Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 138 "Pertemuan Viona dan Luna"


__ADS_3

Luna mengerutkan dahinya saat pulang dan melihat sebuah mobil asing terparkir di halaman rumah mewahnya. "Apa sedang ada tamu?" ucapnya. Gadis itu mengangkat bahunya tak peduli.


Setibanya di dalam. Luna melihat tiga orang, dua pria dan seorang wanita tengah berbincang dengan ayah dan kakaknya. Kedua mata Luna menyipit ketika melihat sosok wanita yang duduk dalam posisi memunggungi. Sepertinya tidak asing, pikir Luna.


Luna menghampiri mereka. "Nah itu Luna sudah pulang," ucap tuan Leonil melihat kedatangan putrinya. Sontak wanita itu berdiri. Posisinya dan Luna saling berhadapan.


Luna tersenyum lebar. "Viona-ssi," serunya kemudian memeluk Viona.


Lagi-lagi Luna merasakan getaran tak biasa ketika berpelukkan dengan Viona. Seperti ada ikatan tak kasat mata yang menjalari dadanya.


Tuan Leonil menghampiri kedua perempuan itu kemudian menepuk bahu putrinya. "Luna, selama ini kau hidup sebagai putriku tanpa tau jati dirimu yang sebenarnya. Perempuan yang ada dihadapanmu ini bukanlah orang lain, dia adalah kakakmu, saudara kembarmu,"


"A-apa?" kaget Luna tak percaya.


Luna masih terpaku di tempat. Hari ini terasa seperti mimpi baginya. Perasaannya tak karuan. Tentu ia bahagia karena ternyata ia masih memiliki keluarga dan juga saudara kembar dan sekarang saudara kembarnya bahkan berdiri tepat dihadapannya, tetapi ia takut kalau semua ini hanyalah mimpi.


'Aku tidak ingin bermimpi indah sebab aku takut... Takut akan semakin sedih dan semakin menderita saat aku terbangun, karena saat itu juga aku akan sadar, kalau semua ini hanyalah mimpi.' ujar Luna membatin.


Luna merasakan sesuatu yang hangat mengalir membasahi pipinya. Ia pun lekas menyeka air matanya. Luna mencoba mencubit lengannya. "Ahh," guna memastikan itu mimpi atau bukan. Luna menggeleng. Tidak, ini bukan mimpi! Ini adalah kenyataan.


Sementara itu tanpa keraguan sedikitpun, Viona langsung memeluknya. Air mata juga sudah membasahi wajahnya. Akhirnya hari yang ia tunggu datang juga... Hari dimana ia bisa bertemu kembali dengan saudara kembarnya, Luna.


"Eonni, kau kemana saja selama ini? Aku berfikir jika aku adalah sebatang kara sebelum Appa Leonil membawaku pulang ke rumahnya. Syukurlah... syukurlah, ternyata aku masih memiliki keluarga. Aku bahagia karena Tuhan masih memberiku kesempatan untuk bertemu denganmu!"


Viona memejamkan matanya. Tanpa ragu ia membalas pelukkan Luna. Dalam waktu bersamaan, Luna bisa merasakan hangatnya kasih sayang seorang kakak. Namun bibirnya terasa kelu meski banyak sekali hal yang ingin ia tanyakan.


"Maafkan aku karena aku tidak bisa mengenalimu saat pertama kali kita bertemu. Saat itu kupikir kau adalah orang lain. Kupikir kau mirip denganku karena aku sedang berhalusinasi, sebab aku tidak pernah tau jika aku ternyata memiliki saudari kembar,"


Luna menggeleng. "Tak apa, Eonni. Aku bahkan lebih buruk karena aku tidak tahu kalau aku masih memiliki orang tua dan juga seorang kakak kandung. Aku bahkan tidak sadar kalau orang yang bertabrakkan denganku hari itu ternyata adalah kakakku. Aku tidak sadar kalau kita adalah saudara kembar. Maafkan aku, Eonni..." ujar Luna penuh sesal.


Viona melepas pelukkannya untuk bisa melihat sendiri seperti apa reaksi Luna. Ekspresi apa yang saat ini kembarannya itu perlihatkan. Marah, sedih, ataukah bahagia. Viona tersenyum di tengah tangis bahagianya.


Semua orang yang berada di ruangan itu ikut terharu menyaksikan pertemuan dua saudari yang lama terpisah itu. Bahkan Hans dan tuan Leonil sampai tidak kuasa menahan air matanya.


Nathan dan Dean menghampiri kedua saudari itu sambil membawa dua bayi dalam dekapan mereka yang kemudian Viona perkenalkan pada Luna. "Mereka adalah keponakkanmu, Xi Laurent dan Xi Lucas. Mereka kembar seperti kita, Luna,"


"Ya Tuhan," Luna berseru bahagia. "Oppa, boleh aku menggendongnya juga?" Nathan mengangguk kemudian memberikan Baby Lucas pada Luna. "Jadi ini keponakkan Bibi. Aiggo.. kau sangat tampan, Nak." Luna mengusap pipi Lucas.


"Kau ingin menggendong Laurent juga?" tawar Dean.


Luna megangguk antusias. "Tentu saja,"


Nathan mendekati Viona kemudian merangkul bahunya sambil sesekali mengecup kepala coklatnya. Nathan melihat kebahagiaan yang begitu besar di mata sang istri.


"Oppa, rahasia Tuhan memang indah ya? Baru kemarin Tuhan memberikan anugrah yang luar biasa padaku, dan hari ini sekali lagi Tuhan memberikan anugrahnya lagi padaku. Luna, rasanya aku masih tidak percaya," ujar Viona. Pandangannya tertuju pada Luna dan kedua buah hatinya.


Nathan mengangguk. "Dan Tuhan memberikan keajaibannya dengan mengirimkan seorang bidadari dan dua malaikat kecil dalam hidupku. Dan kalian bertiga adalah anugrah terindah yang Tuhan berikan padaku.Terimakasih Sayang, karna sudah melengkapi hidupku,"


"Sama-sama Oppa,"


-


Satu Tahun Kemudian....


Musim semi....


Adalah musim dimana bunga sakura bermekaran, berkuncup kembang dengan indah di pohonnya. Menguarkan aroma khas di indera penciuman manusia, menebarkan udara nyaman saat melihatnya ataupun merasakannya, itulah musim semi


Angin semilir berhembus. Bunga-bunga bergoyang mesra dalam musim semi yang indah. Demi kata yang bermakna. Sungguh betapa Viona sangat bahagia karna memiliki orang-orang yang begitu peduli dan sangat menyayanginya. Seakan rasa hangat yang selalu menjalar di setiap detik hembusan nafas.


Wanita berparas ayu itu berdiri di tengah-tengah padang bunga Canola yang terus berhoyang karna hembusan angin nakal. Surai coklatnya yang panjang terus melambai kesana kemari. Rok panjang yang memagut tubuh rampingnya pun tak lolos dari godaan sang bayu.


"Eonni,"


Perhatian Viona teralihkan oleh seruan seseorang dari arah belakang. Sontak Viona menoleh dan mendapati seorang darah jelita yang serupa dengannya berjalan menghampirinya sambil menggendong seorang bayi mungil dalam gendongannya.


"Mama.. Mama.." bayi perempuan itu melambaikan tangannya pada sang Ibu. Viona tersenyum lebar, menyambut kedatangan keduanya.

__ADS_1


"Di mana Lucas?" tanya Viona pada gadis yang pastinya adalah Luna.


"Dia bersama si menyebalkan itu. Apa Eonni tau, sudah tiga kali Lucas terkencing dalam gendongan Jacksoon. Hahaha, rasanya sangat menggelikan setiap kali aku ingat wajah menggelikannya karna ulah Lucas. Hahahha, sungguh pria yang malang,"


"Berhentilah meledekku dan membicarakan aku ketika aku tidak ada," sahut seseorang dari arah belakang. Jacksoon datang bersama Lucas dalam gendongannya.


"Mama.. Mama..." Lucas tersenyum dan melambai pada Viona. "Tata.. tata... Dada.. tada.. Mama.. Mama.." bayi satu tahun itu terus saja berceloteh dengan bahasanya yang sulit di pahami oleh orang dewasa, kecuali Viona selaku ibu kandungnya. Ya, karna hanya Viona dan Nathan yang mengerti bahasa mereka pastinya.


"Papa masih sibuk, Sayang. Jadi dia tidak bisa pergi bersama kita,"


"Yaya.. yaya.. Tata.. tata.. Yaya.. yaya..."


"Uhh, anak Mama tidak usah sedih ne. Mama, akan menghubungi Papa dan meminta dia untuk datang kemari. Oke,"


"Nana.. nana..Yaya.. yaya..."


Viona terkekeh. Dengan gemas ibu dua anak itu menarik ujung hidung mancung Lucas.


"KKYYYAAAA!!!"


Teriakkan dari atas bukit mengalihkan perhatian semua orang. Mata mereka membelalak melihat tiga pemuda terguling-guling dari atas bukit dan membuat bunga-bunga serta rumput-rumput di sepanjang kaki bukit menjadi rusak.


"Hahahha!! Nunna, Hyung, siapa pun tolong kami!! Kami tidak bisa berhenti meluncur!!!" teriak Satya histeris.


"KKYYYAA!!! AKU MELIHAT MALAIKAT BERPUTAR-PUTAR DIATAS KEPALAKU!! AKU TIDAK SIAP MATI!! HUAAA!!!" kini giliran Rio yang berteriak di iringi tangis histeris.


Semua orang hanya bisa menatap mereka dengan pandangan prihatin. Viona tak tau kegilaan apa lagi yang mereka lakukan di atas sana sampai bisa jatuh dan terguling-guling dari atas bukit.


"Aarrkkhh! Pinggangku!!" jerit Frans sambil memegangi pinggangnya yang serasa ingin patah. "Yakk!! Kalian berdua, cepat menyingkir dari atas tubuhku!!" teriaknya histeris


Jacksoon memberikan baby Laurent pada Luna kemudian membantu si trio yang sedang tertimpa musibah. "Sebenarnya apa yang kalian lakukan sampai-sampai kalian bisa jatuh terguling dari atas bukit?" tanya Jacksoon sambil membantu Frans berdiri.


"Ini semua karna ulah Rio. Dia menjatuhkan rumah lebah kemudian kami di kejar dan endingnya kami jatuh terguling-guling," jelas Satya memberikan penuturan.


Viona mendengus berat. Selalu saja ada tingkah konyol mereka yang tidak pantas setiap harinya.


"Papa... Papa..."


Laurent dan Lucas terus meronta dan minta di turunkan. Dengan langkah tertatih-tatih, kedua baby Xi menghampiri Nathan yang sedang merentangkan tangannya.


"Papa.. Papa.. Tata.. Tata.. Yaya.. Yaya.."


"Jadi anak Papa yang tampan dan cantik ini merindukan Papa, ya? Papa juga sangat merindukan kalian berdua," ucap Nathan sambil membelai kepala kedua buah hatinya.


"Tata.. Tata.. Nana..Nana.."


Nathan menggenggam jari-jari mungil Laurent yang sedang menyentuh perban yang melilit keningnya. "Kepala Papa tidak apa-apa, Nak. Hanya luka kecil saja,"


"Nana.. Nana.. Yaya.. Yaya..."


"Baiklah, lain kali Papa akan lebih berhati-hati lagi," Nathan tersenyum.


Viona menghampiri suami dan kedua buah hatinya. "Oppa,sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa terluka seperti itu?" tanya Viona melihat perban melilit kening Nathan dengan bercak darah tepat diatas alis kanannya. Serta plaster yang membalut luka di bawah mata kananya.


Nathan berdiri seraya membawa sikembar dalam gendongannya. "Terjadi sedikit insiden tadi. Tapi kau tidak perlu cemas, aku baik-baik saja," kata Nathan meyakinkan.


"Sini, Sayang. Laurent sama Mama dulu ne," Viona mengambil Laurent dari gendongan Nathan.


Lalu pandangan Nathan bergulir pada Rio, Frans dan Satya. "Kenapa lagi mereka?" tanya Nathan sambil menunjuk ketiga pemuda itu.


Viona mendengus berat. "Mereka jatuh terguling dari atas bukit setelah menjatuhkan sarang lebah. Tubuh Frans di tindih oleh Satya dan Rio," jelas Viona.


Nathan menggelengkan kepala. Dia sungguh tak habis fikir dengan keponakkan dan kedua adik angkatnya itu. Ada saja hal gila yang mereka lakukan setiap harinya.


"Sudahlah biarkan saja, sebaiknya kita pulang sekarang. Kepalaku benar-benar pusing," ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Viona.


"Baiklah, Oppa. Sayang sudah saatnya kita pulang,"

__ADS_1


"Nana.. Nana.. Tata.. Tata..." celoteh Laurent sambil menunjuk Luna dan Jacksoon.


"Dada.. Dada.. Yaya.. Yaya.." Lucas juga ikut berceloteh dan ikut menunjuk pada Luna dan Jackson.


Luna terlihat menghampiri mereka. "Tidak apa-apa, Eonni. Kami tidak masalah kok jika si kembar memang ingin tinggal bersama kami. Ayo, Sayang," Luna mengambil alih Laurent dari pelukkan Viona sementara Lucas diambil alih oleh Jacksoon.


"Kalian tidak perlu cemas. Ada aku dan ketiga krucil itu yang bisa menjaga mereka," ucap Henry yang kemudian dibalas anggukan oleh Nathan.


"Baiklah kalau begitu. Viona ayo kita pulang," Nathan menggenggam tangan Viona keduanya meninggalkan bukit berbunga tersebut dan berjalan menuju tempat di mana mobil Nathan diparkirkan.


Selema perjalan pulang. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Nathan. Pria itu menutup mata sambil menyandarkan punggung dan kepalanya pada sandaran jok mobilnya. Mobil Nathan di kemudikan oleh Theo.


"Oppa, kau baik-baik saja?" tanya Viona cemas.


"Hn," sahut Nathan. Sebelah lengannya Nathan menutupi sebagian wajahnya dengan sebelah lengannya.


"Theo, di depan sana ada sebuah apotek, kita berhenti dulu," ucap Viona yang kemudian di balas anggukan oleh Theo.


"Baik Nyonya,"


Theo menghentikan mobil yang dikendarainya di depan sebuah apotek. Viona langsung turun dan masuk ke dalam apotek tersebut.


Namun tak sampai sepuluh menit, Viona keluar dari dalam apotek tersebut sambil membawa sebuah kantong hitam berisi obat untuk Nathan.


"Hai cantik. Mau kemana sih? Kok buru-buru sekali?" langkah Viona di blokir oleh lima preman dan mencoba untuk menggodanya.


Viona menatap pria-pria itu dengan tajam dan penuh intimidasi. "Minggir dan jangan halangi jalanku," ucap Viona menuntut.


"Dia sangat galak, lihatlah dia sangat galak."


"Hahaha. Bukankah dia sangat menarik Boss? Sikat saja Boss, setelah kau puas serahkan dia pada kami."


"Bukan masalah,"


Brugg..


Viona menarik lengan pria itu yang hendak menyentuhnya lalu membantingnya ke tanah. Tidak hanya membanting tubuhnya, tapi Viona juga membuat patah tulang punggungnya.


"Wanita sialan,berani sekali kau!!"


Brugg..


Serangan pria itu dihadang oleh Nathan. Pria itu berdiri dihadapan Viona dalam posisi memunggungi. "Aarrrkkhhh, tanganku!!" Lolong kesakitan terdengar jelas ketika Nathan memlintir lengan pria itu ke belakang hingga menimbulkan suara mirip tulang patah.


Tak cukup sampai di situ saja. Nathan menarik senjata yang terselip di pinggangnya kemudian menembak pria itu hingga tewas. Dan apa yang Nathan lakukan membuat tiga yang tersisa menjadi sangat ketakutan. Mereka mundur sebelum akhirnya memilih kabur dan melarikan diri.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Nathan memastikan. Viona mengangguk, meyakinkan pada Natahan jika dirinya baik-baik saja. "Ya sudah kita pulang,"


.


.


Viona membuka lilitn perban yang membebat kening suaminya dengan sangat hati-hati. Luka memanjang tepat di atas alis kanannya terlihat jelas ketika perban itu sudah terlepas.


Viona menuangkan cairan anti septick pada sebuah kapas yang kemudian dia usapkan pada lukanya supaya tidak terjadi infeksi. "Oppa, lukanya cukup dalam. Pantas saja darahnya terus merembes keluar. Aku akan menjahitnya," ucap Viona ditengah kesibukkannya.


"Tapi apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau bisa sampai terluka seperti ini" tanya Viona penasaran.


"Sebuah insiden kecil terjadi di kantor. Seseorang tiba-tiba menyerangku dan berusaha membuatku buta. Beruntung aku bisa segera menghindar dan hanya luka kecil saja yang aku dapatkan," jelas Nathan.


Viona mendesah berat. "Syukurlah, lukanya tidak sampai fatal. Baiklah aku akan menyelesaikan ini dengan segera. Setelah ini kau istirahat sambil menunggu makan malam siap," ujar Viona. Nathan mengangguk.


Dan pekerjaan Viona selesai lima menit kemudian. Perban kembali membebat kening Nathan, dan darah menyembul pada permukaan kasanya tepat di atas alis kanannya. Plaster coklat selebar dua jari orang dewasa juga tampak pada bawah matanya.


"Sebaiknya kau jangan sampai kelelahan. Aku tidak ingin kau sampai jatuh sakit," ucap Nathan sambil membingkai wajah Viona dan msngunci manik hazelnya. Viona mengangguk.


"Aku mengerti, Oppa. Tidak perlu cemas,"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2