Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 17) "Hanya Sebatas Teman"


__ADS_3

Aksi kejar-kejaran antara Zian dan pria misterius itu pun tidak dapat terhindarkan. Keduanya melompati pagar satu kepagar yang lain, dan dari tembok satu ketembok yang lain.


Meskipun tertinggal cukup jauh namun tak lantas membuat Zian menyerah begitu saja dan membiarkan pria misterius itu untuk lolos. Ia tetap mengejarnya, dan Zian tidak kehabisan akal untuk bisa menghentikannya.


Pemuda itu mengambil balok kayu yang terletak di tanah yang kemudian ia lemparkan pada pria itu dan....


BRUUGGG ... !!! ..


Tepat sasaran, tubuh pria misterius itu terjungkal kedepan. Dengan cepat Zian berlari menghampiri pria itu yang menggeram kesakitan akibat hantaman balok kayu itu pada punggungnya.


Dengan kasar Zian membalik tubuh pria itu dan melepaskan masker serta topi yang di kenakannya. Luna yang baru saja tiba di sana terkejut bukan main setelah melihat siapa pria tersebut.


"Andy!!" pekiknya tak percaya.


Kedua mata Luna membulat tak percaya setelah melihat siapa sosok pria yang berdiri dihadapannya. "Kau mengenalnya, Lun?" tanya Zian menyelidik.


Luna mengangguk. "Dia adalah temanku semasa sekolah dulu. Namanya Andy" Jawab Luna. "Andy, Kenapa kau ingin membunuhku? Memangnya pernah memiliki salah apa aku padamu?" Tanya Luna sambil mengunci iris hitam Andy. Alih-alih ingin menjawab pertanyaan Luna, Andy justru memamerkan smriknya.


SREGGG ...


Dengan kasar Luna menarik pakaian yang Andy kenakan dan menatapnya dengan tajam. "Katakan And, kenapa kau harus melakukan ini padaku?" Teriak Luna di depan wajah Andy.


Andy menarik kedua tangan Luna yang masih mencengkram pakaiannya membuat tubuh gadis itu tertarik kedepan dan menghantam dada Andy.


Andy melingkarkan tangannya pada pinggang Luna untuk semakin mengintimkan tubuhnya membunuh jarak di antara mereka, sedangkan tangan yang satu lagi Andy gunakan untuk membelai wajah Luna yang kemudian Ia alihkan pada rahangnya, Andy mencengkram rahang Luna membuat gadis itu meringis kesakitan.


"Kau ingin tau jawabannya? KENAPA KAU HARUS MENOLAKKU, LEONIL LUNA? BUKANKAH KAU TAU JIKA AKU SANGAT MENCINTAIMU." teriak Andy sambil menekan di setiap katanya.


"Sadarlah, sejak awal kita hanya berteman dan tak ada perasaan berarti di hatiku untukmu. Mengerilah, hubungan tanpa cinta hanya akan membuat kita sama-sama terluka,"


"AAAHHH!! PERSETAN DENGAN ITU SEMUA, AKU TIDAK PEDULI. YANG AKU INGINKAH HANYA KAU MENJADI MILIKKU, LUNA!!" Teriak Andy menyela ucapan Luna.


"Kau memang sudah tidak waras, Andy!!"


"Apa alasanmu menolakku, Lun? Memangnya apa kurangnya diriku? Apa mungkin karna brandan ini." Tunjuk Andy tepat pada sosok pemuda yang berdiri tepat di samping Luna.


Dengan kasar Luna menepis tangan Andy dari depan wajah Zian membuat tangan itu terayun kebelakang. Pria itu menyengai tajam.


"Tidak sopan, tidak seharusnya kau melakukan itu pada orang yang sama sekali tak kau kenal." Umpat Luna tajam.


"Sampai segitunya kau membela dia Lun, hebat. Sangat hebat." puji Andy, namun lebih tepatnya sebuah cibiran. "Sudah saatnya aku mengakhiri semuanya Leonil Luna, jika aku tidak bisa memilikimu. Maka orang lain juga tidak bisa, satu-satunya jalan terbaik adalah dengan aku melenyapkanmu." Ujar Andy kemudian mengarahkan pistolnya pada Luna.


Melihat Luna berada dalam bahaya, tak lantas membuat Zian diam begitu saja. Zian menendang kaki Andy, dan dengan sigap menarik lengan Luna kemudian menjauhkannya dari pria psycho tersebut.


"Sialan kau, rupanya kau benar-benar cari mati." Umpat Andy tajam.

__ADS_1


"Kau fikir aku akan diam saja melihat kau menyakitinya." Kata Zian datar.


"Kalian memang pantas mati." Andy mengeluarkan satu pistol lahi dari balik pakaian yang Ia kenakan dan kemudian Ia arahkan pada Zian serta Luna secara bersamaan.


Pria itu tertawa layaknya orang kesurupan melihat ekspresi yang Luna tunjukan. "HAHAHAHA ... Apa kau merasa takut temanku sayang?" tanya Andy meremehkan.


"Dasar tidak waras." Balas Luna tak bersahabat.


"Dan orang yang kau anggap tidak waras ini sebentar lagi akan mengantarkanmu untuk menemui Ibu serta ayahmu. Kau akan segera bertemu dan menemani mereka berdua." Ujar Andy dengan smrik angkuh terlukis di wajahnya.


Zian mengepalkan kedua tangannya di kedua sisi tubuhnya, Ia benar-benar sudah tidak tahan mendengar ucapan Andy yang semakin ngelantur. Dengan perasaan penuh emosi, Ziam menendang tangan kanan Andy hingga membuat senjata itu terlas dari genggamannya yang dengan sigap di ambil oleh Luna.


"Aaarrrggghhh...!!" Andy menjerit histeris merasakan rasa sakit pada lengan kanannya yang di pelintir kebelakang oleh Zian.


Suara tulang patah mengiringi teriakan keras yang meluncur dari bibirnya. "Aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya apalagi sampai menyakitinya." ujar Zian.


Setelah itu Zian menendang perut Andy hingga Ia terjatuh menghantam tumpukan kayu. Darah seketika mengalir dari sudut bibirnya, dahi dan bagian tubuh lainnya.


Menghiraukan Andy yang sedang terkapar tak sadarkan diri, Zian segera meraih tangan Luna dan membawanya meninggalkan tempat itu. "Kita pergi dari sini." seru Zian datar, yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.


.


.


Dengan ragu Lunaq menolehkan kepalanya dan memberanikan diri menatap wajah Zian yang sedari tadi hanya diam, seketika Ia tersadar jika pemuda itu terluka karna insiden yang baru saja terjadi.


"Ada apa?" suara dingin Zian masuk kedalam pendengaran Luna saat gadis itu tiba-tiba saja menghentikan langkahnya.


"Kau terluka, kita perlu mengobatinya " balas Luna tanpa mengakhiri kontak matanya bersama Zian.


"Tidak perlu, hanya luka kecil saja." tolak Zian.


Luna mengeluarkan tisu dari dalam saku dress yang membalut tubuhnya kemudian mengusapkan pada wajah Zian yang terkena noda darah, yang berasal dari tulang pipinya.


Setelah darah itu bersih, terlihat ada luka sepanjang jari manis melintang pada tulang pipinya. Luka itu masih tetap mengeluarkan darah meskipun Luna telah membersihkannya.


Gadis itu menelisik kesegala penjuru arah, dan pandangan matanya berhenti tepat pada toko obat yang ada di seberang jalan. Tanpa banyak berfikir, Luna segera menarik lengan Zian untuk menuju tempat itu. Untung saja keadaan jalan saat itu sedang sepi, hingga tidak ada kendaraan yang mampu membahayakan nyawa mereka karna aksi nekat Luna.


"Apa yang akan kau lakukan?" Zian memundurkan kepalanya melihat Luna hendak menempelkan kasa pada tulang pipinya.


Luna berdecak kesal. "Jangan bergerak, lukamu harus di tutup agar pendarahannya cepat berhenti." kata Luna sambil menempelkan kasa pada wajah Ziam kemudian merekatkannya dengan plester. Gadis itu tersenyum. "Nah begini kan jauh lebih baik."


"Kau lebih cantik saat tersenyum, Lun. Aku berharap supaya senyum itu tidak sampai pudar lagi dari wajahmu." ujar Zian seraya mengusap wajah Luna menggunakan telapak tangan kanannya.


"Akan aku usahakan." balas Luna tersenyum.

__ADS_1


"Sudah larut, sebaiknya kita pulang sekarang." Kata Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.


.


.


Raut lelah terlukis jelas di wajah Luna, saat ini gadis itu sedang terlelap di dalam mobil Zian. Entah sudah berapa lama Luna tertidur di sana, dan Zian tidak sampai hati untuk membangunkannya. Pemuda itu tetap membiarkan Luna terlelap dalam posisinya.


Saat ini mereka berdua sedang berada di pantai Naksan, pantai yang terkenal dengan Sunrise dan Sunsetnya. Zian melangkahkan kakinya meninggalkan mobilnya dan berjalan menuju bibir pantai, kemudian berdiri di sana. Membiarkan semilir angin pantai membelai wajahnya dan menerbangkan helaian anak rambutnya.


Di bandingkan berada di dalam lingkungan yang ramai dan penuh dengan orang, Zian lebih menyukai suasana yang tenang dan damai. Di mana tidak banyak orang, yang membuat suasana menjadi sesak. Zian memejamkan matanya dan merentangkan kedua tangannya, membiarkan angin pantai menjamah tubuhnya, sambil menghirup sejuknya udara di sana yang terasa begitu sejuk dan alami.


Menenangkan sejenak fikirannya dan melupakan semua peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Selama ini Zian menjalani hidup yang sangat kelam, kedua tangannya selalu berlumur darah para musuhnya. Tak sedikit nyawa orang tak bersalah melayang di tangannya.


Kisah pahit di masa lalu memaksa Zian menjadi pribadi yang kejam dan tak berperasaan, bahkan Ia tak pernah menyesal meskipun telah menghilangkan banyak nyawa orang.


"Kita ada di mana?" Tegur seorang gadis yang entah sejak kapan berada di sampingnya. Pria itu menolehkan kepalanya dan menatap sosok gadis dengan balutan dress hitam yang berdiri di sampingnya.


"Kau sudah bangun?" tanya Zian dengan nada sedingin es.


Banyak orang yang menganggap jika Zian itu bagaikan malam, dingin, gelap dan sepi. Itu bukan hanya anggapan, namun memang kenyataan dalam kehidupannya yang kelam. "Udaranya sangat dingin, tidak seperti biasanya." Ucap Luna seraya menyilangkan tangannya di depan dadanya.


Zian melirik Luna sekilas, lantas Ia melepas jaket kulitnya lalu menyampirkan pada bahi kecil Luna menyisahkan singlet hitam serta kemeja tanpa lengan dengan warna senada yang memperlihatkan Tatto naga di lengan kirinya.


"Apa kau sudah merasa jauh lebih hangat?" Tanya Zian memastikan yang hanya di sikapi dengan senyum tipis oleh gadis itu.


Keheningan menyelimuti kebersamaan mereka berdua, Zian hanya menatap lurus ke depan dengan tatapan datarnya. Sedangkan Luna gugup luar biasa, terlihat dari gerak-geriknya seperti menggigit bibir bawahnya dan memainkan kuku-kukunya. Kebiasaan yang selalu dia lalukan ketika Ia merasa gugup dan takut.


Tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir mereka berdua, mereka sama-sama diam dalam kebisuan. sama-sama tak tau harus berbicara apa, yang terdengar hanya deburan ombak yang bertabrakan dengan karang serta ritme jantung Luna yang berdebar tidak karuan.


Sesekali Zian melirik pada Luna dan begitu pun sebaliknya. Terlihat gadis itu menggembungkan pipinya dan menghela nafas panjang. Jujur, Luna sangat benci suasana semacam ini.


Jika saja yang bersamanya adalah Viona atau trio kadal Ia tidak pernah habis topik yang pas untuk di bahas, sedangkan bersama Zian maka kebalikannya. Meskipun terkadang suasana diantara mereka mencair dengan sendirinya. Tapi tak jarang pula Zian bersikap acuh dan dingin pada Luna tergantung suasana hatinya.


"Apa kau ingin pulang sekarang?" Tanya Zian membuka percakapan setelah beberapa saat terdiam. Dan Luna mengangguk tipis.


Luna tersentak kaget saat Zian tiba-tiba saja menggenggam telapak tangannya, membuat perasaan Luna menjadi hangat sekaligus berdebar tak karuan. Sontak Ia menolehkan kepalanya, menatap pada wajah Zian yang hanya menatap datar ke depan.


"Ya Tuhan, bagaimana jika aku sampai jatuh cinta pada manusia es ini? Kenapa hatiku selalu berdebar-debar setiap kali menatap natanya." Gumam Luna membatin.


Keduanya pun berjalan beriringan meninggalkan bibir pantai dan berjalan menuju mobil Zian.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2