Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 36) "Kenangan Buruk Luna"


__ADS_3

Zian menatap pantulan dirinya di cermin dan menghela nafas panjang. Dengan perlahan jari-jarinya menarik turun benda hitam bertali yang sejak beberapa bulan yang lalu menutup mata kirinya.


Meskipun berbulan-bulan telah berlalu, tapi belum ada tanda-tanda jika mata itu akan pulih sepenuhnya. Mata kirinya agak kabur ketika melihat sesuatu. Dan itulah kenapa Zian harus merelakan matanya tertutup sepanjang waktu. Meskipun awalnya merasa tidak nyaman tapi lama kelamaan ia mulai terbiasa.


Dan jika saja ayah Luna masih ada, mungkin mata kirinya bisa diatasi sejak lama. Yang menjadi masalahnya, ayah Luna telah lama tiada. Begitulah yang Nathan katakan, karna yang menyembuhkan dan mengembalikan penglihatan pada mata Nathan adalah tuan Leonil.


Tokk!! Tokk!! Tokk!!


Ketukan keras pada pintu mengalihkan perhatian Zian. Zian memasang kembali penutup mata kirinya kemudian beranjak dan berjalan menuju pintu 'Cklekk' pintu terbuka dan sosok wanita cantik bertubuh sexy-lah yang tertangkap oleh mata kanan Zian


"Zian," serunya riang.


"Amanda, apa yang kau lakukan di sini?" Zian memicingkan mata kanannya melihat kedatangan Amanda yang sangat tiba-tiba.


Bukannya merasa senang dengan kedatangan gadis itu, Zian justru merasa tidak suka dan hal itu terlihat jelas dari sorot matanya. Apalagi Amanda berani memasuki area privasinya yang tidak siapa pun berani memasukinya bahkan orang-orang terdekatnya tanpa ijin darinya kecuali Luna.


Wanita itu melewati Zian begitu saja tanpa menghiraukan tatapan nyalang dari sang empunya kamar "Aku datang kemari karna aku sangat merindukanmu. Bagaimana pun juga aku adalah tunanganmu. Jadi aku memiliki hak penuh untuk datang ketempat ini kapanpun aku mau," ujar Amanda panjang lebar.


Zian menutup kembali pintu kamarnya kemudian berbalik, tampak Amanda berbaring di atas tempat tidur Zian dengan posisi menyamping. "Turun dari sana." Pinta Zian menuntut. Amanda menggeleng dan malah melambaikan tangannya pada Zian agar dia mendekat."Tidak mau." Kaeun menggeleng


"Oppa, kemarilah. Aku sangat-sangat merindukanmu." Wanita itu bangkit dari berbaringnya dan menghampiri Zian.


Kedua tangannya mengalung pada leher pemuda itu. Sangat jelas sekali bila Zian tidak suka, wanita itu kemudian menyenderkan kepalanya pada dada bidang Zian yang hanya tertutup singlet putihnya. Jari-jari lentiknya merabah permukaan dada Zian dengan gerakkan sensual, sesekali Amanda mendongak dan menatapnya manja.


Zian menutup matanya seraya menghela nafas panjang.


Brugg!!


Dengan kasar Zian mendorong tubuh Amanda hingga terhuyung dan berakhir di atas tempat tidur. Tubuhnya berada di bawah kungkungan tubuh kekar Zian, tangannya tertahan di atas kepalanya karna cengkraman pemuda itu.


Tampak smrik tersungging di sudut bibirnya dan menatap Zian dengan senyum penuh kemenangan. Amanda berfikir bila Zian telah luluh padanya dan takhluk pada pesonanya. Dan tidak sebentar waktu yang Amanda butuhkan untuk menunggu hari ini tiba, karna meraih hati beku Zian tentu saja bukan sebuah perkara yang mudah.


Amanda menutup matanya saat merasakan sentuhan jari Zian pada wajahnya, perlahan pemuda itu mendekatkan wajahnya pada Amanda. Yakin Zian akan menciumnya, segera wanita itu menutup matanya sambil membusungkan dada, memberikan pose yang akan membuat Zian jauh lebih bergairah padanya. Tak lupa dia juga menarik naik gaun minimnya hingga terlihat paha mulusnya, Luhan menarik sudut bibirnya dan....!!!


"Aaahhh!" Amanda meringis merasakan cengkraman Zian pada rahangnya yang begitu kuat, iris abu-abunya menatap Amanda tajam. Sorot matanya sangat berbeda dari beberapa saat yang lalu, sepertinya Amanda sudah salah paham dengan sikap Zian. "Zian, apa yang kau lakukan? Kau menyakitiku, lepaskan aku. Ini sangat sakittt...!!"


"Jangan kau fikir aku benar-benar tertarik padamu, wanita licik. Dengan sikapmu yang murahan ini justru membuatku semakin jijik padamu. Sebaiknya keluar dari kamarku dan pergi dari rumahku sebelum aku sendiri yang melemparmu keluar." Usir Zian seraya beranjak dari atas tubuh Amanda.


"Kau mengusirku?" Amanda menatap Zian tidak percaya.


"Ya," jawabnya singkat.


Dengan kasar Amanda mendorong dada Zian lalu memukulnya dengan tas mahalnya dan pergi begitu saja. "Sialan kau, Zian Qin. Kau pasti akan membayar semua ini." Ucapnya dan pergi begitu saja.


Selepas kepergian Amanda. Di dalam ruangan itu hanya menyisahkan Zian seorang diri.


Pemuda itu berjalan lurus menuju lemari pakaiannya dan mengeluarkan sebuah blazer berwarna abu-abu gelap yang kemudian dia pakai sebagai luaran singlet putihnya. Terlihat pemuda itu meninggalkan kamarnya dan tak lupa membawa kunci mobil kesayangannya. Zian berencana untuk berkeliling kota sebentar dan mencari angin segar.

__ADS_1


\=\=\=\=oOo\=\=\=\=


"Dasar pria menyebalkan, playboy cap unta, tidak tau diri, tidak tau malu. Bisa-bisanya dia merenggek dan memohon supaya aku menerima cintanya. Apa dia fikir aku ini gadis bodoh. Sudah punya pacar 3 lusin tapi masih mencari mangsa baru lagi,"


Sepanjang jalan menuju halte bus, Luna tidak henti-hentinya menggertu. Ia kesal setengah mati pada pemuda yang terus mengejar dirinya dan memaksa untuk menjadi kekasihnya.


Pagi-pagi sekali pemuda itu mendatangi rumahnya dan membuat keributan di sana, pemuda itu datang bersama teman-temannya sambil membawa sebuah banner berukuran besar yang bertuliskan


'LEONIL LUNA, JADILAH KEKASIHKU KARNA AKU SANGAT MENCINTAIMU DAN TIDAK BISA HIDUP TANPAMU!! AKU AKAN MATI JIKA KAU TIDAK MAU MENERIMAKU JADI KEKASIHMU'


Di situ rasanya ingin sekali Luna menelanjangi orang itu hidup-hidup karna ulahnya itu dia harus moodnya yang dia bangun dengan susah payah, kedatangan pria itu bagaikan sebuah petaka untuk Luna. Dan endingnya dia terus saja menggerutu sepanjang jalan dan sepanjang waktu karna ulah pemuda itu.


Pagi ini Luna sengaja pergi keluar dengan menggunakan kendaraan umum. Dia terlalu malas untuk mengendarai mobilnya apalagi dengan moodnya yang sedang buruk.


"Kau butuh tumpangan, Nona," seru seorang pria yang duduk di balik kemudi mobilnya. Sontak saja Luna menoleh dan...


"Zian," serunya terkejut.


"Naiklah, jangan sampai kau di sebut gila oleh orang lain karna terus menggerutu tidak jelas,"


Luna mencerutkan bibirnya. "Dasar Rusa kutub tak berhati. Bukannya menghibur kau malah membuat moodku semakin buruk saja," Luna kembali menggerutu.


Zian mendengus geli. "Dasar kau ini. Memangnya seberapa banyak pisang dan pepaya yang kau makan pagi ini, dan apa mulutmu itu tidak capek mengoceh terus. Cepat naik," pinta Zian sekali lagi.


Luna mendengus untuk yang kesekian kalinya. Entah sebuah anugerah atau musibah bertemu dengan Zian di saat moodnya sedang buruk.


.


.


"Zian, ini rumah siapa?" tanya Luna penasaran.


"Rumah, papa. Papa dan ibu tiriku mengundangmu untuk datang,"


Degg...


Luna tersentak. Jika ini adalah rumah ayah Zian dan ibu tirinya, maka Itu artinya Luna akan bertemu dengan ibu kandungnya. Luna menggeleng, ia masih belum siap untuk bertemu dengan wanita yang telah mencampakkannya itu. Terlalu dalam luka yang Kalina torehkan dihatinya. Hingga sulit bagi Luna untuk bisa memaafkannya.


Luna menahan lengan Zian ketika pemuda itu hendak melangkah masuk."Maaf, Zian. Tapi aku tidak bisa ikut masuk bersamamu. Mungkin lain kali saja, sekali lagi aku minta maaf," Luna melepaskan genggamannya pada tangan Zian dan pergi begitu saja.


"Luna, tunggu!!"


.


.


Hati Luna remuk redam, membicarakan Kalina membuat luka lama dihatinya kembali terbuka. Dadanya terasa sangat sesak hingga membuat Luna kesulitan untuk bernafas.

__ADS_1


Luna terus memukul dadanya dengan sangat brutal dan berharap jika apa yang dia lakukan itu bisa mengurangi rasa sesak di dalam dadanya. Tapi rasa sesak itu sama dan tidak berkurang sedikit pun.


Luna menjatuhkan tubuhnya begitu saja dan terduduk lemas di bawah pohon di sebuah taman yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah ayah Zian, air matanya tumpah begitu saja.


Luna menekuk kedua kakinya dan membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya, seketika bayangan masa lalu saat Kalina meninggalkannya melintas kembali diingatannya.


Flasback:


"Ibu, mau kemana? Ibu jangan pergi, Ibu tidak boleh meninggalkan aku. Ibu aku tidak ingin berpisah darimu, jebal bawah aku bersamamu."


Seorang gadis kecil merenggek memohon agar Ibunya tidak meninggalkan dirinya, namun sepertinya permintaan gadis kecil itu tidak di indahkan oleh wanita yang Ia panggil Ibu itu.


"Tidak bisa Luna-ya, Ibu harus pergi. Kau tidak bisa ikut dengan Ibu, mianhae Sayang. Ibu harus pergi." Wanita itu yang tak lain adalah Kalina melepaskan genggaman tangan Luna dan berlalu dari hadapannya.


Greppp ,,, !!! ,,,


Namun langkah Kalina kembali terhenti karna seseorang memeluk kakinya dan terus merenggek agar Kalina tidak meninggalkannya.


"Luna, apa yang kau lakukan? Lepaskan Ibu, Ibu harus pergi."


"Tidak Ibu, pokoknya ibu tidak boleh pergi. Ibu tidak boleh meninggalkanku. Karna aku tidak meniliki siapapun lagi di dunia ini kecuali Ibu. Jadi aku mohon Ibu jangan pergi," Pinta Luna kecil memohon.


"LUNA SHIM, APA KAU TULI? IBU BILANG LEPASKAN." Bentak Kalina penuh emosi.


"Nyonya Shim? Apa yang Anda lakukan? Kenapa Anda harus membentak putri Anda sendiri?" Di saat bersamaan, seorang wanita setengah baya tiba-tiba datang. Pria itu mengangkat tubuh Luna kecil dan menggendongnya.


"Dia yang memaksaku untuk melakukannya, urus saja gadis merepotkan ini. Aku harus pergi." Ucap Kalina.


Wanita itu menarik koper yang ada di tangannya dan pergi meninggalkan Luna yang menangis begitu saja, di luar sana sudah ada mobil mewah yang menunggunya.


"Ibu, jangan pergi. Ibu jangan tinggalkan aku. Ibu, Ibu, Ibu," Luna kecil turun dari gendongan ibu panti kemudian berlari mengejar mobil yang di naiki oleh Ibunya.


Brugggg ,,, !!! ,,,


Gadis kecil itu terjatuh, Ia tidak bisa berdiri lagi. Kedua lututnya terluka dan mengeluarkan banyak darah. "Hiks Ibu, Hiks ,, Hiks ,, Ibu jangan pergi!!" jerit Luna memohon


"Sudah Sayang, sebaiknya kita masuk. Biarkan saja wanita itu pergi."


Ibu panti itu menghampiri Luna kemudian menggendongnya dan membawanya masuk kembali ke dalam panti asuhan. Dia merasa kasihan pada Luna, ibu panti itu tidak tau kenapa Kalina begitu kejam dan tega pada putrinya sendiri.


Flashback End:


Luna memejamkan matnya mengingat peristiwa menyakitkan itu, wajar jika Ia merasa terluka dan tidak bisa memaafkan Ibunya.


-


Bersambung.

__ADS_1


...Wahai para pembaca yang baik hati. Ayolah jangan pelit-pelit buat kasih like komentnya di novel ini. Tiap hari pembaca jumlahnya ribuan tapi like-nya yang nyasar kesini dikit buanget 😭😭 Biar otornya makin semangat buat ngetik novelnya. Karna satu like dan koment kalian sangat berarti buat author 🙏🙏🙏...


__ADS_2