
Viona menghentikan gerakan tangannya saat iris hazel berlapis lensa biru miliknya tak sengaja bertemu pandang dengan Nathan.
Tubuh Viona seakan terpaku di tempatnya melihat sosok pria yang berdiri beberapa meter di depan sana. Mata birunya terkunci pada mata tajam milik pria itu. Antara bahagia dan sedih, dua perasaan itu kini membelenggu hatinya. Bahagia karna bisa bertemu kembali dengannya setelah sekian waktu berpisah, dan sedih karna saat ini Ia tidak bisa menyentuhnya.
Ingin rasanya Viona berhambur kedalam pelukan pria itu dan mengatakan betapa Ia sangat merindukannya, namun untuk saat ini Ia tidak bisa melakukannya. Walaupun perih dan sakit, sebisa mungkin Viona mencoba untuk menahannya. Ia tidak ingin menjadi lemah setelah bertemu dengan Nathan yang kemudian akan menghambat tujuan utamanya untuk membalas dendam.
Viona kembali demi bisa membalaskan dendamnya pada dua orang yang telah berusaha untuk menghabisinya. Dengan bantuan Tania, Viona akan membalas mereka berdua.
Viona mengepalkan kedua tangannya dan menahan segala gejolak yang ada di dalam hatinya, hampir saja Ia menjadi lemah karna pertemuannya dengan Nathan yang sangat tak terduga. Hatinya bergemuruh dan batinya bergejolak hebat.
Rindu tersirat jelas dari sorot matanya. Sedangkan Nathan hanya memberikan tatap datarnya yang mengintinidasi, dan nyaris saja Viona tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri setelah melihat tatapan Nathan yang seketika membuatnya lemah.
Segera Viona mencoba mengendalikan dirinya.
Kembali bibirnya menyungging senyum lebar dan sebuah gerliangan nakal Viona berikan pada Nathan, yang kemudian hanya disikapi datar olehnya.
Nathan berbalik dan melenggang pergi. Melihat hal itu tak lantas membuat Viona tinggal diam. Setelah meminta orang lain menggantikan posisinya. Wanita itu bergegas keluar untuk menyusul Nathan. Viona melihat Nathan berjalan menuju parkiran dan masuk ke dalam mobilnya.
Tokk.. Tokk.. Tokk...
Ketukan pada kaca disamping kanannya memaksa Nathan mengurungkan niatnya untuk menyalakan mesin mobilnya. Mata kanannya memicing, melihat sosok wanita yang sempat menarik semua atensinya ketika di club berdiri di depan pintu mobilnya.
Nathan menurunkan kaca disamping kanannya dan menatap dingin sosok itu. "Kau... Bukankah kau DJ itu? Ada apa kau mengikutiku sampai kemari?" tanyanya dingin.
"Tidakkah kalimat itu terlalu kasar, Tuan. Mobilku tiba-tiba mogok dan sulit dihidupkan, bisakah kau memberiku tumpangan? Dan kau tenang saja, aku tidak akan menumpang dengan cuma-cuma, aku bisa membayarmu, bagaimana?"
"Mobilku bukanlah panti sosial, Nona. Jadi pergilah dan cari tumpangan lain saja," sinis Nathan ketus.
"Jika aku menolak bagaimana? Ayolah Tuan, aku yakin kau tidaklah sekejam itu dan membiarkan seorang wanita berjalan seorang diri ditengah malam begini." Mohon Viona merenggek.
"Kau fikir aku peduli? Lagi pula itu bukan urusanku. Jadi menyingkirlah, kau menghalangi jalanku!!"
Alih-alih menuruti. Viona malah berdiri di depan mobil Nathan sambil merentangkan kedua tangannya. "Apa yang kau lakukan? Menyingkirlah atau aku akan menabrakmu!!"
"Silahkan saja, aku tidak takut. Lagi pula mana berani kau melakukannya, Tuan!!" Viona menantang.
"Kau menantangku?" sinis Nathan menyeringai.
"Hm," Viona mengangguk.
"Kalau begitu jangan salahkan aku, karna kau sendiri yang memaksaku!!"
Buru-buru Viona menutup rapat-rapat kedua matanya saat melihat Nathan menghidupkan mesin mobilnya. Sepertinya dia baru saja membuat sebuah kesalahan besar dengan menantang Nathan.
Viona mengenal suaminya itu dengan sangat baik. Nathan bukanlah tipe pria yang suka main-main dengan ucapannya. Dan yang bisa Viona lakukan sekarang hanyalah berdoa supaya Nathan tidak benar-benar melakukannya.
Seperkian detik telah berlalu, namun Viona tak juga merasakan apapun pada tubuhnya. Jangankan rasa sakit, bahkan tak ada benda sekecil apapun yang menyentuh tubuhnya.
Penasaran dengan apa yang terjadi, Viona membuka kembali matanya. Mobil itu bahkan tak bergerak satu inci pun dari tempatnya berhenti. Dan seseorang yang sedari tadi duduk di balik kemudi hanya diam sambil menatapnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Viona terdiam selama beberapa saat, dia tau jika Nathan tidak mungkin melakukannya. Viona menghampiri Nathan dan berdiri disamping pintu mobilnya yang tertutup. "Kau boleh pergi, Tuan. Aku akan pulang dengan menggunakan taxi saja. Maaf, sudah mengganggu waktumu," ucapnya
"Naiklah," seru Nathan dan langsung menghentikan langkah Viona. "Naik sekarang sebelum aku berubah pikiran,"
Viona tersenyum lebar. "Dengan senang hati. Aku tau, tidak mungkin kau sejahat itu,"
"Kau terlalu berisik!!"
__ADS_1
.
.
.
Mobil sport mewah yang Nathan kemudikan melaju kencang pada jalanan malam yang legang. Saat ini memang sudah larut malam. Sehingga jarang sekali ada kendaraan main yang lewat. Nathan menambah kecepatan pada laju mobilnya hingga 85 km/jam.
Nathan melirik sekilas pada penumpang disamping kanannya. Wanita itu terlihat tenang-tenang saja. Raut wajahnya tak menunjukkan kecemasan sedikit pun, dan hal itu membuat Nathan semakin yakin jika yang ada disampingnya ini bukanlah Viona melainkan orang yang hanya mirip dengannya. Karna jika itu adalah Viona, pasti dia sudah berteriak dan mengomeli Nathan habis-habisan karna dia tau jika Istrinya paling takut jika diajak mengebut.
Sekali lagi Nathan melirik pada wanita yang duduk disampingnya. Memperhatikan penampilannya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Rambut panjang yang berwarna coklat keperakkan, sepasang bola mata berwarna biru yang menawan. Bibir merah dan sebuah mini dress berwarna hitam bermodel kemben membalut tubuhnya. Bahkan penampilan mereka berbeda sampai 180 derajat. Dan hal itu semakin memperkuat keyakinan Nathan jika yang disampingnya memang bukan Viona.
"Tuan, aku tau aku ini memang cantik. Jadi berhentilah menatapku sampai seperti itu. Atau jangan-jangan kau sudah jatuh cinta padaku?"
"Dalam mimpimu," Viona terkekeh. Dia tidak merasa tersinggung ataupun marah setelah mendengar ucapan Nathan yang tajam. "Sebaiknya kau diam dan jangan banyak bicara jika kau tidak ingin aku turunkan ditengah jalan," ancam Nathan bersungguh-sungguh.
"Jahat. Tapi baiklah, aku akan diam,"
Keheningan seketika mewarnai kebersamaan mereka berdua. Baik Nathan maupun Viona sama-sama tak ada yang bersuara.
Nathan fokus pada jalanan didepannya sedangkan Viona terlihat menatap keluar jendela. Kepalanya bersandar pada jok dibelakangnya, semakin lama Viona merasakan jika matanya semakin memberat. Dan dalam hitungan detik saja wanita itu sudah terlelap.
Nathan menggulirkan tatapannya pada wanita disampingnya. Menatapnya dengan tatapan tak terbaca, rasa sesak seketika memenuhi ruang kosong dalam relung hati Nathan. Wajah itu seketika mengingatkan Nathan pada Viona, Nathan terdiam. Dan dalam hatinya dia terus bertanya-tanya, bagaimana mungkin dua orang yang tidak memiliki hubungan darah memiliki rupa yang bak pinang di belah dua?
Nathan menepikan mobilnya. Pria itu melepaskan jasnya dan menakupkan pada tubuh aras Viona. Untuk sesaat Nathan terpaku, diamatinya wajah cantik nan jelita itu dengan seksama. Bulu mata yang lentik, hidung yang mancung, pipi tirus dan bibir tipis yang merona. Lagi-lagi hal itu mengingatkan Nathan pada Viona-nya.
Degg..
Hati Viona tersentak hebat saat dia merasakan sebuah benda lunak nan basah menyapu permukaan bibirnya. Kedua tangannya terkepal kuat, batinnya bergejolak hebat, matanya tertutup rapat. Nyaris saja dia menjerit saking kagetnya. Nathan menciumnya, tepat dibibirnya...
-
Dan semenjak kejadian itu, hampir setiap hari Joedy selalu di hantui oleh rasa bersalah dan ketakutan yang luar biasa. Hampir setiap malam Viona selalu datang ke dalam mimpinya, dan hampir setiap malam dia selalu bermimpi hal yang sama.
Dalam mimpinya itu, Jordy melihat Viona mengulurkan tangannya yang penuh darah kepadanya dan sorot matanya yang mengatakan agar Ia menyelamatkannya. Dan mimpi itu sama persis dengan kejadian sesaat sebelum Shion meminta pada orang-orang sewaannya supaya melemparkan tubuh Viona ke dalam Sungai Han, padahal saat itu dia masih bernafas.
"OMO!!" Jordy menoleh tepat saat merasakan ada sekelebat bayangan hitam melintas di belakangnya. Namun saat menoleh kebelakang. Jordy tidak menemukan apapun, tak ada siapapun di sana, selain dirinya.
Saat ini Jordy sedang berada di taman yang terletak tak jauh dari Sungai Han, hampir setiap hari Joedy menghabiskan waktunya di sana. Semenjak kejadian hari itu, Joedy menjadi lebih sering menyendiri dan menjauh dari teman-temannya termasuk kedua sahabatnya Sunny dan Kirana. Sama halnya Viona, mereka bertiga juga bersahabat baik.
"Jordy," Jordy menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri saat ia mendengar suara lemah seorang wanita masuk ke dalam pendengarannya.
Namun hampa...
Ia tidak melihat ada siapa-siapa di sana, selain dirinya. Seketika bulu kuduk Jordy berdiri. Tak ingin ada kejadian tak wajar lagi, ia pun segera beranjak dari duduknya dan bergegas meninggalkan taman.
Jordy semakin mempercepat langkahnya saat merasakan ada seseorang yang mengikuti dirinya. Sesekali ia menenggok ke belakang dan tidak mendapati siapa pun di sana.
Glekkk...
Susah payah Jordy menelan salivanya ketika dirinya melewati tempat di mana Shion melemparkan tubuhnya. "Ahhhh," Joedy berteriak keras saat iris hitamnya tanpa sengaja melihat sosok wanita berada di sana dalam keadaan berlumur darah, namun saat Jordy mengedipkan matanya. Sosok itu tidak ada lagi di sana.
"Jordy,"
"Aaahhh," Jordy berteriak histeris saat merasakan tepukan pada bahunya dan suara seseorang memanggil namanya.
__ADS_1
Sontak Ia memejamkan matanya dan menggeleng. "Aku mohon padamu, jangan menggangguku lagi. Aku mohon, biarkan aku hidup.dengan tenang. Pergi kau pergi..." ucap Jordy ,emohon.
Dan orang yang tadi menepuk bahu Jordy tampak kebingungan. Sunny dan Kirana saling bertukar pandang. "JORD.. JORDY..." seru orang itu seraya mengguncang tubuh Jordy.
"Sunny?"kaget Jordy setelah melihat yang ada didepannya bukanlah hantu melainkan Sunny dan Kirana.
Tubuh Sunny terhuyung kebelakang karna pelukan Jordy yang sangat tiba-tiba. Sunny menautkan kedua alisnya melihat keadaan Jordy yang sangat buruk. Peluh hampir saja memenuhi di sekujur tubuhnya, di tambah dengan tubuhnya yang gemetar hebat. Layaknya orang yang baru saja bermimpi buruk.
"Sunny-ya aku takut. Sunny-ya, aku benar-benar takut." Ucap Jordy seraya mengerutkan pelukannya.
"Apa kau baru saja bermimpi buruk?" Tanya Sunny dan di balas anggukan oleh Jordy.
Jordy terpaksa mengatakan pada Sunny jika Ia baru saja mengalami mimpi buruk, karna tidak mungkin Ia mengatakan pada Sunny dan Kirana tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Viona dan bagaimana dia bisa meninggal.
Sunny melonggarkan pelukannya dan menatap Jordy dengan penuh tanda tanya.
"Mimpi seperti apa sampai-sampai membuatmu ketakutan seperti ini?" tanyanya penasaran.
"Mimpi yang benar-benar mengerikan, dan aku tidak bisa menjelaskannya apalagi menggambarkan mimpiku itu dengan kata-kata." Tuturnya.
"Tidak apa-apa, mimpi hanyalah bunga tidur. Kau sedang dalam keadaan yang tidak baik. Sebaiknya kita antar berdua kau pulang. Aku takut hal buruk menimpamu karna tidak bisa fokus saat berkendara,"
Jordy mengangguk. "Baiklah."
-
Nathan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa diruang kerjanya, di iringi helaan nafas panjang meluncur dari bibirnya. Pertenuan siangkatnya dengan Viona semalam telah mengganggu fikirannya. Dalam hatinya terus bertanya-tanya siapa wanita itu sebenarnya. Nathan memang sudah mendengarnya dari Carl jika wanita itu bernama Ellena Kim, tapi entah kenapa hati kecilnya merasa ragu
Meskipun malam itu Ia telah dan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri. Bahkan dengan tangannya dia mengangkat tubuh tak bernyawa Viona sampai proses pemakamannya. Namun nurani Nathan mengatakan jika mayat itu bukanlah mayat Istrinya.
Meskipun wajahnya sama persis dengan Viona dan juga pakaian yang di kenakannya pun sama dengan pakaian yang Viona kenakan hari itu. Tapi Nathan merasa ada keganjilan dalam peristiwa itu.
Seingat Nathan. Viona tidak memiliki tahi lalat pada lehernya, sedangkan mayat itu punya. Rambut Viona yang berwarna coklat gelap nyaris menyentuh pinggilnya, sementara rambut milik mayat itu hanya sepanjang punggung saja. Dan keyakinan Nathan semakin diperkuat jika mayat itu bukan Viona setelah kemunculan wanita bernama Ellena Kim yang sangat tiba-tiba dengan penampilan, sifat dan nama barunya.
"Kenapa kau harus melakukan ini padaku, Vi? Kenapa?" Lirih Nathan berbisik.
Nathan menutup mata kanannya. "Apa kau masih menganggap jika wanita yang kau lihat di club semalam adalah Viona?"
Dengan malas Nathan menolehkan kepala setelah mendengar suara berat seseorang masuk kedalam pendengarannya. Seorang pria bertubuh tinggi berwajah kebarat-baratan berdiri tepat di hadapannya dengan tatapan yang sulit Nathan artikan
Nathan mengangkat bahunya." Entahlah Ge, aku sendiri tidak terlalu yakin bila dia adalah Viona. Dan entah kenapa hati nuraniku mengatakan jika dia adalah Viona-ku. Banyak sekali misteri dalam kepergiannya yang tidak bisa aku ungkap hingga detik ini. Semua yang berhubungan dengan kematiannya tertutupi dengan baik, dan tanpa terduga tiba-tiba saja muncul Ellena yang wajahnya sangat mirip dengan Viona.
Memang tidak mustahil jika dua orang yang tidak memiliki ikatan darah bisa memiliki wajah yang sama, namun itu sangat langkah juga sangat masuk akal." Tutur Nathan panjang lebar.
Henry mengehala nafas panjang, sebenarnya dia juga merasakan apa yang Nathan rasakan. Karna Ia juga merasakan ads keganjilan dalam kepergian Viona yang menurutnya sangat tidak wajar itu.
"Lalu apa yang saat ini akan kau lakukan? Bahkan hingga detik ini kau belum menemukan sedikit pun titik terang tentang kepergian Viona."
"Aku akan mencari tau tentang siapa Ellena Kim itu sebenarnya." Balas Nathan dengan tatapan lurus ke depan.
"Sebaiknya hal ini jangan ada yang tau selain kita berdua, aku khawatir. Jika ada yang mengetahuinya hal ini akan mengacaukan semua rencana kita, terutama tiga bocah itu. Dia paling tidak bisa diam." Ujar Henry dan di balas anggukan oleh Nathan.
"Itu juga yang aku pikirkan,"
"Sudah hampir jam makan siang. Sebaiknya kita makan siang sama-sama, aku akan mentrak-"
"Kau duluan saja," kata Nathan menyela ucapan Henry. Pria itu mendesah berat. Dengan terpaksa Henry mengiyakannya dan kemudian meninggalkan Nathan begitu saja.
__ADS_1
-
Bersambung.