Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 92 "Orang Baik"


__ADS_3

Mimpi yang sama.......


Jordy terbangun dari mimipi buruknya dengan nafas tersengal-sengal, mimpi buruk yang selama beberapa terakhir ini selalu menghantuinya. Mimpi yang sangat mengerikan, mimpi yang selalu membawanya pada ketakutan dan rasa bersalah pada setiap denyut nadi serta aliran darahnya. Mimpi buruk yang membuatnya selalu di hantui rasa bersalah dan dosa yang tiada ujungnya.


Jordy segera beranjak dari berbaringnya, sebelah tangannya meraih segelas air putih yang ada di meja kecil samping tempat tidurnya lalu meneguknya sampai habis. Dadanya bergemuruh, tubuhnya bergetar hebat.


Ia pun tidak mampu menahan beban tubuhnya dan membuatnya nyaris terjatuh, peristiwa mengerikan yang terjadi 5 bulan lalu masih sangat segar dalam ingatan Jordy. Saat di mana Ia menabrak tubuh Viona dan meninggalkannya begitu saja, bahkan Jordy mengabaikan saat wanita itu berusaha untuk meminta pertolongan padanya sesaat sebelum Shion meminta anak buahnya supaya melemparkan tubuh Viona kedalam suangai Han.


Brakk..


Jordy menolehkan kepalanya sesaat setelah dia mendengar sesuatu seperti suara benda terjatuh, dengan cepat dia beranjak dari duduknya dan melihat apa yang terjadi sebenarnya.


"Aaaahhh!!"


Pria itu menjerit histeris saat melihat begitu banyak darah berserakan di lantai depan kamarnya. Yang lebih mengejutkan lagi, Jordy melihat ada tulisan 'Tolong Aku' dan seketika tubuh Jordy genetar ketakutan. Tanpa berfikir panjang Ia segera berlari kedalam kamarnya dan menutupi sekujur tubuhnya dengan menggunakan selimut tebal miliknya.


"Jordy, tolong aku. Tolong aku..." lirih suara wanita yang begitu familiar masuk dan berkaur di dalam telinganya.


Jordy memejamkan matanya dan menggeleng kuat. Peluh membasahi hampir disekujur tubuhnya. "Tidak Viona, aku mohon jangan menggangguku lagi. Tolong lepaskan aku, aku mohon padamu, ini bukan salahku tapi salah Shion, dialah yang sudah meracuni pikiranku dan memaksaku untuk melakukannya," ujar Jordy sambil menutup rapat-rapat kedua matanya.


"Kenapa Jordy, kenapa kau harus membunuhku? Apa salahku padamu? Kenapa kau begitu tega Jordy-ah, kenapa kau begitu tega? Aku kesepian di sana. Aku butuh seseorang menemaniku." Suara itu memantul dan terdengar begitu mengerikan.


Jordy menggeleng. "PERGI VIONA, PERGI!!! JANGAN MENGGANGGUKU. AKU MOHON PERGI!!"


"Aku menginginkanmu untuk menemaniku Jordy-ah, hihihi!!"


"TIDAK!!!"


Dan Jordy pun jatuh pingsan. Tiga sosok pemuda terlihat keluar dari persembunyiannya. Rio, Frans dan Satya terus menebar terror pada Jordy dan Shion. Hampir setiap malam mereka bertiga selalu mendatangi mereka berdua dan menjadi mimpi buruk bagi mereka.


"Paman, bantu aku menyeret bajingan ini kehalaman depan. Biar dia jadi santapan empuk nyamuk-nyamuk yang lama menjanda dan kesepian," ujar Rio.


"Tunggu, kita harus melucuti pakaiannya terlebih dulu. Biar saja dia mati membeku di luar sana," sahut Satya yang dibalas anggukan setuju oleh Rio dan Frans.


"Pakaiannya serahkan padaku. Aku akan menggantungnya di pagar depan, biar saja semua orang tau jika Presdir sebuah perusahaan besar adalah pecinta kolor pink bermotif,"


"Paman Frans, jangan lupa di foto dan diposting juga biar jadi viral," usul Rio.


"Aku sudah memikirkannya. Sebelum dia sadar, sebaiknya kita seret dia kehalaman," Satya dan Rio pun mrngangguk dengan kompak. Mereka bertiga menyeret tubuh Jordy yang setengah telanja** menuju halaman dan meninggalkannya begitu saja.


-


Cicit burung gereja yang bertengger diatas dahan riuh saling bersahut-sahutan. Suara angin pagi yang terasa menyegarkan mambuat kalbu siapapun terasa tenang. Tak lupa suara angin yang menggoyangkan setiap daun pepohonan menambah elok suasana pagi ini.


Viona masih meringkuk diatas tempat tidurnya. Dengan balutan selimut tebal, Ia masih menikmati berpetualang di alam mimpi. Sementara itu, sosok pria yang sebelumnya tidur disampingnya sudah tak terlihat disana. Hanya tinggal Viona saja yang masih belum terbangun.


Sang mentari mulai menampakkan sosoknya yang begitu gagah. Sinarnya yang hangat mampu mengusir hawa dingin pagi ini. Cahayanya perlahan naik menuju singgasananya, sinarnya yang Agung berada diatas cakrawala. Mentari mulai menjalankan perannya dan bertugas menggantikan sang penguasa malam untuk mendampingi bumi.


Sesosok pria dengan kemeja kelabu lengan terbuka dan juga celana jeans panjang berdiri dibalkon kamar menikmati udara pagi yang masih terasa alami. Rambut coklat terangnya berkibar diterpa angin pagi yang hangat. Wajah tampannya tak berekspresi sama sekali, datar.

__ADS_1


Setelah lebih dari lima bulan hidup dalam duka. Kini Nathan mulai menemukan kembali arti hidupnya, belahan jiwanya yang dia fikir telah tiada ternyata dia masih hidup dan baik-baik saja. Meskipun keadaan dan situasi saat ini sedikit berbeda, setidaknya dia tau jika Viona dalam keadaan baik-baik saja.


Nathan beranjak dan masuk ke dalam kamar, sudut bibirnya tertarik ke atas melihat Viona masih terlelap dalam tidurnya. Nathan mendekati Viona kemudian duduk disamping wanita itu berbaring.


"Aku tidak akan membiarkanmu berjuang sendirian, aku pasti akan membantumu dan mendampingmu sampai akhir. Bersama-sama kita hancurkan mereka meskipun harus dengan cara yang berbeda," ujar Nathan.


Nathan bengkit dari duduknya dan pergi meninggalkan kamar Viona. Mungkin membuat roti panggang dan segelas susu bukanlah sebuah ide yang buruk, batinnya. Ini adalah akhir pekan, jadi tidak ada alasan bagi Nathan untuk terburu-buru, karna ini adalah waktunya untuk bersantai setelah satu minggu bekerja.


Viona membuka matanya yang masih terasa agak berat dan menguap lebar. Wanita itu menggulirkan pandangannya dan sosok tampan yang semalam tidur bersamanya sudah tidak ada. Dia sudah bangun? ucap Viona membatin. Wanita itu menyibak selimutnya kemudian pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan menggosok giginya.


Viona meninggalkan kamarnya dan hendak pergi ke dapur untuk membuat sarapan, dan setibanya di sana dia malah mendapati Nathan yang tengah memanggang roti.


"Tuan Lu, kau masih di sini? Aku fikir kau sudah pulang," seru Viona sembari menghampiri Nathan. "Apa kau sedang membuat sarapan untuk kita berdua?"


"Menurutmu?"


"Roti panggang lapis dengan selai coklat-kacang, bagaimana kau bisa tau itu adalah rasa kesukaanku?" Viona menatap Nathan penasaran.


"Itu karna aku suamimu," lirih Nathan membatin. "Aku hanya sekedar tau saja," jawabnya dingin. "Duduklah, ini sudah hampir selesai."


"Aku fikir kau sudah pergi, apa kau tidak pergi bekerja hari ini?" Viona mengambil roti lapis yang Nathan berikan padanya dan mulai memakannya.


"Aku free hari ini. Ini adalah akhir pekan jadi aku malas untuk pergi ke mana pun termasuk pulang. Jika kau tidak keberatan aku ingin di sini sampai beberapa jam kedepan,"


Viona menggeleng. "Tentu saja tidak. Kau bisa berada di sini selama yang kau mau, aku sama sekali tidak merasa keberatan,"


"Kenapa kau begitu mempercayaiku yang jelas-jelas hanyalah orang asing. Apa kau tidak takut jika aku akan berbuat buruk padamu?"


"Jadi kau berfikir jika aku ini adalah orang yang baik? Tapi sayangnya aku tidaklah sebaik itu. Dan aku masih sangat jauh untuk disebut sebagai orang baik,"


"Itukan dari hasil penilaianmu sendiri. Tapi orang lain-lah yang menilainya. Dan sebagai orang lain, aku menyatakan jika sebenarnya kau ini adalah orang yang baik, hanya saja kau berada dijalan yang salah." Tukas Viona.


Nathan mengangkat bahunya. "Aku tidak yakin jika diriku adalah orang yang baik, karna orang baik tidak mungkin membunuh ratusan nyawa hanya dalam kurun waktu tiga tahun saja,"


"Tapi kau melakukannya tentu bukan tanpa alasan? Karna tidak mungkin kau melakukannya jika bukan mereka yang memulainya lebih dulu. Meskipun seluruh dunia menyebutmu sebagai Iblis tak berhati, tapi aku akan menjadi orang pertama dan mungkin satu-satunya yang menyebutmu sebagai orang baik,"


Nathan menghampiri Viona dikursinya. Tanpa sepatah kata pun, Nathan menakup wajah Viona dan mencium bibir ranumnya tanpa ragu. Nathan melum** bibir tipis itu dengan frontal dan penuh nafsu. Kedua tangan Viona mengalung pada leher Nathan. Dan semakin lama, ciuman mereka berubah menjadi ciuman panas yang menuntut.


Nafas Viona memburu tak beraturan setelah Nathan menghakhiri ciuman panasnya. Dan nyaris saja Viona kehabisan nafasnya karna ciuman itu.


Tanpa sepatah kata pun Nathan berbalik dan pergi begitu saja. Dia merutuki kebodohannya, karna tidak seharusnya dia terbawa suasana dan tidak bisa mengendalikan dirinya.


-


Seorang pria bersurai coklat terang menyeringai kecil. Sesekali memainkan jemarinya pada keuboard yang tersedia pada Laptop dihadapannya. Tak lama ia meregangkan otot-otot tangannya yang terasa lelah. Memperdengarkan bunyi gemelatuk yang sudah sering kita dengar secara awam.


Beberapa detik berlalu seringai tak juga surut. Seolah kesenangan terbesar yang ia nantikan telah hadir dalam hidupnya saat ini juga. Membuka kotak plastik bening yang ia dapat dari sisi kanan laptopnya, ia mengeluarkan benda persegi kecil berwarna hitam dengan pelat kuningan di sisi lainnya-sebuah memory micro SD.


Tanpa perlu waktu lama ia meraih cardreader lalu memasang micro SD tersebut dengan hati-hati. Setelah berhasil menyambungkannya dengan laptopnya, jemarinya kembali menari lincah di atas keyboar laptopnya, membuka program windows explorer di mana memori yang sebelumnya dimasukkan ke operation system berada. Setelah mengklik nama removable disk, jari telunjuknya mulai bergerak untuk membuka folder software buatannya.

__ADS_1


Iris tajam itu memutar sejenak sebelum melanjutkan kembali kesenangan. Menatap layar datar di hadapannya, membuka kembali system yang beberapa saat lalu ia tekuni. Meneliti apakah ada kejanggalan yang mungkin ia temui jika diakses atau justru sebaliknya. Ia kembali mempertontonkan seringai tajam.


"Apa yang sedang kaulakukan?" suara berat khas pria berkaur di dalam telinganya.


Ia tak lantas menjawab melainkan makin memperluas area seringaiannya. "Hanya sedikit bermain dengan virus buatanku."


"Meretas lagi? Memangnya perusahaan mana lagi yang akan kau hancurkan kali ini? Lagi pula virus apa? Jelas-jelas itu hanya sebuah card dalam bentuk micro SD,"


Pertanyaan penasaran itu tak lantas membuat pria beriris coklat tajam itu menghentikan seringai. "Kau belum mendengar penjelasanku, Ge," pria itu mendengar desahan nafas kasar tercipta dari pria didepannya. Mengambil pasokan udara, ia mulai menjelaskan, "Aku mengemas virus ini sedetail mungkin. Kau tenang saja, virus ini tak dapat menyebar kemana-mana kecuali pada software induk yang kubuat. Apa kau mengerti?"


Pria itu menggeleng. "Terlalu membingungkan. Kau membuatku yang sudah pusing menjadi semakin pusing, terkadang aku berfikir, kenapa Tuhan tidak bisa bersikap adil padaku. Tuhan memverikanmu otak yang jenius tapi padaku hanya biasa-biasa saja. Sudahlah, aku pergi dulu,"


Pria bereyepach itu kembali menyeringai. Jemarinya yang tadi beristirahat sejenak kembali menekan-nekan beberapa huruf pada keybord loptopnya. Matanya bahkan tak beralih dari layar Laptop sedikitpun.


Dan hanya dengan sekali sentuhan, virus buatan tangannya sendiri mengacaukan seluruh sistem operasi komputer dan CCTV gedung pusat Lim Corporation. Secara otomatis pula staff yang bertugas hari ini di kantor mendadak ricuh. Kepanikan jelas terasa di sana. Pria itu kembali menyeringai. "Terima kehancuranmu, Jordy Lim. Ini baru awal karna permainan yang sebenarnya baru saja dimulai!!"


-


Jordy yang baru saja tiba dikantornya langsung mendapatkan laporan mengejutkan dari anak asistennya jika data-data penting pada perusahaannya telah di curi oleh hackers dan sulit ditangani.


Jordy yang mendengar hal itu langsung pergi ke.ruang kendali untuk memastikannya sendiri. Di dalam sana para tekhnisi sedang bekerja keras untuk mengatasi warm yang tiba-tiba masuk dan meretas sistem komputer.


"Apa yang terjadi?"


"Kita dalam masalah besar, Tuan. Ada orang yang meretas sistem kita dan berhasil mencuri data-data penting perusahaan kita dan dalam beberapa jam saja saham perusahaan mengalami penurunan,"


"Apa? Segera ambil tindakan dan atasi masalah ini. Aku tidak ingin jika perusahaanku sampai bangkrut karna ulah hackers tak berotak."


"Baik Tuan,"


Jordy meninggalkan ruangan dan pergi keluar. Mungkin mencari udara segar diluar akan membuatnya sedikit tenang. Jordy memutuskan untuk jalan-jalan keluar.


.


.


.


"Ellena Kim,"


Ellena menghentikan langkahnya dan tersenyum melihat seorang pria menghampirinya lalu memeluknya. "Hei apa ini Tuan Jordy? Kenapa harus peluk-peluk segala? Aku tidak suka,"


"Maaf, aku terlalu bahagia melihatmu karna kau selalu mengingatkanku pada istriku,"


"Cih, dasar kuda nil tak tau diri, berani-beraninya mengakuiku sebagai istri. Istri kepalamu,"


"Kenapa melamun, bagaimana kalau kau menemaniku sarapan? Aku belum sarapan," tanpa mengatakan apapun, Jordy menarik lengan Viona pergi dari sana. Dan wanita itu hanya mampu mendesah berat.


Jika bukan karna terpaksa, Viona juga tidak akan sudi pergi dengan pria tak berhati seperti Jordy.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2