
Dan akhirnya Nathan melepas tautan bibir mereka tanpa melepaskan pelukkannya dari tubuh Viona , menatapnya dengan mata yang menyala. Viona membalas tatapan Nathan, sebelum akhirnya Viona gulirkan pandangannya pada lengan kanan Nathan. Sepanjang dia mengenal laki-laki itu, sepertinya Viona baru menyadari jika ada sebuah tribal di lengan kanan Nathan. Padahal sudah tiga kali Viona melihat laki-laki itu memakai pakaian tanpa lengan dan dua kali melihatnya bertelanja** dada. Tapi Viona benar-benar tidak memperhatikan jika ada sebuah ukiran yang begitu indah di tubuhnya.
"Oh my Lord"
Viona memekik dalam hati saat melihat garis hitam melengkung pada lengan Kanan Nathan yang membentuk sebuah pola tertentu disana, tribal tattoo. Begitu itu indah , tintah itu terlukis diatas kulit sang Adonis. Dan dalam hatinya Viona bertanya-tanya, sampai dimana tribal itu menghiasi lengan Nathan. "I--Ini tribal?" Viona mengangkat wajahnya dan menatap langsung pada manik coklat milik Nathan. Laki-laki itu tidak memjawab, sebagai jawabannya Nathan menganggukkan kepala.
Viona menurunkan jarinya pada lengan kanan Nathan yang tertutup lengan t-shirt pendeknya. Berlama-lama menggerakkan jarinya disana untuk mengikuti pola tribal itu. "Indah." bisik Viona dan kembali mengangkat wajahnya. Namun tidak ada respon dari Nathan. Laki-laki itu hanya diam sambil menatap mata Viona yang lagi-lagi berhasil menghipnotis dirinya.
"Viona, hentikan!!" Nathan menggeram seraya memejamkan matanya saat tangan Viona merayap semakin sensual.
Apa yang Viona lakukan sukses membuat erangan frustasi lolos dari bibir kemerahannya. "Hentikan, aku mohon! Atau kau ingin aku menyerangmu disini." Suaranya menggeram semakin rendah. Matanya kembali terbuka dan memancarkan gairah seperti api yang berkobar di dalam kegelapan malam. Nathan adalah laki-laki normal, jadi wajar jika dia terangsa** oleh sentuhan Viona. Gadis itu terkekeh melihat Nathan yang begitu tersiksa.
"Maaf-maaf, aku tidak akan melakukannya lagi. Tapi sebagai gantinya, bisakah kau menemaniku jalan-jalan? Aku ingin menghabiskan beberapa hari yang tersisa dengan menciptakan kenangan indah bersamamu. Karna aku yakin, semua akan berbeda setelah pelayaran ini berakhir." Ujar Viona sambil mengulum senyum perih.
Gadis itu menyeka setitik kristal yang mengalir dari sudut matanya dan melangkah pergi meninggalkan Nathan.
Tubuh Viona tertarik ke depan karna tarikan pada pergelangan tangannya, hingga wajahnya berbenturan dengan dada bidang milik Nathan. Selanjutnya dapat Viona rasakan sepasang tangan memeluk tubuhnya dengan sangat erat. Perlahan mata itu tertutup dan membalas pelukan Nathan.
'Ya Tuhan. Jangan pernah biarkan kebersamaan ini berakhir, aku mencintai pria ini dan hanya dengannya aku ingin hidup dan menghabiskan sisa umurku.'
.
.
GLUKKK!!!
Susah payah Satya dan Frans menelan salivanya setalah melihat pantulan dirinya dicermin . Mini dress diatas lutut, wig panjang menyentuh punggung , wajah dengan polesan make up yang cukup mencolok, hils dan aksesoris seperti anting dan kalung yang semakin mempermanis penampilan mereka. Satya dan Frans terlihat begitu cantik dan imut , dan siapa pun yang melihatnya pasti tidak ada yang menyangka jika mereka berdua adalah seorang laki-laki. Dan mereka menjadi begitu cantik ketika menjelma menjadi mahluk dua alam.
"YA TUHAN."
Seruan histeris dari arah pintu mengalihkan perhatian keduanya. Terlihat Rio yang sedang menggulum senyum lalu menghampiri mereka berdua "Kalian terlihat sangat cantik dengan dress dan wig itu, Paman kecil. Bukan... tapi Bib Sania dan Bibi Franda, Kekeke."
"Tertawalah sepuasnya kau, bocah. Tunggu saja pembalasan kami." Sinis Satya sambil mendelik tajam pada Rio.
"Aisshhh!! Kenapa kalian galak sekali , Bibi. Cantik-cantik kok galak, kekkeke." lagi-lagi Rio terkekeh , di matanya Satya dan Frans begitu menggemaskan apalagi saat mereka sedang marah. "Ayo, paman Nathan sudah menunggu kita."
"Apa? Nathan hyung!! Bocah, apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan?" tanya Frans yang entah kenapa memiliki firasat buruk "Jangan bilang jika kau...?"
"....Tenang saja, Bibi kecil. Aku tidak akan mengatakan pada paman Nathan jika ini kalian." Rio mengedipkan sebelah matanya pada Satya dan Frans lalu berjalan menuju pintu. Rio menghentikan langkahnya lalu menoleh. "Aku tunggu diluar, kita akan sarapan bersama paman Nathan."
__ADS_1
Sepanjang langkah mereka menuju restoran , banyak pasang mata menatap mereka berdua yang berjalan sambil menundukkan wajah menyembunyikan wajah cantiknya dari mata keranjang para pria. Satya dan Frans semakin mempercepat langkahnya. Dalam hati, mereka terus merutuki kebodohannya karna sudah menerima tantangan dari Rio. Dan endingnya mereka harus terjebak dan menjadi wanita jadi-jadian selama dua minggu.
Dari jarak lima meter. Satya dan Frans melihat Nathan yang tengah duduk tenang sambil ditemani sosok cantik berparas barbie. Mereka berdua terlihat bercengkrama hangat dengan gadis itu yang pastinya adalah Viona, sesekali fokus Nathan tertuju pada laptop didepannya. Dan Viona menemani Nathan dengan duduk tenang disampingnya tanpa berniat untuk mengganggunya.
"Paman, Nunna cantik!" perhatian keduanya pun teralihkan. Nathan memicingkan matanya melihat dua sosok gadis yang berjalan bersama Rio, wajah mereka terlihat tidak asing sampai akhirnya....
"FRANS, SATYA!!"
Viona memekik keras saat menyadari jika kedua gadis yang datang bersama Rio adalah Satya dan Frans. Nyaris saja Viona dan Nathan terkena serangan jantung dadakan karna ulah mereka berdua. "Apa-apaan kalian ini?" tanya Nathan pada keduanya.
"Kami kalah taruhan dari bocah ini, Hyung. Dan selama dua minggu kami harus berdandan seperti ini." Ujar Frans memberi penjelasan. Nathan mendengus geli dan menggeleng kepala melihat tingkah mereka.
"Sudah kuduga."
Drett Drett Drett!!
Getar pada ponsel yang ada diatas meja menyita perhatian Nathan. Nathan mengambil ponsel itu dan mendapati nama Henry memenuhi layarnya yang menyala terang. Nathan menggeser tanda hijau pada ponselnya dan menerima panggilan itu. Nathan bangkit dari duduknya dan menjauh dari Viona, Rio, Satya dan Frans.
"Nunna cantik, bagaimana kalau kita berfoto bersama mereka?" usul Rio lalu menarik Viona untuk berdiri. Gadis itu tersenyum kemudian mengangguk.
"Aku rasa bukan ide buruk." jawabnya.
Berbeda dengan Viona dan Rio yang memasang senyum terbaiknya, Satya dan Frans justru menekuk wajahnya. Nathan yang baru saja kembali terlihat menarik sudut bibirnya melihat kedekatan Viona dengan adik dan keponakannya. Mengabaikan mereka berempat yang sedang sibuk dengan dunianya. Nathan melanjutkan pekerjaannya. Nathan mengamati layar laptop didepannya. Seringai kemenangan tercetak diwajah tampannya. Menakupkan kedua tangannya diatas meja, bertopang dagu.
.
.
Disebuah ruangan yang sangat besar dan megah. Terlihat seorang laki-laki setengah baya duduk tenang disofa yang berada ditengah ruangan sambil menikmati secangkir kopi panas. Meletakkan cangkir itu diatas meja, kemudian beralih pada tumpukan dokumen penting yang dia letakkan bersebelahan dengan cangkir kopinya.
Mata berlapis kaca mata berfreme hitam itu membaca dan memeriksa laporan keuangan yang dia terima pagi ini. Pria itu tersenyum miring, menghentikan aktifitasnya sejenak lalu pandangannya bergulir pada jam yang bertengger manis di dinding dan waktu menunjukkan pukul 7.30 pagi. Dia masih memiliki setidaknya 15 menit sebelum bertemu dengan para koleganya.
Cklekkk!!
Tiba-tiba pintu ruang kerjanya terbuka, seorang laki-laki masuk kedalam ruangan itu dengan langkah tergasa "Tuan, seorang Hacker telah menyerang sistem keamanan komputer kita." ujarnya dengan raut panik. Nafasnya tersenggal-senggal dan setitik peluh menetes dari pelipisnya.
"APA?"
Pemimpin perusahaan itu bangkit dari kursinya dan bergegas pergi keruang kontrol. Tenisi itu segera mengikuti atasannya masih dengan raut wajah panik. Hanya butuh wakti lima menit akhirnya mereka tiba diruang kontrol. Pintu berwarna silver itu terbuka secara otomatis setelah laki-laki bermarga Ardinata itu memasukkan sandi yang ada disamping pintu. Segera ia masuk kedalam ruangan itu di ikuti oleh teknisinya.
__ADS_1
Sedikitnya ada 30 teknisi didalam ruangan itu yang berusaha melindungi sistem komputer perusahaan dari worm yang dikirim oleh seorang Hacker jenius. Semua orang yang berada didalam ruangan itu menunjukkan raut panik. Masing-masing dari mereka sibuk dengan komputer-komputer dihadapannya.
"Tuan, bukan hanya sistem keamanan komputer saja yang dirusak tapi juga sistem keamanan perusahaan. Hacker itu berhasil mendapatkan password-nya padahal kami sudah memakai kode binary."
"Tuan, ada masalah baru. Beberapa data penting bocor dan berhasil dicuri.
Park Moon-Yu, sang kepala teknisi yang semula hanya melihat pergerakan Worm melalui layar monitor berukuran paling besar diantara layar-layar yang lainnya. Mulai menggerakkan jari-karinya dengan lincah di atas keyboard yang terhubung dengan komputer induk milik perusahaan.
Sebagai kepala teknisi di perusahaan itu, tentu saja dia tidak bisa membiarkan worm semakin mengacaukan sistem komputer terlebih lagi worm itu mencuri beberapa data penting perusahaan. Dan dampaknya pada saham perusahaan yang mulai mengalami penurunan dan jika tidak segera dicegah maka perusahaan itu terancam akan mengalami gulung tikar.
"Kita tidak memiliki pilihan lain, aktifkan Supernova sekarang." perinta Moon-Yu pada semua teknisi.
"Apa yang terjadi? Kenapa antimalware tidak bekerja dengan baik?" tanya laki-laki bermarga Ardinata itu pada Park Moon-Yu ,
Laki-laki itu tersenyum miring. "Anda lihat dan tunggu saja."
Pria itu dan Moon-Yu mengamati cara kerja Supernova tersebut, senyum miring tercetak dibibir sang kepala teknisi, mana kala dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana program itu memutus worm tersebut. Begitu pula dengan laki-laki bermarga Lee tersebut, laki-laki itu tersenyum puas. Tidak salah dia menunjuk Park Moon-Yu sebagai kepala tekniai dan tidak sia-sia dia mengeluarkan uang sampai jutaan dolar demi program tersebut.
"Tuan, ada worm lain yang masuk kedalam sistem dan tidak bisa terdeteksi oleh antimalware."
"APA? Bagaimana bisa?" Segera Moon-Yu memeriksa worm itu. Dan worm yang baru dikirim lebih berbahaya dari worm sebelumnya.
"Oh shit! Ternyata si misterius itu lebih cerdik dan licik dari yang aku pikirkan."
-
Usai sarapan Nathan kembali ke kamarnya dan dia membawa Viona bersamanya. Saat ini keduanya sedang duduk di sofa sambil menikmati drama percintaan pada sebuah LED berukuran besar di kamar pria bermarga Lu tersebut. Hanya Viona, karna Nathan sama sekali tak pernah tertarik dengan kisah roman picisan.
Nathan menempatkan Viona di depannya. Punggung Viona bersandar pada dada bidang milik Nathan yang tersembunyi di balik t-shirt dan vestnya. "Kenapa kau bisa jatuh cinta padaku?" Viona mengangkat wajahnya, mata hazelnya langsung bersiborok dengan sepasang mutiara coklat jernih namun terkesan dingin milik Nathan.
"Karna kau berbeda,"
Viona mengerutkan dahinya. "Maksudmu?"
Nathan menarik ujung hidung mabcung Viona dan mencium singkat bibir ranum tipisnya yang menggoda. "Aku tidak perlu mengatakan alasannya dan menjelaskan apapun padamu. Karna cinta tidak butuh alasan. Cinta datang sendirinya tanpa kau minta dan tanpa bisa kau cegah. Bukan kita yang memilih pada siapa kita akan jatuh cinta. Tapi cintalah yang memilih pada siapa kita akan melabukan hati, dan cinta memilih dirimu sebagai pelabuhan hatiku," tutur Nathan tanpa mengakhiri kontak matanya.
Dan selanjutnya Viona merasakan bibirnya sudah berada dalam pagutan bibir Nathan. Mereka berciuman dalam posisi yang sama. Nathan menakup sebelah wajah Viona dan terus memberikan *******-******* lembut pada bibir ranum itu. Viona tau dan sadar betul jika yang dia lakukan ini adalah sebuah kesalahan, tidak seharusnya dia berhubungan seintim ini dengan pria lain. Tapi Viona tidam akan menyesalinya. Karna Nathan adalah pilihan hatinya.
.
__ADS_1
.
Bersambung.