
Riders, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya ISTRI CANTIK MAFIA KEJAM tinggalkan like koment juga. πππ€π€π€
-
Keheningan menyelimuti kebersamaan Zian dan Luna di dalam mobil. Tak sepatah katapun keluar dari bibir keduanya. Keduanya sama-sama diam dalam kebisuan.
Sesekali Luna menoleh, menatap sendu pada Zian yang sedari tadi hanya diam dengan pandangan lurus ke depan. Luna tidak tau hal menyakitkan seperti apa yang Zian alami di masa lalu sampai-sampai membuat Zian bereaksi seperti itu ketika Reno mengungkit tentang masa lalunya.
Luna ingin sekali bertanya tapi lidahnya terasa kaku dan keluh. Hingga akhirnya dia memilih untuk tetap diam.
Lima belas menit berkendara. Mereka tiba di rumah yang baru saja Zian beli sekitar dua minggu yang lalu. Tanpa sepatah katapun, Zian langsung melenggos pergi, bahkan dia tak mengatakan apapun pada Luna. Zian berjalan menuju kanarnya yang berada di lantai dua. Bahkan Zian tak menyapa Nathan maupun Viona.
"Luna, apa yang terjadi pada suamimu? Apa kalian bertengkar?" Luna menggeleng. "Jika tidak kenapa aura suamimu terlihat begitu suram? Lalu apa yang terjadi pada wajah dan lengan, Zian? Kenapa dia bisa sampai terluka seperti itu?" tanya Viona penasaran.
Luna mendesah berat. "Reno mengungkit masa lalu, Zian oppa dan membuka luka lama di hatinya. Dia terluka saat berkelahi dengan beberapa pria asing yang tiba-tiba menyerang dan membuat keributan di restoran tempat kami sarapan," ujar Luna.
Viona mendesah berat. "Sebaiknya temui suaminu, dan coba bicara baik-baik dengannya. Akan lebih baik jika dia mau berbagi cerita denganmu. Dan luka-lukanya juga harus segera di obati, karna bisa terjadi infeksi jika terlalu lama dibiarkan terbuka." Nasihat Viona yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.
"Aku mengerti, Eonni," Luna beranjak dari hadapan Viona dan pergi begitu saja.
Benar apa yang dikatakan oleh Viona. Dia memang harus berbicara denga Zian dan mencoba untuk menghiburnya. Disamping itu dia juga sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Zian di masa lalu, dan mengenai kematian kakeknya. Luna sangatlah penasaran.
Luna membuka kamarnya dengan perlahan dan mendapati Zian berdiri di balkon kamar sambil menggenggam sebotol wine yang isinya tinggal setengah. Tidak ada gelas, sepertinya Zian meminum wine itu langsung dari botolnya.
Zian benar-benar terlihat kacau. Rambut blondenya sedikit berantakan dan kemeja yang meletak di tubuhnya pun tak serapi sebelnya. Luna melangkahkan kakinya mendekati sang suami.
"Oppa, kau sudah terlalu banyak minum," Luna mengambil botol wine yang ada di tangan Zian lalu meletakkannya di atas meja.
"Kau di sini?"
"Pertanyaan macam apa itu? Beginikah reaksimu ketika melihat istrimu yang cantik ini berdiri dihadapanmu? Ck, kau sungguh menyebalkan, Oppa," Luna berdecak kemudian beranjak dari hadapan Zian sampai sebuah cengkraman lembut pada pergelangan tangannya menghenikan langkahnya.
Zian menakup wajah Luna dan kemudian mencium lembut bibir ranumnya. "Maaf, Sayang. Aku benar-benar merasa kacau, kata-kata Reno secara tidak sengaja telah melukai perasaanku dan membuka luka lama yang aku pendam jauh-jauh di dalam hatiku," tutur Zian.
Luna menakup wajah Zian dan mengunci sepasang manik abu-abunya. "Kalau begitu ceritakan padaku, siapa tau itu bisa mengurangi sedikit beban dihatimu," Luna tersenyum.
Zian menurunkan tangan Luna dari wajahnya kemudian berbalik dan dia berdiri memunggungi Luna. Jari-jari besarnya mencengkram pagar besi didepannya dengan sangat kuat. Zian menutup rapat-rapat kedua matanya dan mulai bercerita.
Flashback.
"HARABOJI, DI SINI!!"
Seorang anak laki-laki berusia se belas tahun terlihat melambaikan tangannya pada sosok pria setengah baya yang dia panggil kakek. Pria itu tersenyum dan melambaikan tangannya juga pada anak laki-laki itu.
"Zian, benarkah ini dirimu? Aiggo, ternyata kau sudah besar. Kemarilah, Nak. Biarkan, Kakekmu ini memelukmu." Zian tersenyum dan berhambur ke dalam pelukan kakeknya.
"Aku sangat merindukan, Kakek." Zian menutup matanya dan memeluk kakeknya dengan sangat erat.
__ADS_1
"Kakek juga sangat merindukanmu. Selain sudah besar. Kau juga jadi lebih tinggi ya, hahaha,"
"Itu karna aku makan dengan tepat dan olahraga dengan teratur. Oya, Kakek, kenapa kau tidak bilang-bilang jika ingin datang?"
"Jika kakek memberitaumu, bukan kejutan namanya." Kakek Qin menarik ujung hidung Zian dan tertawa.
"Sudahlah, sebaiknya nanti saja kita lanjutkan lagi mengobrolnya. Ayo kita pulang sekarang,"
Kakek Qin tersenyum kemudian mengangguk. "Ayo,"
.
.
"Mau apa kau datang lagi kemari?"
"Paman, apa yang kau lakukan? Kenapa kau bersikap begitu kasar dan kurang ajar pada, Kakek? Lalu kenapa kau sendiri ada di sini? Memangnya siapa yang mengijinkanmu untuk datang?"
Tatapan tak bersahabat sangat jelas Zian tunjukkan pada pria yang dipanggilnya paman tersebut. "Jangan kurang ajar, Zian!! Berbicaralah yang sopan, bagaimana pun juga dia adalah Pamanmu!! Dan kau pak tua, sebaiknya kau pergi dari sini. Karna kehadiranmu sama sekali tidak diharapkan!!"
"BIBI!!" bentak Zian seraya menatap wanita itu tajam. "Apa hakmu mengusir, Kakek dari rumah ini? Ini adalah rumah papa, bukan rumah kalian, seharusnya yang pergi itu kalian bukan Kakek!! Aku tidak tau dendam apa yang kau miliki pada, Kakek. Tapi sebaiknya jangan bawa dendam itu ke rumah ini, karna dendam kalian hanya akan membuat rumah ini tertimpa sial!!"
"ZIAN QIN!!"
PLAKK...!!
Sebuah tamparan wanita itu layangkan pada pipi Zian. Saking kencangnya tamparan tersebut sampai-sampai membuat pipi Zian memerah. "Kau benar-benar anak kurang ajar!!" wanita itu menarik pistol yang tersembunyi di balik pakaian yang suaminya kenakan lalu menodongkannya pada Zian.
"Diamlah!! Sebaiknya kau tidak ikut campur!! Karna benalu seperti dia memang layak di habisi," Maya menyeringai. Wanita itu menarik pelatuknya dan...
"ZIAN AWAS!!"
Dorrr...
"KAKEK//AYAH!!"
Zian dan pria itu sama-sama berteriak kencang ketika peluru di dalam senjata itu malah menembus tubuh kakek Qin. Bukan hanya satu kali, tapi dua kali. Membuat kakek Qin meninggal seketika. Kakek Qin menggunakan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi Zian.
"KAU!!" Zian menghampiri Maya kemudian merebut senjata ditangannya.
"ZIAN!! APA YANG KAU LAKUKAN? JAUHKAN SENJATA ITU DARI KEPALA, BIBIMU!! ITU SANGAT BERBAHAYA!!"
"DIAM, PAMAN!!" bentak Zian penuh emosi."Kalian berdua memang tidak ada bedanya. Sebaiknya kalian menyusul kakek ke alam baka!!"
"ZIAN JANGAN!!"
Dorrr...
Dorrr...
__ADS_1
Flashback End:
Kedua mata Zian terbuka perlahan. Air mata tampak menggenang dipelupuknya.
"Dan setelah insiden berdarah itu aku di vonis bersalah dan mendapatkan hukuman selama 20 tahun. Tapi aku berhasil keluar setelah beberapa hari di dalam penjara. Papa, menjamiku dan aku diijinkan keluar."
"Dan sejak saat itu aku selalu dihantui rasa takut dan bersalah secara berlebihan. Selama bertahun-tahun aku menutup diri untuk dunia luar. Selama kurang dari 5 tahun aku tinggal di sebuah pedesaan terpencil di China. Di sana aku belajar banyak hal termasuk ilmu bela diri dari seorang kakek tua. Dan aku merubah total penampilanku ketika aku benar-benar siap untui kembali," titur Zian panjang lebar.
Luna menyeka air matanya kemudian memeluk Zian. "Aku tau, pasti sangat berat untukmu. Rasanya pasti sangat menyakitkan. Tapi kau harus bisa merelakannya pergi. Lepaskan rasa bersalahmu, lepaskan penyesalanmu. Karna beliau juga tidak akan senang ketika melihat cucu kesayangannya terpuruk terlalu lama karna dirinya,"
Luna menggusap punggung Zian naik-turun. Mencoba memberikan ketenangan padanya. Dan Luna juga ingin menyampaikan jika Zian tak pernah sendian. Ada dirinya yang akan selalu bersama dan berada disisinya.
Luna melepaskan pelulannya. "Oppa, sebiknya sekarangkau mandi. Aku benar-benar tidak kuat dengan aroma alkohol yang menguar dari bibirmu," Luna menutup mulutnya dan pura-pura ingin muntah. Dia hanya ingin membuat Zian merasa lebih baik.
Zian mendengus berat. Dengan gemas dia menjitak kepala coklat terang Luna.
"Baiklah!!"
-
KRAKK...
"AHHH!! Pinggangku,"
Reno meringis saat merasakan pinggangnya terasa seperti ingin patah. Reno di suruh nyuci ratusan piring oleh pihak restoran karna tidak bisa membayar semua makanan, tidak mau lebih tepatnya.
Bukan tanpa alasan. Reno tidak ingin kehilangan banyak uang-uangnya yang berharga. Dan itulah kenapa dia lebih memilih mencuci piring kotor. Dan karna sifat pritungannya itu. Reno harus mehilangan Veronica. Dia ogah hidup dengan pria pelit yang suka peritungan.
"Sial, sepertinya aku terkena encok. Aarrkk... Semua ini karna para penjahat sialan itu. Jika saja mereka tidak datang tiba-tiba aku juga tidak akan terlibat dalam masalah dan mengalami hari yang begitu buruk." Reno menggeram frustasi.
Reno meninggalkan taman. Dia berencan untuk kembali kepenginapa. Pinggangnya benar-benar terasa mau patah.
-
Hari ini adalah hari terakhir mereka berada di kota Berlin. Karna rencananya besok pagi mereka akan kembali ke Korea. Tak ingin menyia-nyiakan hari terakhirnya di sana. Luna, Viona, Zian, Nathan, Reno dan Trio Kadal memutuskan untuk pergi jalan-jalan.
Saat ini mereka sedang menikmati keindahan Sungai Spree. Sungai Spree merupakan sungai terkenal yang melewati negara bagian Saxony, Brendenburg dan Berlin di Jerman. Selain itu, sungai ini juga melewati serta kawasan ΓstΓ nad Labem di Republik Ceko.
Sungai yang memiliki panjang sekitar 400 km ini. Membuat para turis bisa melakukan jalan-jalan di sekitar sungai, dan tersedia juga beberapa perahu untuk sekedar melihat pemandangan sungai menakjubkan tersebut.
Luna dan Viona begitu antusias. Mereka berdua memotret berbagai objek yang tertangkap oleh lensa pengamatnya."Eonni,bagaimana kalau kita naik perahu?" usul Luna yang langsung disambut baik oleh Viona.
"Wahh..!! Bukan ide buruk. Oppa, Zian, kalian berdua juga harus ikut," seru Viona sambil menatap Nathan dan Zian bergantian.
"Benar, kalian berdua harus ikut. Oppa, kaja," Luna menarik dan memeluk lengan terbuka Zian dengan tidak sabaran. Dan Zian hanya bisa mendengus melihat keantusiasan istrinya tersebut.
"Nunna, kami tidak ikut dan menunggu kalian di sini saja ya," seru Frans.
"Terserah," jawab Luna dan meninggalkan mereka begitu saja.
__ADS_1
-
Bersambung.