
"LUNA, DI SINI!!"
Irene melambaikan tangannya saat melihat kedatangan sahabat barbienya itu. Rencananya hari ini mereka berdua akan pergi berbelanja bersama. Ada banyak barang yang ingin Luna beli.
Luna menyernyit bingung melihat ada dua gelas di atas meja serta sebuah jaket pria yang di letakkan di sandaran kursi di depan Irene. "Kau datang dengan siapa?" tanya Luna penuh selidik.
Alih-alih menjawab. Irene malah senyum-senyum sendiri seperti orang bodoh. "Kau mau tau saja. Tunggu beberapa menit lagi, dia sedang ke toilet," ujar Irene. "Aku fikir kau akan datang bersama dengan duplikat kakak iparmu itu, bukankah ini adalah akhir pekan, jadi tidak mungkin jika dia sibuk bukan?"
"Maksudmu, Zian?"
"Memangnya siap lagi kalau bukan dia? Oya, Lun. Kau dan dia bukankah sangat dekat dan kalian juga terlihat cocok ketika bersama, kenapa tidak mencoba sebuah hubungan saja? Apalagi kalian berdua sudah berkali-kali ciuman bukan?"
"Tapi aku masih belum ingin membuat komitmen apapun untuk saat ini. Aku masih ingin menikmati hidupmu, masa mudaku dan kesendirianku. Katakan saja jika aku ini memang gila, tapi aku lebih menyukai hubungan tanpa status seperti yang aku jalani saat ini. Karna dengan begitu aku tidak perlu terikat hubungan apapun dengan siapa pun," ujar Luna panjang lebar.
"Dasar gadis aneh!!" cibir Irene. "Aku benar-benar tidak tau dengan jalan pikiranmu, Leonil Luna. Karna di saat gadis lain ingin membina hubungan yang jelas dengan seseorang. Kau malah lebih memilih menjalin sebuah hubungan tanpa status."
Luna mengangkat bahunya. "Aku bawa santai saja. Lagipula dengan kita menjalin hubungan dengan seseorang, itu sama saja dengan mengikat kita dengan sebuah hubungan yang rumit. Lagipula mana mungkin Zian menyukai gadis barbar sepertiku ini, dan asal kau tau saja, aku masih dalam proses penyembuhan setelah patah hati karna cintaku yang bertepuk sebelah tangan." Tutur Luna panjang lebar.
"Yeah. Terserah kau saja, yang penting kau happy,"
Kedatangan seseorang mengintrupsi perbincangan kedua sahabat tersebut. Lantas keduanya mengangkat wajahnya dan.... "RENO!!" Luna memekik terkejut setelah melihat siapa pria yang datang bersama Irene. "Kalian berdua berhutang penjelasan padaku. Sekarang katakan, bagaimana kalian bisa bersama?" Luna menatap keduanya bergantian.
Reno dan Irene sama-sama menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Tidak perlu heran, mereka berdua sedang berkencan," sahut seseorang dari arah belakang.
Sontak saja Luna menoleh pada sumber suara dan mendapati sosok tampan bersurai blonde berjalan menghampiri mereka bertiga. "Zian," seru Luna yang terlihat begitu kegirangan saat melihat kedatangan pemuda itu. "Rusa kutub, bagaimana bisa kau berada di sini?" tanya Luna.
"Tentu saja bisa, karna dia datang untuk menemani calon istrinya berbelanja," sahut seseorang yang kemudian memeluk lengan Zian dengan posesive.
Alih-alij terkekut. Luna malah tertawa terbahak-bahak. "Dasar miss halu. Kalau mimpi jangan ketinggian dong. Calon istri, coba saja lihat. Bahkan Zian terlihat sangat tidak nyaman jalan denganmu," ujar Luna panjang lebar.
"Sialan!! Apa maksudmu berkata begitu?"
Luna mengangkat bahunya. "Kenapa bertanya. Pikirkan saja sendiri. Ya sudah, selamat bersenang-senang untuk kalian. Berhubung cuma aku yang tidak berpasangan di sini. Jadi aku pergi dulu saja, oke," Luna menggerlingkan matanya dan pergi begitu saja.
Tapi sebuah cengkraman pada pergelangan tangannya menghetikan langkah Luna. Sontak saja Luna menoleh dan mendapati Zian berdiri tepat dihadapannya. "Kau akan pergi denganku. Amanda, aku rasa cuma sampai di sini aku bisa menemanimu. Sisahnya lanjutkan sendiri saja, ya,"
"Tapi, Zian-!!"
"Aku rasa pendengaranmu tidak dalam masalah, jadi kau bisa mendengar jelas apa yang Zian katakan bukan? Baiklah, mulai dari sini Zian adalah milikku. Kajja," Luna melingkarkan tangannya pada lengan terbuka Zian dan memeluknya dengan posesive.
Dan Amanda yang tidak suka dan tidak rela Zian di peluk semesra itu oleh wanita lain. Tentu saja tidak tinggal diam. Gadis itu menghampiri keduanya dan berusaha melepaskan pelukkan Luna tapi hasilnya sia-sia.
"Tidak semudah itu, ya." Luna menatap Amanda dengan tatapan meremehkan."Zian, bisakah kita pergi sekarang?" Luna mengangkat wajahnya dan menatap pemuda itu penuh harap.
Zian mendengus geli. Dengan gemas dia menjitak kepala coklat terang milik Luna."Kau ini sudah bukan bocah lagi, Leonil Luna!! Jadi berhenti menunjukkan tatapan menggelikan seperti itu!!" alih-alih marah, Luna malah terleleh geli.
"Kenapa? Bukankah aku terlihat sangat manis dan menggemaskan?" Luna menggedipkan matanya dan menunjukkan senyum yang sama.
Buru-buru Luna menutup matanya melihat Zian mengangkat tangannya..Dia sangat yakin jika pemuda itu pasti akan menjitaknya lagi. "Eh," dan Luna tampak sangat terkejut karna tak merasakan apapun juga apalagi rasa sakit. Sontak saja Luna membuka kembali matanya dan...
__ADS_1
Chu...
Sebuah ciuman mendarat mulus pada bibir tipis miliknya. Sepasang tangan besar milik Zian membingkai wajah cantik Luna dan bibir kissable-nya terus melum** bibir ranum itu selama beberapa detik.
Dan tentu saja yang Zian lakukan itu mengejutkan semua orang terutama Amanda. Amanda sangat kaget setengah mati, pasalnya Zian mencium seorang gadis dan itu tepat dibibirnya.
"Wow, itu tadi sangat manis, Zian. Dan aku sangat menyukainya," ujar Luna sesaat setelah Zian melepaskan tautan bibirnya.
"Sialan kalian, hampir saja aku terkena serangan jantung dadakan karna ulah kalian berdua!!" Irene mengusap dadanya. Dia benar-benar terkejut.
"Kekeke, anggap saja itu tadi hiburan gratis dari kami berdua. Ya sudah, Zian ayo kita pergi," Luna memeluk lengan terbuka Zian dan keduanya berjalan beriringan meninggalkan ketiga orang itu.
-
Satu tahun telah berlalu Dean menjalani hari-harinya di balik sel penjara. Dan selama berada di sana, tak seorang pun ada yang datang untuk mengunjunginya terutama Luna. Dean menjalani hari-harinya dengan sangat berat. Pasalnya dia selalu dihantui oleh rasa penyesalan yang berkepanjangan.
Saat ini Dean sedang berada di halaman belakang lapas. Dean dan para narapidana lainnya tengan bersih-bersih di sana. Seperti mencabut rumput, dan menyapu sampah daun-daun kering yang berserakan dan ada juga yang menanam bunga.
Dean menghentikan sejenak kegiatan karna dia merasa sangat lelah. Dean menghampiri salah seorang narapidana lain yang sedang beriatirahat juga, kemudian duduk bersebelahan dengannya.
"Kau ingin minum?" tawar pria itu seraya menyodorkan botol minumnya pada Dean. Kemudian Dean menerimanya dan meminum seteguk isi didalamnya."Sudah lebih dari dua puluh tahun aku terkurung di tempat semacam ini, dan itu rasanya sangat menyesakkan. Masa hulumanku masih tersisa 5 tahun lagi," pria itu bercerita dan membuka pembicaraan di antara mereka berdua.
Dean menatap pria itu penasaran. "Apa yang membuatmu harus terjebak di tempat ini? Maksudku, kesalahan apa yang sudah kau lalukan sehingga mereka menahanmu begitu lama di tempat semacam ini?"
"Fitna," pria itu menoleh dan membuat dua iris berbeda warna itu saling bersiborok. "Aku difitna dan dijebak oleh istriku sendiri. Aku di tuding telah membunuh temannya padahal yang melakukanya adalah kekasih gelapnya. Karna semua bukti mengarah padaku, jadinya aku yang di tangkap dan endingnya aku terjebak di sini selama dia puluh lima tahun,"
Dean menatap pria itu dengan rasa prihatin."Pasti hal itu sangat menyakitkan untukmu. Semoga ada keadilan yang berpihak padamu,"
Kemudian pria itu bangkit dari duduknya dan bergabung kembali dengan teman-teman narapidana lainnya, disusul Dean.
-
"Kkkyyyaaa...!! Rio menjerit hiateris setelah wajah tampannya menjadi korban kejahilan baby Laurent. Bocah perempuan berusia satu tahun empat bulan itu mengoleskan tepung pada wajah Rio ketika dia sedang terlelap tidur.
"Kekekkeke... Pa..man, Lio sangat lucu," bocah perempuan itu tertawa sambil menunjuk muka cemong Rio dengan jari mungilnya dan bicara dengan aksen cadel khas anak-anak.
"Sayang, apa yang kau lakukan? Huaa... Kenapa kau malah membuat wajah Paman yang super tampan ini jadi cemong semua seperti dakocan," keluh Rio sambil membersihkan tepung dari wajahnya dengan menggunakan tisu basah.
"Bukan milip lagi, tapi Uncle Lio memang milip dakocan," sahut Lucas menimpali. Bocah laki-laki itu mengeluarkan kata-kata tajamnya yang begitu membekukan.
"Astaga, nak. Kau ini masih bayi, tapi bagaimana bisa sifat menyebalkan papamu itu malah menurun padamu, eo!!"
"Tentu saja bisa, kalna aku ini adalah putlanya," jawab Lucas membanggakan diri.
Rio memijit pelilisnya. Jika biasanya dirinyalah yang menjahili orang lain. Tapi hari ini malah dirinya yang di jahili oleh orang lain. Dan parahnya lagi dia adalah seorang anak-anak yang begitu menggemaskan. Dan rasanya Rio ingin mengutuk semua orang yang sudah meninggalkan dirinya di rumah bersama si kembar.
Semalam Rio kalah bermain kartu dari kedua paman kecilnya yang endingnya dia harus menerima hukuman daru mereka berdua.
Dan karna taruhan konyol itux endingnya dia terjebak di rumah bersama si kembar yang super aktif itu. Seharusnya mereka bertiga yang menjaga si kenbar. Berhubung Rio kalah taruhan jadinya dia yang harus mengasuh sikembar.
__ADS_1
-
Zian bukanlah pria kejam yang suka mempermainkan apalagi memberikan harapan palsu pada para wanita. Zian tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika sebenarnya dia sudah jatuh cinta pada Luna. Dan perasaan itu Zian sadari ketika dan Luna saling berjauhan.
Memangnya pria mana yang tidak ingin membina sebuah hubungan yang serius dengan gadis yang dicintainya, Zian salah satunya. Tapi Zian memiliki alasan kenapa dia tidak pernah menyatakan perasaannya pada Luna, karna dia tau jika Luna tidak ingin terlibat hubungan apalun dengan pria apalagi membuat sebuah komitment.
Baik Zian maupun Luna sama-sama menikmati hubungan tanpa status yang mereka jalani saat ini. Mereka tak ragu untuk saling bersikap peduli pada satu sama lain, bahkan tak jarang mereka berciuman. Dan pernah sekali Zian dan Luna tidur di satu ranjang yang sama.
Luna meletakkan semua barang belanjaannya kemudian merebahkan tubuhnya yang terasa lelah pada.skfa ruang keluarga. Ia baru saja pulang dari berbelanja.
"Lun, bisakah kau buatkan minuman dingin untukku? Aku haus setelah menemanimu keliling mall selama.tiga jam," terlihat Zian merebahkan tubuhnya pada sofa di samping Luna.
"Baiklah, tunggu sebentar," kemudian Luna bangkit dari samping Zian dan pergi ke dapur untuk membuat minuman.
Tak sampai lima menit Luna kembali dengan dua minuman dikedua tangannya."Apa yang sedang kauihat? Kelihatannya sangat serius sekali?" tanya Luna penasaran.
"Hn, indek saham perusahaan. Bulan ini saham naik pesat hingga 20%, kini posisi perusahaanku berada di urutan kedua setelah Xiao GROUP milik Nathan hyung,"
"Benarkan, sungguh sebuah pencapaian yang sangat luar biasa. Aku salut padamu, kau benar-benar banyak berubah, Zian. Dari seorang brandalan menjadi CEO hebat yang sukses. Sebagai seorang sahabat, tentu aku merasa sangat bangga padamu. Dan untuk itu aku akan memberikan sebuah hadiah untukmu,"
Zian memicingkan matanya. "Apa itu?" tanyanya penasaran.
"Ini," Luna menakup wajah Zian dan mengecup singkat bibir kissablenya. "Aku akan mengganti perban pada pelipismu, ini sudah memasuki hari ketiga. Tapi sepertinya lukanya masih basah,"
"Boleh, tapi setelah aku mendapatkan apa yang aku inginkan!!"
Zian menarik lengan Luna dan menempatkan gadis itu di pangkuannya. Kedua tangan Zian membingkai wajah Luna dan mulai memagut bibir ranumnya. Tak ada penolakkan dari gadis itu. Luna justru terlihat sangat menikmati ciuman tersebut.
Luna mengangkat kedua tangannya dan mengalungkan pada leher Zian. Kedua mata mereka sama-sama tertutup rapat saat kepala mereka saling berptasi.
Zian terus memagut bibir atas dan bawah Luna secara bergantian. Kedua tangan Luna yang mememeluk leher Zian meremas rambut blonde pemuda itu dan sedikit menekannya.
Zian melepaskan tautan bibirnya benerapa detik kemudian saat dia merasakan bila Luna sudah tak sanggup lagi dan membutihkan banyak asupan oksigen.
Kemudian Luna beranjak dari hadapan Zian dan pergi begitu saja, meninggalkan pemuda itu sendiri di ruang tamu. Namun tak sampai lima menit Luna sudah kembali dengan sebuah kotak p3k ditangannya.
"Tahan sebentar, mungkin ini agak sedikit menyakitkan."
Luna membuka plaster berwarna coklat muda yang menjadi perekat perbannya dengan hati-hati supaya tidak menimbulkan rasa sakit. Setelah perban itu terbuka. Kemudian Luna membersihkan keringat di sekitar lukanya lalu mengolesinya dengan salep luka. Dan selama beberapa menit, Luna membiarkan luka itu tetap terbuka.
"Ini sudah satu tahun, Lun. Apa kau tidak ingin menjenguk kakakmu?" ucap Zian mengawali percakapan antara dirinya dan Luna.
Luna menggeleng. "Aku terlalu membencinya, Zian. Luka yang dia torehkan di hatiku terlalu dalam dan membekas, sehingga tak mudah bagiku untuk bisa memaafkannya. Dia telah melakukan sebuah kesalahan yang tak mungkin bisantermaagkan, karna dia.. Aku kehilangan papa," Luna menundukkan wajahnya saat dia merasakan netranya mulai berkaca-kaca.
Tapi bukan Luna namanya, jika tidak bisa mengendalikan perasaannya. Wajah murungnya tak lagi terlihat, tergantikan oleh senyuman yang tercetak dengan jelas disudut bibirnya. "Sudahlah, jangan membahas yang sedih-sedih. Aku sedang tidak ingin menangis saat ini. Sebaiknya kau pergi ke dapur saja dan buatkan aku makan malam, aku sangat lapar," renggek Luna sambil mengusap perutnya.
Zian mendengus geli. "Perasaan kau tadi sudah menghabiskan satu porsi Ramyeon pedas, dan sekarang sudah lapar lagi. Perasaan makanmu sangat banyak, tapi tubuhmu tetap saja kecil. Dasar perut karet!!"
-
__ADS_1
Bersambung.
Para pembaca yang baik hati. Jangan pelit kasih like koment ya biar authornya makin semangat bikin lanjutan novelnya. Like kalian sangat berarti buat author 🙏🙏🙏