Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 50) "Kematian Shea"


__ADS_3


Riders tercinta, jangan lupa baca juga new novel Author yang judulnya TERPAKSA MENIKAHI MAFIA KEJAM ya. Jangan luka like, koment, rate dan dukungannya ya 🤗🤗🙏🙏🙏


-


Tubuh Dahlia menegang karna kemunculan Shea yang begitu tiba-tiba. Perempuan itu bersandar pada pintu sambil bersidekap dada. Sorot matanya dingin dan penuh selidik.


Shea kemudian beranjak dan menghampiri Dahlia. "Memangnya rahasia apa yang, Mama sembunyikan dari kami semua sampai-sampai Mama merasa takut jika rahasia itu sampai terungkap?" tanya Shea penuh selidik.


"Bukan rahasia apa-apa, mungkin kau hanya salah dengar saja. Sebaiknya bantu, Mama menyiapkan makan malam," Dahlia mencoba bersikap setenang mungkin supaya Shea tidak curiga padanya.


"Jangan coba mengalihkan pembicaraan, Ma!! Atau ini ada hubungannya dengan kembalinya mantan istri, Zian?" tebak Shea 100% benar.


"Jangan bicara sembarangan dan jangan asal menebak, Shea Qin! Lagipula aku ini Ibumu, seharusnya kau bisa mempercayaiku!!"


"Bagaimana aku bisa percaya jika kata-katamu susah untuk dipegang!! Aku akan mencari taunya sendiri, cepat atau lambat aku pasti akan mengetahui rahasia apa yang sebenarnya kau sembunyikan dari kami semua," kata Shea dan pergi begitu saja.


Dahlia menggigit bibir bawahnya. Jika rahasianya sampai terungkap maka hidupnya akan berada dalam bahaya. Dahlia menggeleng. Dia harus melakukan sesuatu.


Dahlia meninggalkan kamarnya dan mendapati Shea tengah menuruni tangga. Wanita itu menyeringai licik. Dahlia menghampiri Shea dan menghentikan langkahnya. "Ada apa?" tanya Shea.


"Maaf, Shea. Rahasiaku tidak boleh terbongkar. Untuk itu... Kau harus mati!!"


Kedua mata Shea membelalak. Dahlia mendorongnya hingga akhirnya... "Kyyaa," tubuh Shea meluncur ke bawah setelah mendapatkan dorongan dari Dahlia.


Duaagghh...


Kepalanya membentur tembok. Darah segar mengalir dengan derasnya dari kepala Shea. Dahlia buru-buru menghampiri gadis itu untuk memastikan apakah dia masih hidup atau sudah mati.


"Sial!! Dia hanya pingsan,"


Dahlia kembali kekamarnya untuk menganbil sesuatu. Dan tak lama dia kembali dengan sebuah botol kecil ditangannya. Dahlia membuka mulut Shea kemudian memasukkan cairan itu ke dalam mulutnya.


Entah apa yang terjadi tiba-tiba tubuh Shea mengalami kejang yang hebat. Matanya membelalak dan busa tampak keluar dari mulutnya. Dan tidak sampai satu menit tubuh Shea tidak lagi bergerak dan nafasnya berhenti.


Dahlia membersihkan busa yang keluar dari mulut Shea untuk menghilangkan jejak. Tak ada rasa bersalah sedikit pun meskipun dia baru saja menghilangkan nyawa seseorang. Dahlia menyeringai tajam.


"Maaf, Shea. Kau terlalu ikut campur urusanku, untuk itu... Tidurlah dengan tenang, sampai jumpa lagi dineraka... Gadis tidak berguna!!"


-


Brak...


Ponsel dalam genggaman Zian terlepas begitu saja setelah dia mendapatkan kabar dari Jordan jika Shea telah meninggal. Tanpa menghiraukan bagaimana kondosinya saat ini, Zian melepas infusnya dan juga perban pada mata kirinya yang seharusnya masih belum boleh di lepas.


Pemuda itu melepas piama rumah sakitnya dengan buru-buru kemudian mengantinya dengan kemeja hitam miliknya. Tak lupa dia mengganti celananya juga.


Zian meninggalkan rumah sakit dengan sedikit terburu-buru hingga nyaris saja bertabrakan dengan Luna di depan pintu."Zian kau mau kemana?" kaget Luna. Luna baru saja tiba dari membeli makanan.


"Luna, kita harus pulang sekarang. Jordan, baru saja menghubungiku dan mengabarkan jika, Shea meninggal,"


Kedua mata Luna membelalak. "Apa? Meninggal? Bagaimana bisa? Bukankah dia baru saja dari sini sore tadi?" Luna memekik tak percaya.


Zian menggeleng. "Aku sendiri tidak tau. Jordan tidak mengatakan apapun lagi. Luna, kita harus bergegas, aku ingin tau apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana Shea bisa meninggal,"


"Aku mengerti. Baiklah, ayo kita pulang."


Dan tanpa sepengetahuan Zian. Diam-diam Luna menghubungi teman-temannya. Ia membutuhkan bantuan mereka untuk mengungkap kematian Shea.


Karna jika menunggu hasil penyelidikan dari polisi, akan terlalu lama dan pembunuh Shea bisa tetap berkeliaran dengan bebas di luar sana. Dan satu-satunya cara yang paling tepat saat ini adalah meminta bantuan ahlinya. Karna mengatasi hal semacam ini mereka adalah ahlinya.


Bisa saja Luna melakukannya sendiri, tapi posisinya saat ini sangat tidak memungkinkan untuk dia melakukannya.


-

__ADS_1


"Ada apa, Maura?"


Reyya menghampiri Maura dan menatapnya penasaran. "Ketua baru saja mengirim pesan padaku dan dia meminta supaya kita menyelidiki sesuatu. Reyya, Jennita, kalian berdua ikut aku. Yang lainnya tetap di sini,"


"Baiklah, kami mengerti,"


Reyya, Jennita dan Maura telah mengganti pakaiannya dengan pakaiannya dan bersiap untuk pergi. Kali ini mereka bertiga akan menyamar sebagai detektif seperti permintaan Luna.


Tak lama setelah kepergian mereka bertiga. Sosok Zifanya, Kiara dan Erika datang sambil menenteng tiga kantong besar yang penuh dengan makanan ringan dan minuman beralkohol, dan jangan lupakan beberapa bungkus rokok aroma mint.


"Mau pergi kemana mereka bertiga?" tanya Reyya sembari mendaratkan pantatnya di samping Helena.


"Melakukan tugas dari ketua, ngomong-ngomong pria mana lagi yang kalian rampok kali ini? Atau jangan-jangan wanita yang tadi?"


"Bingo.. Bukan hanya uang saja, tapi kita mendapatkan mobilnya juga," jawab Erika.


"Lalu bagaimana dengan wanita itu? Kalian tidak menghabisinya bukan?" kini giliran Sonia yang bertanya.


"Tentu saja tidak, kita hanya menurunkannya dipinggir jalan. Dan mungkin saat ini wanita itu sedang menangis karna tidak bisa pulang. Kita membawakan banyak makanan dan minuman untuk kalian semua. Dan malam ini kita akan berpesta!!" seru Zifanya dengan hebohnya


"Yeee...!! Saatnya berpesta!!"


-


"Dia ditemukan meninggal pukul 6 sore, tak ada tanda memar ditubuhnya seperti bekas pulukan benda tumpul. Diduga ia terjatuh karna terpeleset. Apalagi tidak ada orang lain saat kejadian selain korban." Pria dengan seragam polisi itu mencoba memberikan penjelasan pada Zian, Jordan dan Luna.


Luna beranjak dari samping Zian dan mulai memperhatikan setiap jengkal tempat kejadian perkara. Meskipun polisi sudah memberikan keterangan, tapi Luna yakin jika kematian Shea bukan murni karna kecelakaan.


Luna mengambil sarung tangan yang ada di aras meja lalu menghampiri mayat Shea yang masih berada di tempat dan posisi yang sama. "Nona, apa yang sedang Anda lakukan? Sebaiknya Anda jangan ikut campur dan menghambat penyelidikan!!" tegur salah satu anggota kepolisian yang sedang bertugas di sana.


"Aku hanya ingin memastikannya. Karna aku menemukan sebuah kejanggalan dalam kematiannya," Luna menoleh dan menatap polisi itu dengan serius.


"Oppa, bisa tolong periksa tangga, coba kau lihat dan cek dengan teliti apakah ada sesuatu yang bisa membuat, Shea eonni sampai terpeleset kemudian terjatuh yang tercecer di lantai tangga," perintah Luna pada Jordan.


Luna menoleh dan membalas tatapan tajam polisi tersebut. "Aku tidak akan ikut campur jika kalian bekerja dengan cepat dan tidak membuang-buang waktu." Tandas Luna. Kemudian Luna mengalihkan pandangannya pada Zian."Aku mengenal beberapa detektive muda yang biasa menangani kasus semacam ini. Investigasi kematian, Shea eonni sebaiknya kita percayakan saja pada mereka,"


"TIDAK BISA!!" Dahlia menyela cepat."Aku tidak setuju!! Lagipula siapa yang mengijinkanmu untuk ikut campur di sini? Kau hanya orang luar dan bukan bagian dari keluarga Qin. Jadi sebaiknya kau diam saja dan tidak usah ikut campur!!"


"CUKUP, MA!! Ini bukan saatnya untuk berdebat. Luna, benar. Perkara ini memang sudah seharusnya kita serahkan pada ahlinya."


"Zian, kenapa kau malah membelanya dan membentak Mamamu sendiri?"


"Itu karna aku istrinya," sahut Luna. "Zian, tidak mungkin lebih membela diriku jika saja Ibunya bukan wanita dengan dua wajah!!" kata Luna sinis.


"KAU!!"


"MAMA, CUKUP!! TIDAK BISAKAH KAU DIAM SAJA. JANGAN SEMAKIN MEMPERKERUH KEADAAN!!" bentak Zian yang mulai kehilangan kesabaran karna sikap ibunya.


Tak berselang lama orang yang Luna maksud pun datang. Luna mengangguk begitupun dengan mereka bertiga. Salah satu dari ketiga perempuan itu menunjukkan lencananya pada Zian. Guna meyakinkan semua orang jika mereka memang-lah seorang Detektive.


"Bisakah kalian percayakan penyelidikan ini pada kami," para polisi itu sedikit melirik Zifanya kesal lalu pergi dari hadapan ketiga perempuan itu.


Sedangkan Dahlia mulai cemas karna jika kasus ini di usut sampai tuntas maka itu artinya akan terungkap siapa pembuh Shea yang sebenarnya.


Dan Luna terus memperhatikan gerak-gerik ibu mertuanya secara diam-diam. Terlihat jelas dari sikap dan sorot matanya jika wanita itu sedang dalam keadaan panik dan cemas. Luna memicingkan matanya melihat sesuatu dalam genggaman Dahlia.


"Dari pada aku harus membusuk dipejara. Lebih baik aku mati saja," ujar Dahlia membatin.


Kedua mata Luna membelalak melihat Dahlia membuka penutup pada botol kecil ditangannya dan hendak meminumnya. "Mama!! Apa yang kau lakukan?" teriak Luna dan langsung menarik perhatian semua orang yang ada di sana.


Prakk...!!


Luna menepis tangan Dahlia dan membuat botol kecil itu terlepas dari genggamannya. Botol itu pecah dan hancur berkeping-keping membuat cairan didalamnya yang hanya tinggal setengah berserakkan di lantai.


"Yakk!! Wanita sialan, apa yang kau lakukan eo? Apa kau tau karna ulahmu itu rencanaku untuk mengakhiri hidupku jadi gagal!!" bentak Dahlia marah.

__ADS_1


"Ma!! Apa kau sudah hilang akal?"


"Ya, itu benar Zian!! Ibu memang sudah hilang akal dan itu semua karna kalian sudah tidak peduli pada Ibu lagi. Hiks, kau lebih mementingkan wanita itu daripada ibumu sendiri. Kalian semua jahat!!" Dahlia manjatuhkan tubuhnya pada lantai begitu saja dan menangis sejadi-jadinya.


"Mama, apa yang kau katakan? Itu tidak benar, bagaimana kau bisa berfikir sesempit itu? Kami peduli padamu dan kami juga menyayangimu. Memang, akhir-akhir ini sikapmu selalu membuatku naik darah. Tapi bagaimanapun kau tetaplah, Mamaku!!" tegas Zian sambil mengunci manik hitam Dahlia.


"Kalau begitu, kau harus menilih antara Mama dan wanita itu. Jika kau memang menyayangi, Mama, tinggalkan dia dan kembalilah pada Soojin."


Mata Zian membelalak. "Aku tidak bisa, Ma. Karna aku-"


"Nona, Shea meninggal bukan karna murni kecelakaan melainkan karna di racuni!!" seru Jennita menyela ucapan Zian.


Reyya beranjak dari posisinya dan menunjukkan sesuatu yang baru saja dia temukan pada Zian. "Kami menemukan kancing baju ini sedang di genggam oleh korban. Sudah sangat jelas jika ini bukanlah kecelakaan melainkan pembunuhan. Korban di dorong dari lantai dua oleh pelaku, dan karna tau korban masih hidup, akhirnya si pelaku membunuhnya dengan cara meracuni."


"Kami mencium aroma racun yang sangat kuat di sekitar mulut dan lehernya. Dan kancing baju itu adalah bukti penting dalam memecahkan kasus yang penuh teka-teki ini," ujar Reyya panjang lebar.


"Kancing baju ini, bukankah ini milik Mama?" Zian menatap Ibunya penuh selidik.


Dahlia memucat dan tubuhnya menegang."A-Apa maksudmu, Zian? Apa kau menuduh, Mamaku sendiri?" Dahlia menatap Luna tak percaya.


"Jika bukan, Mama. Kenapa Mama terlihat panik dan ketakutan?" kini giliran Jordan yang bersuara.


"Atau jangan-jangan kau tadi mencoba bunuh diri karna kau tidak ingin jika kejahatanmu sampai terbongkar bukan?" tanya Zian menyelidik.


Dahlia menggeleng. Wanita itu berjalan mundur."Tidak, bukan aku pelakunya. Bukan aku yang membunuhnya," teriak Dahlia dan berlari meninggalkan rumah. Di luar dia tidak sengaja berpapasan dengan tuan Qin dan Kalina yang baru saja tiba.


"Pa, hentikan Mama!!" seru Zian.


Tuan Qin segera menahan tangan Dahlia. Namun Dahlia tak tinggal diam. Dahlia menendang paha suaminya dan berlari kearah jalan. Zian ingin mengejarnya, tapi tiba-tiba mata kirinya berdenyut nyeri."Ma," serunya.


"Biar aku saja yang mengejar, Mama," Dan akhirnya Jordan-lah yang mengeja Dahlia.


"Zian, sebaiknya kau duduk dulu," Luna menuntun Zian untuk duduk. "Ibu, bisakah kau menjaga Zian sebentar? Ada sesuatu yang harus aku pastikan," Kalina mengangguk.


"Kau mau kemana?" tanya Zian sambil menahan pergelangan tangan Luna.


"Jangan cemas, aku tidak akan lama. Aku akan segera kembali, ada sesuatu yang harus aku pastikan. Reyya, kau ikut denganku," ucap Luna yang kemudian di balas anggukan oleh Reyya.


Zian menatap kepergian Luna dengan tatapan tak terbaca. Kemudian dia beranjak dari duduknya dan bergegas menyusul Luna dan Reyya. Zian ingin tau kemana istrinya itu akan pergi.


Dan sementara itu...


Jordan terus mengejar Dahlia yang berusaha untuk menyekamatkan diri. Wanita itu tidak mau berhenti meskipun Jordan memintanya untuk berhenti.


"Ma, berhentilah. Aku berjanji, aku tidak akan menyerahkanmu pada polisi. Jadi untuk itu berhentilah," teriak Jordan memohon.


Dahlia pun berhenti. Jordan menghampiri Ibunya dan memberikan sebuah tiket pesawat padanya. "Aku tau hal ini pasti akan terjadi. Aku sudah menyiapkan tiket ini, dan kau bisa pergi dari negeri ini. Bersembunyilah di tempat yang aman untuk sementara waktu. Dan kau tenang saja, perihal wanita itu biar aku yang mengurusnya. Dan ketahuilah, Ma. Jika aku selalu berdiri dipihakmu,"


"Jordan," Dahlia memeluk putranya."Balaskan dendam Mama dan bunuh wanita itu untuk Mama. Setelah kau menyelesaikan semuanya, Mama akan kembali untukmu,"


"Tentu, Ma,"


"Terimakasih, Nak. Kau memang putra, Mama." Dahlia menyeringai. Ternyata masih ada yang berdiri dipihaknya."Baiklah, Mama pergi dulu," Jordan mengangguk.


Setelah memastikan Dahlia pergi dengan aman. Jordan berbalik dan memutuskan untuk kembali. Dia hanya perlu mengarang cerita jika Dahlia berhasil melarikan diri.


"Oh, jadi begitu ya? Kakak Ipar, ternyata kau adalah musuh dalam selimut?" seru seseorang dari arah belakang.


Sontak Jordan menoleh dan mendapati seorang wanita bersandar pada tembok sambil bersidekap dada. Kedua mata Jordan membelalak saking kagetnya.


"LUNA!!"


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2