
"Kau yakin akan kembali bekerja?" tanya Nathan memastikan.
Nathan menghampiri Viona yang sedang bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Wanita cantik itu memutuskan untuk membali bekerja setelah mengambil cuti selama beberapa bulan. Viona bangkit dari duduknya dan menghampiri Nathan yang berdiri didepannya.
Viona mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan. Iris hazelnya mengunci iris kanan milik Nathan. Jari-jari lentiknya Viona gerakkan dia tas benda hitam bertali yang menutup mata kiri suaminya.
"Tentu saja aku yakin. Oppa, jujur saja aku sangat kesepian jika hanya sendirian di rumah dan aku merasa bosan. Itulah kenapa aku ingin kembali bekerja. Tidak apa-apa 'kan? Kau harus mengijinkanku, jika kau melarang maka aku akan memaksa. Aku benar-benar bosan,"
"Baiklah aku akan mengijinkanmu bekerja tapi dengan satu syarat. Kau tidak boleh sampai kelelahan dan pulang lebih dari jam 4 sore apapun alasannya. Kau akan jemput oleh salah satu orang kepercayaanku. Dan jika kau tidak mau patuh, aku tidak akan mengijinkanmu bekerja lagi meskipun kau merenggek dan merajuk seperti bayi!!"
Viona mendengus berat. "Aish, kenapa aturannya ribet sekali. Oppa aku ini dokter bukan pelayan toko yang bisa pulang tepat waktu! Bagaimana kalau ada operasi darurat dan sebagainya? Bukankah aku harus-"
"Bukankah di rumah sakit dokter bedah bukan cuma kau saja?" Nathan menyela cepat. "Jika kau tidak setuju, baiklah kau tidak perlu pergi bekerja, beres 'kan?" lanjutnya menambahkan.
Viona mencerutkan bibirnya. "Oppa kau sangat jahat. Baiklah aku akan patuh yang penting aku bisa bekerja lagi," Nathan menepuk-nepuk kepala coklat Viona sambil tersenyum tipis. "Tapi tidak adakah ciuman selamat pagi untukku?" Viona menunjuk bibirnya sambil memajukan wajahnya.
Nathan mendengus geli. Pria itu menakup wajah Viona dan mencium singkat bibirnya. "Sekarang kau sudah siap?" Viona mengangguk "Aku siap-siap dulu. Kita berangkat bersama-sama," lagi-lagi Viona mengangguk. Wanita itu sangat gembira karna akhirnya dia bisa kembali bekerja.
-
Diantara keriuhan yang terjadi di rumah sakit besar berskala international Seoul, terlihat salah seorang dokter ahli bedah andalan rumah sakit tersebut baru saja keluar dari salah satu ruangan dengan sebuah folder file tebal berisi data pasien yang harus ia tangani.
Viona Anggela, seorang dokter cantik bertangan dingin itu hendak berisitrahat sejenak setelah menyelesaikan jam control pasien-pasiennya, ia tengah melangkah tenang menuju ruangannya.
"Dokter Viona… Dokter… Hoshh.. Hoshh…" seorang suster jaga unit gawat darurat berlari terengah-engah.
"Ada apa, suster?" tanya Viona tenang.
"Ada korban kecelakaan yang harus segera ditangani. Korban mengalami pendarahan hebat dikepala. Saat ini Dokter Sunny dan Dokter Kirana sedang membantu Dokter Park di ruang operasi." Lapornya.
Dengan tergesa-gesa Dokter cantik itu melangkahkan kakinya menuju ruang gawat darurat, dia kejar-kejaran dengan waktu. Dia harus segera mengambil tindakkan karna satu nyawa sedang dipertaruhkan.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Viona pada dokter jaga UGD di sana.
"Besar pupil kanan 4mm, pupil kiri 1mm, hanya pupil kanan yang merespon. Detak jantung semakin lemah, pendarahan kepala kiri belakang parah, luka sobek pelipis, dan tulang rusuk bagian kanan patah." Dokter jaga tersebut menjelaskan kondisi korban tabrakan tersebut secara rinci.
"Lakukan instubasi segera, CAT SCAN kepalanya, laporkan sekarang dan siapkan ruang operasi." Titahnya.
__ADS_1
"Baik dokter, segera laksanakan."
.
.
Kurang lebih 3 jam operasi pengangkatan gumpalan darah dan penyempitan saluran otak itu berlangsung. Dan selama itu Viona terlihat sangat tenang, ia memang selalu seperti itu, melakukan tugasnya tanpa rasa panik dan grogi sedikit pun.
Sifat tenangnya ini memberikan aura nyaman luar biasa pada team yang juga membantu jalannya operasi dan juga pada keadaan psikis pasien. Tidak salah bila Viona di sebuat sebagai salah satu dokter bedah terbaik.
Setelah menemui keluarga pasien dan mengganti kembali pakaiannya. Viona langsung pergi keruangannya untuk beristirahat. 3 jam berada di ruang operasi membuat tubuhnya terasa lelah dan kakinya sedikit pegal dan kesemutan.
Viona memasuki ruang kerjanya dan membaringkan tubuhnya di sofa tanpa menyadari ada kehadiran orang lain di sana sampai sebuah gumaman yang begitu khas mengejutkannya. "Hn,"
"Omo!! Oppa, sedang apa dan sejak kapan kau ada di sini?" kaget Viona. Wanita itu terlonjak kaget karna keberadaan Nathan di ruang kerjanya.
Nathan meletakkan mawar giok di tempat semua kemudian menghampiri Viona lalu menarik wanita itu hingga jatuh ke dalam pelukkannya. "Tentu saja untuk melihatmu dan memastikan apakah kau melewatkan makan siangmu atau tidak. Dan dua jam lebih aku menunggumu di sini, kau melewatkan jam makan siangmu Nyonya. Sebaiknya kita makan siang sekarang," Nathan mengeluarkan makanan yang dia beli saat dalam perjalanan tadi dan menatanya di atas meja.
"Wow, bagaimana Oppa bisa tau makanan apa yang ingin aku makan saat ini?" kedua mata Viona tampak berbinar-binar melihat makanan dan buah apa yang Nathan bawakan untuknya.
"Pelan-pelan saja, Vi. Lihatlah kau seperti bocah saja," Nathan menghapus saus di bibir Viona dengan jarinya.
"Ini terlalu pedas, sebaiknya kau jangan terlalu banyak makan, makanan pedas. Cukup sedikit saja,"
"Ya, kok gitu sih. Oppa, aku masih ingin memakannya." Renggek Viona memohon.
"Tidak Viona!! Fikirkan janin dalam rahimmu, kau tidak boleh terlalu banyak makan, makanan pedas!!" tegas Nathan, dan Viona hanya bisa mengangguk pasrah.
"Baiklah,"
Melihat wajah murung Viona membuat Nathan tidak tega. Pria itu mendesah berat. Akhirnya Nathan mengembalikan makanan itu pada Viona. "Baiklah, kau boleh memakannya. Tapi ingat, ini yang pertama dan terakhir kalinya."
"Tidak masalah, yang penting sekarang aku bisa memakannya sampai puas." Viona mengangkat wajahnya dan tersenyum lebar. Melihat wajah bahagia Viona membuat perasaan Nathan menghangat. "Oppa, kau bilang akan ada yang datang menjemputku mulai hari ini. Apakah itu bodyquard pribadiku?" tanya Viona penasaran.
"Hn, anggap saja begitu."
"Memangnya orangnya seperti apa? Oppa, aku sangat penasaran. Apakah dia begitu hebat sampai-sampai dia bisa menjadi salah satu orang kepercayaanmu?" tanya Viona bertubi-tubi.
__ADS_1
"Kau terlalu banyak bertanya, Sayang. Sebaiknya makan saja dengan tenang. Kau akan mengetahuinya sendiri," jawab Nathan sambil menghapus noda saus di bibir Viona. Nathan melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. "Aku ada rapat penting 45 menit lagi. Sebaiknya aku pergi sekarang."
"Baiklah, hati-hati dan jangan mengebut," pesan Viona yang kemudian di balas anggukan oleh Nathan.
Viona melanjutkan makan siangnya dengan tenang. Dia tidak akan menyia-nyiakan semua makanan lezat yang Nathan belikan untuknya. Dan kebetulan dia memang ingin memakan semua makanan-makanan itu hari ini.
-
"Tuan, ada percell untuk Anda,"
"Parcel untukku?"
"Benar Tuan,"
Bram memicingkan matanya melihat bingkisan besar yang ada di atas mejanya. Tidak ada nama ataupun alamat pengirimnya. Penasaran apa isinya. Bram membuka bingkisan misterius itu tanpa rasa curiga sedikit pun. Bram berfikir bila bingkisan itu dari salah satu rekan bisnisnya.
Dengan hati berbunga-bunga Bram membuka bingkisan tersebut sampai akhirnya.... "Aaaahhh,,," Bram berteriak keras dan langsung melemparkan bingkisan yang di dalamnya berisi boneka berlumur darah dengan kepala nyaris putus.
Bram bangkit dari duduknya saat tanpa sengaja melihat sebuah kertas terselip pada boneka yang tampak mengerikan tersebut. Ada bercak-bercak merah seperti darah pada kertas itu.
"KAMI AKAN MEMBUAT HIDUPMU SENGSARA DAN LEBIH MENGERIKAN DARI PADA DI NERAKA!!"
Bram memegang kertas itu dengan tangan gemetar. Ancaman itu sepertinya tidak main-main. "Siapa yang mengirimkan bingkisan itu?" tanya Bram pada asistennya. Nada bicaranya sedikit meninggi dan amarah terpancar jelas dari sorot matanya.
"Saya juga tidak tau, Tuan. Tadi ada seorang pemuda yang datang kantor ini dan mengatakan ada bingkisan untuk Anda. Kurir itu tidak mengatakan apa-apa lagi dan langsung pergi."
"Temukan pemuda itu dan seret dia kehadapanku dalam keadaan hidup-hidup!!"
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu,"
"Pergilah dan kerjakan tugasmu dengan baik, aku ingin pemuda itu ada dihadapanku hari ini juga. Aku akan memberikan sebuah pelajaran yang sangat berharga padanya karna sudah berani mencari masalah dengan orang yang salah!!"
Pria itu membungkuk dan segera meninggalkan ruangan atasannya. Bram menggepalkan tangannya. Dia tidak akan melepaskan orang itu. Dan dengan tangannya sendiri Bram akan memberikan pelajaran berharga pada orang yang sudah berani mempermainkannya.
Tapi satu hal yang tidak Bram sadari, bukan merekahlah yang sedang dalam masalah besar, tapi justru dirinyalah. Hidup Bram tidak akan pernah tenang, dan entah hal buruk apa yang akan dia alami dalam hidupnya.
-
__ADS_1
Bersambung.
Maaf riders, kalau bab ini sangat pendek. Seharian ini author sibuk banget dan gak sempat buat ngetik 🙏🙏🙏 semoga gak pada kecewa ya 🙏🙏