathan menari sudut bibirnya dan tersenyum tipis. Pria itu mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukkan Viona
.
.
Matahari pagi mulai menyinari kota Seoul. Rumput-rumput yang basah oleh embun terlihat berkilau ketika mentari bersinar semakin terang. Burung-burung gereja berterbangan dan hinggap di jendela kamar Viona. Cicitan burung gereja yang bermain di jendela kamar membuat wanita itu terbangun dari tidur lelapnya.
Jendela kamar yang tidak tertutup rapat membuat cahaya matahari menembus kelopak mata Viona. Wanita berhelaian coklat gelap itu perlahan membuka mata dan pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah sosok tampan yang sedang terlelap dalam tidurnya.
Sudut bibir Viona tertarik keatas. Viona mengangkat tangan kanannya yang kemudian ia arahkan pada wajah Nathan. Viona menyusuri wajah tampan suaminya mulai dari mata, hidung kemudian turun menuju bibir kissablenya.
__ADS_1
Dan rasanya Viona masih tidak percaya jika Nathan ternyata masih hidup setelah jasadnya ditemukan meninggal didasar jurang sekitar lima bulan yang lalu. Tapi ternyata jasad itu bukanlah Nathan, melainkan orang lain.
Viona mendekatkan wajahnya kemudian mengecup singkat bibir kemerahan suaminya. "Morning," sapa Viona saat melihat Nathan membuka kedua matanya.
"Morning Sayang," Nathan beranjak dari posisinya kemudian duduk bersandar disampingViona. "Bagaimana tidurmu semalam?"
"Sangat nyenyak, setelah lima bulan baru malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak. Oya, Oppa. Kau ingin aku masakan apa untuk sarapan pagi ini?" tanya Viona memastikan.
Nathan menggeleng. "Tidak perlu repot-repot, aku harus segera pergi. Ada hal yang masih harus ku urus pagi ini. Segera bersiaplah, aku akan mengantarmu pulang. Dan sebaiknya kau makan bersama Kakek dan bocah-bocah itu saja," ucap Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Viona.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan bersiap-siap sekarang," Viona mengecup singkat bibir Nathan dan meninggalkannya begitu saja.
Viona seperti mendapatkan kembali semangat hidupnya setelah dia tau jika Nartah masih hidup dan kembali kesisinya. Viona sangat bahagia, sampai-sampai ia ingin menangis sepanjang hari. Tapi Viona tak ingin melakukannya karna tidak ingin disebut cenggeng jika Nathan melihatnya.
Dering pada ponselnya mengalihkan perhatian Nathan. Pria itu bangkit dari duduknya untuk menganbil ponselnya yang semalam dia letakkan di atas meja disudut kamar Viona. Nama Theo menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. "Ada apa kau menghubungiku?" tanya Nathan to the poin.
"Tuan Nathan. Wanita itu membuat keributan dan melukai dirinya sendiri. Sepertinya dia mengancam kita dengan cara percobaan bunuh diri. Apa kami perlu mengambil tindakkan keras untuk mengatasinya?"
"Hn, tidak perlu. Biarkan saja, dan jika dia memang benar-benar ingin bunuh diri, dia pasti tidak akan ragu untuk melakukannya. Aku tau jika dia hanya mengertak saja. Jika perlu sediakan pisau, racun dan tali untuknya.
Biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan. Tetap waspada, pasti saat ini Doris sedang mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan wanitanya. Wanita itu adalah pion untuk kita menghancurkam bajingan tua itu. Jadi lakukan saja apa yang seharusnya kau lakukan,"
"Baik Tuan, saya mengerti,"
"Baiklah, Sayang," Nathan menakup wajah Viona kemudian mengecup singkat bibirnya. Ia beranjak dan berjalan menuju kamar mandi.
Sembari menunggu Nathan selesai mandi, Viona terlihat memilah kemeja mana yang akan suaminya pakai pagi ini. Viona tersenyum lebar, dan pilihannya jatuh pada sebuah vest hitam berkombinasi abu-abu gelap pada bagian belakang serta celana bahan hitam. Tak ada kemeja ataupun t-shirt selain jas yang senada dengan warna celananya.
Viona sedang merias wajahnya ketika sosok Nathan keluar dari kamar mandi. Aroma maskulin yang begitu khas langsung menyerbu dan berkaur di dalam hidung mancung Viona ketika pria itu keluar dari dalam sana.
Nathan mendengus berat saat melihat pakaian yang tergeletak di atas tempat tidur. Dan Nathan tak memiliki pilihan lain selain memakainya, karna jika tidak maka akan sangat fatal akibatnya.
"Huaa.. Oppa, lihatlah betapa tampannya dirimu. Bukankah aku istri yang hebat,". seru Viona membanggakan diri.
"Hn,"
"Tunggu apa lagi? Segera pakai pakaianmu dan aku akan menunggu di luar. Satu lagi, jasnya dipakai nanti saja ya setelah aku tiba di rumah. Si kembar mengatakan jika mereka sangat merindukan Papanya," ujar Viona. Nathan mendengus geli. Dengan gemas Nathan menjitak kepala coklat Viona kemudian mencium bibir ranumnya.
"Dasar kau ini. Tidak berubah sama sekali. Selalu saja suka memaksakan kehendak," cibir Nathan dan menbuat Viona terkekeh. Wanita itu melenggang keluar daneninggalkan Nathan begitu saja.
Sudut bibir Nathan tertarik keatas. Melihat senyum lebar dibibir Viona membuat perasaan Nathan menghangat. Tak ingin membuat Viona menunggu terlalu lama, Nathan segera memakai pakaiannya.
.
.
__ADS_1
Usai mengantarkan Viona kembali ke Mansion Kakek Xi. Nathan segera pergi ke tempat dimana dia menyekap Tiffany. Dan bukan tanpa alasan kenapa Nathan sampai melibatkan wanita itu juga, karna dia adalah salah satu akar masalah dari semua hal buruk yang menimpa keluarganya.
Theo menghampiri Nathan saat melihat kedatangan Tuanya. "Tuan Kevin, Anda sudah datang?" ucapnya.
"Bagaimana keadaan wanita itu?"
"Dia terus saja berteriak dan memohon untuk dilepaskan. Dia berkali-kali mencoba untuk melukai dirinya sendiri tapi sayangnya dia tidak benar-benar memiliki keberanian untuk melakukannya. Apakah Anda ingin melihatnya?"
"Hn,"
Theo membuka pintu di depannya dan memlersilahkan Nathan untuk masuk. Tiffany langsung mengangkat wajahnya saat mendengar derap langkah kaki seseorang yang datang.
Tiffany buru-buru berdiri dan menyambar tongkat besi yang ada dibelakang pintu kemudian bersembunyi di sana. Karna itu adalah kesempatan untuk dia bebas dari tempat ini.
"Tuan, silahkan,"
Brugg..!!
"TUAN KEVIN!!" Theo berteriak melihat darah segar memgalir dari pelipis kanan Nathan yang terhantam oleh besi yang dilayangkan oleh Tiffany. "YAKK!! JALANG, APA YANG KAU LAKUKAN PADA TUAN KEVIN. HAN!" amuk Theo pada Tiffany.
"Sial, padahal aku ingin menbuatnya mati." Ucap Tiffany dengan lantang. "Aah," Tiffany menjerit ketika punggungnya bertabrakkab dengan tembok dengan cukup keras. Tiffany merasa jika punggungnya seperti mau patah. "Aaahh, apa yang kau lakukan? Le-lepaskan aku. Ka-kau membuatku tidak bisa bernafas!!"
PLAKK..
Nathan melepaskan cekikannya pada leher Tiffany lalu menampar pipinya dengan keras. "Bagus aku hanya membuatmu tidak bisa bernafas, karna bisa saja aku mengirimu keneraka!!"
"Na-Nathan?" seru Tiffany terbata-bata.
Nathan memicingkan matanya. "Nathan? Siapa dia? Nona, kau menhenali orang yang salah. Karna aku bukanlah Nathan, tapi Kevin Xiao. Dan alasanmu di sini karna Doris Lu. Dia mempunyai hutang padaku dalam kumlah besar, karna dia tidak mampu melunasi semua hutang-hutangnya, maka aku menggunakanmu sebagai gantinya!!"
"Brengsek kau, Kevin Xiao!!"
"Tapi Doris-lah yang jauh lebih brengsek. Theo, siksa wanita ini. Kalau perlu buat dia buta dan lumpuh," perintah Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Theo.
"Baik Tuan,"
"KEVIN XIAO, KAU BENAR-BENAR BRENGSEK!!"
-
Bersambung.
Visual Theo Alvaro, tangan kanan baru Nathan....
__ADS_1