
Nathan menghentikan mobilnya saat mata coklatnya melihat sosok Viona berdiri dihalte bus seorang diri. Dari kejauhan Nathan melihat beberapa pria yang mirip brandalan mencoba mendekatinya, terlihat jelas dari raut wajahnya jika gadis itu sangat tidak nyaman.
Nathan terus memperhatikannya, bahkan sampai Viona menaiki busnya dan pria-pria itu tetap mengikutinya. Takut hal buruk menimpa gadis penolongnya itu, buru-buru Nathan turun dari mobilnya dan menaiki bus yang sama.
"Nathan, kau mau kemana?" teriak Henry melihat Nathan berlari menyebrang jalan.
"Ge, suruh Tao mengambil mobilku. Aku ada urusan." Jawab Nathan tanpa menghentikan langkahnya.
Bus terlihat kosong dan hanya ada Viona serta beberapa pria yang sejak tadi mengikutinya. Viona diapit dua pria sementara tiga lainnya duduk didepan dan disisi gadis itu. Nathan mendesah, pria itu melangkah mendekati Viona dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia menarik lengan gadis itu lalu membawanya menjauh dari kelima pemuda brandalan tersebut. Nathan membawa Viona duduk dikursi paling depan.
"Tuan Nathan," panggil Viona ragu-ragu.
Nathan menoleh, mata coklatnya bersiborok dengan mata hazel Viona. Ada desiran aneh saat menatap mata itu. "Bagaimana kau tau jika ini aku?" Nathan menarik turun masker hitamnya tanpa mengakhiri kontak matanya.
"Tentu saja aku tau, karna tidak banyak orang yang memiliki sorot mata dingin dan tajam sepertimu." Nathan tersenyum simpul.
"Begitukah?" Viona mengangguk.
Dan setelah perbincangan singkat itu, tidak ada lagi perbincangan antara Nathan dan Viona bahkan sampai bus berhenti dan mereka turun. Viona mempersilahkan Nathan untuk mampir dan pria itu tidak menolaknya. "Tuan Nathan, kau ingin minum apa? Kopi pahit atau....?"
"...Tidak perlu repot-repot. Aku hanya mampir sebentar."
"Jangan begitu, tunggulah sebentar. Aku akan membuatkan kopi untukmu."
Entah kenapa Nathan selalu merasa tenang dan nyaman saat berada dikediaman dokter cantik itu. Meskipun rumah Viona tidaklah semegah dan semewah rumah miliknya, namun rumah itu begitu nyaman dan menenangkan. Kemudian Nathan bangkit dari duduknya dan berjalan menuju taman belakang. Viona meletakkan cangkir kopinya dan menyusul Nathan.
"Kau lihat bintang-bintang itu? Bukankah mereka sangat indah." Tunjuk Nathan pada jutaan bintang yang berpijar di atas sana.
"Ya, melihat bintang adalah hobiku. Saat aku merindukan Ibu dan Ayah, satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah melihat bintang. Karna menurut cerita, orang yang telah pergi akan menjadi bintang dilangit." Ujar Viona seraya tersenyum sendu.
"Dan kau mempercayainya?" Viona mengangkat bahunya.
"Entahlah." Jawabnya singkat. "Udara disini sangat dingin. Sebaiknya kita masuk." Viona beranjak dari samping Nathan dam melangkah pergi. Diikuti oleh Nathan yang berjalan dibelakangnya. "Tuan, silahkan diminum selagi masih panas." Viona meletakkan cangkir kopi itu di depan Nathan.
"Maaf, jadi merepotkanmu."
"Tidak sama sekali."
Karna hari sudah semakin malam. Nathan pun berpamitan pulang dan selepas kepergian pria itu, hanyalah tinggal Viona sendiri di rumah itu. Sepi seketika menyeruak memenuhi ruang kosong di dalam hatinya. Gadis itu mendengus berat, Viona berbalik dan bergegas pergi kekamarnya. Ia ingin segera tidur, Viona merasa lelah. Bukan hanya tubuhnya, namun juga batinnya.
-
"Maaf, presdir. Tuan Lu sudah tiba."
"Baiklah, persilahkan dia masuk."
"Baik, Tuan."
Pintu bercat putih itu di buka dari luar, dua pria berjalan beriringan memasuki ruangan tersebut. Sudah cukup lama Jonas menunggu kedatangan mereka berdua, ia segera berdiri dan mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Duduklah." Pintanya mempersilahkan. "Oya, bagaimana perjalananmu kemari, Nathan Lu? Menyenangkan atau justru menegangkan?" Jonas menuangkan wine yang telah ia siapkan pada dua gelas kosong yang kemudian dia letakkan di depan Nathan dan Bima. Wajahnya mendongak, menatap Nathan singkat.
"Tidak usah bertele-tele, sebenarnya apa tujuanmu memanggilku kemari?"
"Slow, bukankah kita masih memiliki banyak waktu untuk berbincang, kawan? Jadi nikmati saja waktu yang ada." Ujarnya.
Nathan tersenyum remeh. Ia tidak tau rencana busuk apa yang tengah Jonas rencanakan kali ini dan apa tujuan dia memintanya untuk bertemu dan mengundangnya ke perusahaan miliknya. Yang perlu dia lakukan hanyalah waspada untuk segala kemungkinan buruk yang mungkin akan menimpa dirinya. Ia tau jika Jonas adalah pria yang sangat licik dan licin seperti belut.
Jonas beranjak dari duduknya. Ia kembali pada meja kerjanya untuk mengambil sebuah map yang kemudian ia berikan pada Nathan. "Apa ini?" Nathan membuka map itu lalu membacanya.
__ADS_1
"Kau bisa membacanya sendiri tanpa harus bertanya." Jawab Jonas menimpali.
Nathan menatap Jonas yang juga menatap padanya. Pria itu memicingkan matanya setelah membaca dokumen tersebut. "Apa maksudnya semua ini?" Nathan melemparkan map itu ke atas meja.
"Well, bukankah kau sudah membaca isinya? Lalu menurutmu bagaimana? Bukankah rencana kerja sama ini akan sangat menguntungkan untuk kita berdua? Dan jika proyek ini berhasil, bukan hanya aku saja yang akan untung besar, tapi dirimu juga. Dan aku akan memberikan adikku 'Jinna' sebagai bonusnya.
Kau bisa mempersuntingnya sebagai istrimu, adikku sangat cantik dan manis. Aku jamin kau tidak akan menyesal menerimanya sebagai pendampingmu." Ujarnya panjang lebar.
Jonas melebarkan smriknya. Tapi bukan itu alasan utamanya mengajak Nathan untuk bekerja sama melainkan karna hal lain. Tujuan utamanya adalah untuk menghancurkan Nathan. Dan jika Nathan sampai menyetujui kerja sama tersebut, maka dirinya akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar.
"Sayangnya aku tidak berminat sama sekali dengan tawaranmu itu, Jonas Arbello. Karna kerja sama ini tidak ada untungnya bagiku. Aku ... menolak kerja sama denganmu."
Bukan Nathan namanya jika dia tidak bisa membaca rencana Jinas. Lagi pula Nathan bukanlah bocah kemarin sore yang mudah ditipu dan di bodohi, tidak ada keuntungan apapun dalam kerja sama tersebut.
Nathan bukanlah pria bodoh seperti yang Jonas yakini selama ini. Dia belum terlalu mengenal seperti apa kepribadian Nathan yang sebenarnya. Pengalaman mengajari Nathan banyak hal dan dia juga tidak akan gegabah dalam mengambil keputusan.
"Kenapa kau menolaknya, Sobat? Apa kau tidak merasa tergiur dengan jumlah uang yang akan kau dapatkan nantinya?"
"Asal kau tau saja. Tidak semua yang ada di dunia ini bisa di beli dengan uang dan kekuasaan, karna uang tidak bisa membeli kejujuran dan moral."
Gyutt..!!
Jonas mengepalkan tangannya dan menatap Nathan dengan marah. "Oh, jadi maksudmu aku tidak memiliki moral? Begitu, HAH..?" Bentaknya marah.
"Seharusnya kau bertanya pada dirimu sendiri dan bercerminlah. Lihat, apakah dirimu memiliki moral atau tidak. Dan lagi pula hanya orang bodoh dan tidak bermoral yang rela menjual adik kandungnya sendiri demi keuntungan pribadi. Dan orang seperti itu tidak ada bedanya dengan binatang,"
"NATHAN LU....!!!"
Dengan kasar Jonas menarik pakaian Nathan dan melayangkan satu pukulan pada wajahnya. Sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah segar. Tak ada raut kesakitan yang tampak di wajahnya, pria itu menarik sudut bibirnya dan menyunggingkan smrik tipis
"Yakkk..!!! Kuda nil, di mana sopan santunmu eo? Beginikah caramu memperlakukan seorang tamu?" Amuk Bima, bukan Nathan yang marah tapi justru Bima. Dia tidak terima Jonas memukul Nathan. Bima hendak membalasnya tapi di tahan oleh Nathan.
"Tapi-"
"Keluarlah dan tunggulah di luar." Pinta Nathan sedikit datar.
Bima mengambil nafas panjang dan menghelanya. Meskipun tidak ingin, tapi dia tidak memiliki pilihan lain. Meakipun terkadang sikapnya suka konyol dan terkesan kekanakan, tapi Bima adalah tipe pria yang setia kawan dan peduli pada orang-orang terdekatnya apalagi ia sudah menganggap Nathan seperti saudara kandungnya sendiri.
Dengan langkah berat, Bima meninggalkan ruangan tersebut dan menyisahkan Nathan dan Jonas.
"Hanya kita berdua yang tersisa sekarang. Mari kita selesaikan ini." Ucapnya datar.
"Oh, jadi kau menantangku?"
Dengan geram Jonas melayangkan pulukannya pada wajah Nathan hingga pria itu tersungkur ke lantai. Nathan tertawa renyah seraya menyeka darah dari bawah mata kanannya, masih tidak ada perlawanan yang berarti dari pria bermarga Lu tersebut. Nathan sengaja tidak menghindar dan membiarkan Jonas memukulnya sekali lagi. "KAU... BENAR-BENAR MEMBUATKU MUAK, NATHAN LU!!" Teriak Jonas kehilangan kesabarannya.
Lantas Nathan mengangkat wajahnya dan menatap Jonas dingin. "Kau fikir aku pun tidak merasa muak padamu." Ucapnya menimpali.
Brugg..!!!
Tubuh Jonas langsung tersungkur ke lantai setelah sebuah pukulan keras mendarat mulus pada wajahnya. Tubuh pria itu menabrak meja kaca di belakangnya hingga membuat meja itu hancur berkeping-keping. "Aahhhh." Beberapa pecahannya yang tajam menusuk tangannya dan juga melukai wajahnya. Pelipis kirinya terlihat robek dan mengeluarkan darah. "KAU ... berani sekali kau memukulku dan membuat keributan di kantorku?"
"Cih, memangnya siapa kau sampai-sampai aku tidak berani memukulmu. Jangankan hanya kau yang seekor tikus kecil, bahkan aku berani meledakkan kepala pejabat negara sekalipun jika dia berani membuat masalah denganmu. Bukan hanya memukulmu saja, tapi aku juga berniat meledakkan kepalamu."
"NATHAN LU!!"
Bruggg.!!
Dengan emosi yang meluap-luap Jonas menendang perut Nathan hingga membuatnya sedikit terhuyung dan memutahkan sedikit darah dari mulutnya. "Hm, kau lumayan juga." Ucapnya menyeringai.
__ADS_1
"Kau terlalu sombong dan meremehkan diriku, bangs**!!:
Emosi Jonas semakin meluap-luap karna ucapan Nathan. Jonas kembali melayangkan kepalan tangannya pada wajah Nathan tapi berhasil di tangkis olehnya. "Pukulanmu terlalu lemah, bung." Katanya sinis. Di dalam ruangan yang bersuhu dingin tersebut tiba-tiba menjadi panas karna perkelahian mereka berdua.
"Kali ini aku tidak akan main-main lagi, sebaiknya ucapkan selamat tinggal pada dunia ini, Nathan Lu. Hahahha."
Jresss...!!!
"Aaahhh."
Pistol dalam genggaman Jonas terlepas begitu saja setelah sebuah belati menancap pada punggung tangannya. Pria itu berteriak dan mengeram kesakitan sambil memegangi sekitar tangannya yang terluka. Darah terus mengalir mengikuti pisau tersebut membuat lantai yang semula bersih menjadi merah karna darahnya sendiri .
"Kau belum mengenalku dengan baik, Jonas Arbello. Dan kali ini aku tidak akan main-main lagi denganmu karna bajing** sepertimu tidak layak untuk tetap hidup. Dan tempatmu yang paling tepat adalah neraka." Nathan mengangkat senjatanya dan mengarahkan pada kepala Jonas membuat kedua matanya membelalak sempurna. Dan detik berikutnya mata itu tertutup saat melihat Nathan mulai menarik pelatuk pada pistolnya sampai akhirnya....!!!
DOOORRR...!!!
Bukan kepala Jonas. Tapi Nathan melepaskan tembakkan itu ke udara. Dirinya memang berniat melenyapkan dia, tapi tidak hari ini "Kali ini kau aman, Jonas Arcello. Tapi aku tidak bisa menjamin untuk selanjutnya. Dan satu bonus untukmu."
DOORR...!!!
"AAAARRRKKKHHH... KAKIKU."
Brakkk...!!
Pintu itu di dobrak dari luar. Dua tembakkan yang memekatkan telinga membuat kedua orang di luar ruangan itu terkejut bukan main. Bima dan sekretaris Jonas bergegas masuk, dan mata pria itu membelalak melihat tuannya tersungkur di lantai sambil memegangi kakinya yang berlumur darah. "Tuan," serunya panik.
"Nathan," seru Bima, sontak saja Nathan menolehl "Kau tidak apa-apa?" Bima menghampiri Nathan dan memastikan keadaannya.
"Tidak perlu cemas, aku baik-baik saja. Sebaiknya kita pergi sekarang karna urusanku di sini sudah selesai." Ujarnya dan pergi begitu saja.
"Lalu bagaimana dengan bajing** itu?"
"Biar anak buahnya saja yang mengurusnya." Jawab Nathan.
Nathan menatap datar tiga pria yang menghadang langkahnya. Mereka adalah bodyquard yang di sewa oleh Jonas untuk melindungi dirinya. "Jika kalian ingin membuat perhitungan denganku, sebaiknya kalian datang saja ke mansionku. Di sana aku akan memberikan kalian kejutan yang menyenangkan. Dan sebelum itu, sebaiknya kalian urus dia sebelum dia mati karna kehilangan banyak darah." Nathan melanjutkan langkahnya dengan Bima mengekor di belakangnya.
-
'Hufftt'
Seorang gadis mendesah berat. Sepasang mutiara hazelnya menatap kerumunan manusia yang berkumpul di sekitar pelabuhan , saling melambaikan tangan pada kapal pesiar yang hendak berangkat. Gadis itu hanya memandang datar orang-orang itu tanpa balas melambai, ia terlalu malas melakukannya.
Ingin rasanya gadis itu mengutuk kedua sahabatnya yang memaksanya untuk berlibur dengan kapal pesiar hari ini. Viona sudah menolaknya namun kedua sahabatnya tetap saja memaksa sehingga dia tidak memiliki pilihan selain kenuruti kemauan kedua sahabatnya untuk menaiki kapal pesiar mewah yang tidak semua orang bisa menaikinya.
Sunny dan Kirana sangat prihatin dengan keadaan dirinya yang entah sejak kapan berubah menjadi workaholic, Viona selalu menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Dia selalu bekerja dan bekerja, apalagi sejak kepergian kedua orang tuanya beberapa tahun yang lalu.
Kapal mulai menjauh meninggalkan pelabuhan, orang-orang yang semula berkerumun di sekitar Viona perlahan menjauh dan berjapan kesisi kapal untuk sekedar menikmati fasilitas yang didiberikan kapal pesiar ini. Gadis itu masih terdiam dalam posisinya, Viona tidak terlihat senang sama sekali. Ekspresi wajahnya sangat berbanding balik dengan orang-orang disekelilingnya.
Sepasang mutiara hazelnya masih terpaku pada ujung lautan yang tidak tampak apa pun itu. Ia sungguh merasa menyesal karna telah datang dan berlayar bersama kapal pesiar ini karna bujukan kedua sahabatnya. Viona tidak ingin mendengar renggekan-renggekan dari kedua sahabatnya itu dan akhirnya menyerah dan menuruti keinginan mereka. Viona memperhatikan sekelilingnya, semua orang terlihat berpasangan dan hanya dirinya yang tidak.
"Sepertinya kau tidak merasa senang berada dikapal pesiar ini?"
Sontak Viona menoleh saat suara dingin terlewat datar tiba-tiba menyapa telinganya dan melihat seorang pria tampan dengan stoic facenya sedang bersandar pada sisi kapal sambil kedua tangannya. Laki-laki itu tersenyum melihat kearah lautan dan Viona terpesona dengan kesempurnaan wajahnya. Kedua mata Viona lantas membelalak saat menyadari siapa orang tersebut.
"NATHAN!!"
.
.
__ADS_1
Bersambung.