Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 144 "Hukuman Viona"


__ADS_3

"PAPA!!"


Nathan membuka kedua tangannya saat melihat Laurent berlari menghampirinya. Tubuh Nathan sedikit terhuyung karna terjangan sang putri. "Wah.. Putri Papa semakin berat saja ne," ucap Nathan seraya mengangkat tubuh mungil Laurent lalu menggendongnya.


"Itu karna Laurent sudah besar," jawabnya mantap.


"Kalau sudah besar kenapa masih minta gendong, Papa," cibir Lucas menyahuti.


"Yeee.. Dasar sirik!! Suka.. suka akulah, Papa saja tidak keberatan, kenapa malah jadi kau yang ribet," jawab Laurent tak mau kalah.


Lucas memutar jengah matanya. "Cih, dasar merepotkan." Bocah laki-laki itu turun dari duduknya dan pergi begitu saja. Lucas menghampiri kakek Xi dan ketiga pamannya yang sedang bermain kartu di teras belakang.


Lucas memicingkan matanya. Bocah itu tidak tau hal konyol apa yang sedang mereka berempat lakukan sampai-sampai muka mereka cemong semua seperti tokoh dalam pewayangan, Gareng.


"KYYYAAA!! KAKEK MENANG LAGI," teriak kakek Xi histeris. Lagi-lagi dia berhasil mengalahkan trio kadal.


Rio membanting kartunya. "Sial!! Kalah lagi.. kalah lagi.. Pasti Kakek curang ya?" tuding Rio sambil mengacungkan jarinya di depan wajah kakek Xi yang kemudian di tepis olehnya.


"Enak saja. Tidak ada sejarahnya jika seseorang dari keluarga Xi melakukan kecurangan," elak kakek Xi menepis tudingan Rio.


"Kalau memang tidak curang kenapa kami bertiga bisa kalah terus dari Kakek?" tanya Satya tak mau kalah.


"Itu karna kalian bertiga payah semua," sahut Lucas menjawab pertanyaan Satya.


Sontak keempatnya menoleh. Ketiga pemuda itu langsung menekuk wajahnya mendengar ucapan Lucas, sedangkan kakek Xi tampak kegirangan karna lagi-lagi Lucas membela dirinya. "Nah, anak kecik saja tau. Jadi terima saja kekalahan kalian. Lucas, bagaimana kalau kakek buyut mentraktirmu ice cream?" usul kakek Xi.


Lucas menggeleng. "Aku tidak mau!! Lagipula aku tidak menyukai ice crean, karna ice cream itu manis. Dan aku membenci makanan manis!!" jawab Lucas.


"Ahh. Begitu ya, bagaimana kalau Kakek Buyut membelikanmu mainan baru?" usul kakek Xi. Lagi-lagi Lucas menggeleng.


Dan tanpa mengatakan apapun, Lucas beranjak dari sana dan pergi begitu saja. Kakek Xi hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah cicitnya. Ternyata benar apa kata pepatah lama, jika buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya. Begitu pula dengan sifat Lucas yang menurun dari sang ayah.


.


.


Setelah hampir satu jam berkutat di dapur. Sedikitnya ada tujuh menu berbeda yang berhasil Viona masak dan telah tersusun di atas meja. Ibu dua anak itu melepaskan apronnya.


Sepasang iris hazelnya menelisik ke seluruh penjuruh rumah namun terlihat sepi. Sampai suara derap langkah kaki seseorang yang sedang menuruni tangga mengalihkan perhatiannya.


Viona tersenyum lebar. Sosok Nathan dan Laurent terlihat berjalan beriringan menuruni tangga. Ada yang berbeda dengan penampilan Nathan malam ini.


Sebuah jeans belel hitam, singket putih press body yang dibalut vest v-neck hitam yang seluruh kancingnya di biarkan terbuka, membuat Nathan terlihat begitu panas.


"Mama, lihatlah.. Bagaimana menurutmu? Papa tampan tidak?" tanya Laurent begitu antusias.


Viona mengangkat tangannya, jempol dan telunjuknya membentuk huruf O. "Wow. Sangat-sangat sempurna," jawab Viona sambil menggerling matanya pada Nathan.


Nathan mendengus berat. Ternyata Ibu dan anak sama saja, sama-sama anehnya. Dan Nathan sungguh tidak habis fikir jika hobi aneh Viona malah menurun pada putrinya, ibu dan anak itu sama-sama menyukai jika dirinya memakai pakaian lengan terbuka.


Nathan menghampiri Viona kemudian membisikkan sesuatu padanya. "Malam ini kau harus siap-siap menerima hukuman dariku, Nyonya."Bisiknya dan sontak membuat kedua mata Viona membelalak dengan sempurna.


"A-apa?"


Nathan menyeringai. Ayah dua anak itu menutup mata Laurent dan segera menarik tengkuk Viona kemudian memagut singkat bibirnya. Dan hal tersebut tentu saja membuat Viona terkejut bukan main, pasalnya Nathan melakukannya di tempat terbuka.


Lalu bagaimana jika Lucas tiba-tiba datang kemudian melihat apa yang mereka berdua lakukan? Oh, tidak. Itu sangat mengerikan.


"Oppa, apa yang kau lakukan?" protes Viona atas apa yang dilakukan oleh suaminya.


Alih-alih menjawab pertanyaan Viona. Nathan malah menunduk dan mesejajarkan tingginya dengan Laurent yang tengah mendongak dan menatap padanya. "Nak, bisakah kau panggil adikmu dan yang lainnya? Katakan pada mereka jika makan malam sudah siap, Papa dan Mama sudah menunggu," Laurent mengangguk dengan antusias.


"Oke, Papa. Dengan senang hati. Tapi Papa jangan coba-coba mengganti baju Papa loh ya," Nathan menggeleng.


"Tidak akan Papa ganti."

__ADS_1


Pandangan Nathan kemudian bergulir pada Viona yang hendak pergi ke dapur. Nathan menahan pergelangan tangan Viona kemudian menariknya hingga wanita itu jatuh ke dalam peluklannya. Kedua tangan Viona bertumpuh pada dada bidang Nathan yang hanya tertutup singlet putih dan vest hitamnya.


"Oppa, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku, bagaimana kalau anak-anak tiba-tiba datang dan melihat kita seperti ini?" ucap Viona setengah panik.


"Aku sudah menghitung waktunya, dan mereka akan datang dalam waktu satu menit. Jadi kau tidak bisa lari dariku, Nyonya Xi. Dan salahmu sendiri berani membangunkan seekor singa yang sedang kelaparan," Nathan menyeringai.


"Oppa," wajah Viona seketika memerah.


Nathan merengkuh tubuh Viona ke dalam pelukkannya seraya berbisik lirih. "Aku akan membuatmu memanggil namaku sepanjang malam,"


Kedua mata Viona lantas membelalak."APA!!"


.


.


Waktu sudah menunjuk angka 00.00 tengah malam. Namun sepasang anak manusia itu masih tetap terjaga dan terlihat begitu asik dengan dunianya.


"Aaah.."


Bunyi deritan ranjang yang menggema memenuhi seisi ruangan membuat sepasang anak muda yang sedang dimabuk cinta ini tidak lagi memedulikan sekitarnya.


Baik kondisi ranjang yang tidak karuan, pendingin ruangan yang tidak berfungsi dengan baik bahkan dering ponsel yang sejak tadi berbunyi, juga tidak mereka hiraukan.


"Ah!"


Tubuh sang Viona tersentak hebat ketika Nathan memasukinya semakin dalam. Ia mencari pegangan lain untuk dirinya bertahan selain rambut sang pria yang kini mencumbunya.


Remasan pada seprai menguat seiring hujaman sosis berurat yang semakin dalam. Peluh membasahi tubuh mereka berdua. Dari semua hal, yang terpenting adalah pelepasan.


"Ah!"


Sang wanita membuka matanya ketika benda kenyal itu menyentuh bibirnya yang membengkak dengan posesif dan penuh kelembutan setelah hal panas yang mereka lakukan. Dengan kondisi mereka yang masih menyatu, Viona belum bisa sepenuhnya sadar dengan kondisinya.


Maka, ketika tangan besar namun penuh kelembutan itu menyentuh pipi putihnha dengan lembut, ia benar-benar tersadar dengan tekstur tangan dan segala kelembutan yang dimiliki sang pria.


"Tidurlah, ini sudah lewat tengah malam," sekali lagi Nathan mengecup bibir Viona dan kemudian meninggalkannya begitu saja.


-


Luna menatap bosan wajah tampan yang sedang berbincang dengan dua pria yang tak Ia ketahui siapa mereka apalagi namanya. Wajah mereka tampak serius, mungkin mereka membicarakan soal bisnis dan kerja sama antar perusahaan besar seperti pada umumnya.


Sesekali pria itu melirik kearah Luna yang hanya diam seperti orang bodoh tanpa bisa melakukan apa pun selain duduk di kursi kerjanya. Karna sofa yang ada di ruangan besar itu di tempati olehnya dan dua tamunya, jadi terpaksa Luna harus beranjak dari sana dan duduk di kursi kerja milik pria itu yang menurutnya cukup nyaman.


Tadinya Luna memutuskan untuk pergi dan menunggu temannya di cafe terdekat, namun pria yang entah sejak kapan berstatus sebagai sahabatnya itu menolak dan meminta Luna agar tetap berada di ruangannya.


Awalnya Luna menolak karna takut menganggu, tapi dia mengatakan jika itu bukan pertemuan penting dan tidak akan memakan banyak waktu. Tidak ada pilihan lain. Akhirnya Luna mengalah dan menurutinya.


Luna menghela nafas. Rasa bosan menggerogoti dirinya, tidak ada yang bisa Ia ajak bicara. Teman prianya itu sedang sibuk dengan dua tamunya, sedangkan di gedung ini tidak ada yang Ia kenal selain pria itu. Ingin rasanya Luna lari dari ruangan itu, dan pergi ke kafe yang ada di sebrang jalan. Jika bisa sudah sejak tadi Ia lakukan.


"Senang bekerja sama dengan Anda Tuan Qin." Salah satu dari dua orang itu menjabat tangan pria berdarah China tersebut sebelum menginggalkan ruangan itu termasuk dua penghuninya yakni Zian dan Luna.


Luna bangkit dari duduknya dan menghampiri Zian yang sedang duduk bermalas-malasan di sofa. "Aku lelah, bisakah kau memijit bahuku?" Zian menepuk-nepuk bahunya dengan kepalan tangannya, Luna mendecih dan menatap Zian sebal.


"Pijat saja sendiri, kau fikir aku ini babumu." Ucapnya ketus.


"Ayolah Lun, jarang-jarang aku memintamu melakukan hal ini. Sebentar saja." Mohon Zian namun tetap di abaikan oleh Luna.


"Sekali tidak, tetap tidak." Lagi-lagi Luna menolak seraya mendaratkan pantatnya di samping Zian.


"Gadis menyebalkan." Zian mendengus kesal, satu jitakan mendarat mulus di atas dahi Luna.


"Apppooo--------." Teriaknya histeris. "Yakk Zian Qin, apa kau sudah bosan hidup eo?" Lanjutnya dengan tangan yang masih setia mengusap dahinya yang berdenyut sakit. Zian bersikap acuh, bahkan membuka mulutnya untuk sekedar mengucapkan maaf saja tidak. Dan hal itu membuat Luna semakin kesal di buatnya.


Mereka berdua tidak berpacaran tapi hubungan mereka begitu dekat dan intim. Bahkan kedekatan mereka melebihi mereka yang sepasang kekasih. Mereka memang saling menyukai, dan sudah saling mengungkapkan perasaan masing-masing. Hanya saja mereka sama-sama belum siap untuk membuat komitment. Luna masih menyimpan cintanya untuk Dean dan Zian tau itu.

__ADS_1


Luna dan Zian sudah lama saling mengenal. Namun sejak sepuluh tahun yang lalu mereka berdua tidak pernah lagi bertemu karna Zian dan seluruh keluarganya memutuskan untuk pindah ke China.


Empat tahun lalu mereka kembali secara tidak sengaja. Sedangkan Jacksoon Wang sudah meninggal empat tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan tunggal.


Mobil Jacksoon menabrak pembatas jalan sebelum akhirnya terperosok dan jatuh ke dalam jurang. Dan mayatnya baru di temukan tiga hari kemudian.


Katakan saja jika ini gila, tapi percaya atau tidak, wajah Zian dan Nathan sangat mirip. Yang menjadi pembedanya adalah usia mereka. Zian dua tahun lebih muda dari Nathan. Dan jika mereka berjalan bersama, Nathan dan Zian terlihat seperti pria kembar. Aneh memang, tapi itulah yang terjadi.


Tidak ada yang tau sejak kapan mereka menjadi sedekat itu. Tidak hanya Zian, Luna juga sangat dekat dengan Ibu dan kakak perempuannya. Bahkan Zian sering menginap di rumah milik Luna.


"Traktir aku makan siang." Ucap Luna sambil menunjukkan cengiran khasnya yang di sambut dengan sentilan di dahinya. "Appppoooooo." Luna meringis kesakitan sambil mengusap dahinya yang baru saja di sentil oleh Zian. "Sakit bodoh." Umpatnya tajam.


Zian merangkul bahu Luna dan membawa gadis itu meninggalkan ruangannya. "Kau ingin makan malam di mana.?" Tanya Zian di tengah langkahnya.


Luna berfikir sejenak "Dal.komm Coffe." Jawabnya cepat. Zian tersenyum kemudian mengangguk.


"Oke."


Zian menghentikan mobilnya di depan Dal.komm Caffe. Keduanya melangkah memasuki caffe yang cukup ramai, salah satu pelayan menyambut mereka dan menggiring mereka menuju salah satu meja di dekat jendela yang memang di pilih oleh Luna.


Di dalam langkah mereka menuju meja, beberapa pasang mata menatap keduanya dengan tatapan lapar terutama para pria. Tentu saja hal itu membuat Luna tidak nyaman.


Menyadari sikap Luna. Zian menarik Luna agar lebih mendekat dengan memeluk pinggangnya. Luna tersenyum, dalam hatinya Ia berterimakasih pada Zian.


Mereka duduk dalam diam setelah beberapa menit memesan makanan. Tampak Zian yang sibuk dengan ponsel pintarnya sedangkan Luna memandang keluar cafe. Detik berikutnya ponsel Zian berdering


"Ya aku sudah menerima emailnya, malam ini akan aku periksa, dan besok pagi aku ingin proposal itu ada di mejaku." Kemudian Zian memutuskan sambungan telfonnya, dan meletakkan ponselnya di atas meja.


"Kau banyak berubah Zian. Sejak kau menjabat sebagai CEO, kau menjadi lebih dewasa dan menghadapi masalah dengan kepala dingin. Ya meskipun kau masih sama emosionalnya seperti dulu, tapi kini kau sudah mulai bisa mengontrolnya. Dan lebih hebatnya lagi, lebih dari setengah tahun, geng bodohmu itu tidak membuat kerusuhan." Luna mengawali percakapan setelah beberapa saat di rundung keheningan.


Zian yang sibuk menyantap makan siangnya sontak mendongak menatap Luna datar.


Zian memotong steaknya lalu memasukkan kedalam mulutnya, mengunyah dengan perlahan lalu menelannya sebelum menjawab ucapan Luna.


"Sejak aku memutuskan untuk meninggalkan dunia lamaku dan memasuki babak baru dalam hidupku, aku juga memutuskan untuk merubah sikapku dan berfikir lebih dewasa. Aku tidak ingin citra perusahaanku hancur karna di pimpin oleh seorang ketua gangster, ya sejak malam itu aku memantapkan hatiku untuk berhenti dan menata kembali hidupku yang berantakan. Teman-temanku menjalani hidupnya kearah yang lebih positif. Aku ingin mereka memiliki masa depan yang cerah meskipun takdir berlaku kejam pada mereka." Tutut Zian.


Luna tidak pernah melihat Zian seserius itu, memang banyak yang berubah dari diri laki-laki di depannya. Tanpa sadar Luna menarik sudut bibirnya.


"Oya, minggu depan kau jadi pindah keapartemen itu?" Luna mengalihkan topik pembicaraan, Ia ingin lebih santai. Terlibat dalam perbincangan berat bukanlah gayanya.


"Ya, dan aku ingin kau membantuku." Sahutnya.


Luna mendengus sambil menggelengkan kepala. Gadis itu melipat tangannya dan bersidekap di depan dada. "Aku tidak mau." Luna menjawab cepat. Muncul perempat siku-siku di kening Zian.


"Kenapa?" Tanyanya bingung.


"Aku terlalu sibuk. Bukankah kau bisa menyewa jasa orang lain untuk kepindahanmu, lagi pula aku harus fokus pada pekerjaanku dan aku masih harus membagi waktu untuk berkumpul bersama keluargaku. Aku tidak ingin kehilangan banyak moment berharga bersama mereka, apalagi dengan Lucas dan Laurent." Jelas Luna menuturkan.


"Hari minggu, dan aku tidak mau mendengar alasan apa pun lagi." Ucap Zian final.


Ucapan Zian tidak terdengar seperti permintaan tapi terdengar seperti perintah dan itu membuat Luna semakin kesal. "Terserah, dasar menyebalkan." Bukannya tersinggung dengan sikap Luna, Zian malah terkikik geli. Menurutnya Luna sangat menggemaskan.


"Jangan cerewet, sudah.. cepat habiskan makan siangmu lalu temani aku membeli kado ulang tahun untuk Mama. Lusa adalah ulang tahunnya, dan aku tidak yakin besok kau ada waktu atau tidak untuk menemaniku. Dan aku tidak menerima penolakan."


Luna melirik Zian tajam, mulutnya komat-kamit menyumpai Zian dengan sumpah serapahnya. Dan lagi-lagi Zian hanya bisa terkikik geli dengan sikap gadis di depannya yang menurutnya sangat menggemaskan.


Luna memang sangat unik dan berbeda dengan kebanyakkan gadis diluaran sana. Di saat semua gadis mengejar dirinya, Luna malah menjauh dan bersikap seolah dia tidak peduli. Dan hal itulah yang membuat Zian jatuh hati padanya.


-


Bersambung.


Annyeong riders...


Author mau ngabulin permintaan pembaca yang minta supaya kisah Luna di ceritakan juga. Jadi Author mulai dari bab ini. Nanti di ceritain juga bagaimana Jacksoon Wang bisa meninggal dan Luna bisa ketemu lagi sama teman lamanya yang secara kebetulan wajahnya mirip Nathan. Tapi mereka tidak bersaudara ya.

__ADS_1


Bukannya Otor kehabisan stok visual ganteng sampai-sampai harus pakai Luhan sebagai visual Zian yang nantinya bakal jadi pasangan Luna. Tapi feel Author selalu lari ke dia dan yang kebayang-bayang cuma wajah Luhan pas ngetik ceritanya.


Dari pada novel ini macet di tengah jalan gara-gara pasangan Luna yang visualnya Author pakai Jessica Jung dipasangin sama yang lain, jadinya Author pakai Luhan lagi. Apalagi nanti di SS duanya gantian ngangkat kisah percintaan Luna. Semoga pembaca bisa mengerti dan tetap setia sama cerita ini ya 🙏🙏


__ADS_2