
Viona menggerang sambil mencengkram kepalanya yang terasa ingin pecah. Dengan perlahan gadis itu bangkit dari posisi berbaringnya. Matanya menelisik kesegala penjuru arah dan merasa asing dengan tempatnya berada. Gadis itu sedikit terkejut saat merasakan sebuah lengan menyentuh kulit tubuhnya.
Ragu dan tidak yakin, Viona memutar lehernya dan menatap lengan yang tengah memeluk pinggangnya. Yang lebih mengherankan lagi, tubuhnya tidak terbalut pakaian selain pakaian dala*nya. Kepala Viona mengikuti lengan itu dan mendapati seorang pria berbaring disampingnya.
Kedua mata yang tertutup rapat, rambut coklatnya sedikit berantakan. Ragu-ragu Viona membuka selimut tebal yang membungkus tubuh mereka. Pria itu bertelanjang dada sehingga Viona merasa sesuatu telah terjadi semalam.
Viona menutup matanya rapat-rapat saat menarik selimut itu turun, sedikit ragu Viona membuka sedikit matanya dan ia menghela nafas lega saat melihat tubuh bagian bawah laki-laki itu masih terbalut celana bahan hitamnya.
Merasa terusik. Laki-laki itu 'Nathan' membuka matanya dan melihat Viona tengah membungkus tubuhnya dengan selimut.
"Na-Nathan, apa yang terjadi semalam? Ke-ke-napa aku bisa tidur satu ranjang denganmu? Dan.. dan... dan.." Viona memalingkan wajahnya dan matanya bergerak liar. "Aku hanya memakai dalam saja?" lanjutnya dengan nada rendah.
Nathan mendengus geli, laki-laki itu bangkit dari posisi berbaringnya. Salah satu tanganya meraih singlet putihnya yang ia letakkan diatas nakas dan memakainya. "Lalu apa masalahnya?" ucapnya santai.
Viona mengangga mendengar ucapan Nathan. "Masalah besar, katakan padaku! Apa yang kita lakukan semalam?" tanya Viona meminta penjelasan. Nathan menyeringai, sebuah ide jahil muncul dikepalanya. Sepertinya akan sangat menyenangkan jika mengerjai gadis bermarga Jung itu.
"Semalam kau sangat liar, Dokter Viona."
Mata Viona lantas membelalak. "Liar? Apa maksudmu? Jangan bercanda, Nathan. Kau ... pasti kaukan yang sudah merayuku biar aku mau melakukan itu denganmu?" tebak Viona sambil mengacungkan jarinya didepan wajah Nathan.
Nathan mendengus. "Aku mengatakan yang sebenarnya, lagi pula mana mungkin aku menyerang wanita yang sedang mabuk berat." tandasnya.
Viona terdiam dan memikirkan ucapan Nathan. Benarkah semalam dia mabuk berat hingga tidak mengingat apapun. Otaknya berfikir keras, jika semalam ia dan Nathan benar-benar melakukannya pasti Viona merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya seperti perih dibagian bawahnya, atau bercak darah pada sprei. Tapi sprei yang ada dibawahnya masih rapi dan tidak kusut sedikit pun. Mungkinkah Nathan sudah menggantinya? Tapi itu rasanya tidak mungkin.
"Kenapa kau melamun? Apa kau benar-benar berfikir jika semalam kita benar-benar melakukannya?" Nathan bergeser dari posisi duduknya dan meninggalkan Viona yang masih terpaku sambil diatas tempat tidur.
"Tu-tunggu dulu Tuan Nathan. Katakan padaku dengan jujur, apa yang terjadi semalam.
Nathan menoleh dan menatap wanita itu yang tengah menatapnya penuh kebingungan. Laki-laki itu mendengus dan sepertinya dia harus menceritakan yang sebenarnya pada Viona mengenai apa yang terjadi.
"Semalam kau minum terlalu banyak. Kau mabuk berat. Kau terus merancau tidak jelas dan memanggil ayah dan ibumu, kau memelukku sambil menangis dan kau tidak sadarkan diri. Karna aku tidak tau dimana kamarmu, jadi aku membawamu ke suite room milikku. Kau bilang kepanasan dan membuka bajumu sendiri kemudian tidur begitu saja ditempat tidurku. Itulah yang sebenarnya terjadi."
Viona benar-benar kehilangan muka di depan Nathan. Dia sudah menuduhnya yang tidak-tidak, rasanga ia seperti tidak memiliki muka lagi di depan pria itu. Viona menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
Nathan menghela nafas. "Sudahlah, tidak perlu merasa bersalah. Bukankah kita berdua adalah teman, dan hanya kita berdua yang mengetahuinya. Dan jangan bersikap layaknya perawan diluar sana." ujarnya.
"Aku memang masih perawan." Viona menyela cepat.
Kali ini Nathan yang terdiam dan menyelami mata hazel itu yang tengah menatapnya kesal dan mencoba mencari kebenaran disana. Nathan merasa bersalah . Keduanya sama-sama membuang muka dan diam diselimuti keheningan. Suasana canggung menyelimuti mereka berdua. Sama-sama sibuk dengan pemikiran masing-masing.
"Vio, aku ingin agar kita melupakan apa yang terjadi semalam. Dan aku harap setelah kejadian ini hubungan diantara kita tidak berubah. Aku tidak ingin sampai ada jarak diantara kita." ujar Nathan tanpa menatap lawan bicarannya.
"Ya, aku mengerti. Sepertinya aku harus kembali kekamarku."
Viona meraih pakaiannya dan membawanya masuk kedalam kamar mandi. Karna tidak mungkin dia keluar dari kamar Nathan dengan keadaan setengah telanjang, bisa-bisa dia menjadi bahan gunjingan orang-orang.
__ADS_1
-
"Suiiitttt ... Suiiitttt."
Rio, Satya dan Frans bersiul keras saat melihat beberapa gadis melintas di depan mereka hanya memakai pakaian renang yang memperlihatkan keluk dan bentuk tubuhnya yang indah. Gadis-gadis itu menggerlingkan matanya pada ketiga pemuda tampan itu sambil melambaikan tangannya.
Saat ini Rio, Satya dan Frans tengah berada ditepi kolam besar. Salah satu fasilitas yang ada dikapal pesiar. Berjemur sambil mencuci mata, itulah yang tengah mereka lakukan saat ini.
"Paman kecil, maukah kalian bertaruh denganku? Aku menantang kalian untuk wanita yang ada diujung sana, jika kalian bisa mendapatkan ciumannya aku akan memberikan mobil baruku pada kalian berdua. Tapi ... jika kalian yang kalah, kalian harus rela menjadi wanita selama dua minggu tanpa syarat. Bagaimana? Kalian berani?" Rio menatap Frans dan Satya bergantian. Satya dan Frans saling bertukar pandang , dengan kompak mereka menjawab.
"Baiklah, siapa takut." jawabnya kompak keduanya.
Keduanya pun berjalan dan menghampiri wanita yang Rio maksud sambil menyeringai . Dengan percaya diri Satya mendekati wanita itu, sementara Frans menunggu gilirannya dan memperhatikan Satya dari tempatnya. Rio melihat mereka dari kejauhan, entah kenapa dia begitu yakin jika Satya dan Frans akan kalah dalam taruhan ini.
Terlihat jelas saat Satya dan wanita itu saling berjabat tangan setelah berbincang singkat, Satya menoleh pada Rio dan menyeringai. Matanya memancarkan tatapan penuh kemenangan, sementara Rio menyikapinya dengan santai.
Terlihat bagaimana Satya mencoba menggodanya dan saat pemuda itu mendekatkan wajahnya , hendak mencium bibr merahnya. Sebuah tamparan mendarat mulus dipipinya. Wanita itu berdiri dan mendorong Satya hingga jatuh kedalam kolam yang penuh dengan air. Melihat hal itu membuat tawa Rio meledak, saking asiknya tertawa sampai-sampai dia tidak menyadari kedatangan seseorang.
"Apa yang sedang kau tertawakan?" tanya orang itu , lalu Rio mengangkat wajahnya dan melihat Nathan berdiri disampingnya. Laki-laki itu memakai celana jeans dibawah lutut dan kemeja denim tanpa lengan yang beberapa kancingnya dibiarkan terbuka.
"Paman." serunya. "Paman disini? Kenapa hanya sendiri? Dimana nunna cantik itu?"
"Entah, mungkin ada dikamarnya." jawabnya sedikit datar.
Nathan memicingkan matanya melihat Satya dan Frans datang sambil menekuk wajahnya, tubuh mereka basah kuyub. Lalu pandangannya ia gulirkan pada Rio yang tengah mengulum senyum penuh kemenangan. Dan Nathan berani bersumpah jika mereka bertiga tengah melakukan taruhan konyol lagi.
"Ada apa ini?" tegurnya pada kedua orang itu. Mendengar suara yang begitu familiar, sontak saja gadis itu mengangkat wajah dan menghela nafas lega.
"Nathan," serunya dan bersembunyi dibalik punggung Nathan.
"Siapa kau? Berani-beraninya mengganggu kesenangan kami? Kami yang lebih dulu menyapanya jadi pergilah."
"Wanita ini adalah istriku. Jadi mana mungkin aku akan membiarkannya bersama kalian. Pergilah sebelum aku kehabisan kesabaran dan melempar tubuh kalian kedalam laut." Dan sontak Viona mengangkar wajahnya menatap Nathan dengan tatapan penuh kebingungan. "Mundurlah," pinta Nathan seraya mendorong pelan Viona.
"Wow! Kau mencoba menggertak kami?" ucap salah satu dari kedua laki-laki itu.
"Sudahlah, kita beri saja dia. Biar dia sadar, dengan siapa dia berhadapan." sahut laki-laki satu lagi.
Perkelahian pun tidak dapat terhindarkan. Kedua laki-laki itu langsung menyerang Nathan. Kedua laki-laki itu memiliki senjata tajam sementara Nathan hanya dengan tangan kosong. Dan sontak saja insiden itu mengundang orang-orang untuk berkerumun dan melihat perkelahian itu, termasuk Rio, Frans dan Satya
"Tuan Nathan// hyung//Paman!!" Viona dan ketiga pemuda itu sama-sama menjerit melihat senjata tajam ditangan dua laki-laki itu berhasil melukai lengan dan pipi Nathan.
Namun bukan Nathan namanya jika tidak bisa mengatasinya, dengan brutal Nathan menghajar kedua laki-laki itu hingga terkapar tak sadarkan diri dengan keadaan sekujur tubuhnya babak belur. Seorang laki-laki menghampiri Nathan di ikuti beberapa pria yang berjalan dibelakangnya.
"Tuan Lu, anda tidak apa-apa?" tanya sang kapten memastikan.
__ADS_1
"Urus kedua orang ini dan kirim mereka dengan segera kekantor polisi. Dia hampir melecehk** seorang wanita." Ucapnya dan berlalu begitu saja. Viona tidak tinggal diam, gadis itu segera mengejarnya.
"Tuan, tunggu." serunya sambil menahan lengan Nathan. "Kau terluka, sebaiknya kita bersihkan dan obati lukanya dikamarku." Nathan tidak memberikan jawaban apa-apa. Sebagai gantinya laki-laki itu mengangguk.
-
Disini mereka sekarang. Viona membawa Nathan ke suite room miliknya dan mengobati luka pada wajah dan lengannya. Untungnya hanya luka ringan saja dan tidak perlu dijahit. Setelah memberinya antiseptic, Viona mengoleskan obat pada lukanya dan menutupnya dengan perban. Viona merasa bersalah, Nathan terluka karna dirinya.
"Untungnya hanya luka ringan saja. Maaf Tuan Nathan, karna diriku kau terluka." ucapnya penuh sesal.
"Tidak perlu diperbesar, toh hanya luka ringan saja. Kau sudah makan siang?" tanya Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Viona. "Maaf ya, karna tadi aku mengakuimu sebagai istriku di depan mereka" ucapnya penuh sesal.
Viona menggeleng , ia justru merasa berterimakasih pada Nathan karna sudah melindunginya. Namun dadanya bergemuruh hebat ketika Nathan mengakuinya sebagai istri di depan orang lain. "Tidak apa-apa Tuan Nathan, Justru aku sangat berterimakasih padamu." jawabnya tersenyum.
"Vio, bisakah kau tidak perlu seformal itu padaku. Aku tidak ingin ada jarak diantara kita, aku ingin kita bisa dekat dan akrab. Kau tidak merasa keberatan bukan?" ucapnya.
Nathan mengangkat tangannya, jari-jarinya membelai pipi putih Viona dan mengunci mata hazelnya. Viona yang merasa tidak sanggup ditatap sedalam itu oleh Nathan segera membuang muka dan menatap kearah lain, kemana pun asalkan jangan mata Nathan. "Jangan memalingkan wajah cantikmu dariku, Vio," Jari Nathan menuntun wajah Viona agar kembali menatap padanya. Perlahan Viona menutup matanya saat melihat Nathan mendekatkan wajahnya sampai akhirnya......
Drett drett drettt!!
Viona segera menjauhkan dirinya dari Nathan karna getaran pada ponselnya. Gadis itu beranjak dan melihat nama Leo menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Viona tidak lantas menjawab panggilan itu, memandang sekilas pada Nathan yang juga menatapnya kemudian menjauh untuk menerima panggilan itu.
"Halo,"
^Sayang, aku merindukanmu.^ Viona menutup matanya, dengan satu tarikan nafas panjang gadis itu membalas ucapan Leo.
"Ya, aku juga."
^Tunggu aku, Sayang. Minggu depan aku akan kembali ke Korea untuk mempersiapkan pernikahan kita.^
"Haruskan secepat ini? Tidak bisakah kita menundanya?"
^Why? Kau tidak terdengar bahagia, apa kau tidak ingin hidup bersamaku?^
"Bukannya begitu, Oppa. Aku belum siap jika harus menikah muda,"
^Kita akan membicarakan lagi setelah aku kembali. Baiklah, aku tutup dulu telfonnya. Aku masih ada pertemuan penting. Aku mencintaimu Sayang^
Viona menurunkan ponsel itu dari telinganya setelah Leo memutuskan sambungan telfonnya dan menggenggam erat ponsel itu. Viona melirik Nathan yang masih belum beranjak dan tengah menatapnya. Menyeka air mata dipipinya, Viona menghampiri Nathan sambil memasang senyum palsu.
"Udara hari ini sangat cerah, bisakah kau menemaniku jalan-jalan disekitar dek kapal?"
Nathan menahan lengan Viona saat gadis itu melewatinya. Jarinya menghapus sisa air mata dipipi Viona. "Kau menangis?"
"Tidak, ini hanya bekas kelilipan kok. Lagi pula aku tidak memiliki alasan untuk menangis. Bisa kita berangkat sekarang?" tanyanya. Nathan mendesah kemudian mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah."