Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 34 "Karna Aku Istrimu"


__ADS_3

Lembayung senja yang hangat menembus dinding kaca sebuah ruangan besar bergaya modern. Seorang pria tampan yang sedang duduk dibelakang meja kerjanya terlihat begitu serius. Sepasang mutiara coklat dibalik kaca mata berframe hitam itu tetap fokus pada tumpukan dokumen dan sebuah layar yang menampilkan grafik saham. Saham perusahaannya mengalami kenaikkan pesat hingga 30% pada bulan ini.


Jari-jarinya sesekali membetulkan frame kaca mata yang bertengger di hidung mancung-nya.


Dengan wajah lelah, Nathan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang ia duduki. Bukan hanya tubuh dan fisiknya yang lelah, namun juga otaknya.


Tokk!! Tokk!! Tokk!!!


Ketukan keras pada pintu ruang kerjanya sedikit menyita perhatian Nathan dari tumpukan dokumen dan layar monitor yang menyala terang didepannya. Laki-laki itu mengangkat wajahnya saat mendengar decitan pintu terbuka dan menampilkan sosok Kai serta Lay yang beriringan berjalan menghampirinya. Kai menyerahkan sebuah map pada Nathan yang kemudian di buka oleh CEO muda itu.


"Itu adalah beberapa informasi yang Anda minta, Tuan." Nathan membaca rentetan huruf dalam selembar kertas putih yang berjajar dengan rapi hingga membentuk sebuah kalimat. Nathan mendesah berat lalu menutup kembali map tersebut.


"Awasi terus mereka. Pastikan orang-orangmu mengirimkan informasi tentang Derry Ardinata dan putranya setiap menitnya. Aku tidak ingin terlewat informasi apapun tentang bajing** Ardinata itu." Tegas Nathan.


Kai dan Lay mengangguk mengerti "Baiklah, Tuan. Kalau begitu kami permisi dulu." Pamit keduanya dengan kompak.


"Kalian bisa pergi." Kai dan Lay membungkuk pada Nathan sebelum melenggang meninggalkan ruang kerjanya.


Di depan pintu, Kai dan Lay tidak senjaga berpapasan dengan Viona yang datang untuk menemui suaminya. Gadis itu mengulum senyum lebar yang terlihat indah di bibir tipisnya ketika melihat keseriusan Nathan pada setumpuk dokumen didepannya. Viona memperhatikan penampilan Nathan, kemeja putih yang lengannya di gulung sampai siku dibalut vest hitam senada dengan celana bahannya. Tampan dan penuh pesona.


"Oppa." serunya, memaksa Nathan untuk mengangkat wajahnya. Senyum lembut tersungging di bibirnya.


Nathan berdiri dan menyambut kedatangan istrinya. "Kau di sini?" ucapnya,


"Aku membawakan kue untukmu." Viona berjalan kearah sofa yang berada di tengah ruangan, di ikuti Nathan yang kemudian berjalan mengekor dibelakangnya.


"Kau tidak bekerja hari ini?" Nathan melonggarkan dasinya dan membuka dua kancing teratas kemeja putihnya.


Viona menggeleng. Hari ini Nathan berangkat kekantor pagi-pagi sekali karna ada pertemuan penting dengan para Koleganya. Viona mengeluarkan kotak kuenya dan menatanya diatas meja


"Aku memutuskan untuk mengambil cuti selama satu bulan, aku ingin fokus pada tugasku sebagai seorang Istri dan merawat suamiku tercinta ini dengan penuh," Nathan tersenyum, di raihnya tengkuk Viona dan melum** singkat bibir ranumnya.


"Kau tidak sibuk hari ini? Bisakah tetap di sini sebentar dan tidak usah pulang?"


Viona tersenyum dan mengangguk. "Baiklah," jawabnya tanpa melunturkan senyum itu dari bibir tipisnya.


Nathan menutup matanya merasakan betapa lumernya kue itu ketika sudah berada dalam mulutnya. Tidak terlalu manis dan rasanya begitu pas sesuai seleranya. "Bagaimana Oppa? Enak tidak?" tanya Viona memastikan.


"Apa kau sendiri yang membuatnya?" Viona mengangguk. "Ini sangat lezat, Sayang. Bagaimana kau bisa tau jika aku memang tidak menyukai manis?"


Mata Viona menyipit, senyum tampak dibibir ranumnya. "Karna aku istrimu," jawab Viona dengan bangganya. Nathan tersenyum tipis. Meraih tengkuk Viona dan menuntun gadis itu untuk bersandar pada dada bidangnya. Dengan senang hati Viona mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukkan Nathan.


Nathan melonggarkan pelukkannya. "Aku akan menyelesaikan pekerjaanku dengan segera. Kalau kau lelah kau istirahat saja. Aku akan membangunkanmu nanti," ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Viona.


"Baiklah, aku akan tidur sebentar." Nathan mengusap helaian panjang Viona dan satu kecupan mendarat pada keningnya.


-


Seperti permintaan Nathan, Viona benar-benar tidak langsung pulang. Gadis itu menuruti permintaan suaminya. Nathan menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dari biasanya dan mengajak Viona pergi kesuatu tempat. Viona tidak tau kemana tujuan Nathan, karna mereka belum juga sampai di tempat tujuan meskipun sudah berkendara hampir satu jam, dan karna kelelahan akhirnya Viona ketiduran.


Nathan segera menghentikan mobilnya setelah tiba di tempat tujuan. CEO muda itu tidak langsung turun karna harus membangunkan istri cantiknya terlebih dulu. "Sayang, bangun. Kita sudah sampai." perlahan Viona membuka matanya dan memperhatikan sekeliling.


"Oppa, kita ada di mana?" bingung Viona yang masih berusaha mengumpulkan semua nyawanya. Nathan membuka sabuk pengamannya dan lekas turun.


"Kita ada di Nami Island. Malam ini kita akan bermalam di sini." ujarnya,.

__ADS_1


Kedua mata Viona langsung berbinar-binar. "Benarkah?" tanyanya antusias, Nathan tersenyum kemudian mengangguk meyakinkan.


Setelah berkendara selama 1,5 jam mereka tiba di Nami Island. Sebuah pulau impian karna kecantikannya. Pulau yang sangat indah dan tidak pernah sepi dari pengunjung meskipun bukan hari libur. Pohon-pohon yang tumbuh dan berjajar disisi kanan, kiri jalan dengan daun maple yang telah berguguran membuat pulau ini semakin cantik.


"Apakah kita pergi kepulau ini untuk berbulan madu?" tanya Viona antusias. Nathan menatap gadis yang berjalan disampingnya lalu menggeleng. "Bukan? Aku fikir kita ke sini untuk berbulan madu." raut wajah Viona langsung berubah murung.


Nathan terkekeh, sepertinya istri tercintanya itu ingin sekali pergi berbulan madu seperti pasangan pengantin baru lainnyal "Tidak usah cemberut seperti itu. Kita memang akan pergi berbulan madu ,tapi bukan di pulau ini. Aku akan membawamu kesebuah pulau yang lebih indah dari ini, tapi setelah semuanya berakhir. Dan hari ini anggap saja sebagai perjalanan pengganti." Ujar Nathan lalu membawa Viona ke dalam pelukkannya.


Viona mengangkat wajahnya dari dekapan Nathan. "Janji?" Nathan mengangguk. "Terimakasih oppa," girang Viona lalu kembali berhambur memeluk Nathan. Laki-laki itu tersenyum tipis, Nathan meletakkan dagunya di atas kepala coktal Viona.


Nathan melepaskan pelukkannya lalu mengulurkan tangan. "Ayo," Viona lagi-lagi memamerkan senyum terbaiknya. Dan dengan senang hati dia menerima uluran tangan Nathan.


Keduanya berjalan beriringan menyusuri jalan setapak sambil bergandengan tangan. Nathan menoleh pada Viona, sudut bibirnya tertarik keatas melihat wajah ceria sang istri. Nathan tidak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum, rasanya tidak ada yang lebih membuatnya bahagia selain bisa melihat wajah ceria Viona, ia bersyukur pada Tuhan karna mempertemukan dan mempersatukannya dengan gadis itu.


"Bagaimana, Sayang? Apa kau menikmati keindahan pulau ini?" tanya Nathan.


Viona mengangkat wajahnya kemudian mengangguk, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Sangat, tapi sayangnya hanya malam ini saja kita menginap di pulau ini. Oppa, tidak bisakah kita menginap lebih lama lagi di sini? 3-4 malam mungkin." renggek Viona sambil menggoyangkan lengan Nathan. Laki-laki itu terkekeh geli melihat ekspresi Viona yang begitu menggemaskan dimatanya.


Tukk!!


Nathan menyentil gemas kening Viona. "Dasar kau ini, baiklah kita akan berada di sini selama beberapa malam. Sekarang kau puas,"


"Yyeeee, kau memang yang terbaik Oppa," lagi-lagi Nathan mendengus dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanakan Viona.


Sudut bibirnya tertarik keatas, melihat kebahagiaan di wajah Viona membuat perasaannya begitu menghangat. Apa pun akan Nathan lakukan agar ia bisa selalu melihat senyum indah di bibir istri kecilnya, karna baginya tidak ada yang lebih penting dibandingkan kebahagiaan sang istri tercinta.


-


Brakkk!!!


"Omo!!"


Nyaris saja Leo terkena serangan jantung dadakan karna ulah tiga bocah yang akhir-akhir ini selalu membayangi dan membuat buruk hidupnya. Leo bangkit dari duduknya dan menatap tajam tiga pemuda itu. "YAKK!! BOCAH SETAN, MAU APA LAGI KAU KEMARI?"


"Paman, sebaiknya duduk dulu dan jangan marah-marah terus, bagaimana kalau urat pita suaramu sampai putus, hayo." Rio dan Frans menarik Leo untuk duduk di sofa, sementara Satya sibuk mengeluarkan beberapa makanan dari dalam bungkusnya dan menatanya di atas meja.


"Paman, kami membawakan makan malam untukmu, kami tau kau belum makan bukan? Lihatlah, betapa baik dan lembutnya hati kami ini karna yang selalu peduli padamu," ujar Satya di tengah kesibukannya. "Dan kau harus merasa bangga sekaligus beruntung karna bisa menganal pemuda seperti kami bertiga yang memiliki paket lengkap." Lanjut Satya menambahkan.


"Apa kau bilang? Beruntung? Yang jelas kenal dengan kalian bertiga itu adalah musibah!!" sinis Leo menegaskan.


"Wahh ... Paman!! Kau memiliki Laptop yang sangat bagus dan sepertinya ini juga canggih, aku ingin mencobanya siapa ini adalah pilihan yang tepat untuk bermain game," ujar Riol


Kedua mata Leo lantas membelalak. "Yakk!! Jangan sentuh itu!!" teriak Leo melihat Rio yang sedang mengutak-atik laptopnya, yang didalamnya berisi data-data penting tentang perusahaan miliknya. "Aku bilang jangan disentuh," Leo hendak bangkit dari duduknya namun segera ditahan oleh Satya.


"Sudahlah, Paman. Jangan memikirkan pekerjaan terus. Tenang saja, bocah itu tidak akan melakukan apapun pada laptopmu, paling-paling cuma menghapus data-data penting didalamnya."


Lagi-lagi kedua mata Leo membelalak. "APA!!" pekik Leo terkejut.


"Hahaha! Kenapa serius sekali Paman? Aku hanya asal bicara saja, sudah ayo makan sama-sama. Lihatlah makanan-makanan lezat ini." ujar Satya di iringi tawa renyah.


Satya segera memberi kode pada Rio, entah hal gila apa lagi yang tengah mereka rencanakan kali ini. Dan sepertinya mereka tidak akan pernah puas sebelum melihat Leo menjadi gila karna frustasi. "Kenapa kau terus melihat bocah itu? Sebenarnya apa yang kalian rencanakan kali ini?" tanya Leo penuh selidik.


Satya dan Frans menggeleng cepat . "Tidak ada, aku bukannya melihat dia.. tapi aku mengawasinya untukmu. Bagaimana jika dia sampai merusak benda berharga milikmu lagi." tutur Frans.


"Panas panas... Yakkk!! Kau sudah bosan hidup ya?" amuk Leo karna Satya menumpahkan kopi pada kemejanya.

__ADS_1


"Ups ... Maaf, Paman ... aku sungguh-sungguh tidak sengaja." dustanya. Karna pada kenyataannya Frans melakukannya dengan sengaja. "Eo?? Apa itu? Paman, kau baru membeli lukisan baru ya? Huaaaa indah sekali." Frans bangkit dari duduknya dan menghampiri lukisan yang tergantung di dinding di belakang sofa.


"Jangan disentuh." teriak Leo lalu menghalangi Frans dengan merentangkan kedua tangannya sambil berdiri di depan lukisan tersebut.


Frans berdecak lidah dan menatap Leo kesall "Ck, Paman. Kenapa kau ini pelit sekali jadi orang. Jika rusak kau kan bisa membeli lukisan yang lain. Bukankah kau memiliki banyak uang."


Rio, Satya dan Frans kini seperti mimpi buruk bagi Leo. Tidak ada satu hari pun yang Leo lewatkan tanpa gangguan dari mereka bertiga. Awalnya mereka bertiga mengawasi Leo secara sembunyi-sembunyi tapi sekarang mereka melakukannya dengan terang-terangan, tidak jarang mereka membuat Leo sampai naik darah karna kenakalan dan tingkah ajaib mereka bertiga.


Mereka tidak pernah kehabisan akal untuk membuat membuat Leo sengsara. Jika Nathan membalas kematian orang tuanya dengan membuat perusahaan Leo dan ayahnya bangkrut, maka lain halnya dengan Rio, Satya dan Frans. Mereka melakukannya dengan cara mereka sendiri yang super ajaib. Karna menghancurkan mental dan kewarasan seseorang memanglah keahlian mereka.


Tokk!! Tokk!! Tokk!!


Ketukan keras pada pintu mengalihkan perhatian empat laki-laki berbeda usia tersebut. "Paman, sepertinya kau kedatangan tamu. Tenang saja, aku akan membuka kan pintunya untukmu." Rio beranjak dan berjalan menuju pintu. Rio dan tamu Leo sama-sama terkejut


"Kau//Bibi Cherly?" seru mereka berdua nyaris bersamaan.


"Kalian bertiga? Apa yang sedang kalian lakukan di sini?"


"Ye, suka-suka kami mau di mana saja. Itu tidak ada hubungannya dengan wanita penyihir sepertimu, Nunna." Sahut Frans menimpali.


"YAKK!! FRANS LU!!! KAU MAU MATI EO?" amuk Cherlu yang tidak terima di panggil wanita penyihir oleh Frans. Frans menulurkan lidahnya tanda tidak peduli


Bukan lagi rahasi jika tidak ada satu pun dari Frans, Rio dan Satya yang menyukai Cherly. Mereka bertiga sangat hafal watak wanita itu dan segala keburukannya, bahkan saat dia menjalin hubungan dengan Nathan... mereka bertiga yang paling menentang hubungan mereka selain Senna. Berkali-kali mereka melihat Cherly berjalan dengan laki-laki lain dan masuk kedalam Hotel, parahnya lagi hal itu terjadi saat dia masih menjalin hubungan dengan Nathan. Dan mereka juga tau jika selama ini wanita itu hanya mengejar kekayaan yang Nathan miliki.


"Nunna, kau mengenal Laman Leo? Omo!! Jangan-jangan kalian juga memiliki hubungan ya? Hayo ngaku," desak Rio sambil menatap keduanya bergantian.


"Sembarangan, jangan asal bicara kau bocah." sinis Cherly seraya menatap Rio tajam. "Pergilah dari sini, aku tidak memiliki urusan dengan kalian. Aku ada keperluan dengan laki-laki ini."


"Tidak mau," ketiganya menjawab kompak.


"Lagi pula kami yang tiba di sini lebih dulu," ucap Rio menambahkan.


"Kalau tidak suka kami di sini sebaiknya kau saja yang pergi." sahut Satya menimpali.


"Yakkk!! Kenapa di dunia ini harus ada tiga Iblis seperti kalian eo?" amuk Cherly pada ketiga pemuda tersebut.


Satya menghampiri Cherly, lalu meletakkan punggung tangan kirinya pada kening wanita itu. "Oh pantas, ternyata panas. Nunna, kau kehabisan obat ya,"


Plakk!!


Cherly menyentak tangan Satya dari keningnya lalu memukul kepalanya. "Kau fikir aku gila eo." Cherly benar-benar hilang kesanaran karna ulah mereka bertiga.


"Bibi, jangan marah-marah terus. Lihatlah kerutan di wajahmu mulai terlihat dan semakin parah tau." ucap Rio menunjuk wajah Cherly.


"Lama-lama di sini aku bisa mati muda" Geram Cherly. Lalu pandangannya bergulir pada Jinki. "Temui aku besok siang pukul 11 di cafe biasa. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Ujarnya. "Dan kalian bertiga, bocah Iblis.... pergi saja keneraka."


"Ogah, kau saja." jawab ketiganya kompak.


"Terserah,"


Blammmm!!!


Mereka bertiga terlonjak kaget karna ulah Cherly. Wanita itu membanting pintu ruang kerja Leo dengan sangat keras hingga menimbulkan suara yang memekatkan telinga. Emosi Cherly benar-benar dipermainkan oleh mereka bertiga. Dan bagi yang mengalaminya, bertemu dan berurusan dengan mereka bertiga itu bahkan jauh lebih mengerikan dibandingkan harus mengikuti sebuah acara uji nyali.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2