
Dean bangkit dari duduknya saat mendengar deru suara mobil memasuki halaman luas mansion. Pintu utama terbuka dan sosok Luna masuk ke dalam dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.
"Dari mana saja kau? Kenapa tengah malam begini baru pulang?"
Luna menyentak tangan Dean dengan kasar dan menatapnya tajam. "Bukan urusanmu. Dari pada kau sibuk mengurusiku, lebih baik kau urus saja calon istrimu itu yang kau anggap paling baik dan paling setia di dunia ini, itu!!"
Plakk...!!
Wajah Luna menoleh ke samping karna tamparan keras Dean pada pipi kanannya. Tangan kiri Luna terkepal kuat di sisi tubuhnya, sedangkan Dean tampak menyesali perbuatannya karna sudah menampar Luna secara tidak sengaja.
Luna mengangkat wajahnya dan menatap Dean yang juga menatap padanya. "Luna, Oppa-"
"Aku membencimu, Dean. Kau benar-benar keterlaluan," Luna beranjak dari hadapan Dean dan pergi begitu saja.
Bahkan Luna tidak menghiraukan teriakkan Dean yang memintanya untuk berhenti. Luna terlanjur kecewa pada Dean. Luna merasa jika Dean sudah mulai berubah semenjak dia telah bertunangan. Luna seperti tidak mengenali kakaknya lagi.
"Luna, tunggu. Dengarkan Oppa dulu!!" teriak Dean tapi diabaikan oleh Luna.
Deru suara mobil Luna yang meninggalkan halaman berkaur di telinga Dean. Dean yang merasa bersalah segera keluar untuk menyusul Luna dan meminta maaf padanya. Tapi terlambat, karna mobil Luna sudah tidak ada setibanya Dean di luar.
Dean mengacak rambut coklatnya dengan kasar. Tidak seharusnya dia menampar Luna tadi. Pasti gadis itu semakin marah padanya, Dean sungguh sangat menyesal dengan apa yang telah dia lakukan pada Luna.
.
.
Luna terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Air mata terus mengalir dari sudut matanya. Rasanya dia tidak percaya bila Dean akan menamparnya, apalagi demi membela wanita itu. Rasa perih pada pipi Luna tentu tidak sebanding dengan perih di hatinya.
Dan satu-satunya tujuan Luna saat ini adalah kediaman saudari kembarnya yang pastinya adalah Viona. Karna hanya Viona-lah yang bisa mengerti dirinya lebih dari siapa pun.
Setelah lebih dari dua puluh menit berkendara. Luna tiba di kediaman Viona. Gadis itu segera turun dari mobilnya dan menghampiri Viona yang sudah menunggu kedatangannya, karna sebelumnya Luna sudah memberitau Viona jika ia akan datang.
"Eonni,"
Tubuh Viona terhuyung kebelakang karna terjangan Luna. Gadis itu memeluk Viona dan menangis sejadi-jadinya, membuat Viona kebingungan di buatnya. Karna Luna tidak mau bicara, Viona langsung membawanya masuk ke dalam.
"Duduklah dulu, Eonni akan membuatkan teh hangat untukmu," ucap Viona yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.
Perhatian Luna sedikit teralihkan oleh dering pada ponselnya, dan nama Dean menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Luna mengabaikan panggilan itu tanpa berniat mengangkatnya.
"Kenapa tidak diankat?" ucap Viona seraya meletakkan teh yang baru saja dia sedu di atas meja.
"Biarkan saja, Eonni. Aku malas mengangkatnya," jawabnya acuh tak acuh. "Ngomong-ngomong aku tidak melihat mobil Nathan oppa, apa dia belum pulang?"
"Nathan oppa sedang pergi ke Busan untuk memeriksa proyeknya yang di sana. Minum tehmu selagi masih hangat, setelah ini pergilah tidur, kau terlihat lelah. Eonni juga sangat mengantuk," ucap Viona seraya bangkit dari duduknya.
"Maaf, karna aku harus merepotkan Eonni," ucap Luna penuh sesal. Viona menggeleng.
"Sama sekali tidak,"
-
BRAKK..
Dobrakkan keras pada pintu membuat tiga orang di ruangan itu terlonjak kaget. Jika saja yang datang adalah orang lain. Pasti mereka sudah membuat perhitungan dengannya.
Tapi masalahnya orang itu adalah Zian. Jangankan untuk membuat perhitungan dengannya, menatap matanya saja mereka tidak berani.
__ADS_1
"Hyung, bisa tidak saat datang tidak usah membuat orang lain jantungan? Hampir saja jantungku copot karna dirimu," ujar seorang pemuda jangkung dengan kulit seputih susu. Tak jarang dia di panggil anak ayam oleh hyung-hyungnya.
"Oh, jadi kau ingin membuat perhitungan denganku?" tanya Zian, pemuda itu menggeleng dengan cepat.
"Tidak hyung, bukannya begitu. Hanya saja aku-"
"Sudahlah," Zian mengibaskan tangannya dan pergi begitu saja.
Ketiga orang yang berada di ruangan itu saling bertukar pandang, kemudian sama-sama mengangkat bahunya dengan acuh. Mereka tidak mau ambil pusing dan melanjutkan kegiatan bermain kartunya.
"Yeee!! Aku menang lagi," seru Simon setelah berhasil mengalahkan kedua hyungnya.
"Yakk! Anak ayam, pasti kau main curang lagi ya," tuding Reno sambil mengacungkan jarinya pada
Keanu menepis tangan Reno dengan kasar seraya menatapnya kesal. "Enak saja, tidak ada kamusnya jika seorang Keanu Oh bermain curang. Jadi kalau kalah ya akui saja, tidak perlu marah-marah apalagi sampai kebakaran jenggot. Sudahlah, aku mau bobok dulu, ngantuk. Bye.. bye.. Hyung," Simon bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.
"Aku juga sudah ngantuk," ucap Reno yang kemudian mengikuti jejak Simon di susul Danis.
.
.
Malam sudah semakin larut namun Zian masih terjaga. Pria itu berdiri di balkon kamarnya. Wajah tampannya yang tak berekapresi sama sekali menatap langit malam bertabur bintang.
Zian menutup matanya dan mendesah berat, pertengkarannya dengan sang ayah beberapa bulan lalu masih terasa segar di ingatannya. Yang endingnya membuat Zian terusir dari rumahnya sendiri. Dan semua itu karna satu orang, yakni ibu tirinya.
Zian muak dengan perilaku ayah serta ibu tirinya. Mereka berdua selalu membuat Ibunya tersiksa secara lahir dan batin. Jika saja ibunya tidak mencegahnya, mungkin sudah sejak lama Zian menghabisi mereka berdua.
Ponsel milik Zian tiba-tiba berdering dan nama Shea tampak menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. "Ada apa, Nunna?" tanya Zian to the poin.
"Zian, di mana kau sekarang? Cepat pulang, kondisi mama tiba-tiba menurun lagi. Nunna dan Andrian oppa tidak bisa membawanya ke rumah sakit. Ular betina itu menghalangi dan mengancam akan membunuh mama jika kami tetap nekat pergi."
.
.
Setelah lima belas menit berkendara, Zian tiba di kediaman orang tuanya. Kedatanganya langsung di sambut oleh anak buat Kalina yang menghalanginya untuk masuk. Bahkan mereka menodongkan senjata pada Zian.
"Kalian yang memaksaku," ucap Zian yang mulai diliputi emosi.
Dan perkelahian pun tak dapat terhidarkan. Zian yang hanya sendiri dikeroyok tujuh orang dan mereka menyerang secara bersamaan. Tak ada ketakutan yang tersirat dari sorot matanya yang tajam.
Zian menghajar mereka tanpa ampun, bahkan dia tak segan-segan melepaskan tembakkannya dan membuat lawan tumbang seketika.
Dan perkelahian tak seimbang itu pun bisa diselesaikan oleh Zian dalam kurun waktu yang teramat sangat singkat. Kurang dari sepuluh menit. Zian pun bergegas masuk ke dalam untuk melihat kondisi ibunya.
"Kau, mau apa kau kembali? Bukankah ayahmu sendiri yang sudah mendepakmu keluar dari rumah ini?" Kalina langsung menghadang langkah Zian.
"Apa hakmu melarangku datang ke rumah ini? Ini adalah rumah ibuku dan aku berhak datang kemari kapanpun aku mau,"
"Apa? Rumah ibumu? Hahaha," Kalina tertawa meremehkan setelah mendengar ucapan Zian. "Apa kau mulai mengalami amnesia? Aku adalah istri ayahmu yang sah sekaligus nyonya besar di rumah ini, jadi aku yang lebih berhak atas rumah ini dari pada dia!!"
Zian menyeringai dingin. "Begitukah? Aku rasa yang mengalami amnesia itu kau, bukan aku!! Rumah ini atas namaku, apa kau melupakan hal itu? Sebaiknya jadilah kelinci yang manis dan bersikaplah yang baik jika kau tidak ingin aku melemparmu dari rumah ini secara tidak hormat!" Zian menepuk bahu ibu tirinya dan pergi begitu saja.
Zian menghampiri Shea yang sedang mondar-mandir di depan kamar ibunya. Kepanikkan terlihat jelas pada raut wajahnya. "Nunna, bagaimana keadaan mama?" tanya Zian memastikan.
"Zian, akhirnya kau datang juga. Sebaiknya kita bergegas. Kondisi mama semakin menurun dan Nunna takut jika hal buruk sampai menimpanya," tutur Shea.
__ADS_1
"Lalu di mana, Jordan hyung?" tanya Zian.
"Dia ada di dalam,"
Zian masuk lebih dulu di susul Shea yang kemudian mengekor di belakangnya. Tanpa mengatakan apapun Zian mengangkat tubuh nyonya Qin yang kemudian dia larikan ke rumah sakit. Seperti kedua kakaknya, Zian pun tak ingin jika hal buruk sampai menimpa ibunya.
Setibanya di luar. Langkah mereka bertiga di hadang oleh anak buah Kalina, kemudian Zian menyerahkan ibunya pada Jordan. "Aku akan mengurus cacing-cacing ini, segera bawa mama ke rumah sakit,"
"Baiklah, kau hati-hati dan segera menyusul," Zian mengangguk.
Perkelahian sengit antara Zian dan anak buah Kalina kembali terjadi. Meskipun Zian hanya seorang diri tapi hal tersebut tak lantas membuatnya gentar, bahkan Zian dapat mengatasi mereka dengan sangat mudah.
Mungkin mereka memang berkelompok, tapi tetap saja mereka bukan tandingan Zian yang sudah melewati latihan fisik selama bertahun-tahun.
Zian menyeka darah yang ada di bawah mata kanannya. "Ini hanya peringatan kecil untuk kalian. Segera tinggalkan tempat ini sebelum aku kehilangan kesabaran dan menghabisi nyawa kalian semua!!" setelah memperingatkan mereka, Zian pun bergegas pergi dan menyusul kedua kakaknya.
-
Pagi datang menjelang. Cahaya mentari membias masuk dari kaca jendela, namun terhalangi oleh tirai putih gading hingga hanya seberkas yang lolos, tepat
mengenai wajah seorang gadis yang tertidur di sana.
Aroma lezat makanan yang berasal dari dapur membuat kedua matanya terbuka sempurna. Gadis itu 'Luna' menyibak selimutnya kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Luna masih terlalu malas untuk mandi, mungkin sarapan dulu tidaklah masalah.
Setibanya di luar kamar. Luna melihat sosok tampan yang sedang menjaga kedua buah hatinya. Dan sosok tampan itu siapa lagi jika bukan kakak iparnya.
"Oppa, kapan kau pulang? Semalam saat aku tiba di sini kau masih belum pulang?"
Nathan mengangkat wajahnya. "Jam tiga dini hari. Sebaiknya segera pergi ke dapur dan bantu kakakmu menyiapkan sarapan."
Luna berdecak sebal. "Bahkan tanpa kau minta pun pasti aku membantunya." Ketus Luna dan pergi begitu saja. Nathan mendengus dan menggelengkan kepala mihat tingkah adik iparnya. Meskipun Luna dan Viona kembar, tapi sifat mereka berdua sangat bertolak belakang.
"Dasar gadis bar-bar,"
"Aku mendengarnya, Oppa!!"
.
.
"Jadi kau minggat dari rumah setelah terlibat pertengkaran dengan kakakmu?" Luna mengangguk menjawab pertanyaan kakak iparnya.
"Habisnya aku kesal setengah mati padanya. Aku bingung kenapa aku harus jatuh cinta pada manusi tak peka sepertinya. Terus terang saja Oppa, aku merasa iri pada Vio eonni. Dia begitu beruntung memiliki suami sepertimu yang begitu mencintainya, kapan aku bisa merasakannya juga." Luna menopang dagunya. Frustasi terlihat jelas pada raut wajahnya.
"Sabar dan tunggu saja, karna jodohmu akan datang dengan sendirinya. Mungkin saja saat ini jodohmu sedang mencarimu juga, lagipula kalau memang sudah jodoh tidak akan kemana. Dan Eonni akan selalu berdoa semoga Tuhan memberikan jodoh yang terbaik untukmu,"
"Gomawo Eonni," Luna memeluk Viona dengan erat.
"Sama-sama, Sayang."
Ponsel Luna tiba-tiba berdering dan nama Thalia menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Luna segera menggeser tanda hijau pada ponselnya dan menerima panggilan tersebut. "Ada apa, Lia? Tumben sekali kau menghubungiku,"
Bukannya sebuah jawaban. Malah isak tangis Lia yang pertama Luna dengar."Lun, mungkin saja Jacksoon sudah meninggal. Semalam dia mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan pulang dari rumahku. Mobilnya masuk jurang dan meledak,"
"A-apa? Jacksoon mengalami kecelakaan?"
-
__ADS_1
Bersambung.