Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 37 "Janda 4 Anak"


__ADS_3

Pagi ini langit terlihat cerah dan biru dengan hiasan awan putih tipis yang berarak. Dibawah sinar matahari yang lumayan terik, terlihat seorang laki-laki berwajah kebarat-baratan baru saja turun dari mobil mewahnya dan memasuki gedung perkantoran yang memiliki sedikitnya empat puluh lantai.


Pria dalam balutan pakaian formal itu melangkahkan kakinya dengan tenang, beberapa kali ia menarik sudut bibirnya untuk membalas sapaan dari para karyawan yang tidak sengaja berpapasan dengannya. Laki-laki itu memasuki ruangannya dan mendapati seorang wanita berdiri memunggunginya.


"Tiffany," panggilnya ragu, wanita itu berbalik badan setelah mendengar panggilan seseorang ,suaranya begitu familiar. Sudut bibir Tiffany tertarik keatas membentuk lengkungan indah diwajah cantiknya.


"Henry, Oppa?"


Bruggg!!


Tubuh Henry terhuyung kebelakang karna pelukan Tiffany yang sangat tiba-tiba. "Aku merindukanmu." bisik wanita sambil mengeratkan pelukannya. Henry mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Tiffany "Kapan kau kembali? Dan kenapa tidak memberitauku?" Henry melonggarkan pelukannya dan menatap wajah cantik itu sesaat. "Aku kan bisa menjemputmu."


"Jika aku memberitaumu itu bukan kejutan namanya." Henry terkekeh dan kembali memeluk Tiffany lebih erat dari sebelumnya.


Henry dan Tiffany sudah bersabat baik sejak mereka sama-sama duduk disekolah menengah. Tiffany adalah junior Henry saat sekolah dulu dan Tiffany satu kelas dengan Nathan. Henry dan Tiffany sama-sama jatuh cinta sejak mereka pertama bertemu, namun sayangnya mereka tidak ada yang berani untuk saling mengungkapkan perasaan masing-masing dan memilih untuk memendamnya.


Namun dipertemuan mereka kali ini, Henry tidak ingin mengulang kebodohannya dimasa lalu dan membiarkan wanita yang sangat dia cintai lepas dari pelukannya. Henry akan menahan Tiffany disisinya, seperti apa yang Nathan lakukan pada Viona. Mengikat wanita itu dan menjadikan dia sebagai miliknya. "Aku akan mengosongkan semua jadwalku hari ini dan membawamu keliling kota."


"Benarkah?" Tiffany berbinar mendengar ucapan Henry, laki-laki itu mengangguk seraya tersenyum. "Bisa kita berangkat sekarang?"


"Tentu, apapun untukmu princess." Tiffany terkekeh, keduanya pun berjalan beriringan meninggalkan kantor milik Henry dan berjalan menuju parkira. Hari ini Henry akan mengajak Tiffany untuk berkeliling kota dan menghabiskan banyak waktu bersamanya.


.


.


.


Bukan Rio, Frans dan Satya namanya jika tidak memiliki cara untuk membuat hari Leo menjadi buruk. Ketiga pemuda itu akan mengikuti Leo yang hendak bertemu dengan Cherly hari ini, bukan secara terang-terangan namun dengan sebuah penyamaran.


Frans akan menjadi pelayan cafe ditempat mereka berdua bertemu, sedangkan Rio dan Satya akan berpura-pura menjadi pengunjung cafe, bukan dengan penampilan asli mereka namun dengan sebuah penyamaran juga.


Dicafe itu, Frans akan berpenampilan seperti seorang wanita dengan sebuah wig panjang berwarna hitam legam dan dress putih berkombinasi putih yang membuatnya terlihat begitu manis. Sedangkan Satya menjadi seorang kakek dengan memakai rambut serta kumis palsu, membuat wajahnya terlihat keriput dan tidak ketinggalan sebuah kaca mata dan tongkat besi yang membuatnya benar-benar terlihat seperti kakek tua, sedangkan Rio menjadi bocah cupu.


"Tuan, Nona, silahkan... ini pesanan anda." Frans datang membawakan pesanan untuk Leo dan Cherly. Pemuda itu terlihat berbeda dan suaranya yang sedikit kemayu membuat dirinya tidak dikenali.


"Kau pelayan baru di sini? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya," tanya Leo penasaran.


"Benar, Tuan. Saya bekerja seperti ini juga karna terpaksa. Saat ini usia saya 25 tahun. Saya menikah saat usia saya masih 16 tahun, saya memiliki empat anak dan semua masih kecil-kecil. Suami saya meninggal hanyut di Sungai Han, jadi saya harus banting tulang untuk menghidupi anak-anak saya. Awalnya saya ingin bekerja sebagai wanita malam tapi takut masuk penjara karna tertangkap petugas, jadinya saya bekerja di sini,"


"Astaga, malang sekali nasibmu." Terlihat Leo mengeluarkan dompetnya lalu memberikan uang tips pada Frans. "Untuk anak-anakmu,, anggap saja ini pertlongan Dewa."


"Maaf Tuan, bukannya saya tidak mau menerima. Masalahnya jika hanya segini tidak akan cukup. Anak saya empat dan semua masih minum susu, setidaknya Anda harus memberi saya uang lebih. Bagaimana pun juga saya adalah Janda dengan 4 anak yang hidupnya serba kekurangan, apa Anda tidak merasa kasihan pada saya?"


"Dasar penjilat, sudah dikasih masih saja menawar. Ambil uang itu kemudian pergi." sinis Cherly kesal.


"Nona, kenapa Anda yang marah, Tuan ini sendiri yang ingin memberikan uang pada saya." ucap Frans tak mau kalah.

__ADS_1


"Ibu, Ayah!!"


"Omo?" Leo dan Cherly terkejut bukan main karna ada seorang pemuda tiba-tiba datang lalu memanggil mereka dengan sebutan Ibu dan Ayah.


"Yakyakyak, apa yang kau lakukan?" amuk Cherly saat seorang pemuda kira-kira berusia 18 tahun tiba-tiba datang dan memeluknya.


"Ibu, Yoyo kangen. Hiks, srrrooottt." renggek pemuda itu sambil menghisap kembali ingusnya. "Ibu kemana saja, aku kangen eomma. Hiks, srrroootttt," kali ini syal Cherly yang dia jadikan media mengelap ingusnya.


Salahkan Satya dan Frans yang membuat Rio benar-benar terlihat seperti bocah yang selalu ingusan, kedua pemuda itu menabur bubuk merica hingga membuat Rio terus-terusan bersin dan beringus.


"Ieeeuuhhh!! Menjijikkan, yakkk... bocah kenapa mengelap ingus dengan syalku? Ini sangat mahal apa kau tidak tau itu? Lagipula aku bukan Ibumu, pergi kau." Teriak Cherly


Rio menghampiri Satya sambil menangis. "Huaaaaa!! Kakek, Ibuku jahat dia tidak mau mengakuiku." Adu pemuda itu pada laki-laki tua yang baru saja tiba dicafe "Kekak, meskipun kau bukan keluargaku pasti akan merasa prihatin kan, srrroot. Sejak kecil aku ditelantarkan oleh mereka dan aku tidak diakui anak karna aku ini jelek dan kutu buku. Aku selalu ingusan jadi mereka malu mengakuiku. Hiks, aku sangat sedih Kakek." Ujarnya.


"Aa..aaa..aapaa?" keget kakek tua itu yang pastinya adalah Satya.


"Cukup. Apa-apaan kau ini? Kami memang bukan orang tuamu, tidak mungkin diusiaku yang baru menginjak kepala tiga memiliki putra sebesar dirimu. Dasar sinting, pergi saja kau dari sini." amuk Leo dengan nada meninggi. Dan teriakan Leo menarik perhatian semua pengunjung cafe itu, kini dirinya menjadi pusat perhatian "Sial." umpatnya.


Tukk!!


"Yakkkk!!!" teriak Leo sambil mengusap kepalanya yang baru saja dipukul oleh Satya menggunakan tongkatnya. "Kakek tua, apa sebenarnya masalahmu denganku? Kenapa seenaknya saja kau memukulku?"


"Orang tua tidak bertanggung jawab sepertimu bukan hanya dipukul. Harusnya ditenggelamkan disungai Han." ujar Satya sambil menunjuk Leo dengan tongkatnya.


"Sudahlah Leo, sebaiknya kita pindah saja. Cafe ini tidak nyaman untuk berbincang. Hei pelayan, kemari kau." Cherly melambaikan tangannya pada Frans. Frans datang dengan sebuah bill ditangannya. "Omo? Kau ingin merampok kami?" Frans buru-buru menggeleng. "Kenapa mahal sekali?"


"Ini menu terbaru cafe ini, Tuan, Nona. Ada tambahan bubuk emas dan berlian dalam makanan dan minuman kalian. Yang kalian pesan yang paling terkenal dan termahal di cafe ini jadi wajar jika harganya selangit. Dan nominal dibawah ini adalah santunan yang tuan baik hati ini berikan pada saya, banyak saksinya disini. Mau tidak mau kalian harus membayar seharga ini." ujar Frans panjang lebar.


"Baiklah, polisi di sini ada yang tidak-"


"Oke, akan aku bayar." Leo mengeluarkan kartu kreditnya dan memberikannya pada Frans. "Jangan bawah-bawah polisi, aku membayarnya." ucap Leo setengah pasrah. Frans tersenyum lebar.


"Tunggu sebentar, Ruan." dalam langkahnya Frans mati-matian menahan diri agar tidak tertawa terbahak-bahak.


Kali ini ketiga pemuda itu tidak hanya membuat Cherly dan Leo gagal membahas rencana busuknya namun juga membuat Leo bangkrut karna sejumlah nominal yang Frans tulis pada billnya. Frans tidak mendapatkan teguran ataupun peringatan dari pemilik cafe tersebut karna sebenarnya cafe itu adalah milik keluarga Lu.


"Mampus kau, Leo Ardinata." Bukan sedikit, uang yang harus Leo keluarkan sama dengan satu harga motor baru, sepertinya hari ini adalah hari kesialanmu bagi Leo.


Sepertinya kesialan Leo dan Cherly tidak cukup sampai di situ. Saat tiba diparkiran, mereka berdua dikejutkan dengan keadaan mobil Leo yang sangat kotor ditambah dengan keempat bannya kempes padahal saat ditinggalkan masih dalam keadaan baik-baik saja. Dan Leo tentu sudah tau siapa pelakunya meskipun tanpa melihatnya langsung sekalipun.


"BOCAH SETANNNNN!!!:


"Bwahahahha!! Didalam sana ketiganya tertawa penuh kemenangan melihat penderitaan Leo kali ini. Bukan hanya mentalnya saja, tapi mereka juga merampok sejumlah uangnya


"Sat, Rio. Malam ini kita akan pesta." seru Frans kencang.


Frans mengibaskan uang-uang ditangannya dan menjadikannya sebagai kipas. "Are you ready?" tanyanya pada Satya dan Rio. Keduanya saling bertukar pandang, dengan kompak mereka menjawab.

__ADS_1


"Ready...." ketiganya pun berjalan beriringan meninggalkan cafe dan pergi untuk bersenang-senang.


.


.


.


Cklekkk!!


Decitan pintu kamar mandi yang dibuka dari dalam menyita perhatian Nathan yang sedang sibuk mengikat tali sepatunya. Bungsu Lu itu menoleh dan mendapati Viona keluar dari dalam sana dengan sebuah handuk yang melilit dada sampai atas lututnya. Sepasang mutiara coklatnya mengamati tubuh Viona dari ujung rambut sampai ujung kaki, seringai mesu* tersungging menghiasi bibirnya.


"Ke-kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Viona gugup. Laki-laki itu bangkit dari duduknya dan menghampiri sang istri yang terlihat begitu cantik.


"Bagaimana jika kita melanjutkan yang semalam, Baby?" bisiknya menggoda lalu melum** singkat bibir Viona. "Rasanya aku ingin memakanmu sekali lagi," lanjutnya dan sontak saja membuat kedua mata Viona membelalak saking kagetnya.


"A-apa??"


"Kekekek! Aku hanya bercanda Sayang, kenapa kau serius sekali." Sekali lagi Nathan mencium dan melum** bibir Viona, namun kali ini lebih singkat. "Segera ganti pakaianmu, hari ini kita akan pindah dari sini."


Viona memicingkan matanya dan menatap Nathan penasaran. "Pindah? Kemana?" Nathan menarik ujung hidung Viona.


"Jika aku memberitaumu sekarang, bukan kejutan namanya." jawabnya.


Viona mencerutkan bibirnya. "Ck, kenapa harus main rahasia-rahasian segala sih? Ayolah Oppa beritau aku," renggek Viona sambil mengedipkan matanya.


"Nanti kau juga akan tau sendiri, ganti pakaianmu gih." pinta Nathab lalu beranjak dari hadapan Viona.


"Oppa jangan melihat, aku mau ganti pakaian." Seru Viona.


Nathan memicingkan matanya "Memangnya bagian tubuhmu yang mana yang belum aku lihat?"


Blussshhh!!!


Rona merah muncuk dikedua pipi Viona yang kini mirip kepiting rebus. Wanita itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dia benar-benar malu. "Oppa, kau membuatku malu." Nathan terkekeh. Tidak ingin pipi Viona semakin merona, Nathan pun berbalik badan dan posisinya memunggungi.


Lima belas menit kemudian Viona telah siap dalam balutan dress biru soft bermotif bunga setengah lengan. Wajah cantiknya dipoles make up tipis dan rambut panjangnya dibiarkan tergerai bergelombang. Viona menghampiri Nathan yang tengah disubukkan dengan ponselnya. Wanita itu memiringkan wajahnya dan menatap penampilan suaminya yang terlihat berbeda dari biasanya. Jeans belel hitam, t-shirt putih press body berlengan pendek dibalut leather vest hitam. Terlihat berantakan dan sedikit liar, namun Nathan tetap terlihat tampan meskipun perban masih belum mau beranjak dari keningnya.


"Wow, Oppa kau terlihat berbeda hari ini. Aku menyukai stylemu, kau terlihat eerrrr ... liar." cerocos Viona saat sudah berada dihadapan Nathan. "Oppa, bisakah saat tidak bekerja kau berpenampilan seperti ini?" renggek Viona memohon.


Nathan memicingkan matanya. "Kau memang selalu penih kejutan, Nyonya Lu," Viona terkekeh, dengan manja Viona memeluk lengan Nathan


"Oppa, bisakah kita pergi sekarang? Aku sudah tidak sabar ingin segera tau kejutan apa yang akan kau berikan padamu." Dan dengan gemas Nathan menjitak kepala Viona lalu mencium singkat bibir tipisnya.


"Dasar kau ini. Baiklah kita berangkat sekarang," ucap Nathan tersenyum.


Viona bersorak kegirangan mendengar jawaban Nathan. Nathan mendengus geli melihat sikap kekanakan Viona. Wanitanya memang sulit di tebak, di balik sikapnya yang anggun dan hangat. Ternyata Viona adalah wanita yang sedikit kekanakan. Ya meskipun sikap itu hanya Viona tunjukkan pada Nathan seorang. Dan apapun akan Nathan lakukan untuk membuat Viona selalu tersenyum bahagia.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2