Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 111) Akhir Yang Bahagia


__ADS_3


Riders tercinta, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang baru saja netes. Judulnya AKIBAT CINTA SATU MALAM tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗🤗


-


Serapat apapun Zian mencoba menutupinya dari Luna. Tapi pada akhirnya Luna tau juga jika Dean telah meninggal. Meskipun dia terkejut, tapi Luna bisa menerima kepergiannya dengan mudah. Bahkan dia tidak menangis ataupun terlihat sedih, Luna malah berkata itu pantas untuk manusia tak berhati seperti dia.


Dan Zian tidak pernah menduga dengan respon Luna setelah dia mendengar kabar kematian kakak angkatnya tersebut.


"Kau tidak sedih mendengar kepergian dia?"


Luna menggeleng. "Untuk apa bersedih dan menangisi kematian manusia seperti dia. Bahkan 1000X kematian pun tidak akan cukup untuk menebus kesalahan dan dosa yang dia lakukan pada, Papa!!" ujar Luna di tengah kesibukannya mengganti perban pada pelipis Zian.


"Apa sedalam itu kebencianmu padanya, Lun?"


"Lebih dalam dari itu," jawab Luna datar.


Zian memahami betul apa yang Luna rasakan. Lagipula anak mana yang tidak akan marah saat mengetahui ayahnya meninggal di tangan orang terdekatnya, terlebih lagi itu ditangan putra kandungnya sendiri karena hasutan orang lain.


Luna menyeka air matanya yang membasahi pipinya. "Aku akan membereskan ini dulu." Luna hendak beranjak namun segera ditahan oleh Zian. Zian meraih bahu Luna dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya.


"Jika ingin menangis, menangislah. Jangan pernah di tahan, karena itu hanya akan membuatmu semakin sakit dan terluka." Zian memejamkan matanya dan mengusap punggung Luna dengan gerakan naik turun.


Lembutnya usapan Zian para punggungnya, mengiringi jatuhnya tetes demi tetes air mata yang sedari tadi Zian tahan. Suasana kamar yang semula hening, kini mulai terdengar isakan kecil yang teredam.


Walaupun Luna membenamkan wajahnya di dada Zian, namun suara tangis pilunya tetap tidak bisa ditutupi. Segala bentuk rasa kecewa, sakit hati, putus asa, dan marah menguasai dirinya hingga membuatnya lepas kendali.


Luna tak lagi membenamkan wajahnya, dia sedikit menarik kepalanya menjauh dari dada suaminya, wanita itu kini mengeluarkan tangisnya begitu saja. Air matanya mengalir semakin deras, dan nafasnya terasa sangat berat.


Sesak.


Ia juga merasakan hal itu jauh di lubuk hatinya yang paling dalam. Luna sangat marah, dia marah karena takdir selalu berlaku tidak adil padanya, dia kesal dan kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi ayahnya.


Jika saja malam itu Luna tau jika ayahnya akan di habisi, pasti dia sudah pulang untuk mencegah tragedi itu terjadi. Dan sekarang disesali juga percuma. Karena semua tidak akan kembali seperti sedia kala.


Dan disaat Luna mulai tenang. Zian melonggarkan pelukannya. Jari-jari besarnya menghapus jejak air mata yang membasahi pipi Luna.


"Tersenyumlah, kau terlihat jelek jika menangis." Ucap Zian. "Lagipula dia juga tidak akan suka melihat ibunya menangis dan bersedih," Zian tersenyum tipis.


Melihat senyum di bibir suaminya, membuat Luna ikut tersenyum juga. Kemudian dia berhambur ke dalam pelukan Zian. Memeluk suaminya itu dengan erat.


"Oppa, jika kau ingin pergi dan memberi penghormatan terakhir pada Dean, kau pergi saja. Aku akan tetap di rumah." Luna melepaskan pelukannya. "Tapi jangan lama-lama, dan jangan lupa belikan aku es krim kacang merah."


Zian mengecup singkat kening Luna dan mengangguk. "Baiklah, kalau begitu aku siap-siap dulu." Luna mengangguk.


Kali ini saja, Luna ingin bersikap egois. Dia benar-benar tidak ingin datang ke pemakaman dan memberikan penghormatan terakhir pada Dean.


Luna masih sangat sakit hati atas apa yang pernah Dean lakukan pada tuan Leonil. Tanpa perasaan, Dean membunuh ayah kandungnya sendiri dan Luna masih belum bisa melupakan kejadian malam itu.


-


Suasana pemakaman Dean berlangsung dengan senyap. Tak ada Isak tangis keluarga yang turut mengantar kepergiannya, orang-orang terdekatnya datang untuk memberikan penghormatan terkahir untuk Dean. Hanya sosok Luna yang tidak terlihat hadir di pemakaman.


Langit sudah berubah menjadi lebih gelap, bukan karena akan turun hujan. Tapi matahari sudah menyelesaikan pekerjaannya untuk menyinari Kota Seoul. Dan di depan tempat istirahat terakhir Dean masih ada Nathan, Viona dan Luna. Ketiganya hanya menatap datar gundukan tanah yang masih terlihat basah itu.


"Apakah Luna, baik-baik saja?" tanya Viona memastikan.


Zian mengangguk. "Ya, dia baik-baik saja. Bahkan dia tidak menangis sama sekali."

__ADS_1


"Sudah hampir turun hujan, sebaiknya kita pulang sekarang." Ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Zian dan Viona.


Dalam perjalanan pulang. Tak lupa Zian membeli pesanan Luna, yakni es krim kacang merah. Zian tidak ingin jika istri cantiknya itu sampai ngambek karena keinginan kecilnya tidak di turuti.


.


.


"Oppa!!!" seru Luna menyambut kepulangan Zian. Tubuh Zian terhuyung kebelakang karena pelukan Luna.


"Ada apa, hm?"


"Aku dan baby Qin sangat merindukanmu," Luna mengangkat wajahnya dari pelukan Zian. "Bagaimana kalau malam ini kau menyapanya? Bukankah kalian berdua harus sering berinteraksi? Supaya ikatan diantara kalian kuat,"


Zian mendengus geli. "Bilang saja kalau kau yang menginginkannya. Dasar kau ini," Zian menjitak gemas kepala coklat Luna. Alih-alih marah, wanita itu malah terkekeh. "Tunggu sebentar, aku mandi dulu." Ucap Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.


Dan Luna sudah tidak sabar untuk menghabiskan malam panjangnya bersama Zian. Semenjak Luna hamil, mereka memang menjadi sangat jarang melakukannya. Zian selalu menolak, alasannya karena dia tidak ingin menyakiti anaknya yang ada di dalam rahim Luna.


Tapi sepertinya malam ini tidak demikian, Dewi Fortuna sedang berpihak pada Luna. Buktinya Zian kau menuruti kemauannya.


-


Waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa usia kandungan Luna sudah memasuki bulan ke 9, dan saat ini wanita itu sedang berada di rumah sakit. Pagi ini Luna mengalami kontraksi hebat dan Viona mengatakan jika adiknya itu akan segera melahirkan. Dan Zian pun langsung membawanya ke rumah sakit karena dia tidak ingin hal buruk sampai menimpa istri dan calon anaknya.


Satu-persatu dokter, suster, mulai memasuki ruang bersalin. Wanita yang tengah berbaring dengan perutnya yang membuncit telah memasuki pembukaan terakhir. Semakin ke sini kontraksinya makin terasa, dan sudah dipastikan jika dia akan segera melahirkan.


Dokter yang membantu persalinan Luna adalah Viona, karena Luna tidak ingin hanya kakaknya yang membantu proses persalinannya.


Viona telah menyuntikan obat perangsang untuk memudahkan proses persalinan Luna nantinya. Lampu besar telah dinyalakan. Peralatan medis yang membuat wanita itu ketakutan telah disediakan di sana.


Ya, Luna memang sangat takut dengan perkataan apapun yang berhubungan dengan dunia medis, apalagi jarum suntik. Luna paling takut jika sudah melihat jarum suntik.


Luna mengangguk dan mulai menuruti perintah sang kakak. Di sampingnya ada Zian yang duduk di sambil menggema tangannya. Mencoba memberikan kekuatan pada Luna yang tengah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan anak mereka.


"Jangan khawatir, Sayang! Karena aku di sini!' gumamnya lirih.


Viona terus memerintahkan pada Luna untuk terus mendorong bayinya. Kepalanya sudah terlihat. Para anggota medis segera membantu bayi itu keluar. Erangan kesakitan menggema di ruang itu. wanita yang sedang berjuang itu terus meremas tangan Zian yang duduk di sampingnya.


Melihat wanita yang dicintainya begitu kesakitan membuat Zian benar-benar tidak tega. Kini dia tahu bagaimana perjuangan ibunya saat melahirkannya dulu. Luna pun melakukan hal yang sama. Mengandung dan melahirkan anaknya.


Perjuangan yang sangat hebat untuk seorang wanita. Mungkin saja jika dirinya yang berada di posisi Luna saat ini tentu tidak akan tahan, atau bahkan tidak akan mustahil jika dia bisa mati. Dan Zian akui jika Wanita memang sangat hebat!


Semakin lama, Luna semakin kesakitan. Tapi dia tidak peduli. Dia ingin ini cepat berakhir. Perjuangan seorang wanita itu besar. Berjuang untuk dua nyawa. Dirinya sendiri, dan anak yang sedang dilahirkan.


"Berjuanglah, Sayang! Aku tahu kau wanita yang kuat." Bisik Zian di telinga Luna. Air matanya pun tak kuasa dia tahan. Dia menangis melihat Luna yang terus kesakitan seperti ini.


Lelaki itu mengintip sedikit ke bawah agar dapat melihat kepala bayi itu sudah keluar. Viona dan beberapa suster terus berusaha membantu mengeluarkan sang bayi dari dalam sana. Tinggal sedikit lagi anaknya akan melihat dunia.


"Arrrghhhh!"


"OEEE... OEEE .. OEE..."


Suara tangisan bayi mulai terdengar. Viona tersenyum sambil mengusap peluh dari keningnya.


"Selamat untuk kalian berdua, bayinya perempuan. Dan dia secantik dirimu, Lun. Tapi dia memiliki mata dan hidung seperti Papanya." ujar Viona yang juga ikut terharu.


Luna menitihkan air matanya begitu mendengar suara tangis pertama anaknya. Sungguh dia tidak menyangka ini. Tapi, baru saja Viona akan memberikan bayi itu padanya, tiba-tiba mata Luna yang berkunang-kunang perlahan tertutup. Masih beruntung dia bisa melihat anaknya sebelum dirinya tak sadarkan diri.


Sedangkan Zian yang juga ada di sana membuka maskernya dan berdiri dari duduknya. "Apa yang terjadi padanya?" tanya Zian panik.

__ADS_1


Air mata sudah tidak bisa ia bendung lagi. Zian sangat panic karena Luna tidak sadarkan diri. Namun Viona mengatakan jika Luna akan baik-baik saja. dia hanya pingsan karena kelelahan pasca melahirkan.


"Tidak perlu panik, Luna baik-baik saja. Dia hanya kelelahan saja." ucap Viona meyakinkan.


"Benarkah?" wanita itu mengangguk. Dan Zian pun kini bisa menghela nafas lega.


Pria yang telah menjadi ayah itu tidak bisa melepaskan pandangannya dari sang anak. Noda darah dan lendir telah dibersihkan, tapi kulitnya masih merah. Zian menghapus air matanya kemurian menggendong anaknya sambil mencoba untuk menenangkannya dengan mengajaknya mengobrol.


Senyum bahagia terus terpancar di wajahnya. Bayi berjenis kelamin perempuan itu seperti duplikat dirinya. Mata yang berwarna abu-abu, kulit putih. Hidungnya masih belum terbentuk. Namun sepertinya akan mirip dengan Zian. Wajahnya persis dengan Luna. Sungguh perpaduan yang sempurna.


-


Dua tahun kemudian:


Luna dan Viona saat ini sedang sibuk di dapur. Malam ini keluarga Qin akan mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan ulang tahun Bianca yang ke dua tahun.


Banyak yang mengatakan jika Bianca adalah Zian versi perempuan, seperti Zian. Bianca juga memiliki mata berwarna abu-abu. Bibir dan bentuk matanya seperti Luna. Bianca adalah kombinasi sempurna Luna dan Zian.


Zian memasuki dapur sambil membawa Bianca di gendongannya, Ia menghampiri sang Istri yang tengah sibuk mengola makanan dengan bantuan Viona. Zian memeluk Luna dari belakang dengan satu tangannya sedangkan tangan satunya Ia gunakan untuk menggendong putri kecilnya.


Luna tersenyum lembut. "Jangan begini, Oppa. Aku sedang memasak!".


"Tapi, Bianca merindukan Mamanya!" kata Zian manja.


"Bianca atau Papanya yang merindukan, Luna!" Kata Viona menengahi. "Bianca Sayang, sebaiknya ikut Bibi saja!" Viona mengambil Bianca dari tangan Zian dan membawanya pergi dari dapur.


Di dapur hanya menyisahkan Zian dan Luna, tangan kiri Zian dengan lihai mematikan kompor yang masih menyala kemudian pandangannya bergulir pada sepasang mutiara coklat milik Luna.


"Aku belum medapatkan jatahku, hari ini!" ucap Zian setelah berbisik.


Kemudian tangan kanannya membelai wajah Luna kemudian menyelipkan beberapa helai rambut kebelakang telinganya. Tangan satu lagi menarik pinggang Luna dan memeluknya dengan erat, Zian memiringkan kepalanya dan mempersatukan bibirnya dengan bibir Luna kemudian melum** nya.


Tangan Luna mengusap lengan berotot Sian yang terbuka, lalu pandangannya bergulir pada tribal tatto di lengan kiri suaminya. Lunq tidak bisa melepaskan pandangannya dari tribal itu, kemeja tanpa lengan yang Zian kenakan mempermudakan Luna untuk menatap tribal itu dengan sepuasnya.


Mereka masih berciuman dengan panas, tangan Zian merambat di punggung Luna dan perlahan menurunkan resleting pada gaunnya. Posisi Lunq tidak lagi berdiri, kini wanita itu duduk di meja pantri dengan Zian berdiri di depannya seperti hendak memasukinya.


Glukkk .. !!!


Susah payah Reno menelan salvanya dengan tangan memegangi hidungnya yang tiba-tina mengeluarkan darah, sedangkan Adrian memilih menutup matanya dan membekap hidungnya mengunakan sapu tangan. Adrian dan Reno harus menghentikan langkahnya dan mengurungkan niatnya untuk menemui Zian setelah melihat live show itu.


Dari arah belakang muncul Nathan yang langsung menarik keduanya untuk menjauh.


Sementara itu, di ruang keluarga tengah riuh menyaksikan live show mereka melalaui kamera CCTV yang sengaja Reno pasang di dapur.


Semua orang menahan nafasnya melihat bagaimana mahirnya Zian dan Luna saat berciuman. Trio karal yang masih belum berpasangan memilih untuk mengintip dari balik bantal sofa yang di ketakkan di depan muka mereka. Sementara Cherly, Kirana dan Sunny begitu bersemangat melihatnya.


Sedangkan Viona memerah membayangkan jika yang berada di situ Nathan dan Dirinya. Sedangkan Bima hanya bisa gigit jari, dia merutuki kegilaan Luna dan Zian yang melakukan adegan panas yang membuat siapa pun menjerit saat melihatnya.


Memang bukan hubungan suami-istri. Hanya sekedar berciuman panas namun mampu membuat siapa pun akan merinding saat melihatnya.


Dalam ciuman itu, baik Luna maupun Zian sama-sama ingin menyampaikan betapa besar mereka saling mencintai. Zian telah memenuhi janjinya untuk selalu menjaga Luna dan Bianca.


Dan tidak ada kebahagian yang lebih sempurna di bandingkan dengan kehadiran mereka berdua di dalam hidupnya. Karna kedua bidadari itulah yang telah menyempurnakan hidup seorang Zian Qin.


-


The End.


Akhirnya setelah berbulan-bulan. Novel ini kelar juga. Terimakasih buat semua riders yang sudah mengikuti cerita ini dari awal sampai akhir. Selanjutnya Author mau fokus sama novel SUAMIKU TUAN MUDA LUMPUH & ETERNAL LOVE.

__ADS_1


__ADS_2