
Kabar tentang Viona yang mengalami keguguran telah sampai ketelinga Cherly. Wanita itu bahagia bukan kepalang saat mendengar Viona mengalami keguguran dan saat ini sedang kritis di rumah sakit. Dengan penyamaran lengkap. Wanita itu menyamar sebagai suster. Cherly mendatangi ruang inap Viona dan kebetulan Nathan sedang tidak ada di sana.
Di dalam ruangan itu hanya ada Bima dan Alex dan mereka sedang tertidur pulas. Cherly menyeringai tajam. Sepertinya Dewi Fortuna kali ini sedang berpihak padanya, begitulah yang dia fikirkan.
Tak ingin jika Alex dan Bima tiba-tiba bangun lalu merusak semua rencananya untuk menyingkirkan Viona. Cherly memberikan obat bius pada mereka berdua dan membuat mereka tak sadarkan diri sampai beberapa jam kedepan. Cherly menghampiri Viona yang sedang terbaring lemah.
Wanita itu menyeringai. "Viona Anggella, sungguh betapa malangnya nasibmu. Kehilangan janin yang sangat kau dambakan dan sekarang malah menjadi wanita tidak berguna," Cherly mendekatkan wajahnya pada telinga Viona lalu berbisik lirih pada telinga kanannya. "Bagaimana kalau aku membantumu mengakhiri penderitaanmu ini? Kau... lebih baik mati!!" Cherly menegakkan kembali tubuhnya lalu mengeluarkan sesuatu dari saku pakaian susternya. Sebuah tabung kecil berisi cairan putih serta jarum suntik.
Lagi-lagi seringai tercetak di bibir merahnya. "Ini akan membantumu mati lebih cepat." Cherly mengarahkan jarum itu pada kantong infus Viona dan...
"Aahhhh," rintih kesakitan terdengar dari sela-sela bibir Cherly saat seseorang tiba-tiba menariknya dan menghempaskannya hingga tubuhnya terjerambat ke lantai. "Kalian!!" geram Cherly sambil menatap marah tiga pemuda dihadapannya.
"Sudah kami duga jika memang ada yang tidak beres dengan suster yang masuk ke dalam ruangan ini. Ternyata memang suster gadungan. Hei, Bibi. Apa kau sudah bosan hidup eo?" sinis Rio sambil menatap Cherly tajam.
"Sepertinya penyihir ini perlu merasakan jurus andalan kita," seru Frans yang langsung dihadiahi jitakkan oleh Satya.
"Jangan sembarangan menggunakan jurus pamungkas kita tanpa ritual dan langkah-langkah yang tepat, atau kau memang ingin ketiban sial seumur hidupmu!!"
"Lalu harus kita apain wanita ular ini, Sat?"
"Gampang, tinggal kita laporkan saja pada Nathan hyung. Biar dia yang memberinya pelajaran,"
"Aku tidak setuju," tegas Rio menyahuti ucapan Satya. "Jika paman Nathan sampai turun tangan maka kita bertiga yang akan rugi. Bagaimana kalau kita saja yang menangani penyihir betina ini, lumayan mainan kita jadi bertambah satu lagi," Rio menatap Satya dan Frans bergantian.
Keduanya saling bertukar pandang dan mengangguk setuju. Sedangkan Cherly langsung ketar ketir, dia tidak tau bagaimana nasibnya setelah ini. Karna berurusan dengan ketiga pemuda itu lebih mengerikan dari pada bertemu langsung dengan malaikat kematian.
Cklekk...
Decitan suara pintu di buka dari luar mengalihkan perhatian empat orang di dalam ruangan itu. Sosok Nathan terlihat memasuki ruangan dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Nathan memicingkan matanya. "Park Cherly, sedang apa kau di sini? Jangan bilang jika kau memiliki niat buruk pada Viona?" tanya Nathan penuh selidik.
Susah payah Cherly menelan salivanya. Dia bingung harus menjawab apa sekarang, Nathan menangkap basah dirinya yang berada di ruang inap Viona. Wanita itu memutar otak mencoba mencari alasan. Cherly mencoba bermain aman. "Oppa, sebenarnya aku-"
"Dia di sini karna kami, Paman." Sahut Rio menyela ucapan Cherly.
Nathan memicingkan matanya. "Karna kalian? Apa maksudnya?" Dan akhirnya Rio memberikan penjelasan dan alasan palsu mengenai keberadaan Cherly di sana pada Nathan. Bukan malsud Rio ingin melindungi wanita itu, tapi dia tidak ingin kehilangan salah satu mainan berharganya. Karna sudah pasti Nathan akan langsung membunuhnya jika dia sampai tau bila Cherly berusaha untuk menghabisi Viona.
"Sebaiknya bawa wanita itu keluar dari sini, pastikan dia tidak pernah muncul lagi,"
"Oke Paman//Hyung," dan ketiganya menjawab dengan kompak.
Sayangnya Nathan tidaklah sebodoh itu. Dia tau jika Rio memberikan penjelasan palsu padanya. Dan mengenai kedatangan Cherly, sudah pasti karna dia ingin mencelakai Viona. Dan Nathan yang memang sedang tidak mood untuk melakukan apapun untuk saat ini membiarkan Cherly dalam penanganan Rio dan kedua paman kecilnya.
Nathan menghampiri Viona yang masih belum sadarkan diri, kemudian pandangannya bergulir pada Alex dan Bima yang sedang tak sadarkan diri karna pengaruh obat bius. Tapi sayangnya Nathan tidak menyadarinya dan menganggap jika mereka sedang tertidur pulas karna kelelahan.
Nathan meraih tangan Viona yang terasa dingin lalu menggenggamnya. Tatapannya tak lepas sedikit pun dari sosok jelita di hadapannya. "Sayang, sampai kapan kau akan tidur seperti ini? Bangun Vio, aku sangat merindukanmu," ucap Nathan dengan suara lirih.
Namun legang....
Cairan kristal bening yang menggenang di pelupuk matanya tak bisa Nathan tahan lebih lama lagi. Nathan menangis, dia menitihkan air matanya. Rasanya seperti ada bongkahan batu besar yang menghimpit dadanya, yang membuatnya merasa sesak hingga sulit untuk bernafas.
Nathan menundukkan wajahnya dan menangis dalam diam. Tidak ada suara isakan yang keluar dari sela-sela bibirnya, hanya bahunya yang terus bergerak naik-turun. Rasanya begitu sesak seperti ada bongkahan batu besar yang menghantam dadanya dengan keras.
Mungkin sangat menggelikan melihat orang seperti Nathan tiba-tiba menangis. Sekejam apapun seorang Nathan Lu, tapi tetap saja dia hanyalah manusia biasa. Dia bisa menangis dan merasa sedih. Dan ini adalah kali kedua seorang Nathan menitihkan air matanya, pertama kali Nathan menangis saat kematian orang tuanya.
"Oppa," panggil sebuah suara--sontak membuat Nathan mengangkat wajahnya seketika.
Nathan terkesiap. Rasanya seperti angin segar yang berhembus. Benar-benar segar dan melegakan saat sebuah suara dari seseorang yang begitu dia rindukan memanggilnya dengan lirih. Kelopak mata itu terbuka perlahan-lahan dan memperlihatkan sepasang hazel yang tampak sayu. "Viona," lirih Nathan bergumam. Antara percaya dan tidak percaya melihat Viona akhirnya membuka kembali matanya.
"Oppa, kita ada di mana? Dan apa yang terjadi padaku? Bayi kita, apakah dia baik-baik saja?" tanya Viona namun tidak ada jawaban.
Seketika pikiran buruk menghantui kepalanya. Apakah ia keguguran? Viona menggeleng dengan air mata yang tak henti-hentinya menetes. "Ti-Tidaaaaakkk!" teriaknya histeris. Nathan langsung memeluknya dan mencoba untuk menenangkan Viona.
"Op...Oppa…" tangisnya sambil memeluk perut yang masih rata itu. "Oppa maafkan aku… Aku sungguh-sunggun minta maaf. Aku minta maaf karna tidak menjaganya dengan baik… "
Rasa sakit dalam perutnya tiba-tiba membali terasa dan semakin menjadi membuatnya semakin tersiksa seiring dengan tangisannya. Airmata kembali mengalir bercampur dengan keringatnya. Sebuah ekspresi kecewa Nathan hadir dalam pikirannya. ia tidak ingin Nathan lebih marah padanya.
__ADS_1
Tapi,semua yang telah terjadi kini tinggal penyesalan. Yang harus ia jaga dalam perutnya sudah tidak ada. Ia mungkin akan diceraikan oleh Nathan karna keguguran ini. Rasanya sakit dan Viona benar-benar tidak bisa membayangkan jika dirinya harus hidup tanpa Nathan.
Viona lebih memilih menelan bara api dalam tubuhnya daripada harus kehilangan calon bayi mereka dan… suaminya.
"Oppa... Oppa... " Panggil Viona dalam tangisannya meski ia tahu orang yang ia panggil mendengar jelas panggilannya. Bahkan orang itu berusaha untuk menenangkannya tapi Viona seolah tuli dan larut dalam ketakutannya sendiri. "Oppa… maafkan aku, aku mohon jangan membenciku. Jangan membenciku... jangan tinggalkan aku. Jangan menceraikanku," isaknya memohon.
Nathan menggeleng. "Tidak Sayang, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan selalu bersamamu dan tetap di sisimu apapun yang terjadi," ujar Nathan meyakinkan. Hatinya seperti di remas melihat keadaan Viona saat ini. Dan memangnya suami mana yang tidak akan hancur dan sakit saat melihat belahan jiwanya terpuruk seperti ini.
"Maafkan aku Oppa... maafkan aku... Aku sungguh-sungguh minta maaf..."
Karna tidak sanggup mengatasi emosinya membuat Viona kembali kehilangan kesadarannya. Airmata tetap mengalir dari emerald yang tertutup oleh kelopaknya. Nathan mendongakkan wajahnya. Hatinya benar-benar hancur melihat keadaan Viona.
Dan untuk pertama kalinya Nathan merasakan kehilangan sebagian dari dirinya. Apa yang menimpa Viona membuat Nathan semakin sakit dan hancur. Memangnya suami mana yang tidak merasa sedih dan hancur ketika melihat istri yang sangat dia cintai sedang terpuruk seperti ini.
Nathan melonggarkan pelukkannya dan mendapati Viona yang sedang terlelap. Dengan perlahan dan hati-jati Nathan membaringkan kepala Viona di atas bantal kemudian menyelimuti tubuhnya dengan selimut sampai sebatas dada. Pandangannya tak lepas sedikit pun dari wajah sembab nan pucat itu.
Nathan masih menatap wanita yang tertidur nyenyak disampingnya. Matanya bengkak dan wajahnya terlihat sangat lelah. Nathan menghela nafas berat, manik coklatnya kemudian turun ke perut Viona yang terlihat rata itu dan mengelusnya dengan perlahan. Sudah tidak ada lagi kehidupan di dalam sana, karna janin itu telah tiada.
"Ahhh, sial. Kepalaku kenapa pusing sekali?" geram Alex sambil memegangi kepalanya. Pria itu baru saja sadar dan terbebas dari pengaruh obat bius Cherly.
"Eo. Nathan, kau sudah datang. Maaf kami ketiduran," sesal Bima sambil memegangi kepalanya yang serasa ingin pecah.
"Sebaiknya kalian pulang saja. Kalian berdua terlihat buruk. Kai ada di luar, dia akan mengantar kalian pulang," ucap Nathan tanpa menatap lawan bicaranya.
"Kau tidak apa-apa di sini sendiri?" tanya Bima memastikan.
"Hn,"
"Baiklah kita berdua pulang dulu." Ucap Alex dan pergi begitu saja.
Nathan sungguh menyesali apa yang terjadi hari ini. Jika saja dia bisa menemani Viona dan tidak membiarkannya pergi tanpa perlindungan. Pasti hal semacam ini tidak akan terjadi dan calon bayi mereka masih baik-baik saja. Nasi sudah menjadi bubur, di sesali juga percuma. Karna apa yang sudah pergi tidak mungkin bisa kembali lagi.
-
"Yakk!! Bocah, apa yang kalian lakukan padaku? Lepaskan aku!!" teriak Cherly menuntut.
Ketiganya menggeleng dengan kompak. "Tidak mau!!"
"Kalian,"
"Nunna, bukankah kau sering melakukan hal semacam ini pada teman-teman priamu? Jadi kenapa kau harus kesal dan marah? Setidaknya kau harus membagi keindahanmu dengan kami juga Nunna-ya. Kami berani kok membayarmu dengan harga tinggi." Ujar Frans.
"Kalian sudah bosan hidup ya? Lepaskan aku bajing** kecil!!" teriak Cherly menuntut.
"Ck, Bibi kau terlalu berisik." Geram Rio lalu menyumpal mulut Cherly dengan kaos kaki Frans yang tidak di cuci selama hampir satu bulan.
Mata Cherly membelalak, dan akhirnya wanita itu kehilangan kesadarannya karna aroma dari kaos kaki Frans yang menyumpal mulutnta. "Ya, dia malah pingsan," seru ketiga pemuda itu kecewa. Dan apa yang Cherly alami hari ini baru awal, untuk kedepannya tidak ada yang tau bagaimana ending dari nasib Cherly. Apakah dia memilih mengakhiri hidupnya atau malah menjadi gila? Entahlah karna hanya waktu yang bisa menjawabnya.
-
"Satu Minggu Kemudian"
Sinar matahari pagi, menyeruak masuk melalui celah-celah tirai pada sebuah ruangan serba putih dengan aroma menyengat khas rumah sakit yang seolah-olah mengetuk-ngetuk kelopak mata Viona yang pada akhirnya menampakkan sepasang mutiara hazelnya yang tak menampakkan dirinya selama beberapa hari.
Sekali lagi Viona menutup matanya, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retinanya. Sayup-sayup Viona mendengar suara yang beberapa orang yang sangat dia kenal.
Tak lama kemudian Viona mendengar suara yang di tutup di ikuti derap langkah kaki seseorang yang menuju kearahnya. Viona memiringkan kepalanya ke kanan dan kembali membuka matanya perlahan.
Namun langkah orang itu tidak lagi terdengar dan hanya punggung orang itu saja yang bisa tertangkap oleh mata hazelnya. Viona berusaha untuk mengeluarkan suaranya tapi entah kenapa rasanya begitu sulit, Viona memanggil orang itu dengan nada yang sangat pelan
Tapi yang di panggil tidak merespon sama sekali, apakah suaranya begitu pelan?. "Kak Senna," panggil Viona sekali lagi. Namun suaranya kali ini lebih keras dari sebelumnya.
Mendengar suara lemah Viona membuat wanita itu menoleh.
"Vio?" pekik orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Senna Lu. Senna menghampiri Viona dan menampilkan wajah yang sulit di artikan. "Ya Tuhan, setelah hampir satu minggu tak sadarkan diri akhirnya kau bangun juga. Syukurlah, sebentar... Kakak akan mengambilkan minum untukmu," ujarnya.
__ADS_1
Senna tidak bisa menahan rasa bahagianya setelah melihat Viona kembali tersadar. Viona kembali tak sadarkan diri hari itu karga guncangan hebat pada batinya. Senna membantu Viona untuk menyamankan posisinya, mata Senna menunjukkan kelegaan yang teramat sangat. "Kau tau, bagaimana cemasnya kami semua, Nathan terutama."
Namun tidak ada tanggapan dari Viona, wanita itu terdiam dan mencoba untuk mengingat apa yang sebenarnya terjadi.
Bukankah ini adalah rumah sakit? Tapi kenapa dia berada di sini? Mungkinkah dia tidak mengingat apapun tentang apa yang dia alami satu minggu yang lalu, mungkin Viona tidak mengingat jika dia telah kehilangan janinnya?
"Kak Senna, apa yang sebenarnya terjadi padaku? Dan kenapa aku bisa berada di sini?" tanyanya penasaran.
"Vio, apakah kau masih merasa pusing? Adakah bagian tubuhmu yang terasa sakit?" alih-alih menjawab pertanyaan Viona. Senna malah balik bertanya.
Viona terdiam dan berusaha keras untuk mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Kilasan hari itu kembali berputar di kepalanya. Rasa sakit itu, bukan hanya fisiknya... namun juga batinnya. Viona tidak mungkin bisa melupakan bagaimana rasa takut dan panik menyelubungi perasaannya kala itu.
Rasa takut yang tidak bisa Viona lupakan sampai kapan pun.
Lalu Viona mengedarkan pandangannya mencoba untuk menemukan keberadaan Nathan karna sejak pertama membuka matanya dia tidak menemukan keberadaan suaminya.
Hatinya mulai tidak tenang. "Kak Senna, di mana Nathan oppa? Kenapa aku tidak melihatnya sama sekali? Lalu, bayiku? Bagaimana dengan bayiku? Mereka baik-baik saja 'kan?"
Senna menegang sesaat. Ia bingung harus menjawab apa, karna tidak mungkin Senna mengatakan secara terang-terangan pada Viona jika dia telah kehilangan calon bayi kembarnya.
"Apakah aku benar-benar sudah kehilangannya?" lirihnya dengan nada parau. Senna meraih tangan Viona dan menggenggamnya dengan erat.
"Maaf," lirihnya dengan wajah menunduk kebawah. "Bayimu sudah tiada sejak saat Nathan membawamu kemari."
Jlederrrr!!!
Rasanya Viona bagaikan tersambar petir mendengar ucapan Senna. Separuh nyawanya seolah tercabut perlahan-lahan. Segalanya menjadi begitu berat, bahkan hanya untuk mengambil nafas sekalipun. Kedua matanya terasa buram, tertutupi oleh genangan air matanya sendiri. Rasanya seperti ada puluhan batu besar menghantam dadanya. Semangat hidupnya memudar perlahan-lahan.
"Bayiku." lirih Viona di iringi isakannya. Kedua tangannya memegangi perutnya.
Decitan pintu terbuka sedikit mengalihkan perhatian Senna dan Viona. Kedua wanita itu menoleh dan terlihat sosok tampan dalam balutan jeans hitam dan kemeja putih yang menampilkan kedua lengan kokohnya, kehadiran laki-laki itu membuat Viona sedikit menegang.
Sosok itu berdiri sambil menatap Viona tanpa ekspresi, datar. Mata coklatnya membawa gelombang perasaan yang tidak bisa Viona pahami. Rasa takut, rindu, sedih dan sesak menjadi satu. Senna beranjak meninggalkan Viona dan menghentikan langkahnya tepat di samping Nathan. Wanita itu menepuk bahu Nathan seraya membisikkan sesuatu pada sang adik dan di balas anggukan olehnya.
Nathan menghampiri Viona yang tengah menunduk dalam. Isakan keluar dari bibir mungilnya yang membuat hati Nathan semakin perih. Tanpa berkata-kata, Nathan menarik Viona kedalam pelukkannya. "Maaf." lirih Viona di tengah isakannya. Ia benar-benar takut bila Nathan akan merasa kecewa dan marah padanya.
"Untuk apa?"
Isakan Viona semakin hebat. Hatinya benar-benar hancur, kesedihan yang ia rasakan sudah tidak mampu lagi di ungkapkan dengan kata-kata. Uluh hatinya bagaikan di tekan karna rasa sakit dan kehancuran yang dia rasakan. Sakit dan sesak, dua hal yang sulit untuk ia lepaskan. Dan dalam pelukkan Nathan tangisnya semakin pecahl "Jangan menangis lagi, aku mohon." Nathan meletakkan dagunya di atas kepala Viona. Remasan Viona pada kemejanya membuat pelukkan Nathan semakin erat.
"Berhenti, Viona." mohonnya.
Seakan tuli. Wanita itu tak menggubris ucapan Nathan. Tubuhnya bergetar hebat dan tangisnya semakin kencang seiring rasa bersalah yang ia rasakan semakin besar. "Maaf Oppa. Hiks, aku istri dan ibu yang sungguh tidak berguna. Ini semua salahku, karna diriku aku kehilangan bayi kita. Hiks, maafkan aku... maafkan aku." lirihnya penuh rasa bersalah. Natha mendongakkan wajahnya, mencoba menghalau agar cairan yang menggenang di pelupuk matanya tidak sampai menetes.
"Hentikan, Viona. Aku mohon." Lirih Nathan memohon.
"Ini salahku, Oppa! Aku ini Ibu yang buruk, hiks aku tidak berguna. Dia tidak pantas menerima ini, harusnya aku. Aku yang bersalah di sini. Maafkan aku, Oppa. Maafkan aku, hiks."
Dengan kasar Nathan mendorong tubuh Viona dan menatapnya tajam. "Aku bilang cukup. Aku muak mendengar kata-kata bersalahmu itu, berhenti menyalahkan dirimu. Ini adalah musibah, tidak ada yang perlu di salahkan dalam hal ini." ujarnya tajam.
Tangis Viona sedikit mereda, wanita itu membenamkan wajahnya di antara kedua kakinya. Mati-matian Viona menahan agar isakannya tidak lagi terdengar setelah mendengar nada bicara Nathan yang tajam. Wajahnya menunduk dalam dan Viona tidak lagi memiliki keberanian untuk menatap wajah Nathan barang sejenak.
Sebelah tangan Nathan terulur untuk meraih kepala coklat Viona dan membenamkan didadanya. Tatapannya kembali melunak, tidak seharusnya ia membentak Viona. Hanya saja Nathan tidak ingin bila Viona terus-terusan menyalahkan dirinya atas kepergian calon bayi mereka. Itu bukan kesalahan Viona karna yang terjadi adalah takdir.
Hatinya rasanya seperti di remas melihat keadaan Viona saat ini, Nathan tau bila wanita itu kini dalam keadaan hancur. Tidak ada lagi kehangatan yang bisa Nathan rasakan dari wanitanya dan mata hazelnya yang biasanya memancarkan kehangatan kini tampak redup dan hampa. Viona terlihat jauh lebih hancur dari yang terlihat. Sehancur inikah wanita itu karna kehilangan calon buah hati yang begitu dia inginkan kehadirannya.
"Aku mohon, jangan menangis lagi." Pinta Nathan dengan nada rendah, suaranya terdengar parau seperti menahan isakan. "Tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi, ini adalah musibah."
Viona kembali menangis, hanya isakan yang keluar dari bibirnya namun itu jauh lebih menyayat hati dan perasaan Nathan.
Nathan mendesah berat. Memang tidak mudah menenangkan Viona dalam keadaan seperti ini. Namun sebagai seorang suami ia harus bisa membuat wanita itu selalu tenang dan baik-baik saja.
Berbicara panjang lebar pun tidak akan berpengaruh apa pun, itu tidak ada gunanya sama sekali. Karna dalam hati Viona masih di selimuti rasa bersalah. Nathan semakin mengeratkan pelukkannya pada tubuh Viona yang semakin lama terasa semakin memberat. Nathan mendengus , karna terlalu lama menangis sampai-sampai Viona tertidur dalam pelukkannya.
-
__ADS_1
Bersambung.