Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 13) "Hasutan Miranda Dan Kematian Tuan Leonil"


__ADS_3

Zian mengendarai motor besarnya dengan kecepatan standar. Sesekali pemuda itu melirik Luna yang duduk di jok belakang menggunakan ekor matanya.


Mata hazel gadis itu memandang kota Seoul yang masih tampak ramai meskipun sudah hampir menjelang tengah malam. Masih banyak toko-toko yang buka, ada banyak penjual pernak pernik yang berjajar di sepanjang jalan dan Luna begitu tertarik untuk melihat-lihat. Namun Ia merasa tidak enak pada Zian jika meminta pemuda itu untuk berhenti meskipun itu hanya sebentar.


"Kau ingin membeli sesuatu?"


Seolah mengerti isi fikiran Luna. Zian menghentikan motor besarnya di depan kios yang menjual berbagai macam pernak-pernik seperti jepitan rambut, dan berbagai macam aksesoris. Gadis itu turun dari motor besar Zian dan berjalan menuju kios itu di ikuti oleh pemuda itu yang kemudian berjalan mengekorinya.


"Ada yang kau suka?" tanyanya tiba-tiba.


Gadis itu menoleh dan mendapati wajah Zian dalam jarak yang sangat dekat, buru-buru Luna mengalihkan wajahnya untuk menyembunyikan rona merah di kedua pipinya. "Aku rasa begitu," jawabnya gugup.


"Pilihlah yang kau suka," kata Zian dengan nada bicara yang terlewat datar.


Kali ini Luna tidak memberikan respon apa-apa, gadis itu sibuk melihat-lihat berbagai macam aksesoris yang menyilaukan matanya, sambil berusaha mati-matian menahan kegugupannya.


"Kalian sepasang kekasih, saya memiliki sepasang kalung dan cincin yang sangat cocok untuk kalian berdua. Kalung dan cincin ini akan bercahaya jika posisi kalian saking berdekatan. Efek getaran dan cahaya sangat berfungsi untuk mempertemukan kalian ketika kalian berada di tempat yang sama namun pada lokasi yang berbeda." ujar sang penjual.


Luna sangat tertarik dengan sepasang kalung dan cincin itu. Namun bagaimana dengan Zian, Ia tidak berani mengambil benda couple tersebut mengingat jika mereka bukanlah sepasang kekasih. Dan jika Zian memang berniat membelinya, pasti itu untuk kekasihnya.


Dan ngomong-ngomong untuk kekasihnya. Apakah kelasih Zian tidak akan marah jika dia melihat pemuda itu sering bersamanya. Memikirkannya sudah membuat perasaan Luna menjadi tak karuan.


"Baiklah akan ku ambil kalung dan cincin ini,"


Zian merogoh saku celananya kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya yang kemudian Ia berikan pada si paman penjual. Luna tersenyum miris. Ia sudah menduganya, dan Zian memang mengambil kalung-cincin couple itu. "Kau simpan kalungnya,"


"Ehhhh," Luna menjadi cengo.


Gadis itu mengangkat wajahnya, matanya mengerjap berkali-kali melihat Zian menyodorkan kalung itu padanya."Untukku?" Luna menatap Zian tak percaya, pemuda itu mendecih kemudian berdiri di depan Luna.


Jantung gadis itu berdegup dua kali lebih cepat ketika Ziam mengalungkan tangannya, wajahnya begitu dekat hingga Luna dapat merasakan nafas pemuda itu menyentuh kulit lehernya dengan lembut


"Kalung itu sangat cocok padamu,"


Zian memperhatikan liontin berbentuk kelopak bunga yang menggantung di leher jenjang Luna, pemuda itu mengulum senyum setipis kertas kemudian mengangkat jarinya dan menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya.


"Aku akan menyimpan cincinnya," Luna tersenyum, tangannya menggenggam liontin kalung itu.


Rasanya hatinya berbunga-bunga, dan seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya. "Dan aku akan menyimpan kalungnya," ucap Luna dan dibalas anggukan oleh Zian.


"Sudah semakin malam. Sebaiknya aku antar kau pulang sekarang," kata Zian dan segera di balas anggukan oleh Luna.


"Tunggu dulu, Zian," seru Luna dan menghentikan langkah Zian. Pemuda itu menoleh, sepasang mutiara abu-abunya menatap lengannya yang di genggam oleh Luna.


"Ada apa?" tanyanya datar.


"Emm, anu. Boleh tidak jika aku menumpang nginap di rumahmu lagi? Hanya malam ini saja, Vio eonni dan Nathan oppa sedang pergi ke luar kota, sementara trio gila itu sedang berlibur ke pulau Jeju. Aku takut sendirian di rumah. Bagaimana jika tiba-tiba hantu penjaga pohon itu muncul lalu menerkamku. Aku kan belum menikah apalagi merasakan malam pertama."


"Hantu pohon?" Zian memicingkan matanya.


Luna mengangguk. "Trio gila itu pernah bercerita kalau ada hantu yang menunggu pohon mangga di belakang rumah. Kalau ada penghuni yang sendirian di rumah, hantu itu suka menampakkan diri kemudian menerkamnya jika dia seorang wanita. Boleh ya,,, boleh ya,,," mohon Luna sambil mengerjapkan matanya.

__ADS_1


Zian mendengus geli. "Baiklah, aku akan mengijinkanmu menginap lagi dirumahku,"


"Yeee.. Kau memang yang terbaik," Luna berjingkrak kegirangan dan berhambur ke dalam pelukkan Zian. "Gomawo," gadis itu memgangkat wajahnya, membuat sepasang mutiara berbeda warna milik mereka saling bersiborok.


"Hn, sama-sama,"


"Tapi, Zian," seru Luna, raut wajahnya berubah serius.


"Apa lagi?"


"Bagaimana dengan kekasihmu? Apakah dia tidak akan marah dan cemburu jika melihatmu jalan bersamaku?" tanya Luna sedikit cenas.


Zian melepaskan pelukkan Luna tanpa memgakhiri kontak matanya. "Kau tenang saja, karna aku tidak memiliki kekasih,"


"Ahh. Syukurlah, itu artinya aku tidak akan terkena masalah. Jangan pulang dulu, sebaiknya kita jalan-jalan lagi," Luna menarik lengan Zian dan membawanya menuju sebuah kedai makanan.


"Tiba-tiba aku lapar, temani aku makan dulu. Di ujung jalan sana ada sebuah kedai yang menjual makanan yang sangat enak. Dan kau harus mentraktirku," ujarnya sambil tersenyum lebar.


"Luna, pela-pelan." tegur Zian karna Luna begitu tidak sabaran.


Keduanya masuk ke sebuah kedai. Dan kedatangan mereka langsung di sambut oleh bibi pemilik kedai. "Bibi, aku pesan seperti yang biasanya ya,"


"Wahh. Malam ini kau datang membawa seorang teman, dia sangat tampan, apa dia adalah kekasihmu?"


"Apa yang Bibi katakan. Tentu saja bukan, dan bagaimana bisa Bibi menyebut brandalan seperti dia sebagai pemuda yang tampan," oceh Luna di iringi kekehan.


"Dasar kau ini. Jelas-jelas dia sangat tampan, dia sangat mirip dengan aktor dab penyanyi asal China, Luhan."


"Dasar kau ini, kenapa semakin hari kau semakin barbar saja. Tunggu sebentar, Bibi akan segera siapkan pesananmu,"


"Oke, Bibi,"


Luna merinding sendiri ketika menoleh dan melihat tatapan nyalang Zian."Kenapa kau menatapku seperti itu?" alih-alih sebuah jawaban, malah jitakkan yang mendarat mulus pada kepala Luna."Zian sakit," keluh Luna sambil mengusap kepalanya yang baru saja di jitak oleh Zian.


Beberapa saat kemudian pesanan Luna pun tiba. Dan selanjutnya kebersamaan mereka hanya di warnai keheningan. Baik Luna maupun Zian sama-sama tidak ada yang bicara dan memilih diam dalam kebisuan, mereka berdua sama-sama tengah menikmati makan malamnya dengan tenang.


Sesekali Zian menatap gadis di depannya itu. Sudut bibirnya tertarik ke aras. Luna adalah gadis yang unik dan sederhana yang pernah dia temui.


-


PLAKK...


Sebuah tamparan mendarat mulus pada pipi kanan Dean. Saking kerasnya tamparan itu sampai-sampai membuat wajah Dean menoleh ke samping. Amarah terlihat jelas pada sorot matanya ketika menatap Dean.


"PA, APA-APAAN KAU INI? KENAPA DATANG-DATANG MALAH MENAMPARKU?" tanya Dean dengan suara meninggi.


"AKU TIDAK HANYA INGIN MENAMPARMU, TAPI JUGA MEMBUNUHMU!!" jawab tuan Leonil dengan suara tak kalah tinggi dari Dean. Tuan Leonil mencengkram pakaian Dean."Apa yang kau lakukan pada, Luna? Apa yang telah kau lakukan pada adikmu?"


Dean menyentak tangan tuan Leonil dan balas menantapnya tajam. "Oh, jadi ini karna gadis tak tau diri itu. Pa, apakah Papa tau apa yang sudah Luna lakukan pada Miranda dan calon anak kami. Jadi mana mingkin aku diam saja saat mengetahui nyawa calon istri dan anakku berada dalam bahaya,"


Tuan Leonil memukul wajah Dean hingga pria itu tersungkur. "Kau benar-benar bodoh, Dean. Sampai kapan kau akan membiarkan dirimu terus-terusan di manfaatkan oleh wanita itu, Dean? Dan asal kau tau saja, Dean. Wanita itu tidaklah sebaik yang kau kira. Dan sudah beberapa kali Papa melihatnya pergi bersama pria yang berbeda, jadi sadarlah!!"

__ADS_1


"PAPA CUKUP!! BERHENTI MEMFITNA MIRANDA LAGI." Bentak Dean menyela ucapan sang ayah. "Dan asal Papa kau saja, yang busuk di sini bukan Miranda, tapi Luna. Beberapa kali gadis itu berusaha menggabisi Miranda dan calon akan kami. Calon menantu dan cucu, Papa. Seharusnya Papa lebih membelanya bukan malah membela gadis tak jelas itu!!"


"DEAN!!"


"Aku akan segera menikahinya, Pa."


"Papa tidak mengijinkannya. Papa tidak akan membiarkan pelacur seperti dia masuk dalam keluarga kita, tidak akan pernah!!"


"PAPA!!" teriak Dean marah.


"Kalau begitu singkirkan dia, Oppa. Jika keberadaannya hanya menjadi penghalang untuk kita," sahut seseorang dari arah belakang. Keduanya sama-sama menoleh dan mendapati Miranda berjalan memasuki rumah. "Hidup kita kelak tidak akan bahagia jika para penghalang tetap ada. Untuk itu kita harus menyingkirkannya,"


Sontak saja Dean menoleh. "Apa maksudmu? Apa maksudmu kau ingin supaya aku membunuh Papa?" Dean menatap Miranda tak percaya.


Miranda tiba-tiba menangis dan menumpahkan air mata buayanya. "Hiks, Papamu sudah bersekongkol dengan Luna. Mereka bersekongkol untuk memisahkan kita. Papamu mengirim orang-orangnya untuk mengancamku. Mereka mengancam akan membunuhku jika aku tidak mau meninggalkanmu,"


"Bohong!! Itu tidak benar. Sebaiknya kau tidak mempercayainya, Dean. Dia benar-benar wanita jahat!"


"Kau dengar itu, Oppa. Bahkan Papamu menyebutku sebagai wanita jahat. Dan itu membuatku sangat sedih dan sakit hati. Kita tidak akan pernah bisa bahagia jika pria tua ini tetap hidup. Oppa, bunuh dia!"


"Dean, Papa harap kau tidak bertindak bodoh kali ini dan mendengarkan hasutan perempuan iblis itu. Jangan sampai kau menyesal di kemudian hari karna lebih memilih mendengarkan dia yang sesat itu,"


"Oppa, jangan dengarkan dia. Jangan sampai pikiranmu di racuni olehnya. Dia sama jahatnya dengan adik angkatmu itu,"


"Dean, kau pasti mengenal Papa dengan baik. Tiga puluh lima tahun kau hidup bersama.Papa, apa kau pernah melihat Papa melakukan hal yang tidak baik apalagi sampai membahayakan nyawa orang lain."


"Oppa, manusia bukanlah Dewa, dia bisa berubah kapan saja. Termasuk Papamu, pikirannya sudah di racuni oleh adik tirimu itu. Singkirkan semua penghalang dari jalan kita, Oppa. Demi aku dan anak kita," Miranda terus meracuni pikiran Dean.


"Miranda, tapi apa yang di katakan, Papa-"


"Itu artinya kau tidak menyayangi kami dan lebih percaya pada Papamu. Kalau begitu, lebih baik kami saja yang mati. Karna tidak ada gunanya juga aku dan anak ini tetap hidup jika kau tidak mempercayaiku. Padahal aku sangat mencintaimu," Miranda mengambil pisau buah yang ada di samping kanannya.


"Miranda, Jangan!!!" teriak Dean kemudian merebut pisau itu dari tangan Miranda. "Baiklah, aku akan membunuhnya supaya kau percaya jika aku sangat peduli pada kalian berdua,"


Miranda tersenyum puas. "Bagus, Oppa,"


"Dean, jangan,"


"Maaf, Pa. Tapi aku tidak bisa kehilangan Miranda dan calon anakku. Istirahatlah dengan tenang, Pa. Selamat jalan,"


JLEBB...


Dean menusuk tuan Leonil dengan pisau buah hingga pria itu jatuh tersungkur di lantai. Darah segar seketika keluar dari lukanya yang terbuka. Tuan Leonil mengulurkan tanganya yang berlumur darah pada Dean yang berjalan semakin menjauh. Sedangkan Miranda melambai pada tuan Leonil.


"Lu-Luna, ma-maafkan Papa. Pa-papa, sa-sangat men-"


Kedua mata tuan Leonil tertutup sebelum dia menyelesaikan kalimatnya. Pria paruh baya itu baru saja meregang nyawa. Dan parahnya lagi dia kehilangan nyawa di tangan putra kandungnya sendiri.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2