
"Oh, shit."
Derry melempar koran paginya setelah membaca berita didalamnya. Dalam koran itu, Derry menemukan sebuah artikel yang mengatakan jika saat ini perusahaan miliknya sedang berada diambang kehancuran. Beberapa Investor menarik sahamnya dan banyak data-data penting perusahaannya yang dicuri oleh orang misterius.
Orang jahat akan selalu lebih unggul dari pada orang baik. Bukankah itu sebuah ironi yang sangat menggelitik? Tapi Ironi itu tidaklah salah, karna dalam dunia perbisnisan sikap licik itu mutlak diperlukan. Dan semua itu semata-mata demi keuntungan dan hidup enak. Begitulah prinsip yang dipegang teguh oleh Derry sepanjang hidupnya selama tiga puluh tahun sejak dia mengenal yang dinamakan dunia perbisnisan. Derry akan rela melakukan apapun demi tercapainya semua yang menjadi tujuan dalam hidupnya termasuk menghianati kepercayaan sahabatnya sendiri.
Selama tiga puluh tahun lebih, perusahaan milik Derry selalu berada dipuncak kejayaan.. tidak ada satupun pesaing bisnisnya yang mampu mengalahkannya dan hal itu pula yang membuat Derry Ardinata menjadi semakin besar kepala dan merasa jika dirinyalah orang yang paling hebat di dunia. Namun selama lima tahun belakangan ini perusahaannya mulai mengalami masalah sejak kemunculan perusahaan baru yang menjadi saingan terberatnya.
Menurut informasi yang dia dapatkan, perusahaan itu dipimpin oleh seorang CEO muda yang sangat tampan.. tapi sayangnya Derry belum pernah bertemu dengan pimpinan perusahaan itu karna dia selalu menolak ketika Derry mengajaknya untuk bertemu.
Di samping itu, ada pihak dalam yang menghianatinya secara diam-diam. Salah satu orang kepercayaannya yang sudah bekerja selama 10 tahun padanya ternyata menghinati dirinya. Secara diam-diam, orang itu menyelundupkan saham dan ide-ide pengembangan perusahaan miliknya pada perusahaan saingannya.
Alasannya apa lagi jika bukan karna... uang dan sebuah kedudukan. Uang yang ditawarkan oleh perusahaan saingan Derry membutahkan mata orang itu dan memutuskan untuk berhianat. Selain sebagai penghianat, orang itu juga merupakan mata-mata yang ditugaskan untuk mengawasi segala aktifitas perusahaan Derry dari dalam.
Dan kini Ia harus menelan kenyataan pahit akan kenyataan yang tidak bisa lagi diputar balik .
Bangkrut, pailit...
Itulah sebutan yang layak untuk kondisi perusahaannya saat ini. Bukan hanya perusahaan saja yang terancam lenyap, namun juga rumah, tanah, semua harta dan aset miliknya pun terancam lenyap demi menutupi hutang-hutangnya. Dan harapan Derry hanya terletak pada Leo, bila Leo bisa mendapatkan stempel yang berada ditangan Viona... maka untuk mengembalikan kejayaan perusahaannya masih ada harapan. Karna hanya harta milik keluarga Viona-lah satu-satunya yang menjadi harapan Derry saat ini.
Derry mengangkat wajahnya mendengar derap langkah kaki yang semakin mendekat. Laki-laki setengah baya itu memicingkan matanya melihat Leo datang sambil membawa rekan kesayangannya yang merupakan sebuah pistol dan belati kecil. "Mau kemana, kau? Dan untuk apa senjata-senjata itu?"
Tapp!!
Leo menghentikan langkahnya kemudian menghampiri sang ayah dengan senyum cerah, secerah langit pagi ini. "Untuk menyingkirkan hama, hama yang menjadi benalu untukku mendapatkan berlian yang seharusnya menjadi milikku. Aku akan menyingkirkan benalu itu dan merebut kembali sesuatu yang seharusnya menjadi milikku, menjadi pohon uang untuk kita. Soo, doakan saja semuanya berjalan semestinya."
Derry menatap datar putranya. Ia tidak tau apa lagi yang saat ini tengah direncanakan oleh Leo. Derry mengangkat bahunya acuh, ia tidak ingin memikirkannya dan terlalu ambil pusing dengan apa yang akan dilakukan oleh putranya. Dibandingkan mengurusi masalah pribadi Leo, ada hal lain yang lebih penting lagi yang harus ia lakukan saa ini... yakni menemukan jalan keluar untuk mengatasi semua masalah yang kini menderanya.
-
"Hei Alan Hong, aku merasa heran sekaligus penasaran denganmu. Di antara kita berempat, hanya dirimu yang masih betah melajang sampai detik ini. Memangnya wanita seperti apa yang kau inginkan sebagai pendampingmu kelak? Jangan bilang jika kau juga sangat ribet dalam urusan percintaan seperti saat kau memilih pakaian." cerocos Eddo tanpa jeda.
Entah apa yang terjadi pada pria berpipi bakpao itu hingga menjadi secerewet itu, padahal biasanya kan Bima yang paling berisik diantara yang lainnya.. namun hari ini justru Eddo-lah yang paling berisik.
__ADS_1
"Kau mengenalku dengan sangat baik, Kim Eddo. Kau pasti tau bukan wanita seperti apa yang menjadi tipeku dan aku tidak ingin asal pilih sepertimu yang ujung-ujungnya kau ditinggal menikah oleh pasanganmu." jawab Alan sambil sesekali menghisap rokok yang diapit oleh kedua jarinya. "Dan berhentilah pria menjadi menyebalkan yang selalu ingin tau urusan pribadi orang lain." lanjutnya.
Senyum dibibir Eddo pudar detik itu juga, Eddo menekuk wajahnya sambil mencerutkan bibirnya. "Jahat." timpalnya tidak terima.
Lalu semua mata kini tertuju pada Nathan yang sejak tadi tidak bersuara, laki-laki itu memicingkan matanya melihat tatapan teman-temannya. "Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanyanya heran.
Kini fokus Eddo sepenuhnya tertuju pada Nathan. "Tuan Muda Lu, bagaimana dengan kelanjutan hubunganmu dengan Park Cherly? Rencananya kapan kalian akan menikah?" tanya Eddo penasaran.
"Uhukk.. Uhukk.." yang mendapatkan pertanyaan Nathan, tapi malah Bima yang tersedak minumannya saat Eddo mengungkit tentang kisah cintanya dengan adik satu ayah dengannya itu. "Yakk!! Tidak bisakah kalian tidak membahas apapun tentang gadis manja itu!! Dan asal kalian tau saja, Nathan sudah menikah dan saat ini dia hidup bahagia dengah istri tercintanya."
Nathan memijit keningnya, Ia tidak tau kenapa Bima menjadi begitu sensitive saat seseorang mengungkit tentang adiknya itu. Sejak awal Bima tidak menyetujui hubungan Nathan dengan Cherly, bukan karna Bima tidak ingin jika Nathan menjadi iparnya namun karna dia tau wanita seperti apa Cherly itu. Bima hanya tidak ingin sahabatnya kecewa karna kelakuan adiknya tersebut.
Dan pengakuan Bima sontak saja membuat Eddo dan Alan membelalakkan matanya. "Benarkah?" seru mereka dengan kompak. Nathan mengangguk membenarkan. "Lalu kenapa kau tidak mengundang kami?" lagi-lagi mereka menjawab dengan kompak.
"Memangnya itu penting ya? Lagi pula itu sudah berlalu jadi untuk apa dibahas lagi?"
Nathan tidak bermaksud menyembunyikan pernikahannya dari teman-temannya. Hanya saja pernikahannya dengan Viona malam itu dilakukan begitu mendadak, bahkan tanpa persiapan apapun. Nathan boleh dianggap gila karna menikahi Viona hanya selang beberapa jam saja setelah gadis itu setuju untuk menikah dengannya. Soal pesta itu urusan belakangan karna yang paling penting adalah Viona menjadi miliknya yang sah.
Selain Bima dan kedua sahabat Viona, memang tidak ada orang luar yang Nathan undang untuk datang kepernikahannya malam itu. Viona mengatakan jika dia tidak menyukai pesta yang meriah dan Nathan hanya berusaha mengabulkan keinginan gadis itu.
"Nathan, kau mau kemana?" tanya Bima melihat Nayhan berdiri seraya menyambar jas-nya.
"Menjemput Viona." jawabnya dan berlalu begitu saja.
Nathan berjalan tenang menuju parkiran, dan tanpa sadar jika ia sedang di ikuti dari belakang. Orang itu berjalan mengendap-endap menunggu saat yang tepat untuk menyerang Nathan.
Dan saat merasa keadaan aman dan terkendali, tanpa membuang lebih banyak waktu orang itu langsung menyerang Nathan dengan melukai lengan kirinya... dan ketika Natha menolehkan kebelakang. Orang itu langsung melayangkan belatinya pada wajah Nathan, luka memanjang tampak pada bawah mata kanan-nya yang langsung mengucurkan darah segar. Orang itu hendak melayangkan serangan ketiganya namun berhasil ditahan oleh Nathan.
Brugg!!
Tubuh orang itu terhuyung kebelakang karna tendangan telak pada ulu hatinya. "Aaarrrkkhhh!! Brengs**, kenapa kau melah menendangku eo? Apa kau tidak tau itu sangat sakit." amuk pria bermasker seraya menatap tajam pada Nathan. "Aaarrrkkkhhh." laki-laki itu kembali mengeram karna injakan Nathan pada salah satu tangannya. "Sakit bodoh, jangan menginjak tanganku."
Sregg!!
__ADS_1
Dengan kasar Nathan menarik kain yang menutupi sebagian wajah laki-laki penyerangnya. "Oh , kau rupanya." Nathan menyeringai sinis etelah melihat wajah dibalik masker itu "Jadi kau ingin menghabisiku? Begitu?" ucapnya meremehkan. Seringai kembali mengembang dibibirnya.
Laki-laki itu menggepalkan tangannya. "Ya, dan untuk itu aku berada di sini sebagai dewa mautmu." teriak laki-laki itu yang tak lain adalah Leo.
Leo mengangkat kembali tangan kanannya yang masih menggenggam belati kecil yang semula dia gunakan untuk melukai wajah dan lengan Nathan. Leo mengarahkan kembali belati itu pada wajah Nathan yang cukup dekat dengannya, kembali... satu sayatan melukai atas alis kanannya.
"Aku rasa sudah cukup pemanasan darimu." ucap Nathan dengan tenang. Bhkan dia tidak terlihat kesakitan sedikit punl Luhan menyeka darah yang ada dibawah mata dan atas alis kanannya seraya menegakkan tubuhnya. Laki-laki itu memutar tubuhnya dan..
Brugg!!
Sebuah tendangan telak mengarah pada rahang Leo membuat beberapa giginya lepas karna kencangnya tendangan kaki Nathan. "Aarrrkkhh!! Gigiku, yakkk... bajing**, aku yang ingin menghabisimu tapi kenapa malah kau yang menyerangku? Aarrrkkhhhh... sakittt." jerit Leo sambil memegangi mulutnya yang terus mengucurkan darah segar.
Leo mundur dalam posisi duduknya ketika Nathan mendongkan wajahnya kemudian menarik kemeja yang Leo kenakan "Ma-mau apa kau?" Leo sedikit gemetar melihat tatapan tajam Nathan yang terasa menusuk.
"Aku peringatkan padamu, Leo Ardinata. Sebaiknya berfikirlah dua kali sebelum aku membuat masalah denganku. Aku tidak akan segan-segan untuk melukaimu lebih dari ini jika kau berani mengusik ketenagan rumah tanggaku apalagi sampai membahyakan hidup Viona. Ketahuilah, jika yang berdiri dihadapanmu ini bukanlah manusia melainkan Iblis yang tidak berhati.. ingat baik-baik ini." Dengan kasar Nathan mendorong tubuh Leo hingga terjerembat kebelakang.
"Pamannn//Hyunggg." Rio, Satya dan Frans memekik sekencang-kencangnya ketika tanpa sengaja mereka melihat Nathab yang dalam keadaan berlumur darah.
Ketiga pemuda itu tidak sengaja lewat di sana dan melihat Nathan berdarah-darah langsung menghentikan mobilnya. Rio turun lebih dulu dan menghampiri pamannya. "Paman, apa yang terjadi padamu? Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Rio dengan mata berkaca-kaca.
"Hyunggg, hiks.. kau.. hiks.. terluka. Huaaaa." Tangis Satya dan Frans pecah melihar kondisi Nathan yang cukup mengenaskan. Darah segar memenuhi sebagian wajahnya dan mengotori kemeja putih serta vest abu-abu yang menjadi lapisan luarnya.
Nathan mendengus geli, menurutnya mereka berdua begitu berlebihan. Toh hanya luka kecil saja, dan lagi pula dia tidak akan mati hanya karna luka seperti ini. Lalu pandangan Nathan beralih pada Rio yang sepertinya menyadari keberadaan Leo yang masih belum beranjak dari posisinya.
Dan Nathan tidak tau bagaimana nasib laki-laki itu selanjutnya jika mereka bertiga sudah bertindak. "Omo!! Jangan bilang jika dia pelakunya." pekik Rio sambil menunjuk Leo, dan pekikan keras Rio mengalihkan perhatian Satya dan Frans.
"Omo!! Jadi benar kau pelakunya?"
"Hyung, Rio, tunggu apa lagi?? Seranggggg..."
"Kkkkyyyyaaaaa!!! Bocah setan, apa yang kalian lakukan? Jangan menelanjangiku di sini. Huaaaaa."
Nathan mendengus dan menggelengkan kepalanya, laki-laki itu beranjak dan meninggalkan temapat itu. Luka-lukanya perlu di obati sebelum ia datang ke rumah sakit untuk menjemput Viona. Yang perlu ia lakukan seksrang adalah menghubungi Senna dan memintanya untuk segera mengobati dan menjahit luka-lukanya. Nathan tidak ingin Viona yang melakukannya. Karna bisa-bisa gadis itu akan menangis sesegukan karna terlalu mencemaskannya.
__ADS_1
-
Bersambung.