Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 95 "Gareng"


__ADS_3

"Ya Tuhan," Viona memekik dan menutup rapat-rapat mulutnya dengan kedua tangannya melihat bagaimana gilanya Rio dalam menghayati perannya.


Rio berperan sebagai anak yang terlantar dan sedikit bodoh. Wajahnya di bubuhi bedak bayi yang membuatnya terlihat seperti salah satu tokoh dalam perwayangan 'Gareng' rambutnya diikat ke atas mirip jamur dan pakaian yang dikancing sampai lehernya. Celana selutut, sepatu putih dan kaos kaki warna-warni.


"Itu Rio?" tunjuk Viona pada remaja itu.


"Hahaha. Bukankah bocah itu menghayati perannya dengan sempurna?" Satya tertawa.


"Sebaiknya kita duduk manis saja di sini dan menikmati pertunjukkan bocah itu Nunna," ucap Frans yang datang dengan tiga cup minuman dan beberapa makanan ringan. Ketiganya duduk di sudut cafe paling belakang.


"Dari mana kau mendapatkan minuman dan makanan ringan ini?" bingung Satya


"Nyolong di mobil belut betina itu," jawabnya santai. "Stt, diam-diam... Pertunjukkannya sudah di mulai," seru Frans sambil menunjuk ke depan.


Rio memasuki cafe sambil menghisap dot susunya. Remaja dengan 1001 akal itu menghampiri Shion dan Jordy yang sedang menikmati makan siangnya. Shion sudah terlihat jauh lebih baik dari beberapa waktu yang lalu.


Rio menghentikan langkahnya disamping Shion dan Jordy. Pemuda itu berkali-kali menelan ludah dan raut wajahnya terlihat sendu. "Apa liat-liat? Pergi sana," sinis Shion. Bukannya pergi, Rio malah mendekati Shion. "Yakk!! Kenapa kau malah mendekat kesini? Aku mengusirmu, jadi pergi sana. Kau membuat nafsu makanku berkurang saja,"


"Bibi, Paman, aku kelaparan. Sudah tujuh hari tujuh malam aku tidak makan apapun, aku sangat lapar. Bolehkan aku minta makanan kalian sedikit saja?" renggek Rio memohon.


"Enak saja, kalau mau makan beli saja sendiri," sinis Shion menyahuti.


"Tolong kasihani aku Bibi, Paman. Aku sudah tidak punya siapa-siapa, aku di buang ibuku karna menurutnya aku ini pembawa sial. Ayahku meninggal karna sakit kutil. Bibi, Paman, tolong kasihani aku. Huaaa.... Aku sangat lapar, kalian orang kaya tapi kenapa kalian sangat pelit dan suka menindas orang kecil," tangis Rio pecah.


Dan sekarang mereka bertiga menjadi pusat perhatian.Semua orang yang ada di cafe itu saling berbisik-bisik. Tiba-tiba Viona berdiri saat sebuah ide melintas di kepalanya. Wanita cantik itu melepas ikatan rambutnya dan memoles bibir tipisnya dengan lisptik merah. Viona menghampiri Rio kemudian membantunya berdiri.


"Hei Nak, jangan duduk di bawah itu sangat kotor. Kau tidak perlu meminta apapun dari orang-orang tak berhati seperti mereka. Ayo, biarkan Bibi saja yang membelikan makanan untukmu. Jordy-ssi, aku fikir kau benar-benar orang baik. Ternyata kau adalah orang yang tidak berhati. Aku sangat menyesal mengenal orang sepertimu,"


Keterkejutan tampak jelas diwajah Jordy setelah mendengar suara familiar dan wajah yang tak asing padanya. "No-nona Ellena? Kau sudah salah paham. Sebenarnya aku-"


"Untuk apa memberikan penjelasan pada orang asing? Dan kau, aku muak melihat wajahmu itu jadi pergi sejauh mungkin dari hadapanku," teriak Shion dan mulai berkeringat dingin. Shion selalu berdebar setiap kali melihat wajah Ellena yang bak pinang di belah dua dengan Viona.

__ADS_1


"Kau mengerikan, Nona. Sepertinya aku tidak memiliki masalah apapun denganmu, tapu kau selalu bersikap sinis, padahal ini pertemuan kedua kita. Hei Nak, kau bilang tadi kau lapar bukan? Ayo ikut Bibi, Bibi akan membelikanmu makanan,"


Rio mengangkat wajahnya dan Viona langsung memberi isyarat dengan mengedipkan mata. Rio yang tau harus berbuat apa langsung memeluk Viona dan menangis sejadi-jadinya. "Huaaa.. Bibi kau sangat baik, semoga Tuhan membalasmu. Hiks, kau tidak hanya cantik saja tapi baik hati juga," ujar Rio sambil menyusut matanya.


"Baiklah, ayo pergi,"


"Tunggu dulu," Jordy menahan langkah mereka berdua. "Kau hanya salah paham Nak. Siapa bilang aku ini orang yang pelit, ayo Nak kau ingin makan apa? Kau bisa memesan makanan apapun yang kau inginkan," ujarnya sambil menepuk-nepuk kepala Rio.


Mata Rio berbinar. "Benarkah?" Jordy mengangguk. "Huaa.. Paman kau sangat baik, baiklah aku akan memesan sekarang. Apapun kan?" lagi-lagi Jordy mengangguk.


Rio menyeringai dalam hati. "Hehehe, ini kesempatan emas dan aku harus memanfaatkan**mu." ujar Rio membatin.


Kali ini Rio akan menguras isi dompet Jordy dengan memesan makanan dengan harga selangit. Dan sedikitnya ada lima menu berbeda yang tersaji diatas meja. Dan harga makanan yang Rio pesan paling murah adalah senilai 90 dan itu hanya untuk benerapa potong melon jenis Densuke Black.


"Bagaimana?Apa kau merasa kenyang?" tanya Jordy pada Rio. Pemuda itu mengangguk.


Viona menyeringai. "Ternyata kau memang orang yang sangat baik ya. Bahkan kau tidak segan-segan megeluarkan uang sampai 700 juta won hanya untuk beberapa menu makanan saja," ujarnya.


Sontak saja Jordy mengangkat wajahnya. "A-apa maksudmu Nona Ellena?" tanya Jordy kebingungan.


"A-apa? 700 juta won,"


Brugg..


Jordy jatuh pingsan dan tubuhnya langsung kejang setelah mendengar penjelasan Viona. Viona tersenyum puas. Bukannya menolongnya, Viona dan Rio malah meninggalkannya begitu saja. Satya dan Frans mengikuti mereka bedua meninggalkan cafe. Mereka puas dan cukup untuk hari ini.


"Kerja bagus anak-anak, Bibi akan mentraktir kalian ice cream," ucap Viona dan membuat mata ketiga pemuda itu berbinar-binar.


"Yeee... Ice cream,"


-

__ADS_1


"Uhh, lelahnya,"


Viona merebahkan tubuhnya yang terasa lelah pada sofa ruang keluarga. Kedua matanya yang sebelumnya tertutup tiba-tiba terbuka. Dia merasakan kehadiran orang lain di sana.Viona beranjak dan pergi kekamarnya, terdengar suara gemercik air dari kamar mandi.


"Oppa, kaukah itu?" Viona berseru, memastikan jika yang ada di dalam adalah Nathan.


"Hn," sahut orang itu.


"Baiklah, kau selesaikan saja. Aku akan menyiapkan makan malam untukmu," ucap Viona dan melenggang pergi.


Setelah hampir satu jam berkutat didapur, sedikitnya lima menu berbeda bersaji dan tersusun di atas meja. Wanita itu tersenyum puas.


Viona melepas apronnya dan pergi memanggil Nathan yang masih belum keluar kamar. Sejak Nathan tau jika Viona masih hidup, dia lebih sering menghabiskan waktunya di apartemen milik wanita itu. Nathan tidak ingin berpisah dan jauh lagi darinya.


"Oppa, apa yang sedang kau lakukan?" Viona menghampiri Nathan yang tampak sibuk dengan laptopnya.


"Tidak ada, hanya memeriksa beberapa email yang masuk saja."


"Tumben kau pulang lebih awal hari ini?"


Nathan mematikan lapotopnya lalu meletakkan benda elektronik itu di atas meja. Nathan mengulurkan tangannya kemudian menarik Viona dan menempatkan wanita itu diatas pangkuannya. "Aku sengaja pulang lebih awal karna aku merindukanmu," ucapnya kemudian mengecup singkat bibir Viona.


"Apa kau begitu merindukanku?" Viona menakup wajah Nathan dan mencium bibir kissable-nya.


Mata kanan Nathan tertutup rapat saat merasakan pagutan pada bibirnya. Dan Nathan yang tidak suka didominasi segera mengambil alih ciuman tersebut. Dan ciuman itu kini dikuasai oleh Nathan sepenuhnya. Sebelah tangan Nathan menekan tengkuk Viona sedangkan tangannya yang lain memeluk pinggang rampingnya.


Ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi ciuman panas yang menuntut. Posisi mereka tidak lagi duduk melainkan berbaring dengan Nathan menindih tubuh wanita itu. Kedua tangan Viona terus bergelayut manja pada leher Nathan. Dan entah sejak kapan satu persatu kain-kain itu tertanggalkan dari tubuh masing-masing.


Nathan mengangkat tubuh Viona bridal style lalu membaringkan diatas tempat tidur tanpa mengakhiri tautan bibirnya. Ciuman panas Nathan perlahan turun menuju leher jenjang Viona dan meninggalkan beberapa tanda kepemilikkan disana.


Dan malam panjang yang terasa dingin untuk orang lain justri terasa panas untuk mereka berdua. Malam ini mereka akan saling mereguk cinta dalam, dan melewatkan malam dingin nan panjang ini untuk saling menghangatkan. Bahkan mereka tak peduli dengan perut mereka yang terasa keroncongan dan minta untuk segera diisi.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2