Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab79) "Keinginan Luna"


__ADS_3


Hai riders, jangan lupa baca juga ya novel Author yang judulnya ISTRI CANTIK MAFIA KEJAM tinggalkan like koment-nyajuga. 🙏🙏🤗🤗🤗


-


Pagi hari yang cerah menyambut Kota Santorini. Terlihat seorang wanita berambut coklat terang tengah berdiri di balkon kamarnya. Matanya menyisir ke sekeliling Lautan Aegean yang sangat indah dengan laut birunya yang menyegarkan mata. Mata coklatnya juga menatap ke seluruh bangunan-bangunan kecil yang sepenuhnya didominasi oleh warna biru serta putih. Sungguh sangat luar biasa.


"Morning, Dear,"


Panggilan selamat pagi dalam Bahasa inggris yang disertai dengan pelukan hangat itu, membuat Luna menoleh dan seulas senyum tipis pun terukir di bibir tipisnya. Wanita berparas ayu itu menatap sosok suaminya tampannya.


Mata abu-abu dan rambut keperakannya membuat Luna terkagum-kagum, di tambah lagi dengan pemandangan indah yang begitu menyegarkan matanya membuat Luna merasa sempurna.


Luna menyadarkan punggungnya pada dada bidang Zian yang tersembunyi apik di balik kemeja hitamnya. Kedua tangannya menggenggam jari-jari besar Zian yang memeluk perutnya.


"Bagaimana tidurmu semalam?" Zian mengecup leher jenjang Luna dan membuat bulu-bulu halus di sekitar lehernya langsung berdiri.


"Sangat nyenyak, kau sendiri bagaimana?" Luna menoleh, membuat dua pasang mutiara berbeda warna milik mereka saling bersiborok. Zian menakup sisi wajah Luna kemudian mengecup singkat bibir tipis menggodanya.


"Sama, apalagi seorang Dewi menemani di sisiku semalaman penuh," ucapnya dan kembali mencium bibir Luna.


Tak puas hanya ciuman singkat saja. Luna berbalik, posisinya dan Zian saling berhadapan. Luna mengalungkan kedua tangannya pada leher Zian. Sedikit berjinjit wanita itu mulai menginvasi bibir suaminya. Bibir Luna terus memagut bibir Zian, atas dan bawah bergantian.


Tak suka di dominasi. Zian mengambil alih ciuman tersebut dan balik menginvasi bibir Luna. Zian melahap habis bibir tipis menggoda milik Luna. Memagutnya rakus dan penuh nafsu. Mereka terus berciuman, bahkan mereka sama-sama tak menghiraukan dengan asupan oksigen di dalam paru-parunya yang mulai menipis.


Zian baru melepaskan ciumannya beberapa menit kemudian. Wajah Luna memerah padam karena hampir kehabisan nafas. Dan Luna akui jika suaminya itu adalah seorang pemain yang hebat. Dan Zian selalu tau bagaimana cara untuk memuaskannya.


"Segeralah mandi, Nathan Hyung dan Viona Nunna sudah menunggu kita untuk sarapan," ucap Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.


"Sebentar lagi aku turun, berikan aku waktu untuk bersiap-siap dulu,"


"Jangan lama-lama," lagi-lagi Luna mengangguk sebagai jawabannya.


.


.


Usai menyantap sarapannya. Mereka memutuskan untuk pergi jalan-jalan. Saat ini, mereka berada di luar Villa dan tengah menyusuri jalanan di Santorini. Terlihat pasangan Luna-Zian dan Nathan-Viona.

__ADS_1


Mereka berempat tampak mesra berjalan satu sama lain, dengan para peia yang sangat erat memeluk pinggang mungil wanitanya masing-masing. Begitu juga dengan Luna dan Viona, wanita itu terlihat manja memeluk lengan suaminya. Mereka terus menaiki pundakan Santorini dengan mesra dan dengan kedua tubuh yang saling menempel. Sedangkan si kembar sedang bersama trio kadal. Entah mereka bertiga membawa Laurent dan Lucas ke mana, karena mereka pergi sebelum sarapan.


Pemandangan Santorini memang sangat menakjubkan apalagi ketika saat matahari tenggelam. Perpaduan warna jingga dan orage membuat Pulau itu semakin eksotis. Hamparan laut yang mulai menjingga, membuat semua orang menatap kagum pemandangan tersebut.


Kaldera itu menjadi begitu menawan karena sinar matahari tenggelam membuatnya menjadi lebih indah. Kaldera itu seperti ditumpahi oleh langit senja yang begitu menawan bagaikan manik-manik. Dan Luna merasa menyesal kenapa tidak saat senja saja mereka pergi jalan-jalannya, meskipun saat siang hari Santorini terlihat menawan, namun ketika senja tiba justru terlihat lebih mengaagumkanm


Kini, para insan itu sudah berada di puncak Santorini dengan merangkul satu sama lain. Luna dan Viona menatap kagum pada lautan Santorini yang begitu menawan saat ditumpahi oleh sinar hangat mentari. Berbeda dengan Zian dan Nathan, kedua pria itu justru lebih senang menatap kecantikan sang dara yang begitu bersinar di bawah sinar sang penguasa siang.


"Aku menyesal kenapa bukan saat senja saja kita jalan-jalan ke sininya? Pasti lebih indah dan mengagumkan," gerutu Luna yang merasa kecewa pada keputusannya.


Sontak Zian menoleh dan menatap datar wanita disampingnya. "Memangnya siapa tadi yang ngeyel ingin pergi?"


"Aku,"


"Lalu kenapa sekarang kau malah mengeluh?"


Luna mendengus kesal. Kenapa Zian harus mengomelinya? Sedangkan Natha dan Viona terlihat adem-adem saja. Pasangan suami-istri yang telah dikaruniai dua putra dan putri itu terlihat santai dengan Nathan yang memeluk Viona dari belakang. Kepala dan punggung Viona bersandar pada dada bidang suaminya yang tertutup di balik kemeja putihnya.


"Apa kalian berempat adalah pasangan kembar?" seorang wanita tiba-tiba saja berhenti dan menyapa mereka berempat.


Zian dan Nathan saling bertukar pandang kemudian sama-sama mengangguk membenarkan, meskipun pada kenyataannya mereka bukan saudara kandung. Bahkan tak ada darah yang sama mengalir dalam tubuh keduanya.


"Tentu," kali ini giliran para wanita yang menjawabnya.


Setelah mendapatkan ijin dari Luna dan Viona. Wanita itupun segera mengambil foto bersama dua pasutri tersebut. Luna terkekeh, dia merasa jika dirinya sudah seperti artis karena ada orang yang mengajaknya foto bersama.


"Apa yang kau tertawakan?" tanya Zian memicingkan mata.


Luna menggeleng. "Aku merasa geli saja. Padahal kita bukan artis, tapi kenapa banyak yang mengajak kita berfoto bersama, dan itu tadi sudah ke yang lima kalinya. Bukankah itu sangat luar biasa." Viona hanya terkekeh mendengar ocehan adiknya itu. Tapi jika di pikir-pikir apa yang Luna katakan memang ada benarnya.


"Sayang, coba hubungi Satya, dan tanya padanya di mana mereka sekarang." Ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Luna. Nathan mencemaskan Laurent dan Lucas.


"Sebentar, Oppa. Aku coba hubungi mereka dulu."


Sementara itu...


Luna terus saja merengek dan mengajak Zian kembali ke Villa. "Oppa, ayolah. Aku benar-benar bosan. Nanti saja saat senja kita ke sini lagi. Kita kembali ke Villa saja ya, kita buat bayi bersama-sama, mau ya," renggek Luna mencoba membujuk Zian supaya dia mau diajak kembali ke Villa. Dan melihat wajah polos Luna yang di buat-buat membuat Zian tidak tahan untuk tidak menjitak kepala coklatnya.


"Dasar kau ini. Baiklah kita kembali sekarang," dan pada akhirnya Zian pun menyerah. Dia setuju untuk kembali ke Villa bersama Luna, sedangkan Nathan dan Viona memutuskan untuk tetap di sana karena mereka masih ingin menikmati keindahan pulau Santorini.

__ADS_1


"Oppa, Eonni, kami duluan ya.Kami ada proyek besar dan doakan saja berhasil. Hahahaha," ucap Luna dan pergi begitu saja.


.


.


.


Luna merebahkan tubuhnya pada kasur super nyaman di kamar utama. Ia merasa lelah setelah berjalan lebih dari dua puluh menit menuju Villa. Salahkan saja Zian yang menolak untuk membawa mobil karena menurutnya berjalan kaki lebih sehat.


Luna menggulirkan pandangannya dan mendapati Zian berjalan menghampirinya. Sudut bibir Luna tertarik ke atas. Luna merubah posisinya menjadi miring dengan salah satu tangannya menjadi bantalan kepalanya. Wanita itu memberikan tatapan nakalnya pada. Alih-alih tergoda, Zian malah merasa geli sendiri.


Mengabaikan Luna yang masih bertahan pada posisinya. Zian melewatinya begitu saja. Pria itu terlihat melepas kemeja lengan panjangnya dan berjalan menuju kamar mandi. Dan sikap acuh Zian membuat Luna kesal setengah mati.


"YAKK!!! ZIAN QIN, DASAR RUSA KUTUB MENYEBALKAN!!" teriak Luna sambil melemparkan bantal ke arah pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat.


Dalam hatinya Luna dongkol setengah mati. Bagaimana tidak, suami tampannya itu malah menghancurkan angan-angannya yang indah. Luna membenamkan wajahnya pada bantal dengan posisi tengkurap. Bibirnya terus berkomat-kamit, dia benar-benar kesal setengah mati.


Sepuluh menit kemudian Zian keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut handuk yang melingkari pinggulnya. Zian mendengus melihat melihat Luna yang sedang tengkurap sambil menutupi kepalanya dengan bantal.


Meletakkan handuk kecil yang dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Kemudian Zian menghampiri Luna. Zian memberikan kecupan-kecupan kecil di sekitar lehernya dan itu sukses membuat Luna mengeram rendah.


"Aaahhh... O-Oppa,"


"Kenapa, Sayang? Bukankah ini yang kau inginkan,hn?" gumam Zian menyeringai.


Luna merubah posisinya dan saling berhadapan dengan Zian. Susah payah Luna menelan salivanya melihat wajah Zian yang semakin tampan dengan rambut setengah basahnya yang jatuh di atas keningnya, exy. Kemudian pandangan Luna turun menuju dada Zian yang rata, perut yang terbentuk, lengan yang berotot, tidak terlalu besar namun kuat ketika di sentuh. Bagaimana Luna Tidak merasa beruntung memiliki suami setampan Zian.


Kedua mata coklatnya tertutup perlahan ketika merasakan benda lunak nan basah menginvasi bibirnya. Luna mengangkat kedua tangannya kemudian mengalungkan pada leher Zian. Ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi ciuman panas yang menuntut.


Seperti yang Luna harapkan. Dan Luna tidak bisa menahan gejolak dalam dirinya ketika Zian mencumbunya semakin jauh dan semakin kerad. Dan Hari ini akan menjadi hari yang teramat sangat panjang untuk Luna dan Zian. Dan Luna berharap usahanya kali akan membuahkan hasil. Luna sudah tidak sabar menunggu terlalu lama lagi, dia ingin segera menjadi seorang ibu.


"Kau terlihat basah dan hangat di sini, Sayang," Zian menyeringai melihat wajah Luna yang sedikit memerah. "Dan sepertinya kau akan siap dalam beberapa menit lagi,"


"Sebaiknya jangan di tunda lagi, Oppa. Karena aku sangat menginginkannya!!!"


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2