Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 125 "Penghianatan Tiffany"


__ADS_3


Baca dan like koment juga new novel Author ya. Dijamin seru apalagi yang suka cerita Vampire.


-


Doris membuka pintu utama kediaman keluarga Lu. Dengan langkah tenang Doris memasuki rumah yang memiliki tiga lantai tersebut. Pandangannya menyapu, tak ada yang berubah sejak dia meninggalkan rumah pada hari itu.


Doris membuka lemari pendingin kemudian mengeluarkan sebotol wine dan membawanya menuju ruang keluarga. Doris mendaratkan pantatnya dan duduk dengan nyaman di sana.


"YAKK!! BOCAH, HENTIKAN. JANGAN MENGGELITIK LAGI. HUAA.. AKU NGOMPOL!!"


"HAHAHA! MAKANYA JANGAN MAIN-MAIN DENGANKU!"


"RIO!! KAU BOCAH SETAN!"


"DAN PAMAN, PAMANNYA SETAN. HAHAHA!!"


"RIO!!!"


Doris mengangkat wajahnya setelah mendengar suara keributan yang berasal dari lantai dua. Dia berani bersumpah jika itu adalah suara cucunya serta dua anak punggut yang diadopsi oleh mendiang istrinya.


Doris meletakkan gelas winenya kemudian beranjak dari duduknya dan pergi kelantai dua untuk menghentikan keributan tersebut. Doris membuka pintu di depannya dan kedatangannya mengejutkan tiga pemuda yang ada di dalam sana.


"Huaaa... Setan!!!"


Rio melemparkan vas bunga yang ada ditangannya pada Doris dan mendarat tepat dikeningnya, membuat mata berlapis kaca mata itu langsung berkunang-kunang karnanya. Sedangkan Rio langsung melompak ke dalam gendongan Satya.


"Bodoh!! Dia bukan setan, tapi biangnya setan," kata Satya membuat Doris mengangkat wajah dengan seketika.


"Apa katamu?"


Satya menggeleng. "Tidak, ada cicak jatuh," jawabnya asal. "Turun bocah," ucap Satya memaksa Rio untuk turun dari gendongannya.


Doris melihat rolex yang melingkari pergelangan tangannya. "Jam 12 malam, tidak seharusnya kalian berteriak dan membuat keributan. Pergi tidur atau aku tidak akan segan-segan menghukum kalian. Kalian paham!!"


"Yeee.. Jangan mentang-mentang Anda sudah bangkit dari kematian maka seenak jidat Anda bisa mengatur kami! Henry Hyung dan Senna Nunna saja tidak mempermasalahkannya, kenapa malah Anda yang ribut?" sinis Frans membalas ucapan Doris. Bahkan pemuda itu tak merasa takut sedikit pun meskipun yang ada dihadapannya tersebut adalah seekor Singa sekalipun.


"KURANG AJAR!! DASAR ANAK TAK TAU DIRI. BERANI SEKALI KAU BERBICARA SEPERTI ITU PADAKU!! DIMANA SOPAN SANTUNMU PADAKU? AKU TUAN RUMAH DI SINI!! JADI MULAI SEKARANG KALIAN HARUS PATUH PADAKU DAN MENGIKUTI SEMUA ATURANKU!!" tegas Doris dengan suara meninggi.


"Kami tidak mau!" dan ketiganya menjawab dengan kompak.


"Hei, pak tua! Dulu kau memang Tuan rumah disini. Tapi itu dulu, dan sekarang tidak lagi. Bukankah kau sendiri yang membuat skenario tentang kematianmu sendiri. Jadi jangan harap kau bisa mendapatkan semua hakmu kembali. Lagi pula rumah ini atas nama Paman Henry, jadi Tuan rumah di sini adalah Paman Henry, dan hanya padanya kami akan menurut," tegas Rio menuturkan.


"KAU!!" geram Doris sambil menunjuk Rio penuh amarah.


"Ada apa ini? Dan siapa Anda? Kenapa Anda membuat keributan di sini?" tegur Henry yang datang bersama Tiffany dan Senna.


Doris melirik mereka bertiga melalui ekor matanya. Seringai tampak tercetak dibibirnya. Doris berbalik badan dan menyapa kedua buah hatinya. "Apa kabar Henry, Senna? Lama tidak bertemu," kedua mata Senna dan Henry lantas membelalak melihat siapa gerangan yang berdiri tepat dihadapan mereka berdua. Doris kembali menyeringai.


"AYAH!!"


-


'Ayah kembali, dan saat ini dia berada di rumah'


Nathan membuka pesan yang Henry kirimkan padanya dan mendesah berat. Ia sudah memprediksikan jika pria itu akan kembali kekediaman keluarga Lu, tapi Nathan tidak berfikir akan secepat ini.


Nathan melihat pada Viona yang sedang terlelap. Dengan gerakkan pelan, Nathan bangun dari posisi berbaringnya supaya tidak menimbulkan suara kemudian melenggang keluar meninggalkan kamarnya.


Nathan mendatangi kamar Kakek Xi dan kebetulan dia masih belum tidur meskipun waktu sudah menunjuk angka 24.00 tengah malam. Kakek Xi melepaskan kaca matanya lalu meletakkan laptopnya. "Dia sudah kembali," ucap Nathan tanpa basa-basi.


Kakek Xi memicingkan matanya. "Maksudmu Doris Lu?" Nathan mengangguk. "Kakek sudah mendapatkan informasi dari Yoong, dia mengatakan jika salah satu orangnya melihat kedatangan Doris Lu dibandara pagi ini. Lalu apa rencanamu kali ini?"


"Mengikuti alur permainannya, aku ingin tau apa rencananya,"


"Nathan. Kakek peringatkan padamu, sebaiknya kau berhati-hati karna dia bukanlah orang yang bisa kau remehkan. Dia sangat licik dan berbahaya, jangan sampai apa yang menimpa Ayahmu menimpamu juga."


"Pak Tua!! Kau tidak perlu cemas karna aku tau harus berbuat apa dan harus bagaimana cara menghadapinya. Aku sudah banyak makan garam kehidupan, dan pengalaman telah mengajariku segalanya,"


Kakek Xi menepuk bahu Nathan. "Kakek percaya padamu, dan Kakek yakin kau pasti sudah mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan buruk yang terjadi,"


"Besok pagi aku akan menemuinya. Aku ingin melihat bagaimana reaksinya setelah bertemu denganku nanti. Orang yang paling dia benci, dan orang yang paling ingin dia habisi!!"


"Tetap berhati-hati,"

__ADS_1


"Hn, aku mengerti,"


-


Nathan menghentikan mobil mewahnya dihalaman luas kediaman keluarga Lu. Ada yang berbeda di sana, beberapa orang yang berjaga di luar terlihat asing. Dua diantaranya menghampiri Nathan dan melarangnya untuk masuk.


"Maaf Tuan, kami tidak mengijinkan Anda untuk masuk. Ini adalah perintah dari Boss besar,"


"Minggir, dan jangan halangi jalanku!!" Nathan menatap kedua pria dihadapannya dengan tajam dan penuh intimidasi.


Kedua pria itu menelan salivanya dengan sedikit bersusah payah. Tatapan Nathan yang dingin dan tajam membuat mereka serasa seperti sedang uji nyali.


"Jangan masuk, atau kuhabisi kau!!" Dengan gemetar salah satu diantara kedua pria tersebut mengangkat senjatanya dan mengarahkan pada kepala Nathan. Dan Nathan yang naik pitam langsung menghabisi dua orang dihadapannya tanpa ampun.


Melihat kedua rekannya tumbang. Tak membuat dua orang yang tersisa diam begitu saja. Mereka menghampiri Nathan, namun baru satu langkah saja tubuh mereka malah ambruk setelah terkena terjangan timah panas dari senjata Nathan.


Beruntung Nathan sudah memasang peredam suara sehingga ketibutan kecil yang dia ciptakan tak sampai terdengar oleh telinga-telinga orang yang berada di dalam sana.


Nathan membuka pintu utama dengan kasar. Matanya memicing melihat Henry dan Senna yang tampak begitu tidak berdaya dihadapan Doris. Dan Nathan tidak tau apa yang sudah pria itu lakukan pada mereka berdua.


"Panjang umur, baru saja dibicarakan dan kau langsung datang. Nathan Lu, bukan tapi Xi Nathan. Kau sudah dewasa dan siapa yang menyangka, jika anak pembawa sial sepertimu ternyata bisa tumbuh menjadi pria yang sangat hebat." Ujar Doris dengan seringai meremehkan.


"Sangat memalukan, setelah membuat skenario tentang kematianmu sendiri tiba-tiba kau kembali lagi ke rumah ini. Sepertinya urat malumu sudah lama putus, Doris Lu." Nathan menyeringai.


Doris menghisap batang rokoknya. "Kau begitu angkuh dan arogan, anak muda. Tapi tidak masalah. Karna tak lama lagi aku akan mengubur kesombonganmu bersama jasadmu untuk selamanya!! Henry, bunuh dia," perintah Doris pada Henry. Namun Henry masih tetap bergeming, dan hal itu membuat Doris menjadi marah. "Apa yang kau tunggu? Cepat bunuh dia!!" perintah Doris sekali lagi.


"AKU TIDAK MAU!!"


"Oh, berani melawan kau rupanya. Itu artinya kau siap kehilangan anak dan istrimu,"


Henry mengangkat wajahnya. "Apa maksudmu?" Doris memberi kode pada Henry. Kedua mata Henry dan Senna membelalak melihat tubuh Tiffany tergantung di lantai tiga. Raut wajahnya menunjukkan jika dia sedang ketakutan, sedangkan bayi mungilnya berada ditangan salah seorang anak buah Doris. Henry menggeleng.


"TIFANNY!! LISA!! BRENGSEK, APA YANG KAU LAKUKAN PADA ANAK DAN ISTRIKU?" teriak Henry penuh emosi.


"Makanya jangan membantahku. Bunuh dia jika kau ingin mereka tetap hidup. Dan aku akan memberimu waktu 30 detik untuk berfikir,"


"KETERLALUAN!!" teriak Henry meluapkan emosinya.


Nathan menggepalkan tangannya. Jika dia bertindak gegabah, maka ia akan membahayakan banyak nyawa disini. Itu artinya dia harus mengikuti alur permainan Doris dan menggunakan rencana B.


"Apa yang kau tunggu, bunuh dia sekarang atau-"


"AHHH!!"


"TIFFANY!!"


"Waktumu hanya tersisa sepuluh detik lagi. Lakukan sekarang atau-"


DORR...


DORR..


"NATHAN!!!" Jerit Senna melihat tubuh dihujani peluru oleh Henry, darah tanpak keluar dari mulut serta beberapa luka tembah pada dada dan perutnya. "AAHH," Senna berlari menghampiri Nathan dan menahan tubuhnya sebelum roboh menyentuh lantai.


"Tidak, tidak, tidak!! Nathan tetap buka matamu. Nunna mohon, jangan coba-coba kau menutupnya. Kau harus tetap bertahan untuk Viona dan calon anak kalian. Nunna mohon tetap bertahan, Nathan buka matamu. Nunna mohon, Nathan jebal!! Jangan membuat Nunna takut!!" jerit Senna sambil menguncang tubuh Nathan. Darah segar tampak melumuri jari-jari Senna.


Brugg..


Sedangkan Henry langsung menjatuhkan tubuhnya disamping Nathan dan menangis sejadi-jadinya. Henry sungguh tidak ingin melakukannya, dia tidak bermaksud untuk membunuh Nathan. Dia terpaksa, karna istri serta anaknya berada ditangan Ayahnya yang durjanah itu. Rio, Satya dan Frans dibuat tak sadarkan diri supaya tidak bisa macam-macam lagi. Dan saat ini ketiganya ditempatnya diruang bawah tanah.


"KAU BENAR-BENAR BRENGSEK DORIS LU!! KAU BRENGSEK, AKU MENYESAL KARNA TERLAHIR DARI DARAH KOTORMU ITU!!"


"DIAM KAU!!" bentak Doris pada Senna. Dia marah Senna menghinanya. "Buang jasadnya kejurang." Perintah Doris pada anak buahnya.


"Baik Tuan,"


Senna menghalangi mereka dengan memeluk tubuh Nathan. Sedangkan Henry tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa menangis dan meratapi penyesalannya. Tubuh Senna ditarik oleh dua orang dan membawanya menjauh dari jasad Nathan.


Senna berteriak dan terus memberontak melihat tubuh adiknya diseret dan dimasukkan ke dalam mobil. Cacian dan berbagai sumpah serapah Senna layangkan pada Doris yang sedang tertawa puas menikmati kemenangannya.


"Semua berjalan sesuai rencana kita, Sayang," seru suara dari arah belakang.


Sontak Henry menoleh. Matanya membelalak melihat Tiffany menuruni tangga dan melewatinya begitu saja. Tiffany menghampiri Doris lalu mereka berciuman panas di depan mata Henry.


"TIFFANY KAU!!"

__ADS_1


"Hahaha. Betapa bodohnya dirimu, Henry Lu. Selama ini aku hanya memperdayaimu, dan kau begitu percaya padaku. Dan asal kau tau saja, Lisa bukanlah anakmu melainkan anak Ayahmu. Kau ingat ketika aku pergi keluar negeri beberapa bulan setelah pernikahan kita? Sebenarnya aku tidak mengunjungi orang tuaku, karna mereka sudah lama mati!! Tapi saat itu aku menemui Ayahmu dan aku kembali dengan benihnya di dalam rahimku. Kau benar-benar bodoh, sangat bodoh Henry Lu!! Hahaha!"


"Dasar Iblis, lihat dan tunggu saja bagaimana aku menghabisi kalian berdua!!"


"Seret mereka keruang bawa tanah dan siksa mereka. Buat mereka merasakan neraka setiap detik dan menitnya. Jangan kasih makan dan biarkan mereka mati secara perlahan-lahan,"


"Baik Tuan!!"


Doris menutup matanya seraya merentangkan kedua tangannya. Dia merasakannya, dia telah memenangkan pertarungan sengit itu. Dan ternyata Nathan bukanlah pria hebat seperti yang selama ini santer terdengar. Karna dia tak lebih baik dari seekor cacing tanah!! Begitulah yang Doris pikirkan tanpa dia ketahui fakta yang sebenarnya.


-


Doorrr..


Doorrr...


Tembakan beruntun terdengar dari sebuah van hitam yang terparkir di tepi jalan.Tiga pria dalam mobil tersebut meregang nyawa setelah timah panas menembus kepala dan jantung mereka. Tak berselang lama, seorang pria dengan pakaian berlumur darah keluar dari mobil tersebut kemudian berjalan menuju mobil putih yang terparkir tak jauh dari lokasi.


Ditengah langkahnya. Pria itu terlihat mengeluarkan sebuah kantong darah dan besi yang sebelumnya tersemat didadanya kemudian membuangnya begitu saja. Pria itu juga terlihat menyeka darah dari sudut bibirnya.


"Tuan, Anda baik-baik saja?" Seorang pria menyerahkan pakaian bersih padanya yang kemudian dia pakai. Noda-noda darah pada wajah dan tubuhnya juga sudah dibersihkan.


"Hn,"


"Dokter Leonil sudah menunggu Anda, dan operasi Anda dijadwalkan malam ini juga. Sebaiknya kita bergegas," ucap pria tersebut.


"Pastikan semua berjalan sesuai rencana, dan mengenai kematianku, kita harus membuat bajingan tua itu yakin jika aku benar-benar mati!!"


"Lalu bagaimana dengan Nyonya, dia pasti akan sangat terpukul dan hancur,"


Tatapannya berubah sendu. "Aku tidak memiliki pilihan lain. Hanya ini satu-satunya cara untuk menghancurkan Doris Lu, dan aku akan tetap melindunginya dari jauh. Setelah operasinya berhasil, aku baru akan mencul dan menemuinya."


"Baiklah Tuan, jika menurut Tuan ini yang terbaik,"


Pria itu memejamkan matanya. 'Mianhae jika aku harus melukaimu dengan cara seperti ini. Hanya ini satu-satunya cara supaya aku bisa melindungimu dari bajingan tua itu. Setelah semuanya selesai, kita akan kembali seperti dulu lagi!!'


"Kita berangkat,"


"Baik Tuan!!"


-


Beberapa bulan kemudian...


Duka mendalam begitu dirasakan oleh Viona. Meskipun satu bulan telah berlalu , tapi Viona masih belum bisa melupakan kepergian suaminya yang begitu tiba-tiba. Kandungan Viona kini memasuki usia 7 bulan, yang artinya dua bulan lagi dia akan melahirkan.


Berat hidup yang Viona jalani tanpa Nathan disisinya. Semua begitu tiba-tiba dan terasa seperti mimpi. Viona rasanya tidak percaya jika Nathan sudah tidak ada dan meninggalkannya untuk selamanya.


Dan dua bulan yang lalu Senna meninggal dunia sedangkan Henry masuk rumah sakit jiwa. Rio, Frans dan Satya berhasil diselamatkan oleh Kakek Xi. Dan saat ini mereka tinggal bersama Kakek Xi dan Viona.


Isakan pilu yang keluar dari sela-sela bibirnya membuat perasaan siapa pun ikut tersayat ketika mendengarnya. Termasuk sosok pria yang memperhatikan Viona dari kejauhan. Pria itu memakai jaket hitam dan sebuah payung ditangannya.



Sepasang mutiara abu-abunya terus menatap Viona dengan tatapan tak terbaca. Sorot matanya sarat akan kerinduan yang begitu besar.


Pria itu mengayunkan kedua kakinya mengikuti kemana kaki Viona melangkah. Dia terus mengikuti wanita itu dan ikut berhenti ketika Viona berhenti.


Viona memasuki sebuah kedai ice cream yang dulu sering dia datangi bersama Nathan. Nathan sering membawanya untuk makan ice cream di sana. "Bibi, tolong berikan sasa macha satu," pinta Viona pada bibi pemilik kedai.


"Baik Nona, tunggu sebentar,"


Setelah membayar ice creamnya. Viona beranjak meninggalkan kedai. Jika biasanya Viona memakan ice creamnya ditempat, maka kali ini tidak. Dia akan membayanya pulang dan memakannya di rumah.


Viona menghentikan langkahnya saat tiba-tiba dia merasakan pusing yang luar biasa pada kepalanya. Tubuh Viona sedikit terhuyung, semakin lama Viona merasakan jika pandangannya semakin mengabur.


Dan payung dalam genggaman pria itu jatuh begitu saja dari genggamannya. Dia berlari menghampiri Viona dan menahan tubuh wanita itu sebelum jatuh menghantam aspal.


Diantara sadar dan tidak sadar. Viona melihat wajah orang yang menyelamatkannya. Dan kedua matanya yang sayu tampak berkaca-kaca melihat wajah familiar tersebut. "Nathan Oppa," gumanya lirih. Viona mengangkat tangannya yang kemudian ia arahkan pada pada Nathan. Belum sampai tangan Viona menyentuh wajah orang itu, ia sudah jatuh pingsan.


Tak ingin hal buruk sampai menimpa Viona dan janin di dalam rahimnya. Pria itu pun segera membawa Viona kerumah sakit.


"Aku mohon bertahanlah,"


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2