Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab104) "Cemas Dan Gelisah"


__ADS_3


Riders tercinta, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya DIPAKSA MENIKAHI TUAN MUDA CACAT tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗🤗


-


Angin sepoi yang berhembus terasa menyejukan ketika menyentuh kulit, mentari pagi yang cerah menghangatkan suasana hati. Bau khas bunga-bunga yang baru bermekaran pun mulai tercium harum di dalam indera penciuman.


Warna-warni bunga indah nan cantik yang tumbuh sejauh mata memabdang terlihat menyejukkan mata. Merah, putih, maroon, violet, biru, kuning, jingga, pink seakan menjadi pelagi indah yang terkapar di hamparan sebuah bukit yang terletak tak jauh dari Villa tempat Luna dan yang lainnya menginap.


Setelah puas berjalan-jalan di sekitar bukit, Luna memutuskan untuk istirahat sejenak. Wanita itu mendudukkan dirinya di karpet hijau luas yang dikelilingi oleh bunga-bunga cantik.


"Ciptaan Tuhan yang sangat mengagumkan…" Wanita cantik itu terkagum melihat pemandangan luar di depan matanya.


Sepoian angin membuat rambut coklatnya yang menyentuh pinggangnya bergoyang. Tangannya sibuk merapikan rambutnya yang tampak berkibar karena terjangan angin nakal.


Ini adalah hari kedua Luna berada di Pulau Jeju, wanita itu enggan untuk kembali ke Seoul meskipun hari ini sudah memasuki hari Senin. Sementara Viona dan Nathan sudah kembali sejak kemarin sore, Nathan harus kembali bekerja di tambah lagi si kembar yang harus masuk sekolah.


"Luna, kau di mana?"


Seruan keras itu menyita seluruh perhatiannya. Luna segera berdiri dan mendapati Zian berdiri tak jauh dari tempatnya berada. "Oppa, aku di sini." Serunya kencang. Sontak saja Zian menoleh.


Zian mengayunkan kedua kakinya dan menghampiri Luna. Bukannya sebuah pelukan hangat atau ciuman mesra, justru malah jitakan keraslah yang Luna dapatkan. Wanita itu meringis dan mengadu kesakitan.


"Oppa, kenapa kau malah menjitak kepalaku?" protes Luna sambil mengusap kepalanya yang baru saja di jitak oleh Zian.


"Bagus aku hanya menjitak kepalamu. Apa kau tau bagaimana paniknya aku saat tidak menemukan dirimu di mana pun? Seharusnya kau memberitahuku jika ingin pergi kemana-mana, bukannya langsung nyelonong pergi."


Dan Luna sudah menduganya bila Zian akan mengomelinya habis-habisan, dan wanita itu hanya bisa meringis ngilu apalagi melihat tatapan tajam Zian yang mengintimidasi.


"Yakk!! Kenapa aku malah di omeli? Iya.. Iya aku tau jika aku salah. Tapi tidak perlu di omeli juga," Luna mempoutkan bibirnya.


"Aku tidak mungkin mengomelimu jika saja kau tidak berulah, Nyonya Qin!!"


"Huft, baiklah. Aku salah dan aku minta maaf." Ucapnya penuh sesal. Raut wajahnya berubah seketika. Luna memeluk lengan terbuka Zian dan menatapnya dengan mata berbinar. "Aku lapar, Oppa...Bagaimana kalau kita pergi ke luar untuk sarapan?"


"Memangnya kau ingin makan di mana?"


"Dimana saja yang penting aku bisa kenyang," jawabnya. Dan Zian hanya bisa mendengus geli melihat perubahan pada sikap dan mimik wajah Luna. Wanita itu tidak lagi cemberut seperti beberapa saat yang lalu.


Luna memeluk lengan terbuka Zian sambil sesekali menggosok-gosokkan pipinya pada lengan kekar yang terasa dingin tersebut.


"Oppa, bagaimana kalau di tambah satu hari lagi kita bermalamnya di sini? Hanya satu hari saja?" Luna mengangkat wajahnya dan menatap Zian penuh harap. Tapi mimik wajahnya berubah seketika melihat gelengan Zian. "Yakk!! Kenapa tidak!! Oppa, ayolah... Hanya satu hari lagi saja, aku janji besok lusa kita pulang.. jebal," pintanya memohon.


"Sekali tidak tetap tidak, Luna!! Atau kau ingin kita pulang sore ini?"


"Tidak... tidak... tidak... Huft, baiklah kita pulang besok." Luna melepaskan pelukannya pada lengan Zian dan meninggalkannya begitu saja. Wanita itu terus menggerutu tidak jelas. "Dasar suami menyebalkan, memangnya apa sih susahnya menyenangkan hati istri sendiri? Padahal aku 'kan hanya meminta kepulangan ke Seoul ditunda satu hari lagi. Tapi bersikeras tidak mau, dasar Zian Qin menyebalkan!!"


Dan Zian hanya bisa mendengus geli. Dia mendengar semua apa yang Luna katakan meskipun suaranya terdengar pelan. Dan sepertinya istri cantiknya itu akan merajuk lagi.


"Berhentilah menggerutu, Luna Qin!! Apa kau tidak sadar, jika sekarang kau menjadi pusat perhatian?"


Luna membuang muka. "Huuhh, aku tidak peduli!!" Luna terus berjalan sampai-sampai dia tidak sadar jika di depannya ada tiang listrik.


"Luna, awas..!!"


Duagg...!!


"Aaahhh.."


Tubuh Luna sedikit terhuyung setelah kepalanya terpentok tiang listrik. Zian segera menahan tubuhnya dengan sigap. "Ck, makanya kalau jalan fokus ke depan. Inilah akibatnya kau durhaka pada suamimu sendiri," omel Zian sambil sesekali meniup kening Luna yang tampak memerah.


"Awww... Oppa, pelan-pelan, sakit!!" jerit Luna histeris.


Zian mendengus geli. "Bagaimana rasanya berciuman dengan tiang listrik? Enak tidak? Lebih enakan bibirku atau tiang listrik itu?" tanya Zian.


"Tentu saja lebih enak bibirmu, lembut dan manis. Jadi cium aku kalau begitu," Luna memajukan wajahnya sambil memanyunkan bibirnya. Bukannya sebuah ciuman, justru sentilan jari Zian yang dia dapatkan. "Oppa, aku kan minta di cium, bukan di sentil!!" protes Luna sambil mencerutkan bibirnya.


"Apa kau tidak tau jika kita berada di tempat umum? Sudahlah, bukankah kau tadi bilang kelaparan, ayo kita pergi sekarang,"


"Huft, baiklah,"


.


.

__ADS_1


.


"Aaahhh, kenyangnya." Luna mengusap perutnya. Dia benar-benar merasa kenyang sekarang. "Oppa, bagaimana jika setelah ini kita pergi membeli ice cream? Hari ini udaranya sangat panas dan aku ingin memakan sesuatu yang segar-segar." ujarnya antusias.


Zian mendengus geli. "Makanmu sangatlah banyak, tapi kenapa tubuhmu tetap saja kecil. Atau jangan-jangan kau mengalami gizi buruk?" tebak Zian asal.


"Enak saja, mana ada orang terkena gizi buruk bodynya sebagus diriku," tutur Luna tak terima.


"Bagus apanya, pantat saja tidak punya dan melonmu rata," ujar Zian mencibir.


"Oppa, kenapa hari ini kau sangat menyebalkan!!!" teriak Luna meluapkan kekesalannya.


Zian terkekeh. Menggoda Luna memang sangatlah menyenangkan apalagi jika wanita itu sudah mengeluarkan senjata mautnya, yakni jeritan mirip lumba-lumba. "Sudahlah ah cemberutnya. Kau terlihat jelek, Sayang. Kemarilah biarkan aku menciumu," Zian menakup wajah Luna dan kemudian memagut singkat bibirnya.


Wajah cemberut Luna kembali berseri setelah Zian menciumnya. "Oppa, kenapa tidak dari tadi saja menciumnya? Aku kan tidak perlu mendrama panjang dulu supaya kau menciumku," ucap Luna sambil memeluk lengan terbuka Zian dengan mesra.


Zian mengacak gemas rambut Luna. "Dasar kau ini, bukankah kau tadi ingin membeli ice cream? Bagaimana kalau kita pergi sekarang?" tawar Zian dan membuat mata Luna kembali berbinar.


"Setuju....!!"


Tapp...


Namun langkah mereka harus terhenti karena kemunculan beberapa pria asing. Zian menarik Luna untuk berdiri di belakangnya. "Kita bertemu lagi, Zian Qin. Sepertinya Dewi Fortuna kali ini akan berpihak padaku." Ucap seorang pria berambut merah dengan salah satu lengannya yang tampak buntung .


"Oh, kau rupanya." Ucap Zian dingin.


"Oppa, siapa mereka dan sepertinya mereka memiliki dendam kesumat padamu?"


"Pergilah dan cari tempat untuk bersembunyi. Aku akan mengatasi cacing-cacing ini dengan segara,"


"Tidak mau, aku akan membantumu menghabisi mereka,"


"Tidak!! Jangan membantah dan mendebatku, Luna Qin." Geram Zian seraya menatap Luna tajam. Dan Luna pun tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan suaminya yang jelas tak ingin di bantah.


"Kali ini aku akan menghabisimu di depan wanitamu yang cantik itu, Zian Qin. Aku akan mencongkel kedua matamu dan ku bedah isi perutmu, kemudian aku rajam tubuhmu!!" ucap pria itu berapi-api.


"Lakukan saja jika kau memang mampu." Tantang Zian meremehkan.


"Bangsat....!! Hanisi keparat itu" pria berambut merah memberi perintah, "Kemudian bawa wanita cantik itu padaku!!"


"Siap Boss. Seraaang...!" seru salah seorang.


Dua puluh orang itu berlompatan menyerang Zian secara bersamaan. Mereka yang sudah menggunakan benda apa saja yang digunakan sebagai senjata, berkelebatan cepat mengurung dari segala jurusan dan tak memberikan sedikit pun celah pada Zian untuk menghindar apalagi melarikan diri.


Namun Zian hanya berkelit memiringkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, menghindari setiap sabetan dan tusukan pedang lawan-lawannya. Orang-orang suruhan pria berambut merah bukanlah tandingan Zian yang jelas-jelas telah mengikuti latihan fisik keras selama bertahun-tahub.


Dua kali lipat banyaknya dari jumlah itu pun, masih belum tentu bisa menandinginya. Tidak heran kalau dalam waktu singkat saja, hampir separuh dari jumlah mereka langsung menggeletak tidak bisa bangun. Zian menghajar mereka tanpa ampun, meskipun dia hanya dengan tangan kosong.


Sementara itu, Luna yang melihat jalannya perkelahian tampak semakin gelisah saja. Dia mengkhawatirkan keselamatan Zian, meskipun Zian berhasil menghabisi sebagian dari mereka tapi tetap saja beberapa luka tampak menghiasi tubuhnya seperti wajah, lengan dan lehernya.


Kegelisahan Luna semakin bertambah saat ada gerombolon lain mulai meloloskan senjatanya masing-masing. Wajah mereka kelihatan tegang dan kaku, menahan geram melihat tindakan Zian yang jelas memancing amarah yang lainnya.


Meskipun mendapatkan beberapa luka tapi Zian tidak tampak kewalahan menghadapi banyak orang, diantara penyerang yang rata-rata memiliki kepandaian beladiri cukup bagus. Zian terus saja berkelit, berlompatan dan menghindar tapi masih mampu memberikan serangan balasan. Meski demikian mereka semua tetap berusaha tidak memberi kesempatan pada Zian untuk membalas semua serangannya.


Setiap kali pemuda itu hendak melakukan pembalasan, selalu terhalang oleh serangan yang datang dengan cepat.


Buaagghh!!


"OPPA...!!!"


Luna menjerit histeris melihat salah seorang memukul Zian dari belakang hingga membuat dia terhuyung. Dan kesempatan itu mereka manfaatkan untuk menyerang Zian secara bersamaan. Menghajarnya dan memukulnya hingga babak belur.


"Yakk!! Berani sekali kalian membuat babak belur suamiku!!" teriak Luna marah. Luna hendak menghampiri Zian namun pria itu tidak mengijinkannya.


"Tetap di sana dan jangan coba-coba untuk mendekat karena aku masih mampu menghadapi mereka,"


Zian tak akan memaafkan mereka karena sudah membuat istrinya menangis.


Buk!


Mendadak satu tendangan keras berhasil mendarat di punggung Zian. Seketika pemuda itu pun terhuyung kedepan. Pada saat yang bersamaan, sebuah senjata tajam meluncur ke arah jantungnya.


Mata Zian membelalak. Buru-buru dia menggulirkan tubuhnya ke samping, dan senjata tajam itu pun mendarat tepat di samping kanannya.


Belum lagi sempat Zian memperbaiki posisinya, sebilah pedang sudah berkelebat cepat ke arahnya, dan Zian berusaha berkelit, namun ujung pedang itu hampir saja menggores perutnya. Namun Zian lebih cepat menghindari.

__ADS_1


Zian segera menggulingkan tubuhnya ke samping, tepat pada saat sebuah tangan yang memegang botol yang telah di pecahkan bagian bawahnya meluruk ke arahnya. Lalu dengan kecepatan yang sukar diikuti oleh mata biasa, kaki Zian melayang menghantam tangan itu.


Plak!


Seketika terdengar benturan, membuat Zian selamat dari tikaman yang bisa saja melukai dirinya lebih fatal lagim


Dengan cepat Zian bangkit, tangan kanannya berkelebat mengibas ke depan. Mendadak sebuah benda melesat cepat dari tangannya. Langsung saja satu jeritan melengking terdengar, disusul ambruknya satu orang setelah lehernya yang tertembus pisau.


Sejenak Zian mengatur nafasnya yang sedikit memburu. Kemudian dia menarik tangannya ke balik pakaiannya. Senjata berupa pisau lempar keperakan itu pun melesat cepat.


Dalam waktu singkat, lima orang sudah menyingkir sambil memegangi bagian tubuh yang terkena pisau lempar. Dan tiga diantaranya langsung terkapar. Mereka meringis, mengeram kesakitan.


Zian memang sengaja mengarahkan lemparannya ke tempat yang tidak mematikan seperti bahu atau lengan. Tapi itu sudah cukup memberikan efek jera. Bagi seorang ahli melempar pisau, tindakan tersebut bukanlah hal sulit bagi Zian.


Bukk!


"Aaakh...!" seketika orang itu menjerit.


Musuh itu mendekap dadanya yang terkena tendangan Zian, ia nampak meringis. Dan belum lagi jeritan itu hilang dari pendengaran, kembali terdengar satu lenguhan tertahan, lagi-lagi serangan Zian mengenai Sasaran. Orang itu tumbang setelah sebuah peluru melesat menuju jantung dan otaknya.


Kali ini Zian benar-benar tidak mau lagi mengalah. Dia terus memberikan serangan bertubi-tubi pada setiap orang yang bergerak kearahnya, bagai singa terluka. Tubuh-tubuh itu tak henti-hentinya bergelimpangan sambil mengerang kesakitan bahkan ada yang sudah tidak bisa bangun. Sebentar saja serangan para pengeroyok itu jadi kacau. Zian menyeringai.


"Kalian sungguh-sungguh manusia-manusia picik! Beraninya main keriyokan" geram Zian.


Para pengeroyok yang kini sudah berkurang hampir separuhnya itu, segera mundur.


"Dengar! Aku tidak mau berurusan lagi dengan kalian semua, dan sebaiknya jangan coba-coba mencari masalah lagi denganku jika kalian tidak ingin hidup kalian berakhir mengenaskan, dan kau…", Zian menunjuk ke pria berambut merah yang memicu terjadinya perkelahian.


"Sebaiknya berpikirlah dua kali sebelum membuat perhitungan denganku!! Jika kalian masih juga ingin membunuhku, majulah. Biar kukirim kalian semua ke neraka!" tenang suara Zian tapi penuh penekanan dan sorot matanya terlihat begitu berbahaya.


Lima orang yang tersisa itu, terdiam dengan sikap tetap bersiaga penuh. Hati mereka mulai dilanda kegentaran. Suasana hening segera melanda tempat itu. Zian masih menatap tenang pada mereka yang masih mengelilinginya.


Pelahan-lahan kakinya bergerak melangkah maju. Mereka yang berada di depannya, bergegas menyingkir. Zian terus melangkah pelan-pelan. Matanya tetap tajam merayapi sekitarnya. Sepertinya tak seorang pun yang berani lagi mendekat. Hati mereka benar-benar sudah gentar menghadapi kegilaan pria bermarga Qin itu.


Tring!


Jleb! Jleb!


Dua buah pisau itu berbenturan di udara dan mengarah langsung menuju kaki orang yang ingin membokongnya, sekaligus menghentikan tindakan kedua orang tadi yang ingin menyerangnya secara diam-diam.


Gerakan gertakan Zian sukses membuat semua nyali orang makin ciut. Mereka sangat kaget, padahal dua orang tadi berseberangan. Belum lagi, di depan orang yang membokong itu masih ada orang lain. Tapi bagaimana bisa pria itu melempar dan berada tepat di kaki dua orang tadi tanpa mengenai atau menyingkirkan mereka.


Tapi ada juga orang yang bermata awas, tentu saja sempat melihat kalau kedua pisau lempar itu saling berbenturan dan saling memantul. Orang yang bisa melakukan hal itu pastilah sangat hebat dengan perhitungan serta kecepatan gerak tangan yang sangat tinggi.


Zian menatap mereka satu persatu, mereka tampak gemetar ketakutan, dan melihat ada kesempatan, segera pergi meninggalkan tempat itu. Gerakannya tenang.


Dan apa yang Zian lakukan membuat orang-orang yang ada di sana terperangah. Mereka takjub dengan kehebatan Zian, meskipun hanya sendiri dia mampu menghadapi 20 orang sekaligus. Meski luka tampak di sana sini.


"Oppa,"


Tubuh Zian terhuyung kebelakang karena terjangan Luna. Wanita itu menangis sejadi-jadinya sambil terus memukul dada Zian dengan sangat brutal. Zian mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Luna.


Beberapa detik kemudian Luna mengangkat wajahnya dan hatinya perih melihat beberapa luka menghiasi tubuh dan wajahnya, bahkan mata kanannya tampak memar dan sedikit bengkak akibat pukulan yang dia terima. Belum lagi luka memanjang di atas alis kanannya, leher dan lengannya yang terus mengeluarkan darah, ada pula luka lebam di tulang pipinya.


"Sebaiknya kita ke rumah sakit, luka-lukamu harus segera di obati." Ucapnya yang kemudian di balas anggukan oleh Zian.


"Baiklah," Zian tak ingin membuat Luna semakin cemas jika dia menolak untuk ke rumah sakit.


.


.


Decitan suara pintu di buka mengalihkan perhatian Luna yang sedari tadi duduk termenung di kursi ruang tunggu. Zian keluar dari dalam ruangan itu dengan perban membalut di sana-sini.


Dan banyaknya perban menandakan seberapa seriusnya luka yang dia dapatkan. Tapi yang paling membuat hati Luna perih adalah perban yang membebat keningnya, yang turun hingga menutup mata kanannya. Ada bercak darah tepat di atas alis kanannya.


"Oppa," lagi-lagi tubuh Zian terhuyung ke belakang karena pelukan Luna yang sangat tiba-tiba.


"Jangan menangis lagi, aku baik-baik saja. Sebaiknya sekarang kita pulang." Zian melepaskan pelukannya, jari-jarinya menghapus air mata yang terus menetes dari mata indah Luna.


Zian tersenyum tipis, meyakinkan pada Luna jika dirinya baik-baik saja. Meskipun pada kenyataannya tidak. Sekujur tubuhnya terasa remuk semua akibat pukulan-pukulan yang dia terima.


"Bisakah kau kemudikan mobilnya? Kepalaku sangat pusing dan aku tidak ingin sampai membahayakan keselamatanmu." Ucap Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.


"Tentu,"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2