Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 47) "Ambisi Lee Soojin"


__ADS_3

Riders tersayang, baca juga novel terbaru Author yang judulnya TERPAKSA MENIKAHI MAFIA KEJAM jangan lupa untuk meninggalkan like koment juga ya riders.


-


"Lee Soojin?"


Tubuh Dahlia menegang melihat kedatangan wanita itu yang merupakan mantan menantunya. Wajah cantiknya langsung terlihat pucat ketika melihat sorot mata dan tatapan Soojin yang tajam dan mengintimidasi.


Soojin melangkahkan kakinya dan melewati Dahlia begitu saja. Wanita itu masuk ke dalam kamar Dahlia kemudian duduk di kursi depan meja riasnya. Jari-jari lentiknya mengambil salah satu koleksi parfum milik Dahlia. "Aku menginginkan parfummu ini," Soojin mengangkat parfum itu dan menunjukkannya pada Dahlia.


Wanita itu menyeringai melihat wajah pucat mantan ibu mertuanya itu. Dahlia terlihat tegang. "Ada apa, mantan ibu mertua? Kenapa kau terlihat begitu tegang? Kau melihatku seperti melihat hantu saja, kekeke," Soojin terkekeh.


"Mau apa kau kembali dan datang menemuiku lagi?"


Soojin bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Dahlia. Soojin menepuk bahu mantan ibu mertuanya itu dan berbisik di telinga kanannya. "Beginikah caramu menyambut seorang tamu terhormat, Ibu!!"


Dahlia menyentak tangan Soojin dari bahunya dan menatapnya tajam. "Kau bukan lagi bagian dari keluarga ini. Kau dan Zian telah lama bercerai!!" Soojin tertawa sinis.


"Begitukah? Sepertinya kau sudah mulai berani padaku, wanita tua!! Apa kau lupa jika aku adalah satu-satunya kunci yang memegang kartu AS-mu. Apa kau melupakan itu? Atau kau memang ingin aku mengungkapkan pada Zian jika sebenarnya kau bukanlah ibu kandungnya melainkan kakak dari ibu kandungnya. Dan bagaimana reaksi dia setelah tau jika kau adalah orang yang telah melenyapkan ibu kandungnya. Dia akan membencimu atau langsung membunuhmu?" Soojin menyeringai dan menatap Dahlia dengan senyum penuh kemenangan. Soojin memang sangat ambisius untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" tanya Dahlia.


Soojin menyeringai. "Buat Zian kembali padaku!!"


-


Di sebuah ruangan bernuansa putih dengan aroma obat yang begitu khas. Terlihat seorang pria duduk termenung di atas ranjang inapnya dengan sebuah perban membebat mata kirinya.


Pria itu 'Zian' baru saja menjalani operasi pada mata kirinya yang bermasalah akibat kecelakaan yang ia alami.


Awalnya Zian mengira cidera akibat kecelakaan itu tidak berakibat sefatal ini karna dokter sendiri yang mengatakan jika cidera itu akan sembuh dalam waktu beberapa minggu.

__ADS_1


Tapi yang terjadi di luar dugaan, bukannya semakin membaik, keadaan mata itu malah semakin memburuk. Dan itulah kenapa dokter menyarankan supaya Zian segera melakukan operasi pada mata kirinya sebelum keadaannya semakin memburuk lagi.


Tokk!! Tokk!!


Ketukan pada pintu mengintrupsi Zian untuk menoleh, seorang dara jelita berparas barbie terlihat menghampiri Zian dengan sebuah bingkisan di tangannya serta beberapa tangkai mawar yang kemudian ia ketakkan pada vas bunga di atas nakas samping ranjang inap pria tersebut.


"Zian, aku bawakan beberapa pakaian ganti untukmu. Kau bilang pakaian rumah sakit membuatmu tidak nyaman. Kau ingin menggantinya sekarang?" Tawar perempuan itu yang pastinya adalah Luna.


Zian menggeleng. "Nanti saja, letakkan saja di situ." Luna kemudian mengangguk."Kemarilah." Zian mengulurkan tangannya dan menuntun Luna untuk duduk di atas pangkuannya.


Tatapan Luna berubah sendu. Jari-jarinya menyentuh permukaan kasa yang menutup mata kiri suaminya, sedih terpancar jelas dari sorot matanya coklatnya. "Pasti sangat berat dan tidak mudah karna harus hidup hanya dengan satu mata saja yang berfungsi selama ini?" ujar Luna dengan mata berkaca-kaca.


Zian menggeleng. "Sama sekali tidak, lagi pula aku sudah terbiasa hidup dengan satu mata saja. Jadi jangan cemaskan apapun. Lagipula dalam waktu dua minggu ke depan mata kiriku akan kembali normal. Jadi jangan bersedih lagi." Pinta Zian sambil mengusap air mata yang menetes dari pelupuk mata Luna.


"Tapi tetap saja, melihatmu seperti ini rasanya begitu menyakitkan." Luna semakin tidak kuasa menahan air matanya, rasanya begitu sakit melihat orang yang dia cintai menjadi seperti ini.


Tokk!! Tokk!! Tokk!!


"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Tanya wanita itu 'Soojin' dengan nada yang kurang bersahabat.


"Seharusnya aku yang bertanya. Sedang apa kau di sini? Bahkan kedatanganmu sangatlah tidak di harapkan, jadi sebaiknya kau pergi saja." Usir Luna pada Soojin.


Alih-alih turun dari pangkuan Zian, wanita itu malah semakin mengintimkan tubuhnya pada Zian dengan mengalungkan kedua tangannya pada keher pria bermarga Qin tersebut. "Lagi pula aku memiliki hak untuk tetap di sini karna aku adalah istri, Zian." Lanjutnya menambahkan.


"Apa?" Soojin memekik seraya menatap Luna tidak percaya. "Kau bilang istri?" Luna mengangguk. "Bagaimana bisa? Tidak mungkin, tidak mungkin secepat itu Zian bisa menggantikan posisiku dengan orang lain apapagi orang itu perempuan sepertimu."


Luna memutar matanya jengah."Sudahlah Bibi, terima saja kenyataan jika Zian sudah tidak menginginkan dirimu lagi." Kata Luna menegaskan.


"Mwo? Bibi? Yakk!! Aku tidaklah setua itu jadi jangan sembarangan memanggilku." Amuk Soojin yang tidak terima di panggil Bibi oleh Luna.


"Lalu kau ingin supaya aku memanggilmu apa? Nenek? Lagi pula sangat wajar jika aku memanggilmu, Bibi karna usia kita terpaut 8 tahun. Bukankah kau lebih tua 3 tahun dibandingkan Zian? Jadi di mana letak kesalahanku?" tanya Luna dengan mimik wajah tanpa dosa.

__ADS_1


"Kau...!"


"Cukup, Lee Soojin." Bentak Zian menengahi perdebatan mereka berdua. Sorot matanya tajam dan penuh intimidasi. "Jika kedatanganmu hanya untuk membuat keributan di sini, sebaiknya kau pergi."


"Mwo? Kau mengusirku hanya karna perempuan ini?" Soojin menatap Zian tidak percaya, kemudian Soojin mengulirkan pandangannya pada Luna yang tengah menyeringai padanya. "Ingat, aku belum kalah darimu. Dan ingatlah ini baik-baik, Zian hanya milikku dan aku tidak akan semudah itu melepaskan dia untukmu."


"Terserah." Sahut Luna menimpali.


Luna tidak akan tinggal diam dan membiarkan orang ketiga mengacaukan rumah tangganya. Dan Luna tidak akan pernah gentar menghadapi apapun, dan Luna tidak akan tinggal diam apalagi membiarkan pelakor merajalela dan membayang-bayangi rumah tangganya.


Jika Soojin menganggap Luna sebagai wanita yang lemah maka dia salah besar karna Luna bukanlah wanita lemah yang mudah untuk ditindas. Dan asal kalian tau saja, Luna sama menyeramkannyan Viona ketika berhadapan dengan pelakor.


Mungkin Soojin memang licik dalam memanipulasi keadaan, tapi Luna lebih cerdik. Dan berurusan dengan Luna sama saja dengan membangunkan seekor singa betina yang sedang kelaparan.


Dan selepas kepergian Soojin, tak lama berselang tampak Nathan dan Viona datang sambil menenteng sekeranjang buah yang kemudian dia letakkan di atas nakas kecil sambil ranjang inap Zian.


"Bagaimana keadaanmu, Zian?" Tanya Nathan memastikan.


"Seperti yang kau lihat, Hyung. Aku baik-baik saja." Jawabnya datar. Wajar bila tubuh Zian terlihat segar bugar dan tidak terlihat seperti orang yang sedang sakit karna pada kenyataannya Zian memang baik-baik saja.


"Meskipun begitu tapi rumah sakit tidak akan mengijinkan kau pulang sampai perbannya bisa di buka." Tegas Viona seolah mengerti apa yang Zian pikirkan.


Zian memutar matanya jengah. "Aku tau, Nunna!! Dan kau tidak perlu mengingatkan lagi," balas Zian.


"Oya, siapa wanita yang baru saja keluar dari ruangan ini? Kelihatannya dia sangat marah dan kesal, " Viona tampan penasaran pada Soojin.


"Lee Soojin, mantan istriku,"


"Oh, jadi dia itu mantan istrimu. APA? MANTAN ISTRI!!"


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2