
"Oh jadi ini, wanita terhormat dan berpendidikan tinggi tapi tak tau malu itu!!" seru seseorang dari arah belakang.
Sontak saja Nathan dan Shion sama-sama menoleh pada sumber suara. Seorang wanita yang tengah berbadan dua terlihat menghampiri mereka berdua sambil menyungging senyum tpis. "Viona," seru Nathan melihat kedatangan istri tercintanya. "Sayang, kau sudah datang," lanjutnya.
Viona menyenggol bahu Shion dan membuat wanita itu menjauh dari Nathan. "Jaga jarakmu dari suamiku, Nona!" sinis Viona seraya menatap Shion tidak suka.
Senyum di bibir Viona kembali mengembang lebar saat berhadapan dengan Nathan. "Aku datang membawakan makan siangmu, hari ini aku memasak banyak makanan kesukaan Oppa. Bagaimana kalau kita makan siang sekarang? Aku sudah sangat kelaparan," renggek Viona dengan tatapan polosnya.
Nathan mendengus geli. "Hn, baiklah. Dan lagi pula aku tidak ingin menbuat calon anakku kekurangan nutrisi karna Ibunya telat makan," ujar Nathan sambil menyentil gemas kening Viona. Viona terkekeh sambil mengusap keningnya yang baru saja di sentil oleh Nathan.
"Bagaimana bisa tidak kekurangan nutrisi, Papanya saja tidak pernah mau menyuntikkan Vitamin padanya!! Padahal dia sudah kuat,"
Nathan menjitak gemas kepala coklat Viona setelah mendengar kalimat ambigunya. "Jangan sembarangan. Lagi pula hal itu aku lakukan untuk kebaikannya," tegas Nathan. Lagi-lagi Viona terkekeh.
"Tunggu," seru Shion menghalangi Nathan dan Viona. "Nathan, jelaskan apa semua ini? Siapa sebenarnya wanita ini? Dan kenapa dia memanggilmu, Oppa? Kau juga sangat perhatian padanya. Dulu kau tidak seperti ini, bahkan saat masih bersamaku, kau juga tidak pernah sehangat ini. Katakan Nathan, siapa dia?" tanya Shion meminta penjelasan.
Viona melepaskan pelukkannya pada lengan Nathan kemudian menghampiri Shion. "Aku lupa memperkenalkan diri padamu. Perkenalkan, aku Viona Anggela, menantu bungsu dalam keluarga Lu," Viona memperkenalkan diri pada Shion. Nada bicaranya begitu angkuh, dan Viona merasa puas melihat wajah terkejut Shion sedangkan Nathan hanya bisa mendengus melihat tingkah istrinya itu.
"A-Apa, Istri?" kaget Shion. "Jadi kau benar-benar sudah menikah dan sahabat tiangmu yang gila itu tidak berbohong padaku?" Shion menatap Nathan tak percaya. Dia tidak percaya jika Nathan telah menggantikan posisinya dihatinya dengan orang lain, yakni Viona.
"Bukankah sudah jelas, jadi mulai detik ini jangan coba-coba untuk mendekati suamiku lagi, karna aku tidak akan tinggal diam dan membiarkannya." Tegas Viona.
"Kau mengancamku? Memangnya siapa kau? Dan lagi pula memangnya apa yang bisa kau lakukan padaku?" sinis Shion meremehkan. "Dan asal kau tau saja jika aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan Nathan kembali. Karna sudah seharusnya dia hanya mencintaiku saja!!" tegas Shion.
"Dasar sinting." Sinis Viona dan meninggalkan Shion begitu saja. "Ahhh "
"Viona," seru Nathan melihat Shion tiba-tiba menjambak rambut belakang Viona hingga kepalanya tertarik ke belakang.
Viona mendengus berat. "Kau benar-benar sudah mencari masalah dengan orang yang salah, Nona," sinis Viona.
Viona melirik tajam pada Shion yang tengah menatap remeh padanya. Viona menarik lengan Shion dan membuat wanita itu tertarik ke depan karna sedikit terkejut. Kaki kanan Viona menendang paha Shion kemudian membanting tubuh wanita itu ke lantai. "Aaahhh, sakit," rintih kesakitan seketika keluar dari sela-sela bibir Shion. Pinggang dan punggungnya terasa seperti mau patah karna bantingan Viona. Tubuh bagian belakang Shion berbenturan dengan lantai dengan cukup keras.
"Dengar ya, dua orang yang paling aku benci di dunia ini adalah penghianat dan pelakor. Dan ini hanya petingatan kecil untukmu. Aku tidak akan segan-segan untuk mematahkan lehermu jika kau masih berani macam-macam lagi dan mencoba menggoda suamiku, jadi berfikirlah dua kali karna kau sudah membuat masalah dengan orang yang salah. Aku tidak akan segan-segan untuk membasmi bibit pelakor yang meresahkan sepertimu!!" Tegas Viona memperingatkan.
Susah payah Shion mencoba untuk duduk. "Kau fikir aku aku akan menyerah? Jangan harap, aku akan merebut Nathan kembali karna dia hanya milikku!!"
Viona mendengus. "Ternyata kau keras kepala juga ya. Sepertinya kau perlu di berikan sedikit pelajaran yang tidak akan pernah kau lupakan sepanjang hidupmu!!" Viona menyambar gunting yang ada di atas meja kerja Nathan, dan tanpa mengatakan apapun, Viona langsung memotong rambut sebahu Shion secara acak dan tak beraturan. Shion terus berteriak dan memaki Viona habis-habisan tapi tak diindahkan oleh wanita itu.
"Yakkk! Wanita barbar, apa yang kau lakukan? Hentikan, jangan memotong rambutku lagi!! Wanita gila aku bilang hentikan! Nathan, apa yang kau lakukan? Kenapa kau diam saja? Cepat hentikan," teriak Shion memohon.
Nathan menaikkan kedua kakinya ke atas meja dan menyeringai sinis. "Bukan urusanku,"
"NATHAN LU!!" amarah Shion memuncak. Dia marah dan juga kecewa karna Nathan lebih membela Viona. "Kenapa kau bisa setega ini padaku? Apa kau sudah lupa dengan semua yang kita lewati dulu? Dulu kita saling mencintai dan kita-"
"Benar-benar bibit pelakor sejati. Bukankah dulu kau sendiri yang sudah membuang Nathan Oppa, tapi sekarang kau ingin memunggutnya kembali. Apakah sebagai seorang wanita kau sudah tidak memiliki harga diri?"
__ADS_1
"Diam ku jalang!!" teriak Shion marah. Wanita itu menatap Viona tajam. "Diam atau ku robek mulut berbisamu itu!!! Ini semua karna dirimu. Ingat, aku belum kalah darimu, lihat dan tunggu saja apa yang akan aku lakukan padamu!!" Shion melepas syal dari lehernya yang kemudian dia gunakan untuk menutupi rambutnya yang tidak berbentuk lagi.
Viona merasa puas. Wanita itu berbalik dan menghampiri Nathan kemudian memeluknya. "Oppa, bagaimana menurutmu? Aku keren tidak?"
"Bukan keren, tapi kau mengerikan Nyonya. Tapi apa yang kau lakukan membuatku bangga,"
"Kalau begitu berikan hadiahku," Viona menutup mata sambil menunjuk bibirnya sendiri.
Nathan mendengus geli. Kemudian menakup wajah Viona dan mencium singkat bibir ranumnya. "Nanti kita lanjutkan lagi saat di rumah. Sebaiknya kita makan sekarang," Viona mendengus kecewa. Sebenarnya dia belum puas dengan ciuman Nathan yang menurutnya terlalu singkat itu. Tapi mau bagaimana lagi, dan Viona hanya bisa mengangguk pasrah.
"Baiklah,"
"Tidak perlu kecewa. Bukankah kita masih memiliki banyak waktu?" Viona mengangguk. Nathan tersenyum tipis. "Makan yang banyak dan pelan-pelan saja. Aku ada pertemuan setelah ini, kau ingin menungguku atau langsung pulang?"
"Mungkin langsung pulang. Oya, Oppa. Apakah malam ini kau lembur lagi?"
"Memangnya kenapa?"
Viona menggeleng. "Aku hanya merasa kesepian saja jika tidak ada dirimu," jawabnya.
"Kalau begitu akan ku usahakan untuk pulang lebih awal. Ya sudah, kita makan lagi, sebelum nasi dan lauknya semakin dingin." Kata Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Viona.
"Baiklah,"
Nathan sangat merasa bersalah pada Viona karna sering meninggalkannya di saat dia sedang hamil muda. Tapi mau bagaimana lagi, Nathan juga memiliki pekerjaan yang harus dia urusi. Dan Nathan berencana untuk cuti dari pekerjaannya saat usia kandugan Viona masuk pada bulan ke 6.
-
Bram benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi, hidupnya yang awalnya baik-baik saja tiba-tiba menjadi buruk seperti ini. Jika tidak salah prediksi, semua itu berawal setelah kemunculan seorang pemuda misterius yang mengantarkan sebuah paket untuknya.
Tokk ,, Tokk ,, Tok ,,
Ketukan keras pada pintu membuat perhatian Bram sedikit teralihkan.
"Masuk." Serunya kencang.
Bram bangkit dari sofa dan kemudian berjalan menuju kursi jabatannya dan duduk nyaman di sana.
Decitan pintu terdengar, tampak seorang pria yang usianya lebih muda darinya masuk dengan membawa map berwarna gelap.
"Tuan Preadir, ini laporan yang Anda minta."
Bram menatap pria itu sekilas kemudian mengambil map berisi laporan yang di berikan oleh bawahannya tersebut. Sepasang mutiara hitamnya meneliti setiap baris kata yang tertulis di atas kertas yang saat ini ada di dalam genggamannya.
"Ini adalah hasil laporan minggu ini Tuan. Dan saham di perusahaan kita semakin menurun. Saham perusahaan menurun setiap harinya. Beberapa Investor yang menanam saham di perusahaan ini mulai menarik investasinya dari perusahaan kita kemudian bergabung dengan perusahaan lain. Mereka tidak ingin mengambil resiko, kita harus segera mengambil tindakan. Karna jika di biarkan seperti ini terus. Maka tidak akan menutup kemungkinan juja perusahaan ini bisa mengakami kebangkrutan," jelas pria itu memaparkan.
__ADS_1
Bram mengerutkan dahinya, Ia melepaskan kaca mata baca yang bertengger di hidungnya. Kedua tangannya mulai berkeringat dingin, Bram benar-benar merasa cemas.
"Baiklah segera kumpulkan beberpa perwakilan dari divisi dan para petinggi. Kita akan mengadakan rapat 1 jam lagi."
"Baik Tuan Presdir." Pria itu pun beranjak dari ruangan Bram, meninggalkan pria itu sendiri dengan beban berat yang terpikul di atas pundaknya.
" Mungkinkah ini akhir dari kejayaanmu, Bram Wiranata?" gumam Bram pada dirinya sendiri. Bram menggeleng. "Tidak, aku tidak bisa membiarkan hal ini terus berlanjut. Aku harus segera menemukan cara untuk mengatasinya!!!"
-
"Omo!! Nunna, apa yang terjadi dengan kepalamu? Kenapa kau jadi botak begitu?" kaget seorang bocah cupu bertompel dan berkacamata tebal yang pastinya adalah Rio.
"Kau!! Bukankah Kau adalah si udik itu. Sedang apa kau di sini?" tanya Shion sinis.
"Dasar belatung nangka. Beginikah caramu bersikap pada anak di bawah umur sepertiku yang super duper imut ini? Huaaa...Aku ditindas," Shion memutar jengah matanya. Dia sudah tau dan hapal tabiat pemuda seperti Rio.
Dia benar-benar muak pada pemuda dihadapannya. "Baiklah aku akan katakan kenapa aku di sini. Ibu sudah mengakuiku kalau aku ini anaknya dan mulai sekarang kita adalah keluarga. Nunna, aku sangat bahagia memiliki kakak sepertimu," Rio langsung memeluk Shion dan menjadikan pakaiannya untuk mengusap ingusnya.
"Yakkk!!! Anak Iblis. Apa yang kau lakukan hah!!" Apa kau tau jika pakaian ini sangat mahal?" amuk Shion sambil menatap Rio marah.
"Hiks...Hiks...Hiks... Huaaaa," tangis Rio pun pecah saat melihat kedatangan Dora. Rio menghampiri wanita itu dan mengadu padanya. "Hiks, Ibu.... Nunna jahat, dia membentakku dan membuatku menangis,"
"Kau fikir aku peduli," sinis Dora.
"Kalian para orang dewasa sangat jahat. Baiklah aku akan pergi menemui bapak polisi yang tadi dan mengadukan perbuatan kalian padaku, akan ku pastikan jika kalian akan mendekam sampai seumur hidup di penjara!!" ancam Rio dan membuat kedua mata Dora membelalak sempurna.
"Jangan.. jangan... Baiklah Ibu dan kakak minta maaf, tapi jangan laporkan kami pada polisi. Jangankan seumur hidup, satu jam saja sudah sangat mengerikan. Jangan ya, Ibu mohon... Yoyo anak pintar," Dora membujuk Rio supaya pemuda itu tidak melaporkan dirinya ke polisi. Dora masih sangat trauma.
Rio membuat laporan dan melaporkan Dora jika dia sudah menelantarkan dirinya dengan alasan yang cukup menggelikan. Dan parahnya polisi mempercayainya. Akibatnya Dora di tangkap dan di penjara selama beberapa jam karna pada akhirnya dia mau mengakui Rio sebagai putranya dengan sangat terpaksa. Apalagi dengan perlakuan buruk yang dia dapatkan di dalam sel membuat Dora nyaris gila.
"Hehehe..Gitu dong seharusnya dari tadi saja," Rio tersenyum penuh kemenangan.
Mengabaikan Rio yang membuat hidupnya sengsara. Kini perhatian Dora tertuju pada putri sambungnya. Sungguh dia sangat penasaran dengan apa yang menimpa Shion. "Sekarang jelaskan pada Ibu, siapa yang sudah melakukan hal ini padamu?" tanya Dora meminta penjelasan.
"Viona Anggela, istri dari mantan kekasihku. Dia tidak hanya membotaki rambutku tapi juga membanting tubuhku. Aku hampir saja mengalami encok dan patah tulang karna ulahnya,"
"Pfftt," nyaris saja tawa Rio pecah mendengar cerita Shion. Dia sungguh tidak menyangka jika bibinya itu begitu hebat dalam membasmi bibit pelakor seperti Shion. "Heheheh... Mampus kau betina. Siapa suruh cari gara-gara dengan Ratu Iblis dari neraka. Begitulah Bibiku kalau sedang marah," ujar Rio setengah berbisik.
"Bu, lakukan sesuatu. Aku ingin kau memberikan pelajaran pada wanita itu. Aku tidak mau tau, pokoknya wanita itu harus hancur!!"
"Kau tenang saja. Urusan ini serahkan padaku, aku akan menyelesaikannya. Sebaiknya segera pergi ke salon. Benahi penampilanmu yang buruk itu,"
"Itu juga yang mau aku lakukan." Shion berbalik dan pergi begitu saja. "Viona Anggella, tunggu kehancuranmu!!" Shion menggepalkan tangannya dan bergumam sambil melewati Rio yang terlihat mengutak-atik ponselnya.
Rio akan melaporkan rencana Shion dan Dora pada Nathan dan Viona supaya mereka lebih waspada lagi. Dan Rio mengatakan pada Nathan jika dirinya sudah memiliki rencana yang sangat bagus dalam membashi hama meresahkan seperti Shion dan Dora.
__ADS_1
-
Bersambung.