
Sembari menunggu Viona yang sedang mengganti pakaiannya. Nathan berjalan menuju ruang tamu, ditengah langkahnya tiba-tiba saja ponsel dalam saku celananya berdering. Nathan menghentikan langkahnya hanya untuk melihat siapa yang menghubunginya, alih-alih menerima panggilan itu, Nathan malah mematikan ponselnya dan menyimpannya kembali.
Nathan mengurungkan niatnya untuk menunggu Viona di ruang tamu dan malah berjalan menuju teras Villa dimana mobilnya diparkirkan. Laki-laki itu duduk diatas kap mobilnya sambil menikmati sebatang rokok beraroma mint yang diapit kedua jarinya. Nathan menghisap rokoknya dalam-dalam dan mengeluarkan asapnya melalui hidungnya. Tak berselang lama sosok Viona datang dengan pakaian berbeda.
Membuang putung rokoknya yang tinggal setengah. Nathan masuk kedalam mobil mewahnya. Alih-alih menghampiri suaminya, Viona tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menekuk wajahnya. Wanita itu berkali-kali menghentakkan kakinya membuat Nathan sedikit kebingungan. "Ada apa?" tanya Nathan sedikit kebingungan.
"Dasar menyebalkan, tiba-tiba aku tidak jadi lapar. Dan jika kau ingin pergi, pergi saja sendiri. Aku tidak berminat lagi." Wanita itu berbalik dan kembali kedalam Villa.
Nathan mendesah berat, ia tidak tau kenapa akhir-akhir ini sifat istrinya itu menjadi sedikit sensitive. Dengan langkah lebar, Nathan melangkahkan kakinya memasuki Villa. Setibanya dikamar, Nathan melihat Viona yang duduk bersila diatas kasur sambil mendumal tidak jelas. Wajahnya ditekuk dan bibirnya mencerut, wanita itu benar-benar terlihat begitu menggemaskan.
Nathan menghampiri Viona kemudian duduk disampingnya. Bukannya menyambut, Viona malah membuang muka kearah lain. "Ada apa? Kenapa tiba-tiba kau menggurungkan untuk pergi makan malam?" tanya Nathan penasaran.
Wanita itu mencerutkan bibirnya. "Dasar tidak peka, tanpa bertanya pun harusnya Oppa sudah tau jawabannya." Gerutu Viona. Wanita itu kembali memalingkan wajahnya dari Nathan dan menatap langit malam. "Aku terlalu jengah. Hampir seharian ini kau mengabaikanku dan mendiamiku, kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu dan itu membuatku tidak nyaman. Oppa, bisakah selama di sini kau hanya fokus pada diriku saja?" pinta Viona sambil menatap lurus sepasang mutiara coklat milik Nathan.
"Jadi kau kesal karna hal itu?" Viona mengangguk. "Baiklah, seperti keinginanmu, Sayang."
Nathan menakup wajah Viona dan melum** bibir tipisnya. Mata mereka sama-sama tertutup rapat, dan bibir mereka saling melum**. Sebelah tangan Nathan yang berada di wajah Viona berpindah untuk memeluk pinggang rampingnya. Sedangkan tangan satu lagi berpindah pada tengkuknya. Viona mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan. Nathan terus menginvasi bibir Viona tanpa memberikan kesempatan padanya untuk bernafas.
Ciuman yang awalnya penuh kelembutan semakin lama berubah menjadi ciuman panas yang menuntut. Nathan membuka matanya dan menatap wajah memerah Viona. Kedua matanya tertutup rapat dan sepertinya wanita itu menikmatinya.
Nathan mengakhiri tautan bibirnya setelah dua menit mereka berciuman tanpa jeda. Dia tidak ingin bila Viona sampai kehabisan nafas karna dirinya. "Kau tetap saja payah, Sayang. Ingin yang lebih?" tawar Nathan.
Viona semakin mendekatkan tubuhnya pada Nathan. Jari-jari lentiknya menarik keluar vest putih itu dari tubuh Nathan kemudian beralih pada kemeja hitamnya, hanya tersisa singlet putihnya.
Viona menggerakkan jari-jari lentiknya di atas dada bidang Nathan yang masih tersembunyi di balik singlet putihnya. Yang kemudian merayap pada lengan terbukanya. Tidak terlalu besar namun terasa kuat ketika di sentuh. Viona mengarahkan wajahnya menuju lengan kokoh suaminya. Bibirnya mengecup basah ukiran indah pada lengan kanan suaminya yang terbentuk dengan sempurna.
Nathan menggeram rendah ketika bibir Viona mengecup tribal pada lengan kanannya. "Mereka sangat indah dan sempurna, Oppa. Dan aku selalu menyukai mereka," bisiknya sambil menatap sepasang mutiara coklat milik suaminya.
"Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi, aku ingin memakanmu detik ini juga,"
"Kalau begitu lakukan, Oppa. Masuki diriku, aku sangat menantikannya," balas Viona.
Nathan menegakkan tubuhnya, jari-jarinya menarik keluar singlet putihnya melalui kepalanya lalu menjatuhkannya begitu saja. Kembali Nathan menyatukan bibir mereka, melum** dan mengecap seperti yang dia lakukan beberapa saat yang lalu. Jari-jarinya merayap diatas tubuh Viona. Dengan lihai Nathan menanggalkan semua kain dari tubuh sang dara lalu membuangnya kebelakang melewati bahu kekarnya. Nathan menyeringai.
"Sayang, milikmu benar-benar sempurna. Dan tidak lama lagi milikku akan segera memuaskanmu." Bisiknya lalu mencium singkat bibir Viona.
Seakan tak puas, Viona balik mencium bibir Nathan dengan lebih ganas. Kedua tangannya menakup wajah tampan suaminya. Tidak ada penolakan, Nathan malah menikmatinya. Jari-jari besarnya mendorong kepala Viona supaya ciuman itu semakin dalam. Lidahnya mengobrak-abrik dalam mulut Nathan dan sesekali mengajak lidah laki-laki itu menari bersama, tak jarang mereka juga saling bertukar saliva.
Setelah puas, bermain-main dengan bibir suaminya. Viona kembali menurunkan wajahnya menuju bawah Nathan untuk memanjakan diri Nathan yang lainl "Hhhhhmmmmm." membuat laki-laki itu menggeram keras, ia begitu menikmati apa yang Viona lakukan
"Viona, cukup." Pinta Nathan dengan nada rendah. Laki-laki itu menggeram menahan gairah.
__ADS_1
Nathan merebahkan tubuh Viona dan kembali mencumbunya. Bibirnya kembali meraup bibir ranum itu dan menginvasinya. Jarinya kembali meluncur kebawah, dan tanpa aba-aba Nathan memasukkan jarinya kedalam lubang kenikmatan Viona lalu mengocoknya dalam tempo cepat. Jarinya terus bergerak, menggiring Viona menuju tepian kenikmatan yang dia inginkan.
"Kau sudah siap?" Nathan mencabut jarinya dari lubang milik Viona, wanita itu mengangguk lemah.
Nathan menegapkan tubuhnya kemudian memposisikan ujung sosisnya pada pintu pintu lubang Viona. Mendorongnya secara perlahan dan ketika ujungnya berada dipusat wanita itu, kembali Nathan membawa bibir Viona dalam mulutnya. Menciumnya dengan penuh gairah, sementara dibawah sana sosisnya mulai memasuki terdalam Viona. "Hhhhmmm." Wanita itu menggeram ketika Nathan memghujamkan sosisnya dalam tempo cepat, Viona dapat merasakan secara langsung di dalam sana.
Viona merasakan sensasi luar biasa saat sosis Nathan terasa lebih keras dari sebelumnya. Viona membuka kedua kakinya lebih lebar lagi agar suaminya bisa lebih dalam memasuki dirinya. Pinggul Viona bergerak tak terkendali dan erang** berkali-kali lolos dari bibirnya. Nafas mereka berdua sama-sama tidak beraturan ketika mereka merasakan arus listrik yang seperti menyenggat organ sensitive mereka secara bersamaan.
Malam yang awalnya terasa dingin berubah menjadi begitu panas. Rasa lapar yang sebelumnya meraka rasakan lenyap entah kemana tergantikan dengan sensasi kenikmatan yang begitu luar biasa. Selain Nami Island, Jeju Island juga menjadi saksi bisu cinta mereka berdua. Saling menghabiskan malam panjangnya untuk saling berbagi kenikmatan yang tiada tara.
-
"PAMAN, BIBI, KAMI DATANG!!!"
Suasana Villa yang semula tenang seketika menjadi gaduh karna kemunculan tiga pemuda. Mereka tak lain dan tak bukan adalah Rio, Satya dan Frans. Karna terlalu merindukan Nathan dan Viona, mereka bertiga pun memutuskan untuk menyusul mereka berdua yang sedang menikmati waktu liburannya.
Nathan yang merasa lelah setelah apa yang dia lakukan bersama Viona benerapa waktu lalu terlihat enggan untuk bangun dari posisi berbaringnya. Kemudian Nathan menggulirkan tatapannya pada sosok jelita yang sedang tertidur pulas disampingnya. Nathan menyambar kaus singletnya lalu melenggang keluar meninggalkan kamar.
Dari lantai dua Villa. Nathan bisa melihat dengan jelas keberadaan tiga pemuda yang sangat dia kenal sedang duduk bermalas-malasan di sofa. "Kalian, sedang apa kalian di sini?" tegur Nathan pada ketiganya. Sontak ketiganya menoleh. Dan susah payah mereka menelan salivanya melihat tatapan dingin Nathan yang mengintimidasi.
"Hyung, jangan menatap kami seolah-olah kami ini adalah kriminal yang kepergok mencuri ikan. Dan beginikah caramu menyambut kedatangan kami," Satya melayangkan protesnya pada Nathan dan tentu tanpa menatap matanya.
Nathan menghampiri mereka bertiga lalu memeluknya. "Apa Ibumu tau kalau kalian bertiga pergi ke sini?" tanya Nathan memastikan. Mereka bertiga menggeleng. "Sudah ku duga, baiklah malam ini kalian boleh bermalam di sini tapi besok pagi kalian harus kembali ke Seoul. Kalian mengerti?"
Nathan mendesah berat. Setelah memastikan mereka sudah masuk ke dalam kamar dan beristirahat. Nathan segera kembali kekamarnya yang berada dilantai dua. Dia merasa lelah dan ingin segera beristirahat.
-
Pagi yang indah di sebuah Villa yang berada di atas bukit. Angin segar menembus celah-celah ventilasi Villa tersebut. Dari Villa tersebut, keluarlah seorang wanita bersurai coklat panjang sambil membawa sebuah keranjang.
Pagi ini Viona berencana untuk jalan-jalan di bukit belakang Villa dan memetik beberapa jenis bunga yang tumbuh liar di sana. Viona tidak hanya sendiri, ada tiga pemuda tampan yang menemaninya.
Mereka bertiga berjalan menikmati pemandangan bukit. Mulai dari burung-burung yang beterbangan, kelinci-kelinci yang tidak jarang terlihat melompat-lompat, serta langit biru tanpa awan di atas sana. Sungguh suasana pagi yang indah dan menenangkan jiwa. Tapi semua itu tidak berlangsung lama karna kemunculan seorang pria yang seketika merusak mood Viona.
"Kau lagi-kau lagi, apa di tempat ini tidak ada orang lain yang biasa aku temui selain dirimu? Karna melihat wajah menyebalkanmu secara terus menerus membuatku merasa muak!!"
Alih-laih marah dan tersinggung. Albert malah terkekeh. "Nona, sepertinya kita berjodoh. Buktinya kita selalu bertemu. Oya Nona, sampai sekarang kau masih belum memberitauku siapa namamu. Bagaimana kalau kita berkenalan sekali lagi?" tanya pria itu memberikan penawaran.
Viona menepis tangan Albert dengan kasar. "Sayangnya aku tidak berminat!!" tegas Viona dan pergi begitu saja.
"Nona, tunggu!!" seru Albert dan berusaha untuk menyusul Viona tapi dihalangi oleh Rio dan kedua paman kecilnya. "Yakk!! Apa yang kalian lakukan? Minggirlah dan jangan menghalangiku, aku bisa kehilangan jejak Nona itu!!"
__ADS_1
"Justru kami di sini untuk menghalangimu, kami tidak akan membiarkanmu pergi menyusulnya!!" jawab Frans.
Rio mendekati Albert lalu melepas sabuk pada celana yang dia kenakan termasuk resleting dan pengaitnya. Alhasil celana Albert melorot dan jatuh begitu saja. "Yakk!! Bocah apa yang kau lakukan?" pekik Albert marah. Albert menaikkan kembali celananya yang melorot lalu membetulkannya.
"Paman, itu hanya peringatan kecil untukmu. Sebaiknya mulai sekarang jauhi dan jangan dekati Bibiku lagi jika kau tidak ingin mengalami masa yang sangat sulit dalam hidupmu. Bibiku sudah bersuami jadi sebaiknya kau lebih sadar diri."
"Dan jika kau masih berani mendekatinya, jangan pernah salahkan kami jika kami akan membuat hidupmu serasa di neraka. Ingat baik-baik ya," Satya tersenyum seraya menepuk bahu Albert.
Ketiga pemuda itu melambaikan tangannya pada Albert dan pergi begitu saja. Mereka segera mempercepat langkahnya untuk menyusul Viona yang semakin menjauh. "Nunna//Bibi, tunggu kami!!"
-
Nathan menghentikan mobil mewahnya di halaman luas sebuah rumah sederhana yang terletak jauh dari keramaian kota. Pria itu bergegas turun dan masuk ke dalam. Dua pria yang berjaga di depan pintu langsung membukankan pintu untuknya lalu mengantarkan Nathan untuk bertemu dengan Bossnya.
"Tinggalkan kami berdua," perintah seorang pria pada beberapa anak buahnya.
"Baik Tuan,"
Di dalam ruangan itu hanya menyisahkan Nathan berdua dengan seorang pria bersurai hitam legam. Raut wajah Nathan tak menunjukkan ekspresi apapun, datar. Sorot matanya dingin dan tidak bersahabat. Meskipun hanya satu detik saja, tapi keterkejutan terlihat jelas dari sorot matanya.
"Aku tidak memiliki banyak waktu untuk meladeni orang sepertimu. Jadi langsung saja pada intinya, kenapa kau mengundangku kemari?" tanya Nathan tanpa basa basi.
Alih-alih menjawab. Pria itu terlihat menuangkan wine ke dalam dua gelas yang kosong yang salah satunya dia berikan pada Nathan. "Santai saja kawan, dan tidak perlu terburu-buru. Bagaimana kalau kita berbincang, membicarakan masa lalu sambil menikmati wine yang lezat ini? Aku khusus mendatangkannya dari Inggris hanya untuk menyambut kedatanganmu, kawan lamaku!!" Nathan menyeringai sinis.
Pria itu meletakkan gelas berisi wine itu di atas meja kemudian beranjak dari duduknya. Nathan berdiri di depan jendela kayu yang tampak usang dan tak terawat itu. "Memangnya apa lagi yang masih perlu dibicarakan? Bukankah diantara kita sudah tidak ada ikatan apapun lagi sejak kau memutuskan untuk menghinataiku dan lebih memihak musuh!!" balas Nathan menimpali.
"Bagaimana jika aku mengatakan kalau aku tidak pernah menghianatimu?" pria itu mengambil jeda dalam kalimatnya dan mendesag panjang.
"Itulah kebenaran yang sudah sejak lama ingin aku katakan padamu, tapi sayangnya kau tidak pernah memberiku waktu untuk menjelaskannya. Aku tidak pernah menghinataimu apalagi menghianati persahabatan kita. Alasan aku menghilang selama bertahun-tahun dan kenapa barang itu bisa berada di tangan musuh, karna mereka menjebakku. Mereka berhasil mendapatkan barang itu setelah membuatku tidak sadarkan diri dan membuang tubuhku ke dalam jurang. Aku terluka parah dan mengalami patah tulang, itulah kenapa aku menghilang selama 3 tahun ini. Karna aku membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisi tubuhku,"
Nathan menggepalkan tangannya lalu mendorong pria itu dan mengunci lehernya pada tembok. "Lalu kenapa kau tidak pernah menghubungiku ataupun Bima? Kenapa kau tidak pernah memberitaukan keandaanmu padaku dan Bima? Dan kenapa kau malah membiarkan aku membencimu selama bertahun-tahun?" tanya Nathan sambil mengunci manik hitam pria dihadapannya.
"Karna aku tidak ingin membebanimu dan Bima. Aku tidak ingin jika kalian menemuiku dan melihat keandaanku yang jauh dari kata baik. Itulah kenapa aku memilih bersembunyi, dan aku fikir akan lebih baik jika kalian membenciku dari pada harus melihat keadaanku!!"
"Dasar bodoh!! Kenapa kau tidak berubah sedikit pun, selalu saja berpikiran pendek. Dan rasanya aku ingin sekali menghajarmu sampai sekarat di sini, karna aku fikir orang sepertimu memang layak mendapatkannya,"
"Hahaha! Kau memang benar, karna aku fikir juga begitu."
Nathan menghampir sahabat lamanya itu dan mereka berdua berpelukkan selama beberapa detik. Nathan lega sekarang, dia seperti tidak memiliki beban lagi. Beban dan kemarahan yang dia simpan selama 3 tahun hilang begitu saja. San sekarang sudah tidak ada lagi kesalahpahaman diantara dirinya dan sahabat lamanya tersebut. Dan Nantah merasa lega.
-
__ADS_1
Bersambung.