
Nathan menghentikan mobil mewahnya dihalaman rumah sakit milik kakaknya. Nathan segera keluar dan memasuki rumah sakit. Kedatangan Nathan disana menjadi pusat perhatian, banyak mata yang tertuju padanya. Tapi Nathan tetap bersikap acuh dan tidak peduli.
Kedatangan Nathan di sana bukan tanpa alasan, dia hendak menjemput Viona dan menemui Senna. Nathan tidak ingin Senna sampai berfikir yang tidak-tidak hanya karna dirinya tidak menemuinya.
Nathan membuka ruang kerja Viona dan mendapati wanita yang tengah berbadan dua itu tengah menangis sesegukan dalam pelukkan Senna. Nathan yang penasaran segera menghampiri kedua wanita tersebut.
"Ada apa ini?" tegur Nathan.
Keduanya memgangkat wajahnya dan tangis Viona semakin pecah. "Huaa..," bukannya berhenti melihat kedatangan Nathan, tangis Viona malah semakin keras membuat Senna semakin kebingungan. "Huaaa.. Hiks, kau jahat Oppa! Kau sangat-sangat jahat. Hiks, huaaa... Kau jahat. Beraninya kau berselingkuh dibelakangmu padahal aku sedang hamil. Hiks, Huaaa..." Viona menjatuhkan tubuhnya di lantai dan semakin meraung-raung. Sesekali Viona meneteskan obat tetes mata supaya air matanya terlihat deras.
Nathan memicingkan mata kanannya. Apa Viona bilang? Selingkuh? "Selingkuh bagaimana? Aku baru saja tiba dan kau langsung menuduhku yang tidak-tidak. Dan atas dasar apa kau menuduhku selingkuh?"
"Huaaa... Eonni, kau dengar itu. Bukannya meninta maaf dia malah memarahiku, hiks.. Huaaa, kau jahat Oppa, kau sangat?sangat jahat padaku,"
Nathan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Nunna, sebenarnya apa yang terjadi padanya?" tanya Nathan pada Senna.
Senna menggeleng. "Nunna juga tidak tau, karna saat Nunna tiba disini Viona sudah menangis dan meraung seperti bayi sambil menyebutmu jahat. Dan Viona menangis hampir dua jam," ujar Senna menjelaskan.
Viona bangkit dari posisinya kemudian menunjukkan sebuah foto pada Nathan. Nathan melihat foto itu dan mendengus berat. "Jadi kau menangis dan menyebutku jahat karna foto itu? Kau sudah salah paham, Sayang. Wanita itu benarma Yurinaka Yamamoto, dia adalah gadis yang pernah aku selamatkan enam tahun yang lalu dan tidak ada hubungan apa-apa diantara aku dan dia," ujar Nathan menjelaskan.
"Sungguh?" Nathan mengangguk. "Oppa tidak sedang berbohong kan?" Nathan menggeleng.
Nathan menakup wajah Viona sambil menghapus jejak air mata yang membasahi wajah cantiknya. "Dengarkan aku, Sayang. Aku tidak mungkin menghiabatimu apalagi menghianati janji suci kita. Aku mencintaimu dengan tulus dan hanya kau satu-satunya wanita yang ada dalam hidupku, jadi jangan berfikir yang tidak-tidak. Kau mengenal diriku dengan sangat baik bukan?" Viona mengangguk. "Dan ngomong-ngomong dari mana kau mendapatkan foto itu?" tanya Nathan penasaran.
"Tao, dia yang mengirim foto itu dan dia juga mengatakan jika kalian sangat dekat dan sangat mesra. Tao juga mengatakan jika dia adalah mantan kekasihmu dan wanita itu memanggilmu Nathan-Kun,"
Nathan mendengus berat. Dan Nathan tau alasan kenapa Tao sampai melakukan hal itu hingga membuat Viona cemburu, Tao ingin balas dendam padanya karna kemarin malam Viona membuatnya berkeliling kota dan tidak tidur hanya untuk mencarikan makanan apa yang Viona inginkan.
"Jadi Tao orangnya? Dia yang mengomporimu dan membuatmu menangis hingga dua jam?" Viona mengangguk. "Kita bisa mengurusnya nanti, sebaiknya kau bersiap-siap. Aku datang untuk menjemputmu,"
Nathan menghampiri Senna yang duduk termenung disofa. Nathan meraih bahu Senna dan menbawa wanita itu ke dalam peluklannya. "Apa yang kau fikirkan, Nunna-ya? Apa kau fikir aku akan meninggalkanmu? Sebaiknya buang jauh-jauh pemikiran konyolmu itu karna aku tidak akan meninggalkanmu hanya kau adalah putri bajingan itu,"
"Nunna hanya merasa takut. Nunna takut kau akan membenci Nunna kemudian meninggalkan kami semua," Senna mulai terisak, jari-jarinya mencengkram kemeja yang membalut tubuh kekar Nathan.
Nathan menutup mata kanannya. "Aku mohon berhenti berfikir yang tidak-tidak, Nunna-ya. Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu, orang yang selalu peduli padaku. Aku menyayangimu, Nunna-ya. Sangat-sangat menyayangimu,"
"Nathan,"
Dan Viona yang melihat pemandangan mengharukan itu tak kuasa menahan air matanya. Dia tau jika Nathan sangat menyayangi keluarganya, meskipun dia tidak pernah mengungkapkannya secara langsung. Tapi hal itu bisa terlihat dari cara dia memperlakukan mereka. Seperti padanya, meskipun Nathan jarang mengatakan 'Viona, aku mencintaimu' tapi Viona tau seberapa besar cinta Nathan untuknya.
Nathan bukanlah tipe pria romantis yang selalu memberinya coklat dan bunga hanya untuk mengutarakan perasaannya. Nathan juga bukan seorang Pujangga yang pandai merangkai kata-kata indah untuk menyanjung kecantikkannya.
Nathan tidak perlu menjadi orang lain untuk membuat Viona mengerti seberapa besar cinta yang dia miliki untuknya. Viona hanya ingin Nathan menjadi dirinya sendiri dan mencintai dirinya dengan caranya.
-
Bulan terlihat separuh, menggantung tegap pada kelamnya langit malam itu. Ada bintang di sekelilingnya yang seolah menjadi penghias malam. Kelam, tak masalah. Karena dua jenis benda angkasa itu akan tetap menerangi hamparan gelap langit yang terasa hampa.
Seorang wanita berambut hitam legang tengah menengadah, menatap hamparan langit malam. Tapi dia tidak bisa menimati apapun karna satuan otak dan pikirannya tak bekerja sama dengan indera penglihatannya. Ada bayangan lain yang menyita perhatian dalam pikirannya. Seolah itu lebih indah di bandingkan segala hamparan benda langit yang bercahaya di atas sana.
__ADS_1
Kalau boleh memilih, wanita itu ingin menjadi bintang. Biarpun cahayanya redup dan tak seterang bulan, tapi ia masih dapat meninggi hati karena lebih banyak orang yang menginginkannya.
Setiap memandang ke langit, selalu bintang yang mereka cari. Padahal jelas ada bulan yang tengah bergantung angkuh di atas sana, disinggasah sananya. Seolah menyatakan diri bahwa ia akan selalu di sana. Selalu.
Bintang lebih istimewa. Meskipun bulan sebagai objek utama.
Sibuk dengan ketermenungannya, wanita itu tak menyadari sebuah langkah yang perlahan mendekat di balik bahu rapunya. Sampai akirnya sebuah suara yang tak terlalu asing baginya.
"Apa yang sedang kau lakukan di sana, Yurinaka?"
Ia menoleh, dan mendapati seorang pria muda berdiri kaku dibelakangnya sambil melipat tangan di depan dada.
"Nii-Chan?"
"Masuklah, udara sangat dingin dan sudah hampir tengah malam. Ayah bisa marah jika dia tau kau masih tetap terjaga di jam segini. Pikirkan juga kondisi tubuhmu yang lemah, jadi masuklah dengan segera," pinta pria yang dipanggil Nii-Chan (Kakak) oleh Yurinaka mrmbujuk.
Yuri mendesah berat. Dia tau jika dirinya dalam keadaan sekarat. Tapi tidak perlu juga memperlakukan dirinya seperti wanita yang akan mati esok hari. "Baiklah aku masuk sekarang," Yuri beranjak dari balkon kemudian melenggang masuk kedalam kamarnya.
-
"TAO!! KELUAR KAU!! PANDA JELEK JANGAN BERSEMBUNYI!!"
"Omo! Singa betina sedang mengamuk, mati aku!!"
Tao yang sedang asik menonton video diponselnya langsung terlonjak kaget karna teriakkan keras seorang wanita yang menggema dan memenuhi diseluruh penjuru ruangan. Dan tanpa bertanya pun tentu Tao sudah tau apa alasan Viona marah. Bisa jadi bukan hany Viona, tapi juga Nathan.
"Panda jelek!! Jangan sembunyi, keluar kau!!" suara teriakkan itu kembali terdengar. "Keluar sekarang atau kubakar kau hidup-hidup!!" ancam Viona bersungguh-sungguh.
Tak ingin mati konyol ditangan Viona, Tao-pun memutuskan untuk keluar dari kamarnya. "Hoam.. Nona Boss, ada apa teriak-teriak? Hoam, apa kau tidak tau jika aku baru saja tidur. Kalau mau buat perhitungan besok saja, oke! Hoam, aku sangat ngantuk,"
"Kemari kau,"
"Huaaa..." tubuh Tao terhuyung kedepan karna tarikan Jessica pada pakaiannya. Akibatnya jidatnya berciuman cantik dengan tembok yang ada dibelakang Jessica. "Nona Boss, sakitt!!" jerit Tao histeris.
"Masa bodoh. Yakk!! Panda sialan, apa maksudnya kau mengirimkan foto itu padaku? Hampir saja aku membunuh suamiku sendiri karna dirimu!!"
Tao menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bibirnya mengulum senyum tanpa dosa. "Hehehe. Aku hanya bercanda, Nyonya Boss. Lagipula mana mungkin Tuan Boss menyelingkuhimu," ujarnya.
"Dasar Panda jelek, menyebalkan. Kau harus dihukum karna sudah membuatku menagis dan meraung seperti bayi,"
Mata Tao membelalak. "A-apa dihukun? Dihukum bagaimana?" tanya Tao was-was. Viona menyeringai misterius dan membuat Tao semakin was-was. "Nona Boss, jangan membuatku merinding,"
"Hehehe. Tao, kau akan dihukum..Dan mulai hari ini hingga satu minggu kedepan kau akan menjadi wanita! Titik, tanpa koma!!"
Sontak kedua mata Tao membelalak saking kagetnya. "APA? JADI WANITA? TIDAK!!" dan Tao pun jatuh pingsan. Bukannya merasa prihatin, Viona malah tersenyum puas.
Sedangkan Nathan yang melihat semuanya hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah ajaib istrinya. Tao benar-benar apes karna sudah mencari masalah dengan Viona. Pikir Nathan..
-
__ADS_1
Di sebuah lorong lanjang dan bercahaya remang-remang nan sepi di dalam sebuah mansion mewah, terdengar suara langkah kaki yang biasa aja, tidak tergesa ataupun tidak lambat. Pria pemilik suara kaki tersebut terus berjalan dalam lorong, sampai akhirnya ia tiba di ujung lorong.
Diujung lorong tersebut, ada sebuah pintu yang terbuat dari kayu mahoni yang kokoh. Tanpa ragu, pria itu membuka pintu ruangan tersebut.
Ternyata ruangan itu adalah stand tembak pribadinya. Ruangan itu bernuansa coklat dan gelap. Pria itu menekan saklar lampu ruangan, dan tampaklah dinding kedap suara di sekitar ruangan tersebut.
Tak lupa juga berderet papan target berbentuk manusia untuk latihan tembaknya. Jumlah papan tersebut hanya ada satu buah saja, mewakilkan perasaannya yang membenci 'satu orang.'
Tak hanya itu, papan target itupun di tempeli foto satu orang yang paling dia bencinya di dunia ini.
Pria itu mengeluarkan handgun dari balik jas hitamnya. Moncong handgunnya tertuju pada sebuah papan target dengan sebuah foto ditengahnya.
DOR!
Ia menarik pelatuknya dengan mantap. Menimbulkan foto targetnya bolong, tepat di dahi sang foto tersebut. Tak hanya itu, foto itupun ikut jatuh ke lantai.
Pria itu menyeringai puas. Lantas ia beranjak dan mengambil foto yang baru saja jatuh, matanya berkilat penuh kemenangan dan kebahagiaan tersirat dalam sorot mata itu.
"Andai saja dahimu benar-benar berlubang akibat tembakanku..."
Pria itu menyeringai kejam.
"...Anak tiriku yang bodoh!"
-
Gelap memeluk malam yang beku. Dewi malam menghilang, sedikit tak tampak, terhalang selubung awan hitam yang berarak lemah. Dingin angin menyapu kulit sang Adonis yang tengah berdiri menatap langit kelam, menemaninya terdiam dalam kesendirian.
Detik demi detik berlalu dimakan dingin. gerimis di luar masih belum bosan tuk turun, menjadi teman setia si pria yang semakin terhanyut dalam dunianya. Pria itu mengalihkan pandangannya dari langit malam pada gelas berisi cairan putih ditangannya dan menatapnya dengan penuh beban.
'Huft'...
Helaan nafas panjang keluar dari sela-sela bibir kissablenya. Pria itu menutup mata kanannya dan mencoba merileks-kan pikirannya yang semakin kacau. Pria itu sedikit tersentak ketika merasakan sepasang tangan memeluknya dari belakang. "Sayang, kenapa kau bangun?" tanya pria itu seraya melirik wanita yang tengah memeluknya.
"Tidak apa-apa, aku hanya tidak bisa tidur saja." Jawabnya.
Si pria melepaskan pelukkan wanitanya kemudian menarik wanita itu untuk kemudian berdiri didepannya. "Cher, apa kau bahagia dengan pernikahan kita?" tanya pria itu pada wanita dalam pelukkannya itu 'Cherly'.
Cherly mengerutkan dahinya. "Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu? Jika aku tidak bahagia, pasti aku sudah meninggalkanmu sejak lama." Jawabnya.
Alex menutup matanya dan mendesah lega. "Aku hanya takut kau akan meninggalkanku seperti seluruh keluargaku yang dihabisi dengan brutal oleh para penjahat itu," tuturnya.
Cherly melepaskan pelukkan Alex kemudian berbalik dan posisi mereka saling berhadapan. "Aku mencintaimu, Alex Lee. Sangat-sangat mencintaimu, untuk itu jangan berfikir yang tidak-tidak," pinta Cherly sambil mengunci manik sehitam jelaga milik suaminya.
Alex tersenyum lebar. Hatinya kembali menghangat setelah mendengar apa yang Cherly katakan, dan sekarang dirinya tidak akan merasakan ketakutan lagi jika Cherly akan meninggalkannya. Dia hanya perlu mempercayai Cherly seperti dia percaya padanya, dan Alex tidak akan mengecewakannya apalagi menghianati pernikahan mereka.
-
Bersambung.
__ADS_1