Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 45 "Mantra Cinta"


__ADS_3

"Eeenggghh."


Viona melengkuh panjang saat merasakan pergerakan kecil yang dihasilkan dari sebuah lengan yang melingkari perutnya. Wanita itu merasakan kehangatan yang berasal dari sosok yang berada dibalik punggung telanja**nya. Viona menggerakkan tubuhnya dengan perlahan untuk berhadapan dengan sosok yang memeluknya itu.


Dipandanginya dengan seksama wajah tampan yang terlihat polos itu, kedua matanya tertutup rapat menyembunyikan sepasang mutiara coklat jernih di sana. Viona mengangkat tanyannya dan menggerakkan jari-jarinya pada wajah tampan sang adonis dihadapannya, membuat sosok itu sedikit terusik karna ulah Viona. "Viona, hentikan!!" suara dingin terlewat datar itu menyapu telinga Viona.


"Oppa, bangun... Bukankah kau sudah berjanji akan membawaku jalan-jalan kepantai. Ayo bangun." Viona mengguncang lengan terbuka Nathan dan sesekali menepuk pipinya. "Oppa bangun, aku juga merasa lapar. Apa kau ingin membuat istri cantikmu ini mati karna kelaparan? Bangun, oppa." renggek Viona sambil terus mengguncang lengan Nathan.


Nathan menggeram pelan, dengan dengan laki-laki itu membuka kedua matanya membuat senyum polos di bibir Viona terkembang lebar. "Dasar kau ini," dengan gemas Nathan menjitak kepala coklat Viona sebelum menyibak selimut yang membungkus tubuh polos mereka.


Viona terkekeh. "Siapa suruh kau membuat janji denganku, sudah pasti aku akan menagihnya. Aku akan mandi dulu," Viona mengecup singkat bibir Nathan dan meninggalkannya begitu saja. Sedangkan Nathan hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya.


Tiga puluh menit kemudian Viona keluar dengan pakaian lengkap, sebuah vintage lace dress merah setengah lengan membalut tubuh rampingnya. Jari-jarinya sibuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan sebuah handuk kecil. "Oppa, mandilah dulu. Aku akan menyiapkan sarapan untuk kita dan ketiga bocah itu." ucap Viona yang kemudian dibalas anggukan oleh Nathan.


Sembari menunggu Nathan selesai mandi. Viona pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan sederhana yang tidak memakan banyak waktu. Ia terlalu malas untuk melakukan pekerjaan apa pun pagi ini, pergulatan panasnya dengan Nathan semalam membuat seluruh tenaganya terkuras habis. Viona hanya berencana membuat roti lapis panggang untuk sarapannya.


"Pagi, Bibi," sapa Rio yang datang bersama Satya dan Frans.


"Eh, kenapa kalian sudah rapi? Apa kalian sudah mau pergi? Setidaknya sarapan dulu,"


"Kami sarapan di luar sana, Nunna-ya. Ada hal penting yang harus kami kakukan sekarang. Kami pergi dulu, salam untuk Nathan Hyung," seru Frans di tengah langkahnya.


Viona tidak tau hal penting apa yang akan mereka bertiga lakukan. Tapi Viona berharap semoga bukan sesuatu yang aneh-aneh apalagi merugikan orang lain. Mengingat bagaimana nakal dan jahilnya mereka bertiga.


.


Tiga puluh menit kemudian Nathan datang dengan pakaian lengkap. Tubuhnya dalam balutab jeans hitam, vest abu-abu berleher tinggi yang menjadi luaran kaus dalamnya memperlihatkan lengan ototnya yang kokoh.


Laki-laki itu berjalan tenang menghampiri Viona yang sudah menunggunya di meja makan. "Oppa, maaf jika hanya ada ropi lapis panggang saja, aku terlalu malas untuk melakukan aktifitas apapun pagi ini."


"No problem, Baby. Sebaiknya segera habiskan sarapanmu, bukankah kau ingin pergi kepantai?" ucap Nathan yang segera dibalas anggukan antusias oleh Viona.


Seperti janjinya, setelah sarapan Nathan membawa Viona pergi kepantai. Tidak butuh waktu lama untuk mereka berdua tiba di sana karna jarak Villa dan pantai hanya membutuhkan 15 menit perjalanan. Viona bergegas turun dari mobil Nathan dan berlari menuju pesisir, sedangkan Nathan mengekorinya dari belakang.


Jrass...


Jrass...


Jrass...


Suara deburan ombak yang pecah menghantam karang ditemani semilir angin yang berhembua tidak begitu kencang namun mampu menerbangkan helaian rambut panjang Viona yang terurai.


Wanita cantik bermahkotakan coklat gelap yang sangat panjang hingga menyentuh pinggangnya itu begitu menikmati suasana pantai pagi ini. Nathan melangkahkan kakinya dengan tenang untuk menghampiri Viona kemudian bergabung bersama sang Istri. "Oppa, menyenangkan bukan?" seru Viona saat menyadari kehadiran Natha disampingnya.


Wanita itu mengangkat wajahnya dan menatap wajah datar Nathan yang juga menatap padanya. "Sejak kecil aku begitu menyukai suasana pantai. Kau tau? Aku tidak pernah lagi menginjakkan kakiku di pantai sejak kepergian Ibu dan Ayah. Pantai menyimpan banyak sekali kenangan bersama mereka. Dan setelah bertahun-tahun, ini pertama kalinya aku datang kepantai lagi."


Nathan tidak memberikan tanggapan dan hanya memandang wajah Viona yang tengah mengulum senyum setipis kertas. Suara deburan ombak mengiringi kebersamaan mereka berdua di sana.


"Biasanya di tempat seperti ini aku melepaskan semua bebanku atau hanya sekedar untuk menyendiri." Viona berujar, setitik kristal bening mengalir dari pelupuk matanya yang kemudian jatuh membasahi wajah cantiknya

__ADS_1


Membicarakan tentang kedua orang tuanya membuat dada Viona terasa sesak, rasanya begitu sulit menerima kepergian mereka yang sangat tiba-tiba. Viona tidak bisa lagi membendung kesedihannya, air matanya tumpah begitu saja.


Nathan menarik bahu Viona dan membawa wanita itu kedalam pelukkannya. "Aku harap ini terakhir kalinya kau menangis di hadapanku. Sesedih dan sesakit apapun hatimu, aku tidak ingin melihat sampai ada lagi air mata yang menetes, aku sungguh-sungguh benci melihatmu menangis." Ucap Nathan seraya mengusap punggung Viona dengan gerakan naik turun.


Viona tidak memberikan tanggapan apa-apa dan malah mengeratkan pelukkannya pada tubuh suaminya.


Setelah di rasa mulai tenang, Nathan melepaskan pelukkannya, jari-jari besarnya menghapus lelehan air mata yang membasahi pipi putih Viona. Laki-laki itu menarik sudut bibirnya. "Kau terlihat jelek jika menangis." ucapnya membuat Viona merenggut kesal.


Nathan terkekeh, ditariknya tengkuk Viona dan melum** singkat bibir tipisnya. "Tersenyumlah, Sayang. Kau lebih cantik jika tersenyum." Pinta Nathan sambil menghapus bibir Viona yang basah.


"Menyebalkan." Vioa memukul pelan dada Nathan sebelum beranjak dan berlari meninggalkannya. "Oppa, kejar dan tangkap aku jika kau bisa," tantang Viona saat langkahnya sudah semakin menjauh.


Nathan memicingkan matanya dan menyeringai tipisl "Kau menantangku, eh?" Viona mengangguk. "Baiklah, tapi jangan menyalahkanku jika kau akan mendapatkan hukuman setelah aku berhasil menangkapmu!!" kedua matanya membelalak saat melihat Nathan melepas sepatunya dan berlari mengejarnya.


"HUAAAAA!!! KKKYYYYAAAA."


Aksi kejar-kejaran antara pasangan suami-istri itu pun tidak bisa terhindarkan lagi. Viona berlari sekencang yang ia mampu saat melihat Nathan yang semakin dekat dibelakangnya, wanita itu tertawa ditengah langkahnya dan Nathan masih tetap mengejar dibelakangnnya. Tidak sulit bagi Nathan untuk mendapatkan Viona meskipun wanita itu berlari mendahuluinya. "Aku mendapatkanmu, Nyonya Lu," tubuh mereka berguling di pasis dengan posisi Nathan berada diatas tubuh Viona.


Kedua tangannya mengunci tangan Viona. Wanita itu mengerjap beberapa kali saat melihat seringai Nathan sampai ia merasakan sebuah benda lunak dan basah menyentuh permukaan bibirnya.


Perlahan Viona menutup matanya saat merasakan ciuman Nathan semakin dalam. Jari-jari besarnya meremas ruas-ruas jari Viona, kepala mereka saling bergerakl lidah mereka saling membelit dan saling bertukar saliva di dalam mulut hangat masing-masing.


Beruntung suasana pantai pagi itu begitu sepi sehingga tidak ada yang menyaksikan aksi gila mereka berdua. Ciuman yang begitu manis dengan ditemani deburan ombak yang berbenturan dengan karang serta semilir angin pantai yang begitu menyejukkan. Viona merasakan seperti ada jutaan kupu-kupu berterbangan didalam perutnya saat jari-jari besar Nathan meremas bukit kembarnya.


Ciuman mereka berubah menjadi ciuman panas yang menggairahkan. Viona merasakan basah dan lembab di bagian bawahnya sejak pertama kali Nathan mencumbunya. Nathan mengangkat tubuh Viona tanpa melepaskan tautan bibirnya.


Pria itu merebahkan tubuh Vioa dengan perlahan pada jok belakang mobilnya. Dan untuk selanjutnya tentu kalian tau apa yang terjadi. Bukan hanya bibir mereka saja yang menyatu tapi tubuh dan jiwa mereka. Mungkin yang mereka lakukan memang gila, namun itulah yang terjadi. Persatuan bukan berdasarkan nafsu melainkan cinta dan rasa saling memiliki yang begitu tulus.


-


Bagaimana Albert tidak kaget. Mereka bertiga tiba-tiba saja muncul seperti hantu. "Paman, beginikah caramu saat menyambut kedatangan tamu? Harusnya kau mempersilahkan kami bertiga masuk dulu kemudian beri kami minum dan terakhir beri kami makan. Bukan-bukan, tapi sarapan,"


Raut wajah Albert berubah datar. Pria itu bersidekap dada. "Apa? Kenapa aku harus melakukannya? Memangnya siapa kalian bertiga? Lagi pula siapa juga yang mengundang kalian untuk datang, dan jangan seenaknya menyebut jika kalian itu adalah tamu. Karna kedatangan kalian tidak pernah aku harapkan sama sekali!!" sinis Albert menegaskan.


"Hm, bagaimana kalau kita berempat bicara baik-baik dari hati ke hati Hyung." Frans merangkul bahu Albert dan keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam rumah pria yang selalu menyebut dirinya sebagai tuan dolar tersebut. Rio dan Satya mengekor di belakang mereka.


Frans meminta Albert untuk duduk dan bodohnya lagi dia menurut saja, jelas-jelas dialah si tuan rumah tapi posisi seolah-olah malah tertukar.


"Wow, ternyata kau memiliki rumah yang sangat indah juga ya, Paman. Tidak salah jika dirimu di juluki tuan dolar," ucap Rio memperhatikan keadaan rumah Albert.


Kedua mata Albert membelalak melihat Rio menyentuh salah satu lukisan berharganya yang tergantung di dinding. "Bocah!! Jangan di sentuh!!" teriaknya menuntut.


Lantas Rio menoleh. "Kenapa? Padahal aku hanya ingin melihat saja. Paman, kau sangat pelit!!"


Albert bangkit dari duduknya. Dengan hati-hati dia membersihkan bekas tangan Rio pada lukisan tersebut. "Jangan sembarangan di sentuh kalau kau tidak ingin mendapatkan kesialan sepanjang hari. Ini itu bukan sekedar lukisan biasa tapi lukisan yang sangat berharga."


Satya yang merasa penasaran terlihat bangkit dari duduknya dan menghampiri Albert. "Jika dilihat-lihat, pria dalam lukisan itu mirip denganmu, Hyung? Memangnya dia itu siapa?" tanya pemuda itu penasaran.


"Dia itu adalah tetua keluarga Xiao. Kakek buyut dari kakek buyutku. Dia adalah pria paling tampan dan paling kaya pada masanya. Semasa hidupnya dia itu selalu dikelilingi wanita cantik. Dan hal itu menurun padaku. Kenapa aku bisa terlahir sebagai pria yang sangat tampan, itu semua karna dia. Karna aku adalah reinkarnasinya!!"

__ADS_1


"Oh begitu, termasuk sifat playboymu itu ya?"


"Sembarangan!!" Albert menyela ucapan Rio. "Aku ini bukan playboy, hanya seorang pengagum kecantikan wanita termasuk Nona cantik di bukit. Dia begitu cantik dan memiliki bibir yang tipis dan hidung yang mancung. Matanya indah bercahaya. Huaaa, aku benar-benar jatuh cinta padanya." Histeris Albert sambil jingkrak-jingkrak membayangkan wajah cantik Viona.


"Kau sudah bosan hidup ya," seru Frans menyela ucapan Albert.


Albert memicingkan matanya. "Aku jadi penasaran, kenapa kalian begitu tidak terima aku mendekatinya? Omi!! Jangan bilang kalau kalian menyukainya juga ya?" tebak Albert sambil menatap ketiganya bergantian.


"Sembarangan!! Bisa-bisa kami bertiga di gantung hidup-hidup oleh paman Nathan kalau kami beani mendekati istina!!" sahut Rio menegaskan.


"Tunggu-tunggu, kau bilang siapa? Nathan?" ketiga pemuda itu mengangguk dengan kompak. "Jangan bilang jika Nathan yang kalian maksud adalah Nathan Lu? Iblis tak berhati itu?" tanya Albert was-was.


Ketiganya saling bertukar pandang. Dengan kompak mereka bertiga menjawab.... "Ya!!"


Brugg!!


Albert menjatuhkan tubuhnya begitu saja pada lantai ruang keluarga yang dingin dan keras. Berkali-kali Albert menelan salivanya, dia membayangkan jika Nathan sampaintau dia mengincar istrinya. Albert tidak tau bagaimana nasibnya selanjutnya. Albert membayangkan jika Nathan akan menembaki dirinya kemudian memutilasi tubuhnya dan terakhir membuang jasadnya kedalam laut.


"YA TUHAN!! AKU DALAM MASALAH BESAR!!"


Rio, Frans dan Satya saling bertukar pandang. "Bwahahahha," dan tertawa sekencang-kencangnya. Sepertinya mereka tidak perlu banyak turun tangan karna Albert segera menyadari kesalahannya.


-


"Nona, Tuan, ini adalah data-data yang Anda berdua minta,"


Alex menyerahkan sebuah map pada Nathan dan Viona. Nathan mengambil map tersebut lalu membukanya. "QU Corp. menyatakan ingin bergabung dengan kita pada proyek yang sedang Anda persiapkan."


Nathan menyeringai puas. "Bagus. Aedinata tua itu pasti tidak akan bisa tidur malam ini. Salah satu rekan bisnisnya memilih bergabung dengan kita. Urus semuanya Alex, aku percayakan masalah ini padamu dan ketiga rekanmu. Dan mungkin kalian harus bekerja cukup keras kali ini."


"Baik Tuan, saya rasa itu tidak menjadi masalah karna tugas kami memang melayani Anda berdua. Kalau begitu saya permisi dulu," Alex membungkuk dan segera meninggalkan ruangan beserta dua orang didalamnya.


Dan selepas kepergian Alex di dalam ruangan itu hanya menyisahkan Nathan dan Viona. "Bagaimana, apa sekarang kau merasa puas?" ucap Nathan seraya menarik Viona untuk duduk dipangkuannya. Viona mengangguk seraya mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan.


"Tapi tetap saja kita tidak bisa berbangga hati dulu sebelum bajing** tua dan anaknya itu benar-benar hancur,"


Nathan menyeringai tipis. "Kenapa kau selalu membuatku bergairah Nyonya Lu. Katakan padaku, sebenarnya mantra apa yang kau gunakan untuk menjerat diriku?" jari-jarinya menyusuri wajah Viona mulai dari pipi, hidung sampai bibir tipisnya.


Viona menakup wajah Nathan lalu mencium bibirnya. "Oppa, apa kau sungguh-sungguh ingin tau?" Nathan mengangguk. Sekali lagi Viona mencium bibir Nathan. "Aku menggunakan mantra cinta untuk menjerat dirimu, apa sekarang kau puas?" sepasang mutiara hazelnya mengunci manik coklat milik Nathan.


"Ya,"


Dan selanjutnya bibir Viona berada dalam pagutan bibir Nathan. Bibir mereka bergulat dengan panasnya, saling melum** dan saling menghisap. Kedua tangan Nathan membingkai wajah Viona begitu pula sebaliknya.


Mereka terus berciuman selama satu menit tanpa jeda. Dan posisi mereka tidak lagi duduk melainkan berbaring, Nathan terus melum** bibkr tipis itu tanpa memberikan kesempatan pada si pemilik untuk bernafas meskipun hanya satu detik saja. Bukannya merasa terancam, Viona malah menikmatinya.


Dan sementara itu. Alex yang melupakan sesuatu memutuskan untuk kembali lagi. Namun setibanya di sana dia malah disuguhi sebuah pertunjukkan yang mampu membuat tubuhnya panas dingin dan menelan saliva. Tak ingin mengganggu kegiatan tuan dan nonanya, Alex memutuskan untuk menyampaikannya nanti dan memilih pergi.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2