Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 114 "Terbukanya Sebuah Tabir"


__ADS_3

Semua mata tertuju pada mereka.


Di sore yang cerah dan cuaca cukup bersahabat. Terlihat sepasang suami-istri berjalan sambil bergandengan tangan.


Senyum simpul tak pudar sedikit pun dari wajah tampannya mendengar celotehan yang keluar dari bibir sosok cantik yang berjalan di sampingnya. Wanita itu terlihat begitu menggemaskan di matanya, betapa ia merasa sangat bahagia.


"Wahhh...!! Lihatlah mereka, mereka terlihat sangat serasi ya."


"Sungguh beruntung gadis itu memiliki pasangan yang sangat tampan."


"Ahhh...!!! Aku merasa iri pada laki-laki itu, andaikan saja aku yang menjadi pasangan gadis itu."


Wanita itu menggulum senyum tipis mendengar bisikan-bisikan orang-orang di sekelilingnya. Kebersamaannya dengan sang suami kini menjadi pusat perhatian. Ada rasa bangga di dalam hatinya, bukan karna pujian-pujian yang di tunjukkan padanya. Ia bangga karna bisa berjalan beriringan dengan pria yang kini resmi menjadi suaminya, pendamping hidupnya.


"Kau dengar itu, Oppa? Mereka membicarakan kita." bisik Viona kemudian terkekeh.


"Ya... aku tau." jawab Nathan seadanya.


Viona mencerutkan bibirnya. Dia benar-benar tidak puas dengan jawaban Nathan.


Melepaskan genggaman Nathan, Jessica berjalan mendahului sang suami. Viona yang mengerti tabiat istrinya hanya bisa menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya.


"Kkkyyyyaaaa......!!"


Tiba-tiba Jessica menghentikan langkahnya dan berteriak histeris saat melihat ratusan balon warna-warni di lepaskan serentak. Mata hazelnya berbinar-binar melihat pemandangan langkah itu. "Oppa,.. look," serunya histeris. "Indah sekali bukan?"


"Ya." Nathan menjawab singkat.


Laki-laki itu berdiri di samping Viona sambil menggenggam tangannya. "Mau membuat moment indah?" tawarnya.


Viona memutar lehernya dan menatap Nathan penuh tanya. "Kau bilang apa? Membuat moment indah?" Nathan mengangguk. "Caranya?" Viona menatap Nathan dengan alis saling bertaut.


"Seperti ini."


Nathan meraih tengkuk Viona dan mencium lembut bibirnya. Tidak ada penolakan meskipun awalnya sempat terkejut, namun dengan cepat Viona dapat mengimbangi ciuman Nathan. Viona mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan, pagutan-pagutan yang tadinya halus menjadi gigitan-gigitan kecil juga hisapan-hisapan yang menggairahkan.


Mereka berciuman panas di tempat terbuka, beruntung tidak ada yang menghiraukan aksi gila mereka karna semua orang di sibukkan dengan pemandangan tidak biasa yang menghiasi langit Seoul sore ini.


Nathan mengakhiri ciumannya saat melihat wajah Viona yang memerah, wanita itu terlihat tersiksa karna mulai kehabisan nafasnya. "Bagaimana? Kau menyukai momentnya?" tanya Nathan,


Viona mengangguk. "Ya, aku sangat menyukainya." Viona mengalungkan kembali lengannya pada leher Nathan dan berbalik mencium bibirnya, Viona terus memagut bibir Viona, namun tidak sampai 1 menit Viona sudah mengakhirinya.


Wanita itu menurunkan tangannya dan menghambur memeluk Nathan. Nathan menutup matanya, mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan wanita itu.


Dering pada ponselnya memaksa Nathan harus melepaskan pelukkannya. Matanya memicing melihat nomor asing menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. "Pesan dari siapa, Oppa?" tanya Viona penasaran


"Tidak tau, nomor asing."

__ADS_1


"Orang itu mengajakmu bertemu? Sepertinya ada hal yang penting, kau temui saja dia aku akan pulang dengan naik taxi saja,"


"Kau yakin?" Viona mengangguk. "Maaf, tidak bisa mengantarmu. Aku akan langsung pulang setelah urusanku selesai," ucap Nathan yang segera di balas anggukan oleh Viona.


Setelah mencarikan taxi untuk Viona dan memastikan wanita itu pulang dengan aman. Nathan bergegas menuju tempat dimana mobilnya diparkirkan. Dia tidak boleh membuang waktu terlalu banyak. Ia ingin tau apa alasan orang itu mengajaknya bertemu di tempat yang cukup terpencil dan jauh dari keramaian kota.


-


Matahari mulai menghilang dari garis cakrawala, membenamkan sinarnya yang agung di ufuk barat yang berwarna kuning keemasan membuat para manusia akan merindukan sinarnya.


Langit luas yang awalnya berwarna biru cerah dengan awan putihnya kini tergantikan oleh pesona sang senja yang tampak mempesona di ujung barat. Jingga yang berpadu dengan merah, mereka yang tampak bagaikan hamparan bunga dan tak ketinggalan ungu yang tampak malu-malu ikut memeriakan suasana senja yang indah.


Semilir angin bergerak perlahan menerbangkan dedaunan dan kelopak bunga yang berjatuhan ditanah.


Seorang pria dalam balutan pakaian hitamnya berdiri menatap senja dari sebuah bukit, pria itu tidak hanya sendiri karna ada orang lain yang saat ini bersamanya dan bergender sama dengannya.


"Aku tidak suka berbasa basi, jadi katakan apa tujuanmu mengajakku bertemu di sini," Nathan menoleh dan menatap datar pria yang berdiri disampingnya.


Pria itu sedikit menelan ludah melihat tatapan dingin Nathan. "Ini mengenai pria yang selama ini Anda yaniki sebagai Ayah Anda, sebenarnya dia belum meninggal Tuan. Dia...masih hidup!!"


"Apa?" kaget Nathan sambil memicingkan mata kanannya. Antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh pria dihadapannya. "Kau mencoba membohongiku?"


Pria itu menggeleng. "Tidak Tuan, saya mengatakan yang sebenarnya. Dan ini adalah foto terbarunya," kemudian pria itu menyerahkan selembar foto pada Nathan. Tubuh Nathan sedikit terhuyung dan tangannya tampak gemetar. Tidak salah lagi, pria dalam foto itu memanglah ayahnya.


"Bagaimana mungkin?" lirih Nathan terheran-heran.


"Kalau begitu pertemukan aku dengannya," tanpa banyak berfikir, Nathan langsung meminta pria itu untuk mempertemukannya dengan orang yang dia maksud.


"BaikTuan,"


.


.


.


Nathan menghentikan mobil mewahnya dihalaman luas sebuah mansion mewah nan megah yang memiliki tiga lantai. Seorang pria dalam balutan pakaian formalnya langsung menghampiri mobil Nathan lalu membukakan pintu untuknya.


Pria itu membungkuk pada Nathan. "Tuan Besar sudah menunggu kedatangan Anda, Tuan. Silahkan, saya akan mengantar Anda menemui beliau," ucap Pria itu dan mempersilahkan Nathan untuk berjalan lebih dulu.


Nathan memicingkan mata kanannya. Ia sangat penasaran dengan orang yang akan dia temui ini. Siapakah dia dan apa tujuannya sampai-sampai dia ingin bertemu dengannya. Dan kenapa tempat tinggalnya di jaga dengan begitu ketat.


Di gerbang utama, Nathan melihat ada patung Dewa Iblis bermata merah, ditangannya menggenggam sebuah tombak yang terbuat dari emas murni 24 karat. Nathan benar-benar dibuat sangat penasaran setelah mati.


Mereka berhenti di depan sebuah pintu berukuran besar dan berpelitur elegant. Pria itu membuka pintu tersebut dan mempersilahkan Nathan untuk masuk. Di dalam sana sudah ada pria tua yang memang sudah menunggu kedatangannya.


"Siapa kau, dan untuk apa kau ingin bertemu denganku?" tanya Nathan tanpa basa-basi. Suasanya dingin dan datar.

__ADS_1


Pria itu kemudian berbalik badan dan menatap Nathan penuh rasa haru. "Setelah sekian lama, akhirnya Kakek bisa bertemu denganmu... Cucuku!!"


.


.


Keheningan menyelimuti kebersamaan Nathan dan kakek Xi. Keduanya sama-sama diam dalam keheningan. Kakek Xi bingung bagaimana harus memulai perbincangan dengan Nathan yang memang tidak banyak bicara.


Nathan masih belum bisa mencerna ucapan Kakek Xi yang dengan entengnya menyebut dirinya sebagai cucunya. Begitu banyak misteri dan teka-teki yang sulit sekali untuk bisa Nathan pecahkan. Semua terjadi diluar nalarnya, fikirannya benar-benar kacau hingga dia tidak bisa berfikir dengan jernih.


"Natan. Pasti kau bingung dan terus bertanya-tanya kenapa tiba-tiba aku memanggilmu kemari dan menyebutmu sebagai Cucuku. Dengar Nak, mungkin fakta yang akan Kakek ungkapkan ini akan membuatmu terkejut dan sulit untuk bisa kau terima. Tapi Kakek rasa sudah waktunya kau mengetahui cerita yang sebenarnya," ujar Kakek Xi panjang lebar.


"Jangan bertele-tele, langsung saja pada intinya,"


Kakek Xi tersenyum tipis. "Kau benar-benar mirip dengan mendiang Ayahmu ketika dia masih hidup. Dingin, arogan dan bermulut tajam. Benar kata orang, jika buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Dan Kakek sudah membuktikannya," ujar Kakek Xi masih dengan senyum yang sama.


"Bisakah kau tidak usah bertele-tele, Pak Tua!!"


Kakek Xi terkekeh. "Baiklah-baiklah, Kakek akan langsung saja keintinya. Nathan, sebenarnya kau bukanlah putra kandung dari Doris Lu melainkan putra kandung dari putraku satu-satunya, Xi Lucas. Semua berawal dari perisriwa yang terjadi 29 tahun yang lalu. Dimana Ibu dan Ayahmu yang saling mencintai dipisahkan secara paksa oleh Doris Lu. Orang yang kemudian menjadi Ayahmu," Kakek Xi menutup matanya dan mengambil jeda dalam ucapannya.


Kakek Xi terlihat menyeka cairan bening yang menetes dari matanya. "Ibumu dinilahi secara paksa oleh Doris Lu, padahal saat itu dia sedang mengandung dirimu. Doris tidak peduli, dia tetap membawa Ibumu ke mansion mewahnya dan dijadikan Istri kedua olehnya. Dia yang dibutakan oleh cintanya pada Ibumu mengirim seseorang untuk membunuh Ayahmu. Lucas dibunuh saat kembali dari Inggris. Pesawat pribadi yang ditumpangi oleh Ayahmu mengalami kecelakaan setelah mesin pesawatnya disabotase. Ayahmu meninggal dalam kecelakaan itu." Air mata Kakek Xi mengalir semakin deras ketika membuka luka lamanya.


Kakek Xi menyeka air matanya. "Ibumu yang hancur setelah mendengar berita tentang kematian Ayahmu langsung jatuh pingsan. Dia hancur dan terpuruk. Ibumu menyiksa dirinya sendiri dengan tidak makan selama berhari-hari berharap dia mati dan menyusul Ayahmu. Tapi Tuhan tak mengkehendaki, dia tetap hidup bahkan sampai melahirkanmu. Dia meninggal tak lama setelah kau dilahirkan. Kemudian kau dirawat dan diangkat anak oleh istri pertama Doris Lu.


Awalnya Kakek ingin mengambilmu dari tangan mereka, tapi hal itu tidak jadi Kakek lakukan saat melihat besarnya cinta yang wanita itu berikan padamu. Bahkan dia memberikan asinya untukmu, dia menyayangimu layaknya putra kandungnya sendiri,"


Tanpa terasa air mata Nathan terus mengalir. Wajahnya tampak basah oleh air matanya sendiri. Nathan sungguh tidak menyangka jika hal yang tidak masuk akal tersebut terjadi dalam hidupnya.


Dan kini Nathan tau, kenapa Doris Lu tidak pernah menyayanginya dan malah membencinya. Itu dikarnakan dia bukanlah putra kandungnya serta penyebab kematian dari wanita yang sangat dia cintai.


"Lalu bagaimana dengan pria itu? Laku di mana dia sekarang?"


"Dia berada di Inggris. Dan dia adalah Boss besar dari organisasi yang menjadi musuh terbesar organisasimu, Japok!!"


JLEDERRR...


Rasanya seperti ada petir yang menyambar Nathan di siang bolong. Hatinya hancur berkeping-keping setelah mengetahui kebenaran yang baru saja terungkap. Pria yang selama ini dia anggap sebagai Ayahnya ternyata adalah orang yang menjadi penyebab kematian kedua orang tuanya. Parahnya lagi dia adalah Boss besar dari salah satu organisasi mafia yang menjadi musuh terbesarnya.


Lalu apa artinya pengorbanannya selama ini. Lalu untuk apa dia balas dendam jika yang dia bela mati-matian ternyata malah menghianatinya. Nathan menutup matanya dan menggeram marah. Laki-laki itu berdiri dan langsung menghantam tembok yang ada dibelakangnya.


Nathan membutuhkan pelampiasan untuk semua perasaan campur aduk yang membuncah di dalam dadanya. Sedangkan Kakek Xi hanya bisa menatap sendu putra tunggalnya dan satu-satunya pewaris dari semua kekayaan keluarga Xi yang tidak terbatas itu.


"ARRRKHHH! DASAR BRENGSEK. DORIS LU, AKU PASTI AKAN MEMBUNUHMU!!"


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2