Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 134 "Wanita Murahan"


__ADS_3

Sinar matahari pagi menembus masuk melaui sela-sela jendela kamar bercat putih tersebut. Mengusik tidur cantik seorang wanita berparas ayu yang baru tidur beberapa jam yang lalu karena bayi kembarnya yang terus saja rewel.


"Hik… Oeee…" kesadarannya kembali sepenuhnya saat telinganya menangkap suara tangis bayi berumur satu bulan di boks bayi yang berada tak jauh dari tempat tidurnya.


"Ya Tuhan, sepertinya Laurent rewel lagi," wanita itu segera bangun dari tidurnya dan berjalan menuju boks bayinya.


"Aigoo… malaikat-malailat kecil Mama sudah bangun eoh." Viona menggendong Laurent sambil mengecek popok bayinya. Dan ternyata tidak basah. "Popokmu masih bersih dan kering. Apa anak Mama yang cantik ini haus ?" bayi itu hanya mengedipkan matanya lucu.


"Oeee... Oeee..." Lucas pun ikut menangis, beruntung Nathan langsung bagun sehingga Viona tidak sampai kerepotan karna bayi kembarnya rewel semua.


Viona mengecup pipi Laurent dan duduk di sofa yang berada di kamarnya untuk bersiap menyusui putrinya. Ia membuka dua kancing piyama teratas nya dan menyodorkan ujung putingnya ke mulut Laurent. Bukannya menerima dan menghisap asi dari ibunya, tetapi bayi mungil itu menolak. Setelah itu, suara tangis bayi kembali terdengar di kamar bercat putih tersebut.


"Cup… cup… cup… Mama disini Sayang, sudah ya berhenti menangisnya ya. Anak baik, cup... cup.. cup.."


Viona mencoba menenangkan Laurent kembali dengan menimangnya. Sedangkan Lucas kembali terlelap dalam dekapan Nathan. Setelah dirasa tenang, Viona mengembalikan Laurent ke boks nya.


1 menit


2 menit


3 menit


"Oeee... Oeee…"


"Cup… cup… Sayang.. Sayang, Mama disini nak." Ucap Viona menenangkan.


"Sayang, berikan Laurent padaku," pinta Nathan setelah membaringkan Lucas di box bayinya. Bayi itu pun berhenti menangis dan menjatuhkan kepalanya dengan nyaman di pundak sang ayah.


Nathan terus menimang sang buah hati hingga bayi mungil itu kembali terlelap. Dan setelah dirasa tenang, Nathan membaringkan kembali Laurent di box bayinya. Bayi itu tidak terbangun lagi. Viona menghela nafas lega. Beruntung ada Nathan yang bisa menenangkan mereka berdua.


"Oppa, kau mandi dulu saja. Aku akan menyiapkan sarapan, bukankah kau bilang ada pertemuan penting hari ini?"


"Hn, kau benar. Baiklah aku akan mandi dulu," Nathan mengusap helaian panjang Viona dan meninggalkannya begitu saja.


.


.


"Nunna//Hyung!! Kami datang,"


Teriakkan keras dari arah depan mengalihkan perhatian Viona yang sedang menyiapkan saparan di dapur. Wanita itu menoleh,tiga kemuda dan seorang kakek yang penampilannya begitu nyentrik terlihat memasuki rumah sambil membawa dua kantong besar berisi mainan.


"Astaga, untuk apa semua mainan-mainan itu?" tunjuk Viona pada dua kantong yang ada di tangan Rio dan Satya.


"Ah.. Ini," Rio mengangkat bingkisan itu dan tersenyum lebar. "Kami bertiga baru saja mendapatkan rejeki nomplok, jadi kami ingin berbagi pada si kembar," lanjutnya menambahkan.


"Cucu menantu, ngomong-ngomong di mana cicit-cicit Kakek?Apa mereka belum bangun?" tanya Kakek Xi mengintrupsi perbincangan Viona dan trio kadal.

__ADS_1


"Omo!!"


Nyaris saja Viona terkena serangan jantung dadakan setelah melihat penampilan Kakek Xi yang semakin hari semakin menjadi. Pakaian nyentrik dengan warna mencolok mata membalut tubuhnya.


"Kakek!! Kenapa semakin hari kau semakin aneh saja? Dan penampilan macam apa ini coba? Dan kalian bertiga, kenapa kalian harus meracuni otak Kakek dan membuatnya sama anehnya dengan kalian, eo? Oh astaga, semoga Tuhan selalu mengampuni kenakalan kalian bertiga," Viona memijit pelipisnya yang terasa pening.


Mengabaikan tamu-tamunya yang super duper aneh. Viona memilih pergi dan melanjutkan memasaknya di dapur. Dia bisa gila jika terlalu lama berada diantara mereka berempat.


Dan sementara itu. Nathan yang baru saja selesai bersiap-siap, terlihat menuruni tangga dan berjalan menuju ruang keluarga. "Pagi Paman," sapa Rio saat menyadari kedatangan Nathan.


"Kalian semua di sini? Dan kau pak tua!! Kenapa semakin hari kau semakin aneh saja?" cibir Nathan melihat penampilan Kakeknya yang semakin hari semakin mengerikan.


"Dasar cucu durhaka!! Kakek setampan ini malah dibilang aneh," Kakek Xi mencerutkan bibirnya, kesal karna cibiran Nathan.


"Aneh bagaimana, Hyung? Jelas-jelas Kakek sangat keren dan super tampan. Kami saja kalah tampan dan kalah silau dari Kakek," ujar Frans membela Kakek Xi.


Dan karna pembelaannya tersebut. Frans mendapatkan banyak uang dari si Kakek, bukan hanya Frans saja yang kejatuhan durian montong, tapi juga Rio dan Satya.


Tak ingin ambil pusing. Nathan meninggalkan mereka dan menghampiri Viona yang sedang membuat sarapan di dapur. "Aromanya sangat lezat, apa yang sedang kau masak?" tanya Nathan seraya memeluk Viona dari belakang.


"Oppa, kau ingin mencicipinya?" tawar Viona seraya menyodorkan masakannya pada Nathan.


"Seperti biasa.. masakanmu memang yang terbaik, Sayang," ucap Nathan menudian mengecup singkat bibir Viona.


"Aku sudah membuatkan kopi untukmu, dan makanannya juga hampir siap, setelah ini kita sarapan sama-sama." Nathan mengangguk.


.


.


Nathan pergi ke kantor setelah menemani Viona sarapan. Pria dingin ini memang terlihat sangat santai untuk urusan pekerjaan. Tidak setiap hari Nathan datang ke kantornya, dan hanya sesekali saja.


Ketukan pada pintu mengalihkan perhatian Nathan dari dokumennya. Pria itu mengangkat wajahnya dan mempersilahkan orang itu untuk masuk. Terlihat sekretaris Nathan datang bersama seorang wanita.


"Presdir, ada tamu untuk Anda," lapor sang sekretaris.


"Hn, kau boleh pergi,"


Wanita itu mengangguk, kemudian meninggalkan ruangan Nathan. "Tuan Kevin, sepertinya kita memang ditakdirkan untuk berjodoh," ucap seorang wanita berkebangsaan Jepang seraya menghampiri Nathan.


"Ada keperluan apa kau datang kemari? Jika tidak ada hal penting untuk dibicarakan, silahkan pergi," Nathan mempersilahkan wanita itu untuk meninggalkan ruangannya.


"Kau terlalu kejam, Tuan!! Beginikah caramu menyambut tamu? Tapi bagiku tidak masalah, dan tentu saja aku disini karna ada hal penting yang perlu aku bahas denganmu dan ini mengenai rencana kerjasama perusahaan kita.


Apakah kau tidak bisa memikirkannya sekali lagi? Pasti perusahaan kita akan saling menguntungkan jika bisa bekerja sama," ujar wanita itu yang tak lain dan tak bukan Yurinaka.


Nathan mendesah berat. "Aku rasa kau tidak tuli dan juga tidak amnesia!! Jadi kau mengerti betul apa yang aku katakan hari ini! Jadi pergilah sekarang juga, aku sangat sibuk!!"

__ADS_1


Alih-alih pergi, Yurinaka malah menghampiri Nathan. Wanita itu duduk dipangkuan Nathan seraya mengalungkan kedua tangannya pada leher kekar tersebut. "Bagaimana kalau aku menemanimu bermain? Aku sangat ahli diatas ranjang, kau tidak mungkin menolakku bukan?"


Brugg..


Dengan kasar Nathan mendorong Yurinaka sehingga wanita itu jatuh tersungkur di lantai. "Kau terlalu murahan menjadi seorang wanita, Nona!! Pergilah dari sini sebelum aku benar-benar hilang kesabaran. Dan tidak ada kerja sama diantara perusahaan ini, aku tidak sudi bekerjasama dengan pengusaha kotor seperti ayahmu! Pergilah dari sini sekarang juga!!"


"Sialan kau Kevin Xiao!!" Yuri menyambar tasnya dan pergi begitu saja.


Nathan mendesah berat, ada saja kejadian yang tidak pantas. Tak ingin menikirkannya lagi, Nathan pun segera melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


-


Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang, itu artinya sudah saatnya untuk makan siang. Wajah orang-orang di ruang rapat masih tetap tegang. Mereka tegang bukan karena kelaparan, ketegangan ini berasal dari keluarnya Smit Corp dari proyek besar yang akan dilakukan.


"Ini tidak bisa dibiarkan, Nyonya Lim, Smit Corp adalah partner kita yang memberikan investasi terbesar. Jika mereka memilih menarik investasi maka kita terancam bangkrut!" seru salah satu dewan direksi.


Sandora Lim merasakan kepalanya semakin pening. Ia tidak menduga bahwa partner mereka yang paling menjanjikan malah menarik investasinya dan menutuskan untuk bergabung dengan perusahaan lain.


"Tenang saudara-saudara, masalah ini masih bisa diatasi," kata Dora berusaha menenangkan suasana dengan ketegangan tingkat tinggi ini.


"Diatasi bagaimana? Nyonya, ini adalah masalah yang sangat gawat, proyek kita terancam tidak bisa berjalan dan jika itu sampai terjadi maka perusahaan kira


akan terancam bangkrut!" seru salah satu dewan direksi yang berada di dalam ruangan itu.


"Saya akan bertemu dengan perwakilan dengan Smit Corp untuk membicarakan hal ini kembali. Mereka pasti mau mendengarkan penjelasan kita," jawab Dora.


Pria it menghela napas, "Kau tidak mengerti, Nyonya!! Asal kau tau saja, Smit Group memiliki bergabung dengan Xiao Kingdom!" suara pria tua itu terdengar meninggi.


Emosi, keluhan, dan amarah terdengar semakin jelas di ruang rapat itu. Kepala Sandora semakin pening. Habislah sudah, jika Xiao Kingdom sudah ikut maka sudah tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan.


'Bocah brengsek itu rupanya sudah benar-benar keterlaluan. Tidak ada jalan lain, aku harus menemui bocah sialan itu'


"Tenang semuanya," Dora kembali angkat bicara. "Aku sendiri yang akan membicarakan ini dengan Komisaris dari Smit Corp dan Kevin Xiao. Baiklah, rapat dibubarkan."


Suasana rapat menjadi hening seketika. Sandora di ikuti asisten pribadinya keluar meninggalkan ruangan rapat. Sesampainya di ruangan Presiden Direktur, asisten itu didamprat habis-habisan oleh atasannya.


"Kenapa ini bisa terjadi, Dion!! Kau bilang pihak Smit Corp sudah setuju? Mana buktinya?" dengan berapi-api Dora melempar sebuah map pada asistennya. Dion tidak menghindar dan membiarkan saja map yang dilempar dengan penuh emosi itu mengenai wajahnya.


"Sungguh Nyonya, saya benar-benar tidak bohong. Ketika saya menemui mereka, mereka mengatakan kepada saya sudah pasti akan bekerja sama dengan kita," jawab Dion memberikan pembelaan.


"Kalau begitu sekarang ini apa? Investasi akan segera ditarik. Kerugian kita bisa mencapai milyaran won! Kau mau bertanggung jawab? Haaah!" tampaknya wanita tua ini semakin mendidih emosinya.


"Dasar bocah brengsek. Lihat saja, akan kubalas kau dengan lebih kejam!" dendam terlihat jelas di mata Sandora.


Terus terang saja Sandorora merasa bingung, siapa sebenarnya Kevin Xiao ini? Dan kenapa dia begitu menginginkan kehancurannya, dan Sandora tidak akan tinggak diam. Dia pasti akan menemukan Kevin dan menbalasnya dengan sangat kejam.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2