Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 107) Hormon Ibu Hamil


__ADS_3


Riders tercinta, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang ganti juduI jadi SUAMIKU TUAN MUDA LUMPUH tinggalkan like koment juga.


-


"Oppa...."


Tubuh Zian terhuyung kebelakang karena pelukan Luna yang begitu tiba-tiba. Wanita itu terlihat begitu bahagia melihat suaminya akhirnya pulang setelah bekerja seharian.


Hari ini Zian pulang agak sedikit terlambat karena pekerjaannya di kantor lumayan menumpuk. Dia tidak bisa terus-terusan lari dari tanggung jawab dan membiarkan pekerjaannya terbengkalai.


"Apa kau membawakan apa yang aku minta?" Luna mengangkat wajahnya dan menatap Zian dengan mata berbinar-binar. Zian mengangguk, menunjukkan bingkisan yang dia bawa. "Yee.. Kare pedas. Oppa, kau memang yang terbaik."


"Aku akan mandi dulu. Setelah ini kita makan kare ini sama-sama." Ucap Zian yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.


.


.


Jam dinding sudah menunjuk angka 11 malam. Tapi Luna masih tetap terjaga dan sulit untuk menutup matanya. Wanita itu berkali-kali merubah posisinya dan mencoba untuk mencari posisi yang nyaman. Tapi tetap saja terasa sukar untuk membuat matanya terpejam.


Luna menoleh. Menatap wajah tenang Zian yang sedang tertidur pulas. Luna mendesah berat. Dia tidak tau kenapa menjadi sulit untuk tidur akhir-akhir ini.


"Darling, kenapa belum tidur?"


Suara bariton bernada rendah namun tetap terdengar maskulin itu, menyerbu sepi yang menyelimuti Luna. Membuat Luna terkesiap, gugup seketika mendera batinnya .


Butir air bening mengalir dari kedua sudut matanya, dia sedang menangis, dan anehnya Luna tidak tau kenapa tiba-tiba dia menangis. Dan Luna tidak ingin bila Zian sampai menangkapnya yang tengah menangis. Dengan tergesa, diusap pipinya, mencoba membersihkan dengan singkat sisa-sisa air mata di sana.


"Kau kenapa?"


Luna menoleh, mendapati wajah tampan suaminya yang terpampang jelas di depan matanya, dia sudah merubah posisinya menjadi duduk. Zian segera mengikuti jejak istrinya.bMereka duduk saling berhadapan

__ADS_1


Zian hanya memakai singlet hitam dengan celana tidur panjang sederhana yang dikenakannya, tidak bisa menyembunyikan pesona tampan suaminya. Wajah datar dan mata tajam menambah poin tampan Zian.


"Oppa, aku tidak bisa tidur." Jemari lentiknya kembali menghapus sisa air mata.


"Kau menangis?" nada khawatir dalam tanya Zian terdengar jelas, sesaat setelah netra abu-abunya menangkap Luna yang sedang menyeka mata.


Yang ditanya tidak menjawab, Wanita itu memilih kembali melanjutkan tangisnya. Zian semakin cemas.


"Ada apa, Sayang? Apakah ada yang sakit?" tanya Zian memastikan.


Luna menggelang, membuat rambut panjang coklatnya yang tergerai bebas itu menari saat Luna menggelengkan kepala. "Terus kenapa?," Zian kembali mencerca Luna dengan pertanyaan bernada khawatir.


"Aku ... juga tidak tau. Tiba-tiba saja hatiku terasa sangat sedih dan tanpa sadar aku malah menangis." Jelas Luna, dia bicara diantara isaknya.


Kening Zian mengernyit, membuat alis tebalnya hampir bersatu. Putra bungsu dalam keluarga Qin itu sedikit bingung dengan jawaban aneh istrinya. "Kenapa bisa begitu?" Luna menggeleng. Dia pun tak mengerti.


Sesaat keheningan tercipta, mengisi ruang kosong antar keduanya. Kemudian, sembari terisak Luna membuka suara. "Tiba-tiba aku merasa takut. Setelah perut ini membesar pasti aku akan kelihatan jelek dan gendut. Aku takut kau akan bosan jika aku tidak cantik lagi." Tutur Luna dan kembali terisak.


Zian memijit keningnya. Dia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran istrinya.


Ujung bibir Zian Qin sedikit terangkat, membentuk seringai yang entah bermakna apa.


Sepertinya Luna sudah terkena virus 'hormon kehamilan yang terlalu mendominasi emosi'. Dan siapa yang menduga jika efeknya begitu luar biasa. Dan Zian selalu mencoba untuk mengerti dan memahami. Karena kebanyakan Ibu hamil pasti mengalami hormon emosi yang mudah berubah-ubah seperti halnya Luna.


"Jangan bicara sembarangan lagi. Mau mau gendut atau langsing. Cantik ataupun jelek. Di mataku kau sama saja. Dan bagiku kau tetaplah wanita tercantik yang pernah ada." Tutur Zian sambil menghapus air mata Luna.


"Oppa,"


"Sebaiknya sekarang kita tidur dan aku tidak ingin mendengar alasan apapun lagi. Kasian dia, jangan di ajak begadang secara terus-terusan." Nasehat Zian yang terdengar tegas.


Luna mengangguk patuh. Dia tak memberikan protesnya apalagi berusaha mengajak Zian untuk berdebat. Luna memilih mengalah dan pasrah pada keputusan yang diambil suaminya yang tentu itu demi kebaikannya juga.


-

__ADS_1


Pagi iniangit terlihat lebih cerah dari biasanya. Tanpa ada gumpalan awan putih berarak yang terlihat sekumpulan biri-biri.


Sebuah mobil mewah berwarna hitam memasuki sebuah gedung perusahaan yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan karena kesuksesan yang berhasil di raih. Seorang satpam yang bertugas dipintu masuk gedung tersebut segera membukakan pintu mobil itu. Ceo Perusahaan itu terlihat keluar dari dalam mobil tersebut setelah diparkirkan.


Pria tampan yang terlihat angkuh itu berjalan menyusuri koridor, Semua pegawai disana menyapa dan menunduk memberi hormat pada Ceo perusahaan tersebut.


Pria itu berhenti tepat di depan pintu lift. Pria itu 'Zian' menunggu pintu lift itu terbuka seraya membaca koran yang ia dapatkan dari rak koran yang ada dilobi yang ia lewati tadi. Senyum merendahkan terukir dibibir seksi pria Qin itu saat membaca koran yang membahas mengenai anjloknya saham perusahaan milik Derby yang sepertinya sangat mustahil untuk bisa berdiri lagi.


"Selamat pagi, Tuan Bossku yang paling dingin dan paling perhitungan di Dunia." Suara sapaan terdengar dari arah samping menginterupsi.


Pria itu pun menoleh, dia mendecih menatap sebal pria yang berjalan disampingnya. "Ck. Kau sudah bosan hidup ya!! Dan mimpi apa kau semalam, tumben kau datang sepagi ini?" Ujar Zian pada pria yang menyapanya tadi, Reno.


Reno menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil menyengir lebar. "Aku bahkan tak pulang" Ungkapnya.


Zian pun menyerngit. "Kenapa? Aa, jangan bilang kalau kau berusaha menggoda salah satu karyawan di perusahaan ini lagi?" Tebak Zian sambil menatap Reno penuh selidik.


Reno menggeleng. "Tidak. Bukan karena hal itu. Apakah hanya keburukan ku saja yang ada di matamu." Ujarnya.


Zian memutar jengah matanya. "Ck, Lalu?"


Reno itu menyengir lagi membuat Zian mendengus pelan. "Aku,.." Reno menggantungkan kalimatnya. Zian mengangkat sebelah alisnya dan sedikit penasaran.


TING!


Pintu lift terbuka, Zian segera masuk ke dalam lift diikuti Reno yang kemudian mengekor dibelakangnya.


Pintu lift pun kembali tertutup. Zian melirik kearah pria yang sudah menjadi sahabat baiknya sejak mereka sama-sama menjadi brandalan dulu. "Kau apa, Reno?" Tanya Zian yang sepertinya masih menunggu lanjutan dari perkataan sabatnya yang menggantung tadi.


"Aa, lupakan saja. Aku hanya tidak ingin pulang saja. Bosan dirumah. Aku sudah tidak memiliki kucing liar lagi. Karena kalah taruhan dari Adrian Hyung. Aku jadi kehilangan semua kucing liaku..." Lanjut Reno seraya tertawa garing.


Zian mendengus. "Dasar".


.

__ADS_1


.


__ADS_2