
"Kkyyyaa!! Setan!!" Cherly memekik sekencang-kencangnya setelah melihat penampilannya sendiri di cermin. Rio, Satya dan Frans mendandaninya sedemikian rupa hingga sosoknya menyerupai hantu.
Rambut panjang yang menjuntai ke depan, riasan putih dengan bercak darah dan bekas luka mengangga pada wajahnya. Pakaian putih yang dia pakai pun tampak berlumur darah. "Nunna, kau bercanda ya? Jelas-jelas itu dirimu," kata Satya gemas dan membuat mata Cherly membulat saking tak percayanya.
"Benarkah? Itu diriku?" ulangnya masih tak percaya. Dan ketiganya mengangguk dengan kompak. "Oh, astaga... Betapa sempurnanya penampilanku ini! Pantas saja aku tidak mengenali diriku sendiri," ujarnya.
Malam ini mereka berempat berencana untuk menebarkan terror pada Shion dan Jordy. Cherly menyamar menjadi hantu Viona untuk menakut-nakuti mereka berdua. Dan demi kelancaran rencananya, mereka akan melakukannya secara total.
"Nunna, kau pergi ke lokasi bersama Frans. Aku dan Rio akan menyebar rumor supaya semua orang percaya jika ada arwah seorang wanita yang gentayangan dan menuntut balas atas kematiannya yang tidak wajar,"
"Tapi caranya?"
"Bibi, soal itu kau tidak usah cemas. Kau tau bukan jika otakku ini memiliki kapasitas yang sangat besar jadi bisa menampung banyak ide-ide hebat yang luar biasa yang tidak terfikirkan oleh siapa pun jiga. Sudah.. sudah.. Nanti saja kita membahas masalah kejeniusanku ini lagi. Sebaiknya kalian pergi sekarang. Paman Satya, kaja," Satya mengangguk. Dan keduanya bergegas pergi meninggalkan Frans dan Cherly yang kemudian mengikuti jejak mereka berdua.
-
Viona melangkahkan kedua kakinya secara bergantian dalam temaram malam. Menapaki jalanan kecil untuk mencapai suatu tempat. Ketika langkah mengantarkannya pada sebuah taman pemakaman, ia mendudukkan diri diantara dua gundukan tanah sembari menormalkan kembali sistem pernapasannya.
Tidak, wanita itu tidak lelah. Bagaimana mungkin seorang wanita tangguh sepertinya kelelahan hanya dengan hal sekecil ini, letih berjalan terlalu lama.
Viona bukan lelah karena kehabisan tenaga, melainkan karna kebimbangan hati dan rasa sesak yang menghimpit dadanya.
Sepasang mata hazelnya memandang kosong pada dua gundukan tanah didepannya. Ia datang kemari, ke taman pemakaman ini karena ingin memperingati hari kepergian serta ulangtahun pernikahan kedua orang tuanya. Diam-diam Viona merindukan mereka berdua.
"Ibu, ayah, apa kabar?" tanyanya lirih, dialihkannya pandangan pada langit malam yang bertaburkan bintang. Malam ini langit terlihat cerah dan bulan berpindar dengan gagahnya. Memberikan kehangatan dan ketenangan pada mahluk hidup di sebagian bumi yang dinaungi.
Sehela napas dihembuskannya. Seutas senyum terkembang. Angin berdesir pelan, menarikan rambut panjangnya yang tergerai. "Aku harap kalian berdua baik-baik saja disana." Ucapnya.
Sebelah tangan kanannya terangkat, menyelipkan helaian anak rambut di belakang telinga. Bola mata yang menyiratkan sendu itu terfokus pada sebuah bintang, salah satu bintang yang sangat terang malam ini.
"Kabarku tidak begitu baik. Aku selalu merasa buruk akhir-akhir ini." Viona menundukkan wajahnya. Air matanya terus berjatuhan tanpa mampu dia cegah.
"Ah,Β Mianhae Ibu, Ayah. Di hari seperti ini aku malah menangis. Tidak, malam ini aku menyempatkan diri untuk datang, karena ini hari ulang tahun pernikahan kalian, dan aku ingin merayakannya."
Wanita itu tertawa kecil. Tawa canggung yang terdengar sumbang. "Maaf, aku juga lupa membawa hadiah untuk kalian berdua."
Pohon sakura malam itu bersemi dengan indah, berdiri kokoh menjadi tempatnya bersandar. Harumnya menyerbakkan musim semi tengah meraja. Mengharumkan kedamaian. Menyerpihkan secercah ketenangan.
Ia terdiam agak lama. Kini memandang pada taman makam yang terlihat begitu menyeramkan di malam hari. Tapi anehnya Viona tidak merasa takut sedikit pun. Dia terlihat biasa-biasa saja.
Viona beranjak dari posisinya. Wanita itu berdiri dan menatap dua gundukan tanah didepannya. "Sepertinya aku sudah terlalu lama. Ibu, Ayah, aku pergi dulu. Aku pasti akan mengunjungi kalian lagi. Sampai jumpa Ayah, Ibu, aku pergi dulu." Viona menyeka air matanya dan berjalan meninggalkan area pemakaman.
Suasana sepi menyelimuti kota Seoul, jelas saja karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Meskipun sudah memasuki musim semi tapi tetap saja angin malam dengan senang hati membelai dingin tubuh Viona. Wanita itu tetap berjalan di tengah heningnya malam. Tak ada ketakutan sedikit pun tersirat dari raut wajahnya meskipun suasana begitu sunyi dan sepi.
Tapp...
Viona menghentikan langkahnya saat segerombolan preman jalanan menghadang langkahnya. Satu diantara ketujuh pria itu menghampiri Viona sambil menyeringai.
"Tidak disangka ada seorang Bidadari ditengah malam seperti ini, sendirian lagi. Bagaimana jika kita-kita saja yang menemani, sangat berbahaya loh jalan sendirian saja,"
"Minggirlah dan jangan menghalangi jalanku," pinta Viona dengan nada rendah namun terdengar begitu berbahaya.
__ADS_1
"Kalau kami tidak mau kau mau apa?" tanya pria itu meremehkan.
"Berarti aku tidak memiliki pilihan selain menghabisi kalian," tegas Viona kemudian membanting tubuh pria itu ke tanah. Dan apa yang Viona lakukan langsung memancing emosi rekannya yang lain.
Perkelahian pun tak dapat terhindarkan lagi. Viona yang hanya seorang diri dikeroyok enam orang sekaligus.
Dengan gerakan yang cepat, Viona membungkukkan tubuhnya guna menghindari satu serangan yang mengarah ke ulu hatinya. Tidak sampai di situ saja, muncul lagi serangan lainnya juga ingin menghajar wanita itu. Namun wanita itu dengan lincah berkelit kesana kemari menghindari serangan yang serentak itu. Meskipun terlihat lemah di luar, tapi siapa yang menyangka jika Viona adalah sosok wanita tangguh yang tak mudah ditindas.
Dress dan hils tak menjadi rintangan bagi Viona untuk menumbangkan para lawannya. Bahkan hils yang dia pakai sangat berfungsi baik untuk membuat satu persatu dari ketujuh pria itu tumbang karna tendangannya. Dan sepertinya mereka tidak sadar jika sudah membuat masalah dengan wanita yang salah.
Viona mengatur nafasnya sejenak, dan tanpa dia sadari ada serangan tiba-tiba dari arah belakang. "Mati kau wanita sialan!!" sampai suara keras itu menyadarkannya. Viona sontak menoleh dan...
Brugg..
Tubuh pria itu tumbang setelah sebuah balok manghantam kepalanya. Darah seketika mengalir dari kepalanya yang pecah. Melihat tak ada harapan untuk menang. Keenam rekannya memutuskan untuk melarikan diri.
"Nak, kau tidak apa-apa?" tanya seorang pria yang baru saja menyelamatkan nyawa Viona.
Sontak wanita itu menoleh dan matanya membelalak, begitu pula dengan pria tersebut. "VIONA//PAMAN HANS!!"
.
.
"Jadi begitu ceritanya Paman, maaf karna aku tidak menemuimu dan memberitaumu jika sebenarnya aku masih hidup," ujar Viona penuh sesal.
Hans mendesah berat. "Lalu apakah suamimu tau jika sebenarnya kau masih hidup?" Viona mengangguk. "Setidaknya dia sudah tau. Tapi syukurlah karna ternyata kau masih hidup dan baik-baik saja. Paman berfikir jika kau benar-benar telah tiada. Tapi sekarang Paman merasa lega mengetahui jika ternyata kau masih hidup," Hans sampai tak kuasa menahan air matanya. Antara terharu dan bahagia.
"Paman mengerti, tidak perlu dibahas lagi. Tapi Vi, sebenarnya dari mana kau malam-malam begini? Dan bagaimana kau bisa berurusan dengan para preman itu?" tanya Hans penasaran.
Viona mendesah berat. "Aku dari makam Ibu dan Ayah, Paman. Tiba-tiba aku merindukan mereka makanya aku pergi ke sana. Hari ini adalah hari peringatan kepergian mereka sekaligus ulang tahun pernikahan mereka, aku sengaja datang saat malam hari supaya tidak ada yang mengenaliku," tutur Viona panjang lebar.
"Lalu apakah Nathan tau?" Viona menggeleng. "Dasar bodoh, bagaimana jika suamimu mencarimu dan pasti dia sangat cemas. Sebaiknya segera hubungi dia dan katakan jika kau sedang bersama Paman," titah Hans. Viona mengangguk dan segera menghubungi Nathan. Lagi pula Viona juga tidak mau terkena omelan suami tampannya. "Bagaimana? Apa katanya?" tanya Hans penasaran.
"Dia akan kemari. Saat ini Nathan Oppa masih dikantor," jawabnya.
"Sekarang Paman tau kenapa Nathan jarang pulang selama beberapa hari ini. Jadi ini alasannya. Dia tau jika kau masih hidup kemudian dia tinggal diapartemenmu?" Viona mengangguk.
Dan Viona tidak mungkin menyembunyikan tentang kebenaran itu dari Hans yang merupakan satu-satunya anggota keluarga William yang tersisa. Hans sudah seperti Ayah bagi Viona karna semenjak kepergian Ayahkah, Hans-lah yang merawatnya sebelum akhirnya mereka berpisah karna Hans harus pergi dan menetap di luar negeri selama beberapa tahun.
"Viona," seru Nathan dan sontak Viona menoleh. Senyum dibibirnya merekah melihat kedatangan suaminya.
"Oppa," Viona bangkit dari posisinya dan berlari menghampiri Nathan. Tubuh laki-laki itu terhuyung kebelakang karna terjangan Viona yang tiba-tiba. "Aku merindukanmu," ucap Viona sambil menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Nathan yang tersembunyi dibalik kemeja putihnya. Itu adalah cara paling ampuh untuk mengantisipasi kemarahan Nathan.
Nathan melepaskan pelukkannya. "Dari mana saja kau? Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi dan apa yang kau lakukan malam-malam begini disini?" tanya Nathan dengan nada tajam dan penuh intimidasi.
Tiba-tiba Viona menekuk wajahnya. Bibirnya bergerak naik-turun seperti mau menangis. Bahunya bergerak naik turun, dan diam-diam tanpa sepengetahuan Nathan, Viona meneteskan obat tetes mata pada kedua matanya demi meyakinkan pad suaminya jika dia benar-benar menangis.
"Hisk, Oppa jahat. Kenapa harus mengomeliku? Bukankah kau masih bisa bertanya secara baik-baik, tidak perlu mengomeliku segala. Huaa... Oppa jahat, Oppa tidak menyayangiku lagi," ujarnya sesegukan. Sedangkan Hans yang melihat sandiwara Viona hanya bisa mendengus geli. "Lagipula aku keluar bukan untuk kelayapan tidak jelas, tapi untuk mengunjungi makam ibu dan ayah,"
Nathan mendengus geli. "Maaf, aku tidak tau. Sudah jangan menangis lagi, sebaiknya kita pulang sekarang," nada bicaranya jauh lebih lembut dari sebelumnya. Dan sepertinya Nathan benar-benar lemah setelah melihat air mata Viona.
__ADS_1
Viona menyusut air matanya dan mengangguk. "Paman, kami duluan." Pamit Viona yang kemudian dibalas anggukan oleh Hans.
Hans mendesah berat. Dia menatap sendu kepergian Viona. "Sekali saja, aku ingin mendengarmu memanggilku dengan sebutan, Ayah," Hans menutup matanya dan cairan bening tampak mengalir dari sudut matanya. Pria itu beranjak dari posisinya dan melenggang pergi.
-
"Apa? Semalam ada penampakkan hantu di Sungai Han?" seorang wanita memekik tak percaya setelah mendengar apa yang dikatakan oleh temannya.
"Astaga, kau ini kemana saja? Bagaimana kau bisa tertinggal berita sebesar itu? Dan yang aku dengar dari orang-orang yang melihatnya. Hantu itu adalah hantu wanita hamil yang ditemukan mengapung di sana beberapa bulan yang lalu. Menurut kabar, hantu itu gentayangan mencari pembunuhnya,"
"Aiggo, sangat mengerikan. Dan lagipula bagaimana ada manusia tak berhati seperti itu? Bagaimana bisa mereka disebut manusia, dan aku yakin jika pelakunya tidak hanya satu atau dua orang saja. Dan aku berharap semua mendapatkan balasan yang setimpal untuk semua perbuatannya."
"Benar sekali, aku jadi penasaran pada hantu itu"
"Kalau begitu datang saja ke sana menjelang jam enam petang. Katanya hantu itu selalu mencul ketika waktu hampir menjelang petang."
"Kita buktikan, petang ini bagaimana kalau kita ke sana bersama-sama?"
"Aku tidak yakin, tapi aku rasa bukan ide yang buruk," dan kedua gadis itu pun meninggalkan cafe.
Shion dan Jordy yang mendengar jelas apa yang mereka berdua katakan hanya mampu terdiam tanpa bisa berkata apa-apa. Tubuh mereka mendadak kaku dan kedua kaki mereka serasa lemas tak bertenaga. Jika yang mereka katakan memang benar. Itu artinya hidup mereka mereka sedang dalam masalah besar.
"Jordy, bagaimana ini? Sepertinya wanita itu benar-benar ingin menuntut balas pada kita," panik Shion dengan bibir bergetar.
"Sekarang saja kau baru merasa takut. Kenapa kau tidak berfikir dengan otakmu dulu sebelum melakukan sesuatu? Dan bukan hanya dirimu saja yang sekarang dalam masalah besar!! Tapi aku juga!! Jika saja aku tidak terhasut olehmu, pasti aku tidak selalu dihantui mimpi buruk dan mendapatkan terror-terror mengerikan,"
"Yakk! Kenapa kau malah menyalahkanku eo?"
"Lalu aku harus menyalahkan siapa? Kaukan yang pertama kali memiliki ide itu, jika saja kau tidak meracuni pikiranku dan aku tidak terhasut oleh ucapanmu. Pasti hidupku akan tenang-tenang saja sampai sekarang. Tidak, aku tidak ingin seperti ini lagi. Lebih baik aku menenui suaminya dan mengakui perbuatanku pada Viona padanya. Aku sudah tidak tahan lagi, aku tidak sanggup terus-terusan dihantui rasa berdosa dan di terror oleh hantu itu setiap harinya!!" ujar Jordy panjang lebar.
Shion menatap Jordy tak percaya. "Apa kau sudah gila? Menemui suaminya dan mengakui perbuatanmu padanya itu artinya sama saja dengan bunuh diri. Kau tidak tau dia itu pria seperti apa? Dia bisa merajam tubuhmu pada saat itu juga. Tidak, kau jangan sampai melakukan kebodohan, aku tidak setuju!!"
"Lalu aku harus bagaimana?" teriak Jordy yang terdengar begitu frustasi.
"Masih ada cara lain. Memanggil pengusir setan dan memintanya untuk menangkap hantu Viona,"
Jordy menatap Shion penuh keraguan. "Apa kau yakin cara itu akan berhasil?"
"Kau tenang saja. Aku dengar ada tiga dukun yang sangat hebat di dekat bukit gunung Buhgaksan. Kita hanya perlu ke sana dan menemui mereka bertiga, jika uang sudah berbicara. Maka apa yang tidak bisa," Shion menyeringai lebar.
Jordy mendesah berat. "Baiklah, sore ini kita temui mereka dan meminta bantuan mereka,"
"Kita patungan untuk pembayarannya,"
"Tidak masalah,"
-
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan like koment setelah membaca. Di novel ini jarang ada koment yang mampir, semoga para pembaca setia IKMA mau berbaik hati buat meninggalkan jejak like koment ππππππ
__ADS_1