
"Empat Tahun Yang Lalu"
-
"Hahaha. Aku mengerti, Sayang. Aku pasti akan datang tepat waktu. Kau sudah sangat rindu, eh? Aku juga sudah sangat merindukanmu."
Sebuah mobil mewah melaju dengan kecepatan kencang pada jalanan yang legang. Menerobos gerimis yang masih menetes satu persatu. Mobil itu melaju kencang di tengah gelapannya malam.
Si pengemudi tak terlalu memperhatikan jalanan yang dia lewati karna sibuk mengobrol dengan temannya melalui sebuah sambungan telfon.
Hingga tanpa dia sadari, mobilnya mulai mendekati tikungan S di KM 17 yang sangat curam serta berkabut tebal dan sering memakan korban. Saat mobilnya mulai melintas di tikungan S di KM 17, pandangannya menjadi terbatas karna kabur tebal.
CKITTT....
"Aaahhhh...."
Dan detik berikutnya, mobil itu hilang kendali hingga menabrak pagar pembatas yang kemudian terperosok ke dalam jurang. Bensin keluar dari tabung bahan bakar yang bocor. Si pengemudi yang tak sempat melompat keluar untuk menyelamatkan diri ikut terjun bebas bersama mobilnya.
Duarr!
Dan ledakkan pun terdengar dari bawah sana. Mobil terbakar detik itu juga, termasuk si pengemudi malang yang turut menjadi korban.
-
Dean menghampiri Luna yang sedang termenung di balkon kamarnya. Wajahnya mendongak menatap langit malam bertabur bintang.
Wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun, datar. Bahkan dia tetap tak bergeming meskipun menyadari kedatangan seseorang di kamarnya.
Luna hanya mirik sekilas pada pria yang berjalan menghampirinya, pandangannya kembali terpusat pada langit. "Ini sudah malam, kenapa kau belum tidur?" tanya Dean kemudian berdiri di samping Luna.
Luna mengangkat wajahnya. "Aku masih belum mengantuk, Oppa," jawabnya datar.
"Luna, ada sesuatu yang ingin Oppa tanyakan padamu, dan ini mengenai Miranda. Sebenarnya masalah apa yang kau miliki dengannya, sampai-sampai kau selalu bersikap dingin dan acuh padanya?
Bagaimana pun juga dia adalah calon istriku, calon menantu dalam keluarga ini! Jadi pengertilah, bersikaplah baik padanya, supaya dia bisa merasakan jika dia telah di terima sepenuhnya oleh keluarga ini. Dan pikirkan bagaimana perasaannya, Oppa mohon."
Luna menatap Dean dengan pandangan terluka. "Oh, jadi kau kemari hanya untuk membahas hal yang tidak penting sepertin ini? Jika kau memintaku untuk memikirkan perasaannya, LALU SIAPA YANG AKAN MEMIKIRKAN PERASAANKU?
Kenapa kau tidak memiliki kepekaan sama sekali sebagai seorang pria sih!! Kau benar-benar menyebalkan, Dean. Aku membencimu," Luna berbalik dan pergi begitu saja, meninggalkan Dean yang hanya menatap gamang kepergiannya.
"Mianhae, Luna-ya. Memang lebih baik kau membenci oppa, sebelum kau semakin terluka. Dan memang inilah yang terbaik untuk kita berdua," ucap Dean sambil menatap kepergian Luna. Mobil milik Luna baru saja meninggalkan halaman.
-
Hanya dengan melihatnya saja. Pasti semua orang sudah tau jika pemuda-pemuda itu adalah sekumpulan pria nakal yang suka mencari masalah dan membuat keonaran di mana-mana, dengan kata 'brandal' yang melekat pada diri mereka.
Kebanyakan dari mereka adalah korban broken home atau mereka yang kurang mendapatkan cinta dan kasih sayang dari orang tuanya. Mabuk-mabukan, tawuran, balap liar sampai percintaan bebas seolah menjadi makanan mereka sehari-hari.
Dan anehnya, meskipun memilih berjalan di persimpangan. Namun tak sedikit perempuan yang memaruh hati pada mereka, mungkin karna mereka memiliki paras yang luar biasa tampan, dan selain itu juga karna status mereka yang berasal dari keluarga terhormat.
Meskipun mereka memiliki paras setampan dewa-dewa Yunani kuno, namun tetap saja mereka adalah kumpulan brengsek yang selalu menimbulkan masalah.
Tak sedikit pula dari mereka yang memiliki otak mesum dan menjadi penjajah cinta, namun ada juga brandal yang mengklaim jika dirinya tidak pernah tertarik dengan mereka, meskipun itu hanyalah sebuah alibi hanya untuk mengelabuhi supaya mereka tidak mengganggunya.
"Hai tampan, sendirian saja,"
Seorang laki-lali dengan sepasang mata abu-abu tajam yang sedang menikmati segelas winenya menoleh dan mendapati seorang wanita cantik bertubuh sexy menghampirinya dan mencoba untuk menggodanya. Pria itu mendengus sinis, di amati pakaian wanita itu yang super minim bak kurang bahan.
__ADS_1
Mengabaikan wanita itu dan kembali memperhatikan minumannya, seolah-olah wanita itu hanya gumpalan asap tak berharga. Sifatnya yang cuek seolah mengatakan jika Ia tidak memiliki ketertarikkan apa pun pada semua kesexyan yang ditawarkan.
"Pergilah nona, aku tidak tertarik padamu.
Zian kembali meneguk vodkanya.
"Dasar sok jual mahal," wanita itu mendecih kesal dan pergi begitu saja. Meninggalkan Zian yang masih terlihat asik menikmati minumannya.
"Aku heran denganmu. Di saat semua pria tergoda dengan kemolekkan dan kecantikan mereka, kau malah bersikap acuh dan cuek. Padahal mereka dengan senang hati akan membuka lebar-lebar kakinya untukmu secara cuma-cuma, dasar Tuan arogan!!"
Zian mendengus berat. "Berisik sekali kau. Lama-lama kau mirip si anak ayam itu, Hyung. Jangan merusak moodku, asal kau tau. Aku di sini hanya untuk bersenang-senang," Cicit Zian.
"Kau benar-benar aneh, Zian. Jelas-jelas kau itu normal, tapi kenapa kau malah mengatakan secara terang-terangan pada setiap wanita cantik yang mencoba mendekatimu jika kau itu tidak pernah tertarik padanya? Dan gilanya lagi kau selalu menjadikan diriku ini sebagai sasaran empuk saat kau di hadapakan dengan wanita-wanita penghuni di bar ini.
Terus terang aku heran, apa yang mejadi alasanmu menolak semua wanita yang mencoba mendekatimu," tanya Thomi penasaran.
Zian meneguk kembali vodkanya. "Karna mereka adalah mahluk menyebalkan," jawabnya acuh tak acuh.
Thomi menggelengkan kepalanya, Ia benar-benar tak habis fikir dengan sepupunya ini. Di saat teman-teman satu gengnya berlomba-lomba untuk bisa tidur dengan banyak wanita, tapi Zian justru menghindar meski pun banyak wanita yang bersedia membuka kaki untuknya.
"Kau belum mencobanya, kawan. Berhubungan dengan wanita itu sangat menyenangkan, kau belum mencobanya sih." Tutur Thomas.
"Hoek," Zian memegang perutnya yang terasa mual.
"Sialan kau, Qin. Aku hanya ingin berbagi kenikmatan denganmu. Karna di antara semua anggota Five Corner, hanya kau saja yang belum pernah merasakan kenikmatan wanita." Tutur Thomi.
Zuan memutar matanya jengah."Hentikan kalimat menjijikkan itu, Thomi. Jika kau tidak ingin aku benar-benar muntah di sini," Ujar Zian ketus, Thomi terkekeh sambil menggelengkan kepala.
Sepupunya ini memang tidak pernah berubah, ketus dan bermulut tajam. Bahkan sifat Zian jauh lebih dingin dari yang terakhir Thomi ingat, dan Thomi tidak ingat kapan terakhir Ia melihat Zian tersenyum dan bersik ramah.
"Kau benar-benar manusia aneh, Zian. Kau ini sangat tampan, kaya tapi kelakuanmu minus semua. Balap liar, mabuk-mabukan, tawuran, memenuhi tubuhmu dengan tatto, membuat tindik. Aku heran, kenapa kau lebih memilih menggelandang dari pada harus tinggal di mansion mewahmu itu,"
"Tapi, Zian. Bagaimana kau bisa membiayai hidupmu jika Ayahmu sudah membekukan semua kartu kreditmu,?" Thomi menatap Zian dengan cemas. Ziam meneguk minumannya dengan tenang.
"Aku tidak peduli, bahkan penghasilanku dari balap liar jauh lebih menjanjikan. Dan asal kau tau, tabunganku lebih dari cukup untuk membeli rumah mewah sekelas mansion keluarga Qin. Aku tidaklah semenyedihkan itu, Thom,"
Ya memang benar apa yang Zian katakan, mungkin tidak banyak yang tau jika Zian telah membeli sebuah apartemen super mewah di khawasan elit Seoul. Bahkan Zian juga dapat membeli mobil sport keluaran terbaru dari hasil balapan liarnya. Gila memang, tapi seorang Qin memang tidak bisa di remehkan.
Zian menaikkan alis kanannya melihat Thomi menyodorkan sebuah buku catatan kecil padanya. "Di dalam buku catatan itu, ada lebih dari 500 biodata wanita plus foto dan nomor telfonnya. Kau bisa menghubungi salah satu dari mereka untuk bisa kau ajak bersenang-senang, dan aku jamin kau akan terpuaskan,"
Zian mendecih tidak suka ."Menjijikkan,"
Thomi tertawa mendengar umpatan si bungsu Qin itu, Thomi menyeringai menatap wajah kesal sepupunya. "Jika kau siap, hubungi aku. Kita akan melakukan double..."
"Shit, mati saja kau, Thom," Ketus Zian menyela kalimat Thomi.
Derit kursi di tarik kebelakang seiring dengan Zian bangit dari duduknya, detik berikutnya hanya punggung tegapnya yang hanya tertutup singlet putih yang mengikuti lekuk tubuhnya tertangkap oleh jade Thomi.
Pria bermarga Lee itu kembali mengulum senyum palsu, mengoda sang sepupu memanglah hal paling menyenangkan. Dan tak sampai lima menit sosok Zian sudah hilang dari jangkauan matanya.
.
.
Zian menghentikan mobil sport mewahnya di area taman terbuka di pusat kota. Tubuh tegapnya bersandar pada bagian depan mobil sport mewahnya.
Zian mengeluarkan sebungkus rokok dan pematik berwarna emas dari saku celana jeans yang membingkai kaki jenjangnya.
__ADS_1
Dan keberadaan Zian di sana cukup menarik perhatian para kaum hawa yang berada di taman kota, mereka harus menahan nafasnya melihat penampilan sang adonis yang mampu membangkitkan birahi.
Penampilan Zian bisa dikatakan cukup berani, tubuh kekarnya hanya terbalut singlet putih yang mengikuti lekuk tubuhnya, kaki jenjangnya di tutup jeans belel yang menggantung di pinggangnya. Dua kalung berwarna perak menggantung di leher jenjangnya, lima pierching menghiasi daun telinganya, selain punggung dan lengan kanannya, tatto juga menghiasi leher kirinya.
Rambutnya di tata sedikit berantakan dengan poni memanjang hanpir menutupi salah satu matanya.
Zian terlihat begitu santai tanpa merasa terusik sedikit pun oleh tatapan memuja para wanita yang ada di taman kota, bahkan mereka yang telah memiliki pasangan pun sesekali mencuri pandang kearah Zian. Laki-laki itu menikmati rokoknya dengan santai sampai sesuatu menarik perhatiannya.
Dari kejauhan Zian melihat seorang perempuan yang sedang duduk termenung di bangku taman sambil meneguk sebotol wine langsung dari botolnya.
Zian terus memperhatikan gadis itu dari kejauhan, ada dalam diri perempuan itu yang menarik perhatiannya, terlebih lagi wajahnya yang mengingatkannya pada seseorang. Zian menggeleng. "Tidak mungkin jika itu dia," ucapnya entah pada siapa.
"ARRKKHH! SIALAN LAU DEAN!!"
Crakkk...
Tiba-tiba perempuan itu berteriak dan membanting botol wine-nya hingga hancur berkeping-keping. Perempuan itu menekuk kedua kakinya kemudian membenamkan wajahnya dilipatan kedua lengannya. Isakan keluar dari sela-sela bibirnya dan bahunya naik-turun. Ia terisak.
Tiba-tiba segerombolan preman menghampiri perempuan itu dan mencoba menggodanya. Zian tetap bergeming dan hanya memperhatikannya. Dia ingin melihat apa yang akan para preman itu lakukan pada si perempuan.
"Hai, Nona. Kau terlihat buruk, bagaimana kalau kita-kita menemanimu?" tanya salah seorang dari kelima preman itu.
Sontak Luna mengangkat wajahnya dan menatap tajam kelima preman tersebut. Bagus, mereka datang di saat yang tepat. Dirinya memang membutuhkan sebuah pelampiasan sekarang. "Mau apa kalian?" tanya perempuan itu yang tak lain dan tak bukan adalah Luna.
"Mengajakmu bersenang-senang," jawab salah seorang dari mereka berlima.
"Baiklah, aku akan melayani kalian," kelimanya pun menyeringai.
Luna menarik lengan salah seorang dari kelima preman itu lalu membantingnya ke tanah. Dan apa yang Luna lakukan tentu membuat terkejut keempat rekannya termasuk Zian yang masih tetap memperhatikan dari kejauhan.
"Yakk!! Gadis sialan, beraninya kau!!"
"Jangan banyak bicara, sebaiknya maju kalian semua!!"
Dan perkelahian tak seimbang itu pun tak dapat terhindarkan. Luna yang hanya seorang diri dikeroyok empat orang secara bersamaan. Tanpa ampun dan tanpa perasaan sedikit pun, Luna menghajar para preman itu. Dua diantaranya berhasil Luna tumbangkan, dan tersisa dua lagi.
Mihat ketiga temannya yang terkapar di tangan Luna membuat dua yang tersisa menjadi ragu untuk melanjutkan perkelahian. Mereka pun memilih kabur dari pada harus berakhir di tangan gadis itu.
Zian menyeringai. Baru kali ini ada perempuan yang berhasil membuatnya terkesima. Bukan, bahkan Zian mengagumi keberaniaannya.
Zian beranjak dari tempatnya kemudian masuk ke dalam mobilnya. "Hm, gadis yang unik," dan dalam hitungan detik. Mobil sport mewah milik Zian meninggalkan area taman Sungai Han.
-
Bersambung.
Oke riders...
Pasti banyak yang bingung dan bertanya-tanya, kenapa Nathan dan Viona tidak ada sama sekali di bab 147 ini. Kemudian FLASHBACK "Empat Tahun Yang Lalu". Karna ini udah masuk SS 2-nya dan mulai bab 147, Author mulai ngangkat kisah tentang Luna dan Zian.
Mulai dari kematian Jacksoon yang tragis. Awal pertemuan Zian dan Luna. Juga tentang Dean dan Miranda.
Karakter Luna sedikit berbeda dari Viona ya, dia lebih barbar dan menyukai sesuatu yang menantang. Seperti kebut-kebutan di jalananan.
Semoga gak pada kecewa ya karna karakter utama di SS 2-nya bukan lagi Nathan-Viona melainkan Zian-Luna. Dan terimakasih buat semua riders yang udah ngikitin novel ini dari awal.
-
__ADS_1
Bersambung.