
Baca juga ya karya terbaru Author. Like dan koment jangan lupa..
-
Malam berlalu dengan cepat, bulan telah kembali ke peraduannya dan posisinya sudah digantikan oleh matahari yang mulai menunjukkan eksistensinya.
Disebuah dapur yang tidak bisa dikatakan kecil, seorang wanita terlihat sedang sibuk dengan penggorengan dan spatula ditangannya. Viona tengah menyiapkan sarapan untuk dirinya juga Nathan.
Tidak banyak menu yang dia masak pagi ini, hanya sekitar 4 menu saja dan hampir semua adalah makanan kesukaan Nathan. Viona merasa malas untuk melakukan apapun hari ini. Jika saja dia tidak sadar dengan posisinya sebagai Istri pasti Viona masih bermalas-malasan di kasur empuknya. Tapi masalahnya dia bukan lagi seorang gadis perawan apalagi lajang yang belum memiliki pasangan. Viona sudah menikah dan memiliki pasangan hidup
Suara derap langkah kaki seseorang yang datang sedikit menyita perhatian Viona. Sontak saja Viona menoleh dan mendapati Nathan tengah menuruni tangga dengan pakaian kerjanya. Sebuah celana bahan hitam, kemeja putih yang dibungkus vest hitam berkombinasi putih serta jas yang tersampir dilengan kirinya.
Untuk sesaat Viona melupakan bagaimana caranya untuk bernafas saat melihat penampilan Nathan saat ini. Suaminya itu terlihat begitu tampan dan penuh wibawah. Meskipun ini bukan pertama kalinya melihat Nathan dalam balutan pakaian kerjanya, tetap saja Viona tidak bisa berhenti mengagumi ketampanan suaminya yang nyaris sempurna dimatanya.
"Morning Baby," Nathan mengecup lembut kening Viona. Ritual yang selalu dia lakukan setiap paginya.
"Oppa, kau sudah mau pergi?" ucap Viona sesaat selah Nathan mendaratkan pantatnya pada salah satu kursi di meja makan.
"Hm! Aku ada pertemuan tiga puluh menit lagi." Jawabnya sedikit datar.
"Begitu ya, sebaiknya kita sarapan dulu. Aku sudah memasak banyak makanan kesukaanmu."
Nathan tersenyum seraya mengangguk tipis "Baiklah,"
Sarapan pagi ini mereka lewatkan dengan tenang. Tidak banyak obrolan mewarnai kebersamaan mereka di meja makan. Viona dan Nathan sama-sama diam dalam keheningan. Dan hanya terdengar dentingan sendok dan garpu saling bersentuhan memecah dalam keheningan.
Setelah menyantap sarapannya, Nathan menyempatkan diri untuk menikmati kopi yang telah Viona siapkan untuknya. "Oppa, apakah malam ini kau akan pulang terlambat?" tanya Viona yang kemudian duduk disamping Nathan.
"Aku rasa tidak. Kenapa?" Nathan memicingkan matanya.
Viona menggeleng. "Tidak apa-apa, cuma bertanya saja." Jawab Viona tersenyum.
Nathan melirik jam yang melingkari pergelangan tangan kirinya kemudian bangkit dari duduknya. "Aku harus pergi sekarang."
"Hati-hati dan jangan ngebut."
"Aku tau."
Dan sebelum pergi, tak lupa sebuah ciuman manis ia daratkan pada bibir ranum Viona "Dan jika lelah tidak perlu pergi kerumah sakit. Aku akan pulang lebih awal," Nathan mengusap pipi Viona dan pergi begitu saja.
Selepas kepergian Nathan, rumah menjadi sepi dan legang. Tidak ada orang lain dirumah super mewah itu selain Viona dan beberapa penjaga. Tak ingin dihantui rasa bosan yang membelenggu, wanita itu pun memutuskan untuk menghubungi Tiffany dan mengajaknya berbelanja. Viona berani bertaruh jika sahabatnya itu tidak akan menolaknya karna dia tau jika Tiffany adalah maniak belanja.
-
Tresno Ra bakal ilyang
Kangen sangsoyo mbekas
Tembang rindu kanggo riko
Janji suci tekaning pati
Salam Tresno di jogo
Snadyan adoh panggonanmu
Sumpah tulus kanggo riko
Salam rindu neng slirahmu....
__ADS_1
"AYO!! DI ANGKAT SEMUA TANGANNYA, KITA GOYANG LAGI!!"
"Yeee... Yeee..."
Suara bising yang berasal dari luar mengganggu jalannya meeting. Leo yang merasa geram terlihat beranjak dari duduknya dan melenggang keluar untuk membubarkan keributan yang terjadi di luar kantornya.
Dari kejauhan Leo melihat sekumpulan manusia yang berkumpul di satu titik. Di sebuah mobil bak terbuka, terlihat 3 mahluk dua alam tengah bernyanyi sambil bergoyang. Bahkan Leo tidak tau lagu dalam bahasa apa yang mereka bertiga nyanyikan. Leo menyambar sebuah balok yang ada di tanah dan membawanya pada kerumunan manusia-manusia tersebut.
"Paman, akhirnya kau keluar juga. Lihatlah, kami membuatkan mini konser khusu untukmu. Kami dengar hari ini kau berulang tahun. Oya, tiga artisnya kami datangkan langsung dari Indonesia loh. Jangan memandang fisik mereka, meskipun mereka mahluk jadi-jadian tapi mereka bertiga sudah legend loh," ujar Rio panjang lebar.
"Jadi ini ulah kalian," geram Leo penuh emosi.
"Tentu saja, memangnya siapa yang bisa melakukan hal ajaib seperti ini kalau bukan kami," sahut Satya membenarkan. "Soo, nikmati saja pertunjukkannya Hyung. Lihatlah betapa gemulainya mereka bertiga dalam bernyanyi dan menari."
"Kalian benar-benar sudah bosan hidup ya,"
"Tidaklah, kami masih ingin hidup panjang supaya kami bisa melihatmu bahagia setiap hari." Jawab Frans.
"Bubarkan mereka sekarang juga atau-"
"Atau apa?" sahut Rio menimpali. "Sudahlah Paman, nikmati saja dan berhentilah menjadi pria tak tau terimakasih. Kami sudah berbaik hati padamu dengan menyiapkan kejutan ulang tahun untukmu bahkan sampai mendatangkan mereka langsung dari Indonesia." Terang Rio panjang lebar.
"MEMANGNYA SIAPA YANG ULANG TAHUN!!" teriak Leo penuh emosi.
"Eh, jadi ini bukan ulang tahunmu?" Satya menatap Leo dengan wajah polosnya.
"Tentu saja bukan!!"
"Ya sia-sia dong kami bersusah payah menyiapkan semua kejutan ini." Imbuh Frans.
Tiga wanita jadi-jadian terlihat meliukkan tubuhnya dan berjalan menghampiri Leo. Ketiganya berhenti tepat di samping Leo. "Mau apa kalian?" sinis Leo pada mereka bertiga. "Jangan dekat-dekat, menjauh kalian." Leo menepis tangan ketiga wanita jadi-jadian itu dari tubuhnya seraya menatap tajam pada mereka bertiga.
"Jangan sok tau kamu!! Lagi pula siapa yang sudi pada mahluk dua alam seperti kalian bertiga. Sebaiknya kalian segera enyah sebelum aku membakar kalian hidup-hidup."
"Apa? Kau ingin mengauli kami secara bersamaan? KAMI SETUJU,"
"Yakk!! Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku BELATUNG NANGKA!!" teriak Leo saat ketiga wanita jadi-jadian itu mengangkat tubuhnya diatas kepala mereka. "Huaa... Bocah setan cepat bantu aku, minta mahluk-mahluk ini untuk segera menurunkanku!!" teriak Leo pada Frans, Satya dan Rio.
"Kami tidak mau!!" ketiganya menjawab dengan kompak.
"Hyung, selamat bersenang-senang. Di jamin mereka akan memuaskanmu. HAHAHHA!!"
"KALIAN BERTIGA!! AKU PASTI AKAN MENGHABISI KALIAN. YAK!! JANGAN SEMBARANGAN MENYENTUH SOSISKU!! YAK JANGAN DI TEKAN-TEKAN SEPERTI ITU. MAHLUK JADI-JADIAN... AHHH... A-APA YANG KAU LAKUKAN? AHH.. SIAPA PUN TOLONG, AKU DIPERKO**!!"
.
.
"BERSULANG...!!"
Seru Rio, Satya dan Frans nyaris bersamaan. Saat ini ketiga pemuda itu sedang berada di sebuah cafe yang letaknya bersebrangan dengan perusakaan milik Leo. Dari sana mereka bertiga bisa melihat dengan jelas mobil milik Leo terus bergoyang di tambah dengan teriakkan dari dalam sana. Mereka tidak tau apa yang ketiga waria itu lakukan pada Leo. Bukannya merasa Iba, mereka malah menikmatinya.
"Kadang aku heran, sebenarnya otakmu itu terbuat dari apa? Perasaan ada saja ide yang kau miliki untuk membuat runyam hidup penjahat itu,"
"Hehehe. Itu karna Tuhan maha adil, Paman!! Mereka memberiku kekurangan dalam hal pelajaran, tapi Tuhan malah memberiku kelebihan dalam mengerjai orang." Jawab Rio dengan santainya.
Dibandingkan kedua paman kecilnya. Rio memang sedikit lamban dalam menangkap mata pelajaran. Itulah kenapa dia pernah sampai tidak naik kelas sebanyak dua kali saat masih SD dulu. Tapi kecerdasannya dalam menjahili orang dan membuat mereka frustasi sudah menjadi keahliannya.
Hampir semua orang sudah pernah menjadi korban kejahilan dan kenakalan Rio termasuk Senna. Dan satu-satunya orang yang belum pernah Rio kerjai adalah Nathan. Jangankan untuk menjahili Nathan, baru di tatap saja sudah membuat Rio terkencing dicelana.
"Betul juga, tapi aku sangat salut padamu. Berkat ide-ide darimu kita bisa memberi pelajaran pada biawak dan betina itu." Sahut Satya.
__ADS_1
"Tapi ngomong-ngomong apa yang kira-kira dilakukan ketiga mahluk dua alam itu pada Paman Leo ya? Aku jadi penasaran," ucap Rio. "Paman, bagaimana kalau kita cari tau saja? Kita bksa untung besar jika mendapatkan videonya." Usul Rio.
Satya dan Frans mengangguk antusias. "Ide yang bagus, kalau begitu tunggu apa lagi. Ayo kita lets go..." seru keduanya dengan kompak.
"KITA BERANGKAT.."
-
Nathan tengah menunggu tamunya. Hampir setengah jam dia menunggu tapi orang yang ditunggu belum juga datang. Sebenarnya menunggu adalah satu hal yang paling Nathan benci dalam hidupnya, tapi sudah lama dia menantikan pertemuan ini.
"Tuan, dia sudah tiba."
Nathan menutup kembali berkasnya kemudian bangkit dari duduknya. "Persilahkan dia masuk, Kai," laki-laki berkulit tan itu membungkuk sebelum meninggalkan ruangan Nathan.
Nathan berjalan lurus menuju sudut ruangan, terlihat dia mengeluarkan sebuah wine dari lemari pendingin lalu membawanya menuju sofa dengan dua gelas berkaki panjang ditangan kirinya. Laki-laki itu duduk dalam posisi memunggungi pintu.
Nathan melirik kebelakang saat mendengar decitan pintu dibuka dari luar yang kemudian menampilkan sosok laki-laki setengah baya berjalan menghampirinya dengan tidak sabaran. Nathan menarik sudut bibir kanannya dan menyeringai tipis. "Aku sudah menunggumu begitu lama, Tuan Ardinata." Nathan berseru dengan tenang seraya bangkit dari duduknya. "Dan akhirnya kau datang juga." Imbuhnya lalu berbalik badan.
Derrt menatap Nathan dengan tajam, ia tidak menyangka jika hacker misterius yang membuat perusahaannya nyaris bangkrut adalah seorang CEO muda disebuah perusahaan besar. "Oh, jadi kau orangnya? Aku tidak akan bertele-tele, katakan padaku anak muda. Sebenarnya masalah apa yang kau miliki denganku sampai-sampai kau ingin membuatku bangkrut?"
"Tenanglah, Tuan. Tidak perlu terburu-buru, duduklah dulu sebentar. Aku sudah menyiapkan sebuah wine terbaik untukmu. Jadi, hargai niat baikku. Kita bisa bicara secara baik-baik, bukankah begitu?" ujar Nathan dengan tenang.
"Bicara katamu? Aku tidak suka bertele-tele dan membuang lebih banyak lagi waktuku hanya untuk melayani manusia sepertimu." Ujar Derry.
Nathan tersenyum mendengar ucapan Derry. Laki-laki itu berjalan menuju jendela kaca dibalik sofa. "Apa kau begitu penasaran kenapa aku sampai ingin menghancurkanmu?" Nathan mengambil jeda dalam ucapannya seraya melirik Derry melalu ekor matanya yang tajam.
"Aku memang tidak memiliki masalah apa pun denganmu, tapi mendiang kedua orang tuaku. Apa kau masih mengingat tentang Danni Lu? Laki-laki yang kau habisi lima belas tahun yang lalu. Dia memiliki seorang putri dan dua orang putra. Pada saat itu mereka bertiga bukanlah siapa-siapa dan apa-apa. Jangankan untuk membalas perbuatan kejimu, untuk menatap wajahmu saja mereka tidak berani. Tapi sekarang mereka sudah tumbuh dewasa, dan salah satu dari mereka datang untuk membalas dendam atas apa yang menimpa keluarganya di masa lalu."
"Ja-jadi, kau-?"
"Ya, aku adalah putra bungsu Danni Lu. Namaku Nathan, Hacker misterius yang membuatmu hampir kehilangan semua sahammu."
Derry menatap Nathan marah. Laki-laki setengah baya itu menghampiri Nathan dan menarik pakaiannya. "Kau fikir aku akan menyerahkan apa yang aku miliki padamu? Jangan pernah bermimpi. Kau fikir dengan otak jeniusmu itu saja cukup untuk membuatku hancur? Tidak semudah itu, Nathan. Kau hanyalah bocah kemarin sore yang tidak tau tentang kerasnya hidup. Di bandingkan dengan dirimu, akulah yang jauh lebih layak atas semua harta itu."
"Benarkah?" Nathan menyentak tangan Derry. "Apa kau mencoba untuk menantangku, hm?" ucap Nathan meremehkan.
Derry menarik pistol yang tersimpan dibalik jas yang dia pakai dan mengarahkan pada kening Nathan. Laki-laki tua itu menyeringai tajaml "Aku yakin tak lama lagi kau tidak akan bicara lagi anak muda, karna aku akan segera membungkam mulutmu untuk selamanya. " Ujar Derry menyeringai.
Nathan mendesah berat, dengan tenang ia menyingkirkan tangan Derry dari keningnya. "Kenapa kau begitu banyak bicara Pak Tua? Lama-lama kau membuatku muak." Ucap Nathan, raut wajahnya menjadi serius begitu pula dengan nada bicaranya.
"Aku tidak akan menundanya lebih lama lagi, aku akan menawarkan padamu dua pilihan. Kembalikan semua aset kekayaan keluargaku yang pernah kau ambil secara baik-baik atau mati dan membusuk dipenjara?"
"Hahaha, kau fikir aku gertakanmu itu mempan padaku. Sayangnya, kau akan mati setelah ini anak muda. Ucapkan selamat tinggal pada kesombonganmu." Derry memiringkan kepalanya, detik berikutnya suara tembakan menggema di dalam ruangan Nathan.
Dan suara letupan senjata itu menarik perhatian Kai yang sejak tadi berdiri didepan ruangan Nathan, Kai masuk kedalam dan mendapati seseorang terkapar dilantai dengan luka pada paha kirinya.
"Tuan?"
Langkah Kai terhenti setelah mendapatkan kode dari Nathan. "Itu hanya peringatan kecil untukmu, Derry Ardinata. Hari ini hanya kakimu, mungkin besok adalah kepalamu. Jadi fikirkan baik-baik penawaranku sebelum aku berubah fikiran dan mengirimmu ke neraka. Aku bukanlah laki-laki lemah seperti yang kau fikirkan. Aku bisa melakukan apapun termasuk mengambil nyawamu, tapi aku masih akan memberimu satu lagi kesempatan." Ujar Nathan panjang lebar. Ratapannya datar dengan sorot mata tajam penuh intimidasi
"Satu hal yang harus kau ingat, kau sudah membuat masalah dengan orang yang salah. Kai, urus bajing** tua ini." ucapnya dan pergi begitu saja.
"Tuan, wajah Anda terluka." seru Kai melihat darah menetes dari tulang pipi kanan Nathan.
Laki-laku itu menghentikan langkahnya dan melirik Kai melalui ekor matanya. "Aku tau," jawabnya dan melanjutkan kembali langkahnya. Kali ini Nathan masih mau berbaik hati pada Derry, tapi bukan berarti Nathan akan melepaskannya begitu saja.
Apa yang dia lakukan tadi hanyalah sebuah peringatan kecil untuk Derry. Dan Nathan tidak akan segan-segan untuk membunuhnya jika dia berani bermain-main dengannya. Benar anggapan orang, bila Nathan bukanlah manusia melainkan seorang Iblis berkedok malaikat.
-
Bersambung.
__ADS_1