
Riders, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya ISTRI CANTIK MAFIA KEJAM tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗🤗
-
Zian menepihkan mobilnya di Area Sungai Han ketika mata abu-abunya melihat pria yang semalam memeluk Luna. Luna yang merasa bingung kenapa Zian tiba-tiba menghentikan mobilnya? Luna mengikuti arah pandang Zian dan mendapati seorang pria yang sangat familiar duduk sendiri di salah satu bangku taman.
'Mark..?' ucap Luna membatin.
Cklekkk...!!
Zian membuka pintu di samping kirinya dan hendak turun untuk menegur laki-laki itu namun segera di hentikan oleh Luna. "Oppa kau mau kemana?" tanya Luna sambil menahan lengan Zian. Zian menatap datar lengannya yang di genggam oleh Luna.
"Memperingatkan laki-laki itu agar tidak mengganggu dan mendekatimu lagi." ucapnya terlewat datar
"Aku rasa itu tidak perlu, toh dia juga bukan siapa-siapa untukku. Aku tidak ingin kau membuat keributan, jadi sebaiknya kita pulang saja."
Zian menatap Luna dengan senyum meremehkan. Zian berfikir bila Luna lebih membela laki-laki itu "Oh begitu, jika kau lebih membela dia di bandingkan suamimu sendiri?? Baiklah, jika dia lebih penting dariku. Pergilah, aku tidak akan menahanmu."
"Apa kau mulai meragukanku?" tanya Luna dengan suara paraunya. Mata coklatnya memandang Zian dengan berkaca-kaca. "Aku tidak pernah berniat untuk membuatmu kecewa apalagi menghianati pernikahan kita. Aku fikir kau sudah mengenalku dengan baik Oppa, tapi ternyata aku salah. Kau sama sekali belum mengenalku, aku..."
Chu...!!!
Zian tidak memberikan kesempatan pada Luna untuk menyelesaikan kalimatnya. Zian menarik tengkuk Luna dan menyatukan bibir mereka. Luhan memagut bibir Luna dengan kasar dan frontal, tidak hanya pagutan saja, Zian juga menggigit-gigit kecil bibir Luna.
Setelah satu malam memendamnya, akhirnya Zian melampiaskan kecemburuannya melalui ciuman itu. Zian hanya ingin Luna tau betapa ia sangat cemburu saat melihatnya di peluk oleh pria lain. Zian terus memagut bibir Luna hingga membuat wanita itu kewalahan, sampai pukulan ringan pada dadanya menghentikan aksi gila Zian. Zian mengakhiri ciuman itu setelah hampir 3 menit ******* bibir Luna tanpa jeda.
'Hosh.. Hosh.. Hosh...'
Keduanya saling berebut oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-paru mereka yang mulai kosong. Zian menangkup wajah Luna dan menyatukan kening mereka
"Aku cemburu, Sayang. Aku sangat-sangat cemburu saat laki-laki itu memelukmu. Itulah kenapa sejak semalam aku mendiamimu dan mengabaikanmu. Aku sungguh-sungguh tidak rela jika milikku di sentuh oleh orang lain terlebih itu adalah seorang pria." tutur Zian setelah panjang lebar.
Luna tersenyum tipis, wanita itu sudah menduganya. Luna menjauhkan wajahnya dari Zian dan berbalik menangkup wajah pemuda itu dengan matanya mengunci manik abu-abu milik Zian "Percayalah padaku, Oppa. Aku hanya milikmu, aku hanya mencintaimu, hanya kau satu-satunya pria yang aku inginkan di dalam hidupku. Jadi, jangan pernah meragukan cintaku padamu." Mohon Luna tanpa mengakhiri kontak matanya.
Zian tidak memberikan jawaban apa-apa dan sebagai gantinya, Zian kembali menyatukan bibir mereka dan ciuman kali ini lebih lembut dan lebih singkat dari ciuman sebelumnya.
"Maaf, Sayang."
__ADS_1
"Apa itu artinya kita sudah baikan lagi?" tanya Luna antusias, Zian mengangguk.
Luna tersenyum dan menghambur memeluk Zian. Zian menarik sudut bibirnya, mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan sang istri. Zian melepaskan pelukannya. "Aku sangat lelah, bisakah kita pulang sekarang," Luna menatap Zian penuh harap.
Pria itu tersenyum kemudian mengangguk, dan dalam hitungan detik mobil sport merah itu meninggalkan area taman.
Sementara itu, Simon dan Adrian yang sedari tadi diam-diam mengikuti pasangan Zian-Luna. Kini mereka tau apa alasan mereka bertengkar dan saling perang dingin, melalui penyadap yang secara diam-diam mereka letakkan di mobil Zian. Simon dan Adrian dapat mendengar semua apa yang mereka berdua bicarakan.
Kini perhatian mereka terpusat pada sosok pria yanh sedang duduk di bangku taman, tidak sulit bagi mereka untuk menyimpulkan jika laki-laki itu adalah orang yang Luna dan Zian bahas dalam perdebatan singkat itu karna memang hanya dia satu-satunya pria dewasa di taman itu.
"Permisi, maaf apa kau temannya Luna nunna??" tanya Simon sesopan mungkin.
Merasa ada yang bertanya padanya. Sontak saja laki-laki itu 'Mark' mengangkat wajahnya, dan mengangguk. "Ya, aku Mark dan orang terdekatnya." jawab Mark.
"Aku tidak akan bertele-tele. Mark-ssi aku peringatkan padamu, sebaiknya mulai detik ini jangan mengganggu Luna nunna lagi. Dia sudah bahagia dengan suaminya, dan karna dirimu hampir saja rumah tangga Luna nunna dan Zian hyung berantakan. Jauhi, Luna nunna dan jangan mencoba mengusik hidupnya lagi jika kau tidak ingin mengalami hal yang buruk di dalam hidupmu. Oke, bye." Simon melambaikan tangannya dan berlalu begitu saja, meninggalkan Mark sendiri di taman itu.
"Jadi, Luna sudah menikah? Mungkinkah pemuda yang aku lihat semalam adalah suaminya?? Dan apa itu artinya sudah tidak ada lagi kesempatan untukku mendapatkan hatinya?? Dan mungkin ini sudah saatnya aku menyerah." gumam Mark lirih. Mark mendesah berat. Sepertinya usahanya selama ini akan sia-sia saja karena Luna sudah ada yang memiliki.
.
.
.
Luna merebahkan tubuhnya pada sofa setibanya ia di rumah yang sejak menikah dia tempati bersama Zian. Zian menghampiri Luna setelah mengunci pintu rumahnya. Zian mendekati Luna lalu mendaratkan tubuhnya di samping wanita itu. Luna segera menyandarkan kepalanya di dada bidang Zian.
"Kau tau?" Luna meraih tangan Zian dan menggenggamnya. "Aku sangat ketakutan saat kau mendiamiku dan bersikap seperti kutub utara padaku, aku seperti kehilangan arah. Aku merasa begitu frustasi karena kau terus saja mendiamiku. Kau membuatku hampir gila karna ketakutan, Oppa," Luna berceloteh, menceritakan ketakutannya semalam saat Zian mendiaminya.
Zian tak memberikan respon apapun dan hanya diam dan menjadi pendengar setia untuk cerita Luna. Sebenarnya Zian juga tak ingin mendiami Luna tapi hatinya terlalu panas setiap kali mengingat ketika pria itu memeluk istrinya.
"Aku tidak pernah tau jika saat cemburi kau bisa semenyeramkan itu." Luna terkekeh.
Wanita itu menggerak-gerakkan tubuhnya, mencari tempat yang nyaman di dada bidang Zian yang hanya tertutup kaus tanpa lengannya.
Zian merangkul pundak Luna, sedangkan wanita itu bersandar pada dada bidang suaminya. Sejauh ini Zian tidak memberikan respon apa pun pada semua celotehan Luna. Zian hanya diam dan mendengarkan, sesekali sudut bibirnya tertarik keatas melihat raut wajah Luna yang berubah-ubah.
"Hm, maaf." ucap Zian seadanya.
Luna mencerutkan bibirnya, ia sungguh tidak puas dengan respon Zian. Ia sudah berceloteh panjang lebar dan Zian hanya menanggapi dengan kata 'Maaf' saja. Benar-benar menyebalkan, batin Luna.
__ADS_1
"Huft, memangnya tidak ada kata lain selain kata maaf? Aishhh... bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta pada pria yang irit bicara sepertimu." Keluh Luna sambil mencerutkan bibirnya.
Alih-alih marah, Zian malah terkekeh mendengar dumalan sang istri. Di matanya Luna begitu menggemaskan. Zian menarik kepala Luna agar semakin mendekat dan menyatukan bibir mereka. Zian mencium singkat bibir ranum itu.
"Dasar kau ini." Zian menjitak gemas kepala Luna setelah melepaskan tautan bibirnya kemudian merengkuh tubuh wanita itu kedalam pelukannya.
Zian meletakkan dagunya di atas kepala coklat terang wanita itu, menutup matanya yang terasa lelah. Tidak sampai tertidur, Zian hanya sekedar menutup matanya dan meresapi kebersamaannya dengan Luna yang selalu membuatnya bahagia.
-
"KKKYYYYAAAA.... SETAN...!!!!"
Suara Tao menggema, menggelegar mengguncang seisi rumah. Nyaris saja Tao terkena serangan jantung dadakan karna kejahilan Trio kadal. Ketiga pemuda itu muncul di depan Tao dengan kostum anehnya, alhasil Tao pun terkejut setengah mati dan terjengkang kebelakang.
"Tao, panda,,,, kemarilah dan serahkan perjakamu pada kami. Hihihi...."
"Pait... pait... pait... menjauhlah dariku, aku ini bukan perjaka lagi, aku sudah pernah di tiduri oleh gadis-gadis di bar. Lagi pula darahku tidak enak, darahku rasanya pahit sedikit asam. Jadi jangan menghisap darahku. Aroma darahku juga sangat tidak enak, rasanya mirip besi berkarat" rancau Tao tanpa tau apa yang ia katakan.
"Aku menyukai darah yang pahit dan sedikit asam. Aku juga menyukai darah yang beraroma besi berkarat. Itu darah kesukaanku. Kemarilah dan jadilah tumbalku." Satya bergerak menghampiri Tao, sepertinya pemuda itu masih belum sadar jika yang ada di hadapannya bukanlah hantu sungguhan melainkan trio karal yang sedang menyamar.
"Kkkyyyyaaa....!!! Pait.. Pait.. Pait... Pergi kalian bertiga. Hahaha... Huaaa, Ibu... Tolong anakmu." seru Tao histeris.
Frans dan Rio tiba-tiba berhenti ketika mereka merasakan aroma aneh pada tubuh Tao sampai mereka berdua melihat celana bagian depan Tao basah. Ketiga pemuda itu pun membelalak. Frans menarik topeng yang menutupi wajahnya.
"Omo? Hyung, kau ngompol?" pekiknya tidak percaya.
"Bwahahahha.... kau sangat mengelikan hyung, selain penakut ternyata kau tukang ngompol juga ya??" ujar Satya meledek.
Kedua mata Tao lantas membelalak saking kagetnya. Dia sungguh tidak menduga jika yang ada dihadapan bukanlah hantu sungguhan melainkan trio kadal. "Jadi? Ini adalah ulah kalian bertiga? Astaga, lagi-lagi aku di kerjai oleh bocah-bocah tengil ini. Frans, Satya, Rio kemari kalian bertiga." Teriak Tao yang sudah berancang-ancang untuk mengejar ketiga pemuda itu.
Kedua tata Frans, Satya dan Rio lantas terbelalak sempurna melihat Tao berlari kearah mereka.
"Hiaaaa.....!!! Ada pansa ngamuk. Siapa pun tolong kami....." jerit ketiganya histeris.
Aksi kejar-kejaran antara mereka berempat pun tidak dapat terhindarkan. Theo dan Alexyang melihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepala seraya menghela nafas. Kelakuan mereka bertiga membuat mereka bertua hanya bisa mendengus geli sambil mengelus dada, dan tawa mereka pecah saat melihat Rio terjengkang karna terpeleset kain panjang yang ia gunakan sebagai jubah.
Rio jatuh dengan sangat tidak elit, pantatnya mendarat lebih dulu. Bukan hanya Rio saja, namun Satya dan Frans juga. Bukannya merasa kasihan dan membantu mereka. Tao justru tertawa terbahak-bahak melihat insiden menggelikan itu. Karna menurutnya itu adalah karma yang dibayar lunas.
-
__ADS_1
Bersambung."