Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 15 "Ingin Seperti Kisah Moulin Rouge"


__ADS_3

Getaran ponsel Nathan yang ada diatas meja sedikit menyita perhatiannya. Viona mengambil ponsel milik Nathan dan mendapati nama Cherly menghiasi layar yang menyala terang itu. Ada perasaan tidak suka terselip dihatinya melihat wanita itu menghubungi Nathan.


"Telfon dari siapa?" Viona mengangkat wajahnya dan mendapati Nathan berjalan menghampirinya sambil memasang wajah datarnya. Viona tidak mengatakan apapun dan memberikan ponsel itu pada Nathan. Nathan menatap Viona sejenak kemudian menjauh dari gadis itu untuk menerima panggilan dari Cherly.


Viona menundukkan wajahnya. Sepertinya memang tidak ada cela untuk dirinya bisa bersama Nathan. Terlalu banyak batu kerikil yang menjadi sandungan untuk dirinya dan Nathan. Disamping itu, Viona memiliki keyakinan jika Nathan memiliki perasaan pada gadis itu meskipun pada kenyataannya tidak. Viona yang sedang melamun sedikit terkejut merasakan benda lunak dan basah menyapu permukaan bibirnya dengan lembut


"Apa yang sedang kau fikirkan?" Nathan melepaskan ciumannya dan menatap Viona penuh tanya. "Kau cemburu?"


"Bukan begitu, aku hanya merasa tidak enak padanya. Pasti dia akan sakit hati jika mengetahui tentang hubungan terlarang antara kita berdua. Aku.... hhhmmmppp!" Kalimat Viona dipotong oleh ciuman Nathan. Sepertinya Nathan tidak suka bila Viona membahas orang lain saat mereka bersama bahkan itu Cherly sekalipun.


Nathan merubah posisi mereka dengan menempatkan Viona diatas pangkuannya. Tangan laki-laki itu melingkari pinggang Viona yang kini menempel sempurna padanya. Tangan Nathan yang lain menuntun tangan Viona menuju lehernya. Viona menutup matanya dengan perlahan saat Nathan semakin memperdalam ciumannya , melihat bibir Viona yang sedikit terbuka hal itu segera Nathan manfaatkan untuk mengobrak-abrik isi dalam mulutnya dengan mengabsen deretan gigi putihnya lalu mengajak lidah mereka menari bersama.


Viona tampak sedikit kwalahan saat mencoba mengimbangi ciuman panas Nathan. Dan ciuman mereka benar-benar berakhir saat Nathan merasakan pukulan ringan pada dada bidangnya.


"Kau masih tetap saja payah, Sayang." bisik Nathan sambil mengerakkan jempolnya untuk menghapus liur yang menetes dibibir gadis itul "Kau sungguh-sungguh belum pernah berciuman, eh?"


Blusss!!!


Muncul semburat merah dikedua pipi Viona karna ucapan Nathan. Gadis itu merasa malu karna diusianya yang bisa dibilang matang malah belum pernah berciuman dan parahnya Nathan-lah yang mengambil ciuman pertamanya.


"Jangan meledekku terus, Oppa. Kau membuatku malu saja." ucap Viona sambil menundukkan wajahnya. Nathan terkekeh mendengar jawaban gadis itu.


"Iyaiya maaf." Nathan mengacak rambut coklat Viona sambil tersenyum lembut, selanjutnya mereka menikmati makan malamnya dengan tenang dengan ditemani obrolan-obrolan ringan. Viona terlihat begitu menikmati kebersamaannya dengan Nathan dan begitu pula sebaliknya. Viona berharap ada keajaiban untuk mereka berdua karna Viona mencintainya.


-


Viona diam terpaku menatap lautan biru yang membentang luas didepan matanya. Sorot matanya menyiratkan jika hatinya tidak dalam keadaan baik. Gadis itu teringat pada percakapannya dengan Leo pagi ini... Leo lagi-lagi kembali menyinggung soal rencana pernikahan mereka yang sangat jelas bila Viona masih belum menyetujuinya.


Sejujurnya Viona tidak keberatan untuk menikah muda.. agar ada seseorang yang bisa selalu menjaga dan melindungi dirinya. Viona membutuhkan pendamping yang tepat untuk menjadi teman hidupnya. Dan Viona ingin supaya yang menjadi pendamping hidupnya adalah laki-laki yang dia cintai dan mencintanya sepenuh hati.. bukan berarti Viona meragukan perasaan Leo, hanya saja Viona merasa ragu bila laki-laki itu mencintai dirinya dengan kesungguhan hati bukan karna ada maksud lain.


Viona berjalan tenang menuju dek kapal... berkali-kali gadis itu tersenyum ramah pada beberapa orang yang tidak sengaja berpapasan dengannya. Mereka semua berpasangan dan hanya dirinya saja yang berjalan sendirian , bukankah itu sangat menyedihkan..?


Entah kenapa Viona ingin sekali pergi ke dek kapal saat ini? Viona berhenti, kemudian mendongakkan wajahnya untuk menatap langit biru dengan hiasan awan putih berarak. "Biru , betapa sangat indah warna itu." Guman Viona lirih.


Viona mengalihkan pandangannya ke arah lain. Beberapa meter dari tempatnya berdiri , terlihat seorang laki-laki tengah berbincang dengan seorang awak kapal yang dari pakaianya dapat dipastikan jika orang itu adalah seorang kapten dalam posisi memunggungi, yang terlihat hanya punggung tegap yang tersembunyi dibalik vest dan t-shirt putih-nya.

__ADS_1


Viona menyipitkan matanya, meskipun yang terlihat hanya punggungnya saja.. tapi Viona sangat mengenali postur tubuh itu.


"Nathan." ujar Viona masih dengan mata hazelnya yang terus menatap laki-laki itu.. orang yang Viona yakini adalah Nathan tiba-tiba menoleh kearahnya dan ternyata keyakinan Viona tidak salah, orang itu memang Nathan.


Orang itu berbalik dan menghampiri Viona yang masih bergeming dari posisinya, sudut bibirnya tertarik keatas membentuk lengkungan indah di wajah cantiknya. "Menikmati laut, eh?"


"Hum!" Viona mengangguk. Gadis itu memicingkan matanya melihat benda putih yang menyatu dengan plaster menyembul dari balik poni yang menutupi mata kirinya. "Ngomong-ngomong apa yang terjadi pada mata kirimu? Kenapa sampai diperban?" lanjutnya penasaran.


"Tidak apa-apa hanya iritasi ringan saja dan aku memang sengaja menutupnya biar tidak semakin memerah. Dua hari juga akan menbaik." jawab Nathan dan meyakinkan pada Viona jika dirinya baik-baik saja. "Ingin berjalan-jalan?" tawar Nathan sambil mengulurkan tangan kanannya.. sementara tangan kirinya tersembunyi didalam saku celananya.


Viona tersenyum dan menerima uluran tangan Nathan. "Aku rasa bukan ide buruk." jawabanya.


Nathan dan Viona berjalan sambil bergandengan tangan. Nathan membawa Viona ke dek kapal paling depan. Nathan tidak ingin ada seorang pun yang mengganggu kebersamaannya dengan Viona, ini adalah pelayaran mereka yang terakhir dan Nathan tidak ingin menyia-nyiakannya.


Hari sudah semakin siang dan matahari sudah semakin tinggi membumbung, Nathan akan melakukan sesuatu yang sejak kecil menjadi impiannya jika memiliki seorang kekasih dan pergi pesiar bersama. Nathan ingin mengulang adegan dalam film romantis yang berakhir dengan sebuah tragedi itu namun tentu dengan ending yang berbeda tentunya.


"Viona, lepaskan hilsmu dan naiklah keatas teralis besi ini." pinta Nathan yang sontak membuat Viona mengangkat wajahnya saking kagetnya. "Tenanglah, aku tidak akan mencelakakanmu. Percayalah padaku." lanjutnya sebelum Viona salah paham.


Viona diam untuk benerapa saat sebelum akhirnya menuruti permintaan Nathan.


Dengan perlahan tapi pasti, Viona mengangkat kaki kanan dan kirinya secara bergantian naik keatas teralis besi itu dengan bantuan Nathan tentunya. Viona merentangkan kedua tangannya dengan Nathan dibelakangnya.


"Bukankah ini sangat mirip dengan adegan dalam film yang berakhir tragedi itu?" ucap Viona masih dengan kedua matanya tertutup rapat.


"Kau berfikir begitu?" Viona mengangguk. "Kau percaya pada cintaku? Lihatlah lautan ini, Vi. Tidak bisa di ukur, begitu pula dengan cintaku padamu." bisik Nathan kemudian mencium bibir Viona dengan lembut.


Viona menoleh kebalakang menatap wajah Nathan. "Dan ini menjadi kebahagian terbesarku, karna dicintai oleh laki-laki yang juga kucintai." ucapnya sambil menatap intens manik coklat milik Nathan. Gadis itu memalingkan kembali wajahnya pada lautan di depan sana. Viona begitu menikmati semuanya , dan memang hanya Nathan yang bisa menggetarkan hatinya dan memberikan kebahagiaan untuknya.


Nathan mencium tengkuknya dan Viona menggeram pelan. Nathan memejamkan matanya dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Viona.


Nathan sangat-sangat menginginkan gadis dalam pelukkannya ini untuk menjadi pendamping hidupnya, jika memilikinya adalah sebuah kesalahan. Maka Nathan tidak akan pernah ragu untuk menjadi Phantom di Phantom Of The Opera. Yang rela membunuh semua orang karna obsesinya pada sang wanita.


Namun Nathan tidak ingin ending kisahnya bersama Viona seperti Phantom karna pada akhirnya wanita yang Phantom cintai lebih memilih laki-laki lain bukan dirinya. Dan akhirnya Phantom memilih untuk meninggalkan si wanita.


Nathan ingin kisahnya dan Viona berakir seperti Moulin Rouge. Kisah terlarang, penuh kepahitan namun berakhir manis.

__ADS_1


-


"Kkkkyyyyyyaaaaaaaaa!!!! HELP ME, SIAPA PUN TOLONG AKU."


Teriak Rio dengan histeris "Hiaaaa! Punya dosa apa? Sampai-sampai aku dikejar banci begini." lanjutnya.


Pemuda itu terus berlari menghindari seorang wanita jadi-jadian yang mengejarnya dibelakang. Rio tidak tau mimpi apa dia semalam sampai-sampai harus bertemu lagi dengan wanita jadi-jadian ini.


Awalnya Rio hanya ingin berjalan-jalan santai menikmati saat-saaf terakhirnya di pesiar ini, tapi semua menjadi kacau karna kedatangan waria yang membuatnya lari terbirit-birit seperti dikejar setan.


Dua sosok cantik yang baru saja tiba di dek kapal memicingkan matanya melihat Rio berlari sambil sesekali menenggok kebelakang. Kedua gadis itu memicingkan matanya melihat sosok lain yang mengejar dibelakang Rio dan seketika tawa mereka berdua pecah setelah tau jika wanita yang mengejar keponakan kesayangannya itu adalah seorang waria alias banci.


"Kkkkyyyyyaaaaa!!! Paman, Nunna help me." teriak Rio dan menghampiri kedua wanita itu yang ternyata adalah Satya dan Frans. "Hiaaaa!! Selamatkan aku dari setan jadi-jadian itu lanjutnya. Sebuah ide juncul di otak jahil Satya, laki-laki itu menyeringai tipis.


"Hei Nona, kau menginginkan keponakan kami yang tampan ini? Kau ingin mengencaninya?"


"Iya dong, dia cakep dan aku mencintainya."


"Baiklah, kami serahkan dia padamu." Sahut Frans kemudian mendorong Rio pada banci itu dan terjadilah hal dramatis dimana Rio berusaha melepaskan diri dari dekapan waria yang berusaha mencium bibirnya.


Sementara itu, Frans dan Satya begitu menikmati pertunjukkan gratis yang ada didepan matanya tanpa sadar jika dua laki-laki menghampiri mereka dengan seringai penuh kemenangan.


"Hupp!! Akhirnya kami mendapatkanmu, Nona." Ucap keduanya sambil memeluk Satya dan Frans dari belakang. Kedua wanita jadi-jadian itu menoleh kaku dan mendapati dua laki-laki tampan namun gila dimata mereka memeluk dari belakang sambil menjilat bibirnya sendiri dengan erotis. Wajah Satya dan Frans pun pucat seketika, keduanya meringis dan....


"KKKKYYYYYYAAAAA!!! HELP ME..."


-


Di dalam sebuah ruangan gelap, seorang laki-laki duduk sambil menghadap laptop yang layarnya menyala terang didepannya. Seringai kemenangan tercetak jelas di wajah tampannya. Menakupkan kedua tangannya yang kemudian ia letakkan diatas meja, depan laptop-nya.


"Nikmatilah hari-hari terburukmu, Derry Ardinata. Aku tidak akan berhenti sebelum melihatmu hancur." Orang itu menyeringai tajam. Menutup dan mematikan laptop-nya. Pemuda 28 tahun itu bangkit dari duduknya dan menyalakan kembali penerangan dalam ruangan itu.


Drett!! Drett!! Drettt!!


Laki-laki itu menghentikan langkahnya saat mendengar dering pada ponselnya yang ia letakkan di atas nakas samping tempat tidurnya. Laki-laki itu mendengus berat, malas mengangkat panggilan yang masuk.. Laki-laki itu menolak panggilan tersebut dan mematikan ponselnya.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2