Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 51) "Kematian Dahlia Yang Tragis"


__ADS_3


Riders. Jangan lupa baca juga new novel Author ya, TERPAKSA MENIKAHI MAFIA KEJAM tinggalkan like dan komentnya juga. Jangan lupa πŸ™πŸ™πŸ™


-


"LUNA!!"


Jordan memekik kaget melihat keberadaan Luna di sana. Wanita itu bersandar pada tembok sambil bersidekap dada. Luna menyeringai sinis, wanita itu beranjak dari tempatnya dan menghampiri Jordan.


"Kenapa, Kakak Ipar? Sepertinya kau sangat terkejut melihat keberadaanku di sini?" sinis Luna menyeringai.


Jordan menghampiri Luna dan langsung mencekik lehernya. "Sebaiknya kau tidak ikut campur, Leonil Luna. Selama ini kau sudah terlalu dalam ikut campur dalam urusan keluarga, Qin. Kau membuat, Zian membenci ibunya sendiri. Berapa banyak lagi racun yang akan kau tanam dalam otak si bodoh itu, HAH!! Dan sebaiknya kau berhenti mulai sekarang sebelum aku bertindak jauh dan kasar padamu!!"


"Hahaha..."


Luna tertawa mengejek, dengan kasar Luna tangan Jordan dari lehernya dan menghempaskan hingga tangan itu sedikit terayun kebelakang. "Kau fikir kau siapa bisa seenaknya mengancamku? Kau sudah mencari masalah dengan orang yang salah, Bung!! Lagipula aku bukanlah wanita lemah seperti yang kau pikirkan." ujar Luna menegaskan.


Jordan tertawa mengejek. "Kau fikir kau bisa mengelabuhiku dengan berpura-pura bersikap tegas dan berani dihadapanku? Aku tidak akan terkecoh, Nona. Bagiku kau hanyalah anak kecil yang tidak berguna. Dan jangan salahkan aku jika aku sampai berbuat kasar padamu karna kau sendiri yang memaksaku!!"


Luna menyeringai sinis. "Apa kau bilang? Mengelabuhimu? Memangnya apa untungnya bagiku? Dan sepertinya aku memang tidak memiliki pilihan lain selain memberimu sebuah pelajaran dasar, Kakak Ipar!!"


Luna menggepalkan tangan kanannya dan... Buagghhhh... Sebuah bogem mentah mendarat mulus lada wajah Jordan. Dan saking kerasnya pukulan itu sampai membuat tubuh Jordan terhuyung, sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah.


"Kau...!! Berani sekali kau...!!"


Buagghh...


Sekali lagi sebuah pukulan melayang. Kali ini bukan wajaj Jordan tapi perutnya. Tubuh Jordan kembali terhuyung, dahinya menyernyit dan wajahnya menunjukkan jika dia sedang kesakitan.


"Bagaimana, Kakak Ipar? Masih ingin mencobanya lagi? Majulah, biar aku habisi kau!!" raut wajah Luna berubah serius dan tatapannya terlihat tajam dan berbahaya.


"Sudahlah, Ketua!! Sebaiknya langsung habisi saja manusia seperti dia. Kau terlalu membuang banyak waktu," seru Reyya yang sedari tadi menjadi satu-satunya penonton di sana.


Luna menggeleng. "Jangan langsung dihabisi, jelas-jelas itu tidak asik. Bagaimana kalau dia aku serahkan pada kalian saja? Aku rasa Kaira dan Erika memiliki cara untuk mengatasi manusia seperti dia,"


"Wow. Itu adalah rencana yang sangat bagus, Ketua!! Dan aku sangat setuju,"


Melihat kelengahan Luna tak lantas membuat Jordan diam dan menyia-nyiakan kesempatan yang dia miliki begitu saja. Jordan menyeringai, diam-diam dia mengeluarkan belati dari dalam saku jasnya dan ...


Jress...


Kedua mata Jordan membelalak melihat siapa yang berdiri dihadapannya dengan tatapan membunuhnya. "Zi-Zian!!" pekiknya terbata. Sontak saja Luna menoleh setelah mendengar Jordan menyebut nama suaminya. Dan benar saja, Zian berdiri berhadapan dengan Jordan.


"Kau fikir aku akan diam saja dan membiarkan kau menyakitinya?" geram Zian dengan nada rendah namun terdengar begitu dalam dan berbahaya.


Darah segar memgalir dari sela-sela genggaman tangan Zian yang dia gunakan untuk menahan belati yang tadinya hendak Jordan gunakan untuk menikam Luna.


"Zi-Zian, kau salah paham. Sebenarnya aku hanya-"


"Kenapa kau melepaskan dan membiarkan, mama pergi setelah kau tau apa yang telah dia lakukan pada, Shea?" tanya Zian meminta penjelasan.


"Karna dia Ibuku!! Dan sebagai seorang anak, tentu saja aku akan melindunginya dari orang-orang tak berhati seperti kalian semua, terutama kau Zian!! Sebagai seorang anak bagaimana bisa kau ingin memenjararakan Ibumu sendiri hanya karna dia menghilangkan nyawa satu orang saja? Dan kenapa kau tidak mencegahnya ketika istrimu yang sok pintar ini ikut campur dan berusaha untuk memojokkan mama? KENAPA ZIAN!!"


"KARNA DIA MEMANG BERSALAH!" tegas Zian dengan suara meninggi. "Aku benar-benar tidak habis fikir denganmu, Jordan. Bagaimana bisa kau membela seorang buronan dan kau sedang dalam masalah besar karna berusaha melindunginya,"


"Aku tidak peduli!!" Jordan menyela cepat."Apapun resikonya demi melindunginya. Mungkin dia memang jahat. Tapi bagaimanapun juga dia adalah Ibuku!! Dan sebagai seorang anak aku akan membela dan melindunginya sampai akhir!!" tegas Jordan.


"Apapun alasannya kebenaran harus tetap ditegakkan. Dia memang ibuku, tapi dia bersalah dan untuk itu dia harus mempertanggung jawabkan perbuatan kejinya pada Shea!!"


"Dan apakah kau tidak akan menyesal setelah menjebloskan ibumu sendiri ke dalam, Zian Qin!!" teriak Jordan.

__ADS_1


"Lalu apakah Ibu yang kau anggap suci itu merasakan sebuah penyesalan setelah menghabisi putrinya sendiri? Tidak, dia sama sekali tidak menyesalinya. Bahkan dia bersikap seolah tak terjadi apapun. Lalu apakah Ibu seperti dia layak untuk di bela?"


"ZIAN QIN!!"


Plakkk...


Buaagghh..


Luna menahan kepalan tangan Jordan yang hendak memukul Zian, dan Luna balik memukulnya hingga Jordan dia jatuh pingsan. "Kau sudah sangat keterlaluan, Jordan Qin. Dan perbuatanmu ini sungguh tidak bisa dimaafkan. Untuk itu kau perlu di beri pelajaran. Reyya, aku serahkan dia padamu. Bawa dia pada Kaira dan Erika,"


"Siap ketua. Lumayan dapat mainan bagus dan gratis." Ucap Reyya. Reyya menyeret tubuh Jordan yang sedang tak sadarkan diri seperti dia menarik sebuah karung goni.


Dan selepas kepergian Reyya, di sana hanya menyisahkan Zian dan Luna. Luna berbalik kemudian menghanpiri Zian yang terlihat begitu rapuh.


Luna meraih tangan Zian yang terluka kemudian mengikatnya dengan sapu tangan miliknya. Luna mengangkat wajahnya dan menatap Zian yang juga menatap padanya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Luna tanpa mengakhiri kontak matanya, iris hazelnya mengunci manik abu-abu milik Zian.


"Buruk," jawabnya dingin dan acuh."Rasanya semua yang terjadi malam ini adalah mimpi. Shea, sudah tidak ada. Jordan, menjadi penghianat. Keluarga ini sudah hancur, Luna. Sudah hancur!!"


Luna menarik Zian ke dalam pelukkannya dan memeluknya dengan erat. Jika biasanya Zian yang selalu melakukannya ketika dirinya sedang bersedih, maka kali ini Luna-lah yang membiarkan Zian bersandar padanya.


"Aku tau bagaimana perasaanmu saat ini, Zian. Tapi tidak ada gunanya meratapinya karna semua tidak akan bisa kembali seperti sedia kala. Kau harus terus maju dan melanjutkan hidupmu. Masih ada aku, papa Qin, ibu, Nathan oppa. Kau masih memiliki kita semua, dan aku akan selalu disampingmu apapun yang terjadi," ujar Luna panjang lebar. Wanita itu memejamkan matanya dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Zian.


Zian juga ikut menutup matanya. Sungguh betapa dia sangat beruntung karna memiliki istri seperti Luna. Dan Zian akan melakukan apapun untuk membahagiakan dan melindunginya. Tak akan Zian biarkan satu orangpun menyentuh apalagi menyakitinya. Tidak akan pernah!!


Luna melepaskan pelukannya. "Sebaiknya sekarang kita pulang. Kita masih harus mengurus pemakaman untuk, Shea eonni," Zian mengangguk.


"Baiklah,"


-


"AARRRKKHHH!! SIAL, SEMUA INI KARNA WANITA-WANITA GILA ITU!!"


Soojin dibuat tidak berkutik oleh mereka sehingga dia tidak bisa melakukan apapun selain menuruti kemauan mereka karna dirinya tak ingin mati konyol di tangan ketiga perempuan psychopat tersebut.


Kini Soojin terlihat seperti seorang gelandangan. Tanpa sepeserpun uang dan berjalan kaki dipinggar jalan seorang diri.


Bisa saja dia naik kendaraan umum untuk pulang, tapi masalahnya saat ini dirinya tidak memegang uang sepeser pun. Dan jika ditempuh dengan jalan kaki. Kemungkinan besar dia tiba dirumahnya baru besok pagi.


Langkah kaki Soojin tiba-tiba terhenti saat sebuah taxi berhenti tepat disampingnya. Soojin menoleh, iris matanya langsung bersiborok dengan iris hitam milik orang yang duduk dikursi penumpang. Mata Soojin sedikit membelalak sementara wanita itu menyeringai sinis.


"Sepertinya kau sedang memgalami hari yang sangat buruk, mantan menantuku. Naiklah, aku akan mengantarkanmu," pinta wanita itu yang pastinya adalah Dahlia.


Meskipun harus merendahkan harga dirinya. Tapi Soojin tidak memiliki pilihan lain selain menerima bantuan dari Dahlia. Melihat roda kehidupan telah berputar, Dahlia mengulum senyum kemenangan.


"Apa yang terjadi padamu? Di mana mobil mewahmu? Kenapa kau sampai berjalan kaki? Atau mungkin kaun sudah jatuh dan bangkrut?"


"Sembarangan!! Jika bukan karna mendapatkan kesialan, mana mungkin aku berjalan kaki!! Dan semua ini karna ulah tiga perampok gila yang dengan seenak jidat merampas mobil dan uang-uangku!!"


Dahlia tersenyum mengejek. "Sepertinya karma sedang datang padamu. Dan roda kehidupan kali ini memihak padaku. Bukan aku lagi... Tapi sekarang kau yang harus menurut pada semua perintahku. Karna mulai sekarang, akulah yang berkuasa!!"


"Apa maksudmu?"


"Aku bukan lagi bonekamu sekarang. Sekarang aku tidak peduli lagi kau mau membongkar rahasiaku ataupun tidak, itu bukan lagi sesuatu yang penting sekarang. Jadi jangan coba-coba mengancam dan mempermainkan diriku lagi. Putar balik taxinya, aku tidak jadi pergi ke bandara,"


"Baik, Nyonya,"


"Ugghhh...!!Apa yang kau lakukan, le-lepaskan aku. Kau membuatku tidak bisa bernafas!!"


Dahlia berusaha melepaskan cekikan Soojin pada lehernya. Wanita itu mencekiknya dan membuatnya tidak bisa bernafas. Alih-alih menuruti, Soojin malah memyeringai tajam padanya.

__ADS_1


"Kau harus mendapatkan hukuman, mantan ibu mertua. Kau fikir kau siapa bisa mengaturku dan memanfaatkanku dengan seenak jidatmu. Lagipula wanita rendahan sepertimu tidak layak melakukannya padaku. Untuk itu kau perlu dihukum!!"


Dahlia memukul dan mencakar lengan Soojin berharap yang dia lakukan bisa membuat wanita itu melepaskan cekikannya. Tapi sepertinya usahanya hanya sia-sia saja karna cekikan Soojin malah semakin kuat.


Posisi mereka berdua tidak lagi duduk. Soojin menempatkan Dahlia di bawah tubuhnya. Kedua tangan Soojin semakin kuat mencekik Dahlia hingga dia lemas dan tak berdaya.


"Hentikan taxinya," perintah Soojin pada supir taxi.


"Ba-baik, Nyonya,"


Soojin memberikan sejumlah uang pada sopir taxi tersebut dan memintanya untuk segera pergi dan melupakan apa yang dia lihat tadi. Beruntung Dahlia membawa banyak uang tunai di dalam tasnya yang bisa Soojin manfaatkan.


Soojin menarik tubuh Dahlia yang sudah setengah tak berdaya dan menyeretnya menuju tebing yang berjarak dua puluh meter dari tempatnya berada. Soojin menghempaskan tubuh Dahlia begitu saja hingga punggung dan kepalanya berbenturan dengan batu. Soojin kembali mencekiknya.


Kemudian Soojin melepaskan cekikannya kemudian dia menarik tusuk rambut yang menggulung rambutnya. Soojin menyeringai. Salah satu tangannya membuka lebar-lebar kelopak mata kanan Dahlia dan...


Jress...


"AAAHHH...!" Soojin menusuk mata itu dan membuat Dahlia menjerit kesakitan. Darah segar mengalir seketika dengan derasnya dan membuat sebagain wajah Soojin merah karna darahnya sendiri.


"Wa-wanita Iblis, ka-kau benar-benar biadap!!!"


"Hahaha.. Hahaha...!!" Bukannya menyesalinya. Soojin malah menikmatinya. Soojin mencabut tusuk rambut itu dari mata Dahlia. "Aaahhh...!!" dan membuatnya kembali berteriak.


"Aku menyulai teriakanmu yang merdu itu, mantan ibu mertua. Hahaha!!"


"AARRKKHH!!" teriakkan Dahlia semakin banyak terdengar saat Soojin menusuk tubuhnya dengan tusuk rambut itu hingga puluhan kali. Dan ketika Dahlia berada diantara hidup dan mati, Soojin menyiramkan bensin yang dia dapatkan dari taxi yang tadi dia tumpangi pada tubuh Dahlia lalu menyulutnya.


Dahlia yang memang masih hidup terus berteriak saat panasnya api membakar tubuhnya sampai akhirnya teriakkan itu tak lagi terdengar. Soojin tertawa puas. Dia puas karna telah membunuh mantan ibu mertuanya itu. Dan akhirnya dendam Soojin pada Dahlia terbayarkan sudah.


"Selamat jalan dan selamat besenang-senang di neraka, mantan ibu mertua." Ucap Soojin dan pergi begitu saja.


-


Satu bulan telah berlalu dan Zian mulai bisa melepaskan kesedihannya pasca kepergian kakaknya. Dia mulai menjalani hidupnya dengan normal.


Zian dan Luna baru saja tiba di Jerman semalam. Zian pergi ke sana bukan untuk bersenang-senang melainkan karna memang ada pekerjaan, dan karna tidak bisa meninggalkan Luna akhirnya dia memutuskan untuk membawa wanita itu bersamanya.


Pada akhir November ini, cuaca di belahan bumi utara menjadi semakin tidak terkontrol. Terkadang terlalu dingin, terkadang hanya dingin saja. Terkadang disertai dengan hujan salju, terkadang tidak.


Dan di saat musim dingin seperti ini, Luna sejujurnya lebih suka untuk pergi ke Paris, karna Paris jarang sekali mengalami hujan salju di musim dinginnya.


Luna sudah ingin menggerutu kesal, dirinya baru saja keluar dari hotel tempatnya menginap beberapa hari selama di Jerman. Dirinya sudah membayangkan Berlin akan tidak memiliki cuaca yang bersahabat hari ini, namun jauh dari perkiraannya, cuaca Berlin siang ini tidak begitu dingin, sedikit lebih hangat dari Korea yang memang terkenal memiliki cuaca yang tidak menentu. Terkadang hujan yang datang tidak sesuai dengan ramalan cuaca yang ada. Begitu mendapati cuaca Berlin yang tidak se-rewelΒ Korea, Luna tidak jadi menggerutu panjang lebar.


Cuaca di Berlin hari ini sangat bersahabat, berbanding terbalik dengan cuaca di Korea yang terkadang tidak bersahabat dengannya.


Hari ini rencananya Luna ingin pergi jalan-jalan, tapi karna Zian ada meeting penting jadi dia tidak bisa menemaninya. Meskipun sangat tidak enak jika hanya pergi sendirian, tapi Luna mencoba untuk mengerti dan memaklumi. Toh masih banyak kesempatan yang mereka miliki, karna rencananya Luna dan Zian akan di sana sampai satu minggu ke depan.


Langkah kaki Luna tiba-tiba terhenti oleh dering pada ponselnya. "Eo," wanita itu sedikit terkejut karna yang menghubunginya adalah Zian. Dia fikir saat ini suami tampannya itu masih meeting dengan para koleganya.


"Kau di mana?"


"Di halte dekat hotel."


"Tunggulah di sana dan jangan pergi kemanapun. Lima menit lagi aku akan tiba di sana,"


"Baiklah, aku akan menunggumu," dan kemudian Luna memutuskan sambungan telfonnya.


Sepertinya hari ini tidak akan membosankan untuknya, dan Luna sudah tidak sabar untuk mencetak banyak moment-moment indah di Berlin bersama dengan suaminya.


-

__ADS_1


Bersambung.


...Para membaca yang baik hati. Jangan pelit-pelit buat kasih like komentnya 😭😭 Tiap hari pembaca ribuan tapi like komentnya yang nyangkut di sini dikit buanget 😒😒😒...


__ADS_2