Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 141 "Undangan Pria Misterius"


__ADS_3

Sebuah Lamborghini Veneno melaju kencang menembus kegelapan malam. Memecah kesunyian jalanan Seoul yang terlihat legang. Gelapnya malam dan rintik hujan yang sedang turun tak membuat si pengemudi mengurangi sedikit pun kecepatan pada laju mobilnya.


Tidak ada yang tau kemana Nathan akan melajukan mobilnya malam ini, bahkan dua mobil yang mengekor di belakang mobil yang Nathan kemudikan.


Ketiga mobil itu melaju pada jalanan perbukitan di mana tak satu pun bangunan yang bisa mereka temui. Hanya pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi di sisi kiri dan kanan jalan.


Fokus Nathan tak teralihkan sedikit pun dari jalanan beraspal yang sedang di laluinya. Sepasang mutiara abu-abunya tak menunjukkan ekspresi apapun pun, datar.


"Yakk!! Rusa kutub!! Sebenarnya kau ingin menggiring kami kemana sih?" protes seorang pria jangkung yang duduk di samping Nathan. "Dan bisakah kau mengurangi sedikit kecepatan pada mobilmu ini? Huaaa.. Aku ingin muntah!!"


Nathan menatap sekilas pada pria jangkung tersebut yang pastinya adalah Bima. "Ck, tidak bisakah kau diam saja dan duduk dengan tenang? Dan tenang saja, aku tidak akan membawamu masuk neraka sebelum kau melepaskan masa lajangmu itu," ujar Nathan.


Bima merutuki kebodohannya, kenapa dia tadi harus memilih untuk ikut satu mobil dengan Nathan. Jika saja dia lebih memilih untuk satu mobil bersama Henry ataupun Theo, pasti endingnya tidak akan seperti ini.


Nathan menekan earphone yang terpasang di telinga kanannya. "Ada apa, Theo?"


"Tuan, sebaiknya Anda lebih berhati-hati lagi, karna bisa saja mereka sudah menyiapkan jebakkan untuk kita," ujar Theo.


"Aku mengerti. Di depan sana ada jalan bercabang, sebaiknya kita berpencar untuk mengecoh mereka. Kita akan bertemu lagi di titik awal!!"


"Baik Tuan,"


Sebuah pertanyaan tiba-tiba melintas dibenak Bima. Meskipun ia ikut pergi bersama Nathan dan anak buahnya, tapi Bima tidak tau kemana tujuan mereka sebenarnya. "Rusa kutub!! Sebenarnya kita mau pergi kemana sih? Perasaan dari tadi kita tidak sampai-sampai," karna tidak ingin mati karna penasaran, akhirnya Bima memutuskan untuk bertanya.


"Kau akan segera mengetahuinya. Sebaiknya kencangkan sabuk pengamanmu karna kita akan bermain-main dengan beberapa tikus liar yang kelaparan,"


"A-apa maksudmu?" Bima mulai waswas.


"Ck. Jangan banyak tanya dan menurut saja," geram Nathan kesal.


Seperti dugaannya. Sebuah kejutan kecik sudah menunggu kedatangannya di depan sana. Beberapa orang bersenjata terlihat menghadang dalam jarak dua puluh meter. "Theo, Yoong, apa kalian sudah siap?"


"Sudah Tuan!!"


"KKYAAA!!"


Bima berteriak histeris saat Nathan menambah kecepatan pada mobilnya. Mobil yang Nathan kemudikan melaju dengan kecepatan penuh, membuat Bima yang duduk disampingnya menegang bercampur takut.


Nathan memfokuskan pandangannya pada beberapa pria yang ada di depan sana. Dan ketika jaraknya dengan pria-pria tersebut sudah semakin mendekat. Nathan langsung banting stir ke kanan hingga sisi kanan mobil itu sedikit terangkat.


Ckittt..


Suara gesekan ban dan aspal memecah dalam heningnya malam. Mobil Nathan kembali melaju kencang pada jalanan yang legang. Dan apa yang baru saja Nathan lakukan membuat Bima lemas seketika.


Bima seperti kehilangan sel-sel tulangnya, karna salah perhitungan sedikit saja mungkin nyawa mereka akan melayang di bawah sana. Karna di sisi kanan dan kiri jalan bukan lagi hutan pinus melainkan jurang terjal dengan kedalaman hampir 200 meter.


BRAKKK...


"Kyyyaaaaa...."


Tubuh-tubuh itu terhempas setelah tertabrak mobil yang Theo kemudikan. Bahkan empat diantaranya ada yang terlempar ke dalam jurang. Sedangkan mobil Park Yoong melaju berlawanan arah dengan mobil Nathan.


Mobil itu melaju menuju di jalur kiri sedangkan jalur kanan di ambil oleh Nathan. Sementara Theo tetap di lajur semula, semua berjalan seperti yang Nathan rencanakan.


Malam ini Nathan mendapatkan undangan khusus dari seseorang yang tidak dia kenal. Orang itu mengundang Nathan untuk mengikuti sebuah pesta kecil-kecilan yang telah mereka siapkan.


Tentu saja hal tersebut penuh dengan jebakan dan mara bahaya. Tapi bukan Nathan namanya jika tidak bisa melewati semua jebakkan yang telah mereka siapkan untuknya.


Mobil Nathan melaju lebih santai dari sebelumnya. Bukan karna dia tidak berani berkendara dengan kecepatan tinggi pada jalanan perbukitan yang di sisi kanannya merupakan sebuah jurang, tapi alasannya adalah Bima. Nathan tidak ingin sampai tuli karna teriakan-teriakkan Bima yang serasa memecahkan gendang telinganya.


"Aku tidak habis fikir denganmu, Nathan Xi! Di saat orang lain menghindari bahaya, kau malah datang dan menghadapinya. Dan aku tidak tau bagaimana Viona bisa tahan hidup dengan pria gila sepertimu selama bertahun-tahun?"


Nathan melirik sekilas pada sahabatnya tersebut tanpa berniat menanggapi ucapannya. Dia membiarkan Bima berbicara sesuka hatinya. Dan Nathan kembali memfokuskan pandangannya pada jalanan yang dilaluinya, hanya tinggal lima puluh meter lagi ia akan sampai di tempat tujuan.


-


Jam yang menggantung di dinding sudah menunjuk angka 22.00 malam.Tapi belum juga da tanda-tanda bila Nathan akan segera pulang.Viona sudah mencoba untuk menghubungi ponselnya tapi selalu di luar jangkauan. Viona sungguh tidak tau apa yang sedang Nathan lakukan sampai-sampai dia harus mematikan ponselnya.


Suara tangis bayi yang berasal dari dalam mengalihkan perhatiannya. Wanita itu meninggalkan balkon lalu menghampiri Laurent yang sedang menangis.


"Cup..cup..cup...Sayang, Mama di sini jangan nangis lagi ne,"


Viona mencoba menenangkan putrinya yang menangis. Laurent menangis bukan karna haus apalagi lapar, tapi dia bangun karna pipis. Dan bayi satu tahun itu kembali tertidur pulas setelah Viona mengganti popoknya.


Viona mencoba menghubungi Nathan lagi, dan ini sudah yang kesekian kalinya. Tapi lagi-lagi ponselnya tidak aktif.


Rasa cemas seketika menyelimuti perasaan Viona. Wanita itu takut jika hal buruk sampai menimpa suaminya. Karna tidak biasanya Nathan pulang terlambat tanpa mengabarinya. Biasanya Nathan menghubunginya, dan ini pertama kalinya Nathan mematikan ponselnya.


Sangat tidak biasa memang. Dan Viona hanya bisa berdoa semoga suaminya itu baik-baik saja dimana pun dia berada.

__ADS_1


-


Nathan, Theo dan Park Yoong menghentikan mobilnya di halaman luas sebuah bangunan mewah yang memiliki dua lantai.


Tempat itu terlihat seperti sebuah kastil kuno di abad pertengahan, meskipun sudah terlihat dangat tua. Tapi kastil itu masih terawat dengan sangat baik. Dan hal tersebut terlihat pada dinding bangunannya yang bersih tanpa cotetan apalagi di tumbuhi tumbuhan menjalar.


Bima memperhatikan apa yang ada di sekelilingnya. Tempat itu terlihat begitu menyeramkan apalagi dengan adanya dua pohon besar yang tumbuh di sisi kanan dan kiri kastil.


Bukan hanya tempatnya saja yang tampak sangat mengerikan, tapi juga orang-orangnya yang berjaga disana. Mereka semua bersenjata.


"Nathan, kita pulang aja ya," bujuk Bima pada Nathan. "Aku takut," lanjutnya.


Nathan menatap tajam sahabat jangkungnya itu. "Diamlah, jangan seperti bocah." Sinis Nathan dengan tatapan tajamnya.


"Habisnya aku sangat takut,"


Nathan memberi kode pada Theo, pria bertubuh kekar itu mengangguk. Theo langsung di todong senjata oleh empat pria yang berjaga di sana ketika Theo mendekati mereka.


"Katakan!! Apa tujuan kalian datang ke tempat ini?" tanya seorang dari keempat pria itu.


"Boss kalian sendiri yang mengundang kami, jadi beri tau padanya jika tamunya sudah tiba,"


"Tunggu sebentar,"


Pintu utama terbuka, pria itu menghampiri Theo dan mempersilahkannya untuk masuk. Theo menoleh pada Nathan kemudian mengangguk. Yang masuk hanya Nathan, Theo, Park Yoong dan Henry. Sedangkan Bima memilih menunggu di luar bersama anak buah Nathan.


Seorang pria sudah menunggu kedatangan Nathan. Pria itu langsung berdiri. "Akhirnya kau datang juga, aku sudah menunggumu dari tadi," ucap orang itu.


"Siapa kau sebenarnya? Dan untuk apa kau mengundangku datang kemari?" tanya Nathan tanpa basa-basi.


"Santai saja, Bung. Kenapa kau harus terburu-buru? Bagaimana kalau kita ngobrol dan minum dulu dengan santai?" usul pria itu.


"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi sekarang. Kau terlalu lama membuang waktuku!!" sinis Nathan kemudian bangkit dari duduknya.


"Tunggu!!" seru pria itu menghentikanangkah Nathan. Pria itu menghampiri Nathan seraya melepas kaca mata hitamnya. "Bagaimana jika kita bekerjasama? Aku memiliki sebuah perusahaan besar, kau juga sama. Jika dua kekuatan besar disatukan maka kita akan semakin kuat dan tidak terkalahkan. Kau bisa menjadi tangan kananku, bagaimana?"


Nathan menatap pria itu tidak suka. "Aku menolak!!" sahutnya cepat. "Lagipula siapa kau bisa mengaturku seenak jidatmu, kau sudah membuang terlalu banyak waktuku. Kita pergi dari sini," seru Nathan pada Theo, Park Yoong dan Henry. Tapi langkah mereka dihadang oleh anak buah pria bersurai hitam tersebut.


"Kalian fikir bisa keluar dari sini hidup-hidup, habisi mereka semua!!"


"Baik Boss,"


Perkelahian pun tak bisa terhindarkan lagi. Nathan yang hanya berempat dikeroyok oleh dua puluh orang, dan mereka semua bersenjata.


Tak jauh berbeda dengan Nathan. Theo, Park Yoong dan Henry juga berkelahi dengan penuh emosi. Sedikitnya lima belas orang yang berhasil mereka tumbangkan dan hanya tersisa lima lagi dan mereka tampak ragu-ragu dan takut untuk menyerang.


Nathan menyeringai. "Bagaimana? Masih ingin di lanjutkan? Majulah dan kerahkan semua anak buahmu, biar aku habisi mereka semua!!" ujar Nathan dengan seringai iblisnya.


Pria bersurai orange ini tersenyum sinis mendengarnya, dengan cepat dia menarik senjatanya yang terselip dipinggangya dan mengarahkan pada Nathan. "Kau fikir aku sudah kalah darimu? Ini tempatku, dan aku yang berkuasa di sini. Jadi jangan coba-coba untuk menentangku jika kalian masih ingin hidup!"


"Kau tidak memberiku pilihan, Bung,"


BUAGH….


Nathan menendang perut pria di depannya hingga membuar pria bersurai orange itu jatuh tersungkur terkena tendangan pada ulu hatinya.


"Sialan kau!! Berani sekali kau padaku!!" teriak pria itu dan mencoba untuk berdiri.


"Cih!" Nathan mendecih dan menatap dingin pria itu.


"Boss, sebaiknya kau mundur sekarang. Dia bukanlah tandinganmu, dia adalah pria yang sangat berbahaya," seru salah seorang anak buah pria itu mengingatkan.


Bukannya menuruti, pria itu malah terpancing ucapan anak buahnya sendiri dan perkelahian keduanya tak bisa terhindarkan lagi. Pria itu melayangkan serangannya secara membabi-buta pada Nathan yang semuanya bisa dihindari dengan mudah olehnya.


Nathan menyeringai. "Pukulanmu terlalu lemah, Bung! Bahkan seekor lalat saja tidak akan mati jika pukulanmu selemah ini!!" sinis Nathan meremehkan.


"Diam kau!!" teriaknya marah.


Brugg..!!


Tubuh pria itu terjungkal ke lantai setelah Nathan berpindah tempat menghindari serangan itu. Karna insiden tersebut, pria itu sampai harus kehilangan dua gigi depannya.


"Brengsek!" bentak lelaki itu sambil melontarkan pukulannya ke Nathan. Dengan cepat Nathan berkelit ke samping, guna menghindarkan pukulan maut lawannya. Kemudian ia segera melepaskan serangan balasan yang cepat dan susul-menyusul. Serangkaian serangan yang dilancarkan Nathan membuat pria itu kwalahanm


Lelaki itu menjadi sibuk menghindarkan serangan-serangan Nathan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Sehingga, ia terpaksa menghadapi serangan pria itu.


Sambil berkelit, pria itu berseru dan melancarkan serangan balasan pada Nathan dengan cepat dan kuat.


Plakkk! Plakkk...!

__ADS_1


Dengan cepat Nathan merendahkan tubuhnya sambil melepaskan dua buah tamparan guna memapaki serangan dari lawannya


"Yeaaat..!"


Rupanya pria berambut klimis itu tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Dibarengi sebuah teriakan nyaring, tubuhnya kembali melesat menerjang Nathan. Sementara itu, anak buah pria berambut klimis itu juga tidak tinggal diam, ia segera membantu boss berambut klimisnya. Tapi segera di hadang oleh Theo, Park Yoong dan Henry


"Hiyaa,….!"


Pria berambut klimis itu, membentak diiringi dengan pukulan kerasnya.


Plakk!


Sambil melesat menyambut pukulan pria berambut klimis itu, Nathan memiringkan tubuhnya menghindari pukulan pria berambut klimis yang berpusat pada ulu hatinya.


"Sial!"


Nathan segera melompat kebelakang. Memang saat itu pria klimis melancarkan serangannya. Sebentar saja Nathan kembali bertarung menghadapi serangan pria klimis itu, pria itu benar-benar tidak bisa diremehkan. Meski Nathan menjalani pelatihan dari sejak dari bocah itu, tetap masih bisa di imbangi oleh pria itu


"Berhenti, jangan lari!" teriak pria berambut klimis itu saat Nathan hendak berlari menjauh darinya.


Nathan menyerang balik, ia menambah kecepatan dari setiap gerakannnya, membuat pria itu terkejut dengan kecepatan garakan Nathan yang terlewat cepat dan tak terbacah. Setiap pukulan maupun tendangan Nathan selalu membuat pria besar itu kelabakan.


Nathan meneruskan serangan ke pria berambut klimis. Pria berambut klimis yang belum pulih dari keterkejutannya, segera dia membentak nyaring sambil memutar tubuh dengan kuda-kuda rendah. Tangan kanannya dilintangkan ke depan, memapaki kibasan lengan Nathan yang disertai tenaga kuat. Akibatnya...


Dukkk!


"Ahhh...?!"


Bukan main terperanjatnya Pria berambut klimis ketika tangkisannya justru membuat tubuhnya hampir terjengkang ke tanah. Untunglah tubuhnya yang besar masih sempat dikuasai dan sempat juga saudaranya menahan tubuhnya.


"Aku tidak ingin berurusan dengan kalian lagi, sebaiknya sudahi saja sebelum nyawamu dan anak buahmu melayang ditanganku!" ucap Nathan ketika berhasil menjatuhkan kedua lawannya.


Nathan balik badan dan beranjak dari sana. Ia hendak meninggalkan tempat tersebut. "Tunggu!" teriak si rambut klimis.


Nathan tidak mempedulikan teriakan orang dibelakangnya


Dorr!


Dorr!


"Berhenti di sana kau!!" teriak pria Itu ketika panggilannya itu di abaikan oleh Nathan, ia pun segera meraih pistol dan hendak menembak Nathan. Nathan yang memang yakin kalau ia akan di serang, sudah siap. Ia tinggal mengegoskan tubuhnya, dan dengan cepat ia membalikan badan dan membalas tembakan pria itu hingga melubangi dahinya.


"Bangsat! Ku bunuh kau!" teriak anak buah pria itu. Ia segera mencabut pistolnya.


Dorr!


Kembali nasib yang sama dialami seperti bossnya, Nathan mendahului menembak dan juga sudah melubangi dahinya.


-


Deru suara mobil yang memasuki halaman mengalihkan perhatian Viona. Wanita itu segera meninggalkan kamarnya untuk melihat siapa yang datang.


Dan setibanya di luar kamar. Viona melihat Nathan memasuki rumah dengan pakaian berlumur darah, tanpa membuang banyak waktu, Viona segera menuruni tangga dan menghampiri suaminya. "Oppa," seru Viona dan segera menubruk tubuh Nathan hingga pria itu terhuyung kebelakang.


Nathan mengangkat kedua tangannya dan menbalas pelukkan Viona. "Kau dari mana saja? Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi? Dan ini, kenapa pakaianmu bisa berlumur darah seperti ini?" tanya Viona meminta penjelasan.


Nathan menakup wajah Viona dan meyakinkan pada istrinya jika dirinya baik-baik saja. "Tenanglah, aku baik-baik saja. Dan darah ini bukan darah darahku tapi darah dari mereka yang berani membuat masalah denganku,"


"Apakah telah terjadi sesuatu?" tanya Viona memastikan.


Nathan mengangguk. "Ya, tapi semua sudah berhasil diatasi. Sebaiknya kita kembali ke atas. Aku akan mandi dulu, setelah ini kita istirahat. Aku sangat lelah Sayang," Viona mendesah berat, kemudian mengangguk.


"Baiklah,"


.


.


Setelah mandi dan mengganti pakaiannya. Nathan menghampiri Viona yang sedang menimang Lucas yang sepertinya terbangun karna haus. Viona mengangkat wajahnya ketika mendengar derap langkah kaki seseorang yang datang. Sudut bibir Viona tertarik keatas melihat kedatangan Nathan.


Nathan terlihat tampan meskipun hanya memakai celana panjang hitam dan singlet putih yang melekat pas pada tubuh kekarnya.


Viona menghampiri Nathan sambil membawa sebuah kotak p3k. "Oppa, duduklah dulu. Aku akan mengobati luka dibawah mata kirimu." Ucapnya.


Setelah mengoleskan salep luka. Viona menutup luka itu dengan plaster selebar dua jari orang dewasa. "Oppa, sebaiknya kau istirahat saja." Pinta Viona. Nathan menakup wajah Viona lalu mencium singkat bibir ranumnya.


"Baiklah, Sayang. Sebaiknya kau istirahat juga, kau terlihat lelah," ucap Nathan. Viona mengangguk.


"Nde, Oppa,"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2