Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 53 "Iblis Berwajah Malaikat"


__ADS_3


Jangan lupa baca new novel otor juga. Tinggalkan like koment ya 🙏🙏


-


Di sore yang terlihat cerah. Terlihat seorang wanita duduk termenung di bangku taman halaman belakang rumahnya. Tatapannya kosong, sepasang netra hazelnya tak menunjukkan ekspresi apapun, datar.


Dua bulan telah berlalu. Namun duka itu masih menyelimuti batinnya. Sekeras apapun dia mencoba, tapi tetap tidak bisa menyingkirkan duka dan rasa kehilangan yang teramat besar dari hatinya.


Hampir setiap hari bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman, namun itu hanyalah sebuah alibi untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya. Viona tidak ingin membuat semua orang merasa sedih dan iba, Nathan terutama.


Terlalu sulit untuk melupakan peristiwa pahit yang menyayat dan menghancurkan hatinya. Viona hancur, sangat hancur. Janinnya, buah hati yang begitu dia dambakan kini sudah tiada lagi, dia pergi bahkan sebelum berkembang di dalam rahimnya. Viona selalu tidak bisa menahan air matanya setiap mengingat peristiwa itu.


"Anakku, maafkan Ibu," lirihnya parau. Penyesalan terlihat jelas pada raut wajah dan sorot mata hazelnya.


Deru suara mobil yang memasuki halaman mengalihkan perhatiannya. Wanita itu bangkit dari duduknya dan melenggang meninggalkan taman. Senyum di bibir Viona mengembang seketika saat melihat siapa yang datang dan sekarang berjalan menghampirinya.


"Oppa, kau sudah pulang? Tumben sekali kau pulang cepat hari ini?"


Alih-alih menjawab. Nathan malah menakup wajah Viona dan mencium singkat bibir ranum menggodanya. "Aku hanya berusaha menepati janjiku padamu untuk pulang lebih awal. Masih ada beberapa jam sebelum makan malam. Kau ingin pergi dulu ke suatu tempat?"


"Mungkin pergi ke bukit dan menikmati senja, bagaimana Oppa? Kau tidak keberatan bukan?"


"Kalau begitu lekaslah bersiap, aku akan mandi sekarang." Viona tersenyum lalu mengangguk.


.


.


Dua puluh menit kemudian Nathan keluar dari kamarnya dengan pakaian berbeda. Sebuah kemeja hitam kotak putih lengan terbuka dan sebuah tank top putih yang menjadi dalaman kemejanya, jeans panjang hitam menggantung pada pinggulnya dengan sempurna.


Nathan tersenyum tipis saat melihat wanitanya sedang berdiri di balkon menikmati keindahan kota. Rambut panjangnya yang terurai terus berkibar karna terjangan angin nakal. Angin memang cukup kencang sore ini.


Viona terlonjak kaget saat merasakan sepasang tangan memeluknya dari belakang. Aroma maskulin yang menguar dari tubuh pria yang memeluknya membuat senyum di bibir Viona merekah seketika. "Oppa, kau sudah selesai," wanita itu melepaskan pelukan Nathan kemudian berbalik. Posisinya dan Nathan saling berhadapan.


"Hn, dan apa yang kau lakukan di sini? Bukankah aku memintamu untuk menunggu di dalam,"


"Tidak ada, hanya ingin menikmati pemandangan kota dari sini. Di sini lebih nyaman," terang Viona.


"Jadi pergi sekarang?"


Viona menggeleng. "Aku rasa tidak. Aku ingin makan malam di rumah saja. Kita bisa memesannya dari luar. Aku terlalu malas untuk keluar,"


"Hn, baiklah terserah kau saja." Nathan menakup wajah Viona dan mencium singkat bibirnya. "Pesan makanan apapun yang kau inginkan, kita akan makan malam sesuai keinginanmu."


"Benarkah?" Nathan mengangguk. Viona tersenyum dan menghambur kedalam pelukkan Nathan. "Terimakasih Oppa, kau memang yang terbaik." Nathan tersenyum kemudian membalas pelukkan Viona.


"Sama-sama, Sayang,"


"Oya, aku hampir saja lupa." Viona melepaskan pelukkannya dan menatap Nathan dengan serius. "Rio mengirimkan sebuah rekaman padaku, tapi aku belum tau apa isinya. Aku belum sempat membukanya."


"Rio," Viona mengangguk. "Buka dan pitar rekamannya, aku ingin mendengarnya."


"Baiklah,"


Rahang Nathan mengeras setelah mendengar apa isi dalam rekaman tersebut. Itu adalah rekaman suara percakapan antara Cherly dan Leo yang sedang menyusun rencana busuknya untuk memisahkan Viona darinya. Kedua tangan Nathan terkepal kuat dan matanya berkilat tajam. Aura dalam dirinya menggelap, Nathan tidak akan melepaskan mereka berdua, Cherly terutama. Dia akan memberikan pelajaran yang berharga pada wanita itu.


"Akan menemui mereka dan memberi pelajaran pada kedua orang tak berotak itu,"

__ADS_1


"Tidak Oppa," Viona manahan Nathan. Dia tidak mengijinkan suaminya untuk pergi. "Kita sebaiknya tidak melibatkan diri dan berpura-pura tidak mengetahui apapun karna aku yakin Rio, Satya dan Frans memiliki sebuan rencana untuk mereka."


"Tapi aku tidak akan puas sebelum memberikan mereka pelajaran dengan tanganku sendiri. Jadi minggirlah dan jangan halangi aku," Nathan menyentak tangan Viona dari lengannya dengan kasar dan pergi pegitu saja.


"Tidak Oppa," langkah Nathan terhenti saat dia merasakan sepasang tangan memeluknya dari belakang. "Aku tidak akan mengijinkanmu untuk pergi. Aku tau kau sangat marah dengan apa yang mereka rencanakan pada kita, tapi aku tidak ingin kau mengitori tanganmu hanya untuk memberikan pelajaran pada manusia seperti mereka. Kita percayakan saja pada Rio dan kedua paman kecilnya. Lagi pula jika kau pergi sekarang juga, lalu bagaimana dengan hutangmu padaku? Kau akan mengingkarinya?" Viona memiringkab kepalanya untuk menatap sisi wajah Nathan.


Nathan mendesah berat. "Baiklah, aku tidak akan pergi. Tapi ingat, bukan berarti aku melepaskan mereka. Aku pasti akan memberikan pelajaran pada mereka berdua," buru-buru Viona menakup wajah Nathan dan mencium singkat bibirnya untuk meredam kemarahannya yang berapi-api, dan berhasil.


"Aku akan memesan makanan sekarang." Viona tersenyum lebar, beranjak dari hadapan Nathan dan pergi begitu saja.


.


.


Sedikitnya ada 7 menu berbeda yang tersusun di atas meja dan hampir semua makanan-makanan itu adalah makanan kesukaan Viona. Dan makan malam mereka lewati dengan tenang, tak ada percakapan sama sekali. Hanya terdengar suara denting sendok dan garpu yang memecah dalam sunyi.


Sesekali Nathan menatap wanita didepannya dan tersenyum tipis. Rasanya Nathan seperti mendapatkan kembali hidupnya setelah Viona sembuh dari keterpurukannya, meskipun Nathan tau duka masih menyelimuti hatinya. Tapi setidaknya dia sudah terlihat baik-baik saja meskipun pada kenyataannya tidak. Viona tidak baik-baik saja.


Viona meletakkan sendok dan garpunya lalu menatap Nathan dengan serius. "Oppa, bagaimana kalau aku kembali bekerja? Terus terang aku merasa jenuh terlalu lama diam di rumah tanpa melakukan apa-apa. Terkadang aku kesepian jika kau bekerja,"


"Kau yakin?" Viona mengangguk. "Baiklah, aku akan mengijinkannya tapi dengan satu syarat. Kau tidak boleh bekerja terlalu keras dulu apalagi sampai mengambil lembur,"


Viona tersenyum kemudian menghampiri Nathan dan memeluknya. "Baiklah, tidak masalah. Yang terpenting Oppa mengijinkanku kembali bekerja, terimakasih Oppa."


"Sama-sama Sayang,"


-


Tuga bulan pasca insiden menyakitkan yang menimpa dirinya dan Nathan, perlahan-lahan Viona mulai bisa merelakan kepergian calon bayinya. Wanita itu kini aktif kembali dirumah sakit, pekerjaannya membuat Viona sedikit banyak mulai bisa melupakan rasa sedih dan sakitnya pasca kehilangan calon bayi kembarnya.


Dokter cantik itu baru saja menyelesaikan pekerjaan mulianya. Satu lagi nyawa pasien yang selamat berkat tangan ajaibnya. Setelah mengganti pakaian khusus operasi dengan pakaian miliknya sendiri, Viona bergegas kembali keruangan kerjanya. Ia ingin beristirahat barang sejenak di sana.


Suara decitan pinta terbuka sedikit mengalihkan perhatian seseorang yang berada didalam ruangan itu. Senyum lembut tersungging dibibir Viona saat melihat keberadaan Nathan di ruangannya. "Oppa, sudah lama menungguku?"


"Begitu saja? Apa tidak ada ciuman untukku?" Viona memandang Nathan dengan wajah merenggut.


Nathan mendengus geli, dengan gemas menjitak kepala Viona kemudian menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman hangat dan menuntut. Wanita itu menutup matanya seraya mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan. Nathan terus melum** bibir Viona dengan ganas.


Ciuman yang semula lembut berubah frotal dan menuntut. Ciuman yang terasa begitu manis ditambah aroma tembakau yang menguar dari mulut Nathan memberikan sensasi tersendiri dalam ciuman itu.


Nathan menarik tubuh Viona untuk semakin mendekat padanya hingga tidak ada jarak lagi diantara mereka, tangan satu lagi menakup pipi wanitanya. Rasa tembakau itu sangat terasa dinafas Nathan yang telah bercampur dengan nafas Viona.


Yang terkadang terasa manis dan bercampur sedikit pahit.


Viona begitu menikmatinya dan berharap agar ciuman kali ini tidak segera berakhir. Tapi sepertinya dewi fortuna tidak berpihak padanya, karna tiba-tiba ada yang masuk kedalam ruangannya yang menaksanya maupun Nathan untuk mengakhiri ciuman tersebut.


Nathan mendengus sebal seraya menatap Senna tajam. "Ck, mengganggu saja. Tidak bisakah kau menggetuk pintu dulu sebelum masuk?"


Orang itu tersenyum kikuk. "Upss!! Sepertinya aku datang di waktu yang kurang tepat, kalian bisa melanjutkan kembali." ujarnya "Aku akan pergi sekarang." sambung orang itu menambahkan.


Viona menatap Nathan yang masih terlihat kesal lalu beralih pada orang itu yang tak lain adalah Senna sebelum dia benar-benar pergi. "Eonni, tunggu." seru Viona menghentukan langkah Senna.


Wanita itu meninggalkan suaminya dan bergegas menghampiri kakak iparnya dengan wajah sedikit memerah, sementara Nathan tetap menatap sinis pada kakaknya. Ia tidak suka karna wanita itu mengganggu aktifitasnya. "Apa ada sesuatu yang penting sampai-sampai kau menemuiku di sini?" tanyanya setenang mungkin, mencoba menyembunyikan kegugupannya dari Senna.


"Eonni hanya ingin mengantarkan berkas-berkas ini. Ini adalah data-data pasien yang ada dirumah sakit ini. Kau bisa memeriksanya ulang kan? Jika sudah selesai langsung letakkan di-?"


"Kenapa bukan kau sendiri saja yang melalukannya. Viona pasti lelah dan aku akan membawanya pulang sekarang." Nathan mengambil berkas itu dari tangan Viona dan mengembalikkannya pada Senna.


"Jangan menatapku seperti itu, aku tidak akan terpengaruh dengan tampang memelasmu. Sayang, kita pulang." Nathan meraih tangan Viona dan membawanya pergi dari ruangan itu meninggalkan Senna yang diam terpaku menatap kepergian adik dan adik iparnya.

__ADS_1


Berkali-kali Viona mengucapkan maaf ditengah langkahnya karna merasa tidak enak pada kakak iparnya atas sikap Nathan.


Senna mendengus kasar. Jika saja orang itu bukan Nathan, pasti Senna sudah memarahinya habis-habisan. Bukan karna Senna tidak tega, tapi hanya dengan melihat tatapannya saja sudah membuatnya merinding.


Senna tidak tau saat hamil dulu ibunya ngidam apa, sampai-sampai melahirkan anak seperti Nathan yang dingin, arogan dan mirip seperti iblis.


Kadang-kadang Senna berfikir apakah Nathan itu adalah titisan iblis hingga memiliki sikap seperti itu, tapi itu tidaklah mungkin karna Nathan memiliki wajah bak malaikat. Atau mungkin Nathan adalah Iblis berwajah malaikat? Entahlah, Senna tidak mau ambil pusing dan terlalu menikirkannya. Dari pada memikirkan adik bungsunya itu, lebih baik dia meneruskan pekerjaannya yang tertunda.


Sementara itu, kekesalan masih terlihat jelas pada raut wajah Nathan. Nathan memang paling benci jika ada orang yang mengganggu kegiatannya. Viona yang duduk disampingnya hanya mendengus geli melihat bagaimana ekspresi suaminya saat ini. Wanita itu menahan lengan Nathan saat sang suami hendak menyalahkan mesin mobilnya membuat pria itu menoleh dan menatap kesal wanitanya.


Tiba-tiba Viona menakup wajah Nathan dan mencium singkat bibir kemerahannya. "Tidak perlu merasa kesal, bukankah kita masih bisa melanjutkannya lagi." Ujarnya sesaat sebelum menyatukan bibir mereka kembali.


Meskipun awalnya dibuat sedikit terkejut oleh ciuman tiba-tiba Viona, namun akhirnya Nathan membalas ciuman itu dan mengambil alih sepenuhnya. Bibirnya menempel pada bibir Vionq dan menghisapnya dengan perlahan. Ada sesuatu yang terbangun di dalam perut Viona yang menyebarkan rasa geli di sana.


Kuku-kupu dalam perut Viona seakan-akan menari-nari.


Nathan menurunkan salah satu tangannya untuk meremas pinggul Viona beberapa saat kemudian beralih pada resleting pada dress Viona. Viona meraih kepala Nathan dan membuat ciuman mereka semakin panas dan dalam.


Tanpa melepaskan ciumannya, jari-jari Nathan menurunkan dress Viona dibagian bahunya tanpa melepaskan tautan bibirnya.


Tiba-tiba Nathan melepaskan tautan bibirnya dan menurunkan ciumannya pada rahang Viona. Menghisapnya dan meninggalkan tanda kepemilikkan di sekitar leher jenjangnya.


"Oppa, apa kau yakin akan melakukannya di sini? Bagaimana jika ada orang yang menyadarinya?" panik Viona karna posisi mereka yang saat ini masih berada di parkiran rumah sakit.


"Apa kau takut? Bukankah ini lebih menantang?" Viona menoleh seketika dan menatap Nathan tidak percaya.


"Kau gila? Bisa-bisa kita digelandang keliling kota jika sampai ada yang memergoki kita dan-?"


"Memangnya siapa yang berani melakukannya?" Nathan menyela cepat dengan sebuah seringai dibibirnya. "Tidak perlu panik, tidak akan ada yang melihatnya. Lihatlah posisi mobil kita saat ini, sayang. Minim penerangan dan jarang dilewati orang. Soo, tidak akan ada yang melihatnya."


"Lalu? Tunggu apa lagi? Kaja kita lakukan sekarang? Oppa, aku benar-benar sudah tidak tahan." Renggek Viona dengan matanya yang memancarkan sebuah gairah.


Nathan menyeringai lalu menarik Viona untuk pindak kejok belakang. Dan untuk selanjutnya, pasti kalian tau apa yang terjadi diantara pasangan suami-istri!


.


.


.


Mereka berdua tiba dirumah pukul 10 malam. Viona sedikit kesulitan saat berjalan dan merasaman sedikit nyeri pada paha dalamnya. Ia tidak tau bila Nathan akan seagresif itu, tapi Viona menyukainya. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Viona menghampiri Nathan yang tengah sibuk berkutat dengan laptopnya. "Oppa, apa yang sedang kau lakukan ?" tegur Viona sesaat setelah berada dihadapan Nathan.


Nathan mengangkat wajahnya lalu menarik Viona untuk duduk dipangkuannya. Tangan kiri Nathan melingkari pinggang ramping wanita itu sementara tangan lain sibuk dengan laptopnya. "Aku lihat kau sedikit kesulitan saat berjalan, apa ini karna permaian kita tadi?"


"Huh! Tanpa menjawab pun, pasti kau sudah tau jawabannya. Hari ini kau bermain sangat gila Oppa, bukan hanya membuatku kesulitan berjalan... tapi kau juga membuatku lemas dan tidak bertenaga." Nathan terkekeh mendengar jawaban Viona.


"Begitukan? Tapi kau menikmatinya bukan?" Pipi Viona memerah mendengar ucapan Nathan. "Ini sudah larut malam, sebaiknya kita tidur. Aku sangat lelah dan mengantuk, besok pagi aku ada pertemuan penting dengan seseorang."


Viona menatap Nathan seketika. "Pertemuan penting dengan seseorang? Siapa? Apakah orang itu rekan bisnismu? Pria atau wanita? Berapa lama, Oppa... aku ingin ikut."


Nathan menjitak kepala Viona sebelum wanita itu semakin banyak bicara. "Sakit, Oppa kenapa malah menjitakku?" keluh Viona sambil mencerutkan bibirnya.


"Kenapa kau bawel sekali? Lebih tepatnya saingan bisnisku dan orang yang sangat ingin kuhancurkan. Dan dia seorang laki-laki, apa kau puas dengan jawabanku?" Nathan menganbil jeda dalam ucapannya.


"Sebaiknya kita tidur sekarang, aku benar-benar lelah dan aku tidak ingin mendengar kata penolakkan!!" tegas Nathan, dan Viona hanya bisa mendesah pasrah.


Nathan mematikan laptopnya lalu mengangkat tubuh Viona bridal style menuju kamar mereka. Tidak ada penolakan dari Viona, wanita itu tidak melayangkan protes apa pun dan menuruti keinginan Nathan, karna sebenarnya dia sendiri sangatlah lelah.


-

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa buat tinggalkan like dan koment setelah membaca 🙏🙏🙏 karna satu like sangat berarti buat Author...


__ADS_2