Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 120 "Pria Dengan Satu Wanita"


__ADS_3

Suara memekakkan telinga ditambah bass tinggi lengkap dengan lampu disko menjadi latar tempat yang menjadi tempat berkumpulnya para pendosa.


Di sebuah ruangan khusus yang berada di lantai teratas club, sekelompok orang bersetelan jas hitam duduk tenang diatas sofa yang telah disediakan. Mereka adalah anggota mafia Japok. Seorang pria dengan jas hitamnya duduk diatas sebuah bangku khusus. Ia adalah perantaranya ketua mafia Japok. Donny Kin.


"Lonso?" Kin memanggil seorang pria berwajah kebarat-baratan didepannya.


"Ada apa, Tuan?" Sahut Alonso yang tadinya sibuk menendang angin dengan gerakan beladirinya


"Sudah waktunya untuk melaksanakan rencana Boss Besar. Apa kau sudah mempersiapkan semuanya?" tanya Donny memastikan.


"Sudah, Tuan. Dan saya sebagai orang kepercayaanmu tidak akan melupakannya," jawab Alonso dan kembali memasang dasi dan jas hitamnya


Donny mengangguk. Alonso pun berpamitan kepada empat anggota teratas Japok dengan cara membungkukkan badannya. Setelah itu Alonso pun keluar dari ruangan.


.


Bukan Rio, Frans dan Satya namanya jika tidak membuat kehebohan dan orang-orang geleng-geleng kepala oleh kelakuan ajaib mereka. Saat ini ketiga pemuda itu plus Kakek Xi sedang berada di salah satu club malam ternama yang berada di kota Seoul.


Layaknya anak muda. Kakek Xi ikut menari di Dance Floor dan membaur menjadi satu dengan pengunjung lainnya. Si Kakek tidak merasa risih meskipun harus berdesak-desakan dengan banyak orang. Sedangkan si trio asik menari seperti cacing kepanasan.


"YAKK!! DI MATA MATAMU?" seorang pria berteriak saat Rio tidak sengaja menabraknya dari belakang.


"Yeee. Santai saja bung, tidak perlu pakai esmosi," ucap Rio menyahuti.


"Sudah salah malah melawan lagi. Apa kau sudah bosan hidup eo? Apa kau tau siapa aku?" teriak pria itu.


"Tentu saja aku tau. Kau itu pria botak bertubuh pendek dengan perut buncit persis seperti berudu katak!!"


"Yakkk!! Berani sekali kau mengatai diriku!!" amuk pria itu seraya menodongkan senjatanya pada Rio.


Refleks Rio mengangkat kedua tangannya dan matanya sedikit membelalak. "Wow, kau menakutiku, Paman!! Bagaimana kalau peluru ity sampai menembus kepalaku? Aku nanti bisa mati, kalau aku mati dan menkljadi hantu tampan bagaimana? Aish, aku pasti akan sangat meresahkan para hantu wanita. Jadi turunkan senjatamu itu, Paman. Dan... Omo!! Ada apa di sana?" Rio memekik keras membuat pria itu menoleh seketika dan situasi itu Rio manfaatkan untuk merebut senjata tersebut dari tangannya.


"Yakk!! Kembalikan senjataku!" teriak pria itu menuntut.


"Ambil sendiri kalau bisa," seru Rio menantang.


"Bocah! Aku pasti akan membunuhmu!!"


Brugg..


Pria itu jatuh dengan tidak elitnya setelah kaki kanannya menabrak sesuatu. Wajahnya berciuman dengan lantai dan membuat dua gigi terdepannya sampai patah. "Ups, maaf kami tidak sengaja. Lain kali kalau jalan pakai mata juga, jangan cuma pakai kaki saja," ujar Satya tanpa merasa bersalah sedikit pun.


"Bocah sialan, bukannya minta maaf dan membantuku berdiri kau malah ceramah!!" teriak pria itu marah.


"Paman, aku dengar kau terus-terusan berteriak, pasti tenggorokanmu sakit. Ini aku bawakan minuman untukmu," seru Frans sambil menyerahkan sebuah minuman pada pria tersebut.


"Nah, ini baru oke." Pria itu pun langsung meminum, minuman yang Frans berikan padanya tanpa rasa curiga sedikit pun. Kedua matanya membelalak saat merasakan sensasi terbakar seperti membakar tenggorokan dan kerongkongannya. "Mi-minuman apa yang sebenarnya kau berikan padaku?" tanya pria tersebut pada Frans.


Frans menatap pria itu tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Oh itu. Flaming Lamborghini," jawab Frans dengan santainya.


"A-apa? Flaming Lamborghini?" pria tersebut mengulang kata-kata Frans.


"Hei anak muda, pasti kau kepanasan bukan? Baiklah, Kakek akan membantumu mendinginkan tubuh," Kakek Xi datang dengan satu ember air yang penuh potongan es batu batu yang kemudian dia guyurkan pada tubuh orang dihadapannya.


"YAKK!! PAK TUA!! APA KAU SUDAH GILA YA!! ARRRKKHH, SEMALAM AKU MIMPI APA BISA BERTEMU DENGAN MANUSIA-MANUSIA SEPERTI KALIAN!!" teriak pria itu setengah frustasi.


"Sam, apa yang terjadi padamu?" tegur Alonso melihat salah seorang dari anak buahnya dilantai dalam keadaan basah kuyub.


"Boss keenam, tolong aku. Mereka yang membuatku seperti ini!"


"Kau benar-benar mempermalukan Japok, dalam sejarah tidak ada anggota Japok yang menagis sepertimu!! Bagaimana jika Boss besar sampai tau, bukan hanya hukuman tapi nyawamu bahkan bisa melayang!!"

__ADS_1


Degg..


Kakek Xi dan trio ajaib tersentak mendengar organisasi yang baru saja disebutkan oleh Alonso. Kakek Xi pun bergerak cepay dengan mengunci leher Alonso sambil menodongkan senjata pada kepalanya. "Yakk! Pak Tua! Apa yang kau lakukan?" teriak Alonso menuntut.


Laki-laki itu mencoba meloloskan diri dari Kakek Xi tapi tidak bisa. Kunciannya terlalu kuat dan tenaganya seperti baja meskipun dia sudah tua. Sedangkan si trio kadal tidak merasa terkejut mengingat jika si kakek adalah mantan Boss besar dari organisasi besar 'Red Devil' jadi tidak mengherankan jika dia begitu hebat dan luar biasa.


"Katakan!! Siapa Boss besar kalian?"


"Tidak mau!! Memangnya apa urusannya denganmu? Cepat lepaskan aku atau kau akan menyesal!!"


"Jangan coba-coba menggertakku, anak muda!! Kau tidak tau dengan siapa kau berhadapan. Yoong, urus kedua pria ini dan buat mereka buka mulut," perintah Kakek Xi yang segera dibalas anggukan oleh Park Yoong.


"Baik Tuan Besar,"


Kakek Xi menghubungi Nathan untuk mengabarkan jika dirinya berhasil meringkus dua anggota Japok dan meminta cucunya itu datang ketempat penyekapan.


"Anak-anak, sudah siap untuk pesta lagi?" seru Kakek yang sikapnya berubah 180 derajat dari sebelumnya.


Ketiganya saling pandang dan tersenyum dengan lebar. "SUDAH!!"


"YOO, KITA BERPESTA!!"


"AYO!!"


-


Ting..


Nathan membuka mata kanannya yang sebelumnya tertutup setelah sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Dahinya menyernyit melihar Kakek Xi mengirimkan pesan padanya.


"Pak Tua itu, untuk apa dia mengirimkan pesan padaku?" gumam Nathan penuh kebingungan.


Nathan merubah posisinya menjadi duduk kemudian membuka pesan tersebut. Tanpa menghiraukan Viona yang sedang tertidur lelap disampingnya, Nathan bergrgas pergi menuju tempat di mana kedua anggota Japok itu disekap. Bahkan Nathan tidak mengganti pakaiannya terlebih dulu, dia hanya menambahkan long vest abu-abu sebagai luaran tanktop putihnya.


"Dimana kalian menyekab bajingan itu?" tanya Nathan.


"Mereka ada diruang bawah tanah, mari saya antar Anda menemui mereka berdua,"


Park Yoong mempersilahkan Nathan untuk jalan lebih dulu. Dengan dia berjalan memgekor dibelakang Nathan.


.


.


.


Keringat dingin terus bercucuran di dahi Sam dan Alonso. Baru saja mereka berhasil melarikan diri dari ruangan yang sejak semalam mengurung mereka. Tapi ternyata ruangan tersebut berada di dalam bangunan yang sangat membingungkan. Ruangan gelap dan pengap, seperti ruang bawah tanah. Mereka berdua berlari kesana kemari untuk menemukan jalan keluar tapi tetap tidak ketemu juga.


Pintu pertama yang mereka kira adalah pintu keluar ternyata adalah sebuah ruangan yang berisi berbagai macam alat penyiksaan. Sam dan Alonso langsung mengetahuinya begitu mereka menghidupkan penerangan dalam ruangan tersebut.


Sam dan Alonso pun segera meninggalkan tempat itu dan mencari pintu yang lain. Pintu yang kedua ia buka adalah sebuah ruangan yang dipenuhi dengan jeruji besi. Di balik jeruji besi tersebut terdapat beberapa tengkorak manusia. Aroma busuk dan aroma mirip seperti besi berkarat begitu terasa dan membuat sesak pernafasan mereka berdua.


Sam dan Alonso terperanjat kaget begitu melihat kerangka-kerangka manusia tersebut, "Tu-Tuan, apakah kita akan mati seperti mereka?" tanya Sam dengan suara bergetar.


"Aku juga tidak tau. Kita hanya bisa berdoa semoga!"


Mereka segera menggeledah tempat tersebut, berusaha mencari kunci atau benda apapun yang bisa membantunya membuka gembok. Namun saat ia sedang sibuk mencari, dua pria menghampirinya.


"Mencoba untuk kabur, eh."


Sam dan Alonso segera berdiri dan bersiaga. "Kau, siapa kau dan apa yang kau inginkan dari kami?"

__ADS_1


"Apa perlu aku memperkebalkan diri dulu? Baiklah jika memang itu yang kau inginkan. Perkenalkan, aku Xi Nathan, dan aku ingin agar kalian berdua memberikan informasi mengenai Boss besar kalian, Doris Lu,"


"Jika kami menolak bagaimana?"


"Itu artinya kalian lebih memilih untuk mati," jawab Nathan santai.


"Dan kami lebih baik mati dari pada harus menghianati organisasi!!" jawab Alonso menegaskan.


"Park Yoong, bawa mereka ke ruang eksekusi dan buat mereka berbicara, jika mereka tetap menutup rapat-rapat mulutnya, langsung habisi saja karna mereka tidak berguna lagi untuk kita!" perintah Nathan pada Park Yoong.


Pria itu segera mendekati Alonso dan Sam. Mereka berdua mencoba mempertahankan diri sebisanya. Namun sekeras apa pun mereka mencoba, berdarah China-Korea ini seakan tak merasa kesakitan dengan pukulan yang mereka berdua lontarkan.


Dengan mudahnya, Park Yoong mengunci tangan Sam dan Alonso kemudian menyeret paksa tubuhnya menuju suatu ruangan. "Arrkkhh, apa yang akan kau lakukan pada kami, brengsek!! Lepaskan!!" Alonso terus berteriak dan memberontak ketika Park Yoong mengikat tubuhnya pada sebuah papan yang dipenuhi paku-paku tajam. Yang sewaktu-waktu bisa melukai kulit dan punggung Sam dan Alonso.


"Diamlah dan berhenti berteriak," kemudian Park Yoong menutup mulut mereka berdua dengan sebuah kain hitam.


Park Yoong memberi kode pada anak buahnya, karna merekalah yang akan melakukan tugas dari Nathan. Sedangkan Nathan memutuskan untuk pulang karna menunggu juga opercuma, kedua pria itu belum tentu mau membuka mulutnya. Lagipula Viona bisa kebingungan mencarinya jika dia terbangun dan mendapatinya tak ada di rumah.


.


.


.


Nathan tiba di manion mewahnya pada pukul 02.00 dini hari dan mendapati Viona yang sedang terlelap. Sudut bibir Nathan tertarik keatas melihat wajah polos Viona ketika sedang tidur. Dia terlihat seperti seorang bayi. Nathan mendekatkan wajahnya dan sebuah kecupan lembut bersarang pada kening Viona.


Nathan beranjak dan melenggang pergi. Pria itu membuka pintu kaca yang menjadi pembatas antara balkon dan kamarnya. Ditangannya memegang sebuah gelas berkaki tinggi yang berisi red wine.


Tatapan mata setajam elang itu tak pernah teralihkan dari sang malam. Helai-helai surai coklat miliknya terlihat melayang seolah terbang di tiup oleh sang angin.


Pria berdarah dingin itu berdiri diam dalam remangnya temaram sang malam, sesekali irisnya tertutup oleh kelopaknya menyembunyikan mutiara coklatnya di sana. Tubuh semampainya terlihat indah dalam balutan jins ketat dan sebuah tanktop berwarna putih yang terlihat dari long vest hitamnya yang menampilkan lengan kokoh berotot miliknya.


Iris kanan milik Nathan tersembunyi apik di dalam kelopak matanya dengan juntaian bulu mata lentik terlihat bagai sebuah maha karya besar. Mulai terbuka dengan perlahan. Dia, pria tampan yang memiliki wajah androgini itu memiliki ketampanan nyaris sempurna yang membuat siapapun akan jatuh bertekuk lutut padanya.


"Oppa,"


Pria tampan yang memiliki tatapan mata setajam elang itu menoleh ke asal suara yang memanggilnya. "Sayang, kenapa bangun?" Nathan meletakkan gelas wine-nya kemudian menghampiri Viona yang berdiri diambang pintu sambil sesekali menguap karna rasa kantuknya yang tidak tertahankan.


"Oppa, kau tadi pergi kemana? Aku terbangun dan tidak menemukanmu di mana pun, jangan bilang jika kau ketemuan dengan wanita jepang itu?" tuding Viona penuh selidik.


"Sembarangan. Aku pergi karna Kakek menghubungiku. Kakek, Rio, Satya dan Frans berhasil menemukan dua anggota Japok. Dan aku pergi untuk memastikannya," ujar Nathan memberi penjelasan.


"Oppa, tidak sedang berbohong bukan?" tanya Viona memastikan.


"Silahkan kau hubungi Kakek jika tidak percaya, Park Yoong ada di sana dan kau bisa memastikannya," terang Nathan. "Apa ini bawaan Ibu hamil? Perasaan kau menjadi pencemburu berat akhir-akhir ini," ujar Nathan.


"Tentu saja bukan!! Aku hanya sedikit waswas, aku hanya takut kau serong dengan wanita lain dibelakangku. Apalagi ada wanita ganjen yang sepertinya sangat tergila-gila padamu. Aku hanya merasa takut kau akan berpaling dariku dan beralih pada wanita jepang itu"," tutur Viona sambil mencerutkan bibirnya.


Nathan menakup wajah Viona dan mengunci manik hazelnya. Sudut bibir Nathan tertarik kearas.


"Dengar, Sayang. Aku bukanlah tipe pria yang suka tebar pesona pada setiap wanita. Aku tidak pernah menghalangi mereka untuk menyukaiku, tapi bukan berarti aku juga akan tertarik pada mereka. Dan bagaimana aku akan memunggut batu kali sementara aku sudah memiliki berlian. Kau adalah satu-satunya wanita dalam hidupku, satunya wanita yang layak untuk menjadi Ibu dari anak-anakku. Jadi jangan berfikir macam-macam apalagi berfikir jika aku akan menghianatimu, menghianati cinta kita. Percayalah padaku, karna aku adalah pria dengan satu wanita!!"


Viona menghapus air matanya dan berhambur ke dalam pelukkan Nathan. Betapa bodohnya dirinya, bagaimana bisa ia meragukan suaminya sendiri yang jelas-jelas sangat mencintainya. Dan semenjak hamil, Viona merasa jika dirinya menjadi sosok yang begitu melankolis dan mudah menangis.


"Mianhae Oppa, aku sungguh-sungguh tidak bermaksud untuk meragukan perasaanmu padaku. Entah kenapa aku merasa diriku menjadi begitu melankolis semenjak hamil. Mungkin ini adalah bawaan dari janinku ini,"


Nathan menarik Viona ke dalam pelukkannya dan mendekap tubuhnya dengan erat. Menjadikan kepala colkat Viona sebagai sandaran dagunya. "Aku mengeri, Sayang. Ini sudah hampir pagi, sebaiknya kembali tidur. Aku sangat mengentuk dan ingin tidur sekarang juga," ujar Nathan. Viona merentangkan tangannya.


"Gendong aku sampai kamar," pintanya setelah merenggek.


Nathan mendengus geli. Dengan segera Nathan mengangkat tubuh Viona bridal style dan membawanya masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2