
Nathan meninggalkan kantornya dan berencana menjemput Viona di rumah sakit. Wanita itu tadi menghubunginya dan mengatakan jika dia akan pergi untuk menemui kedua sahabatnya, Sunny dan Kirana. Viona merindukan mereka berdua karna sudah lama tidak bertemu.
Brugg...
Tapi langkahnya terhenti ketika seorang pria yang sekujur tubuhnya dipenuhi luka tersungkur tepat dikakinya. Tampak Bima dan Kai berdiri di samping pria tersebut
"Jelaskan!! Ada apa lagi ini Kai, Bim?" tanya Nathan meminta penjelasan.
"Aku dan Kai tidak sengaja melihat dia sedang menyelinap masuk dengan gelagat yang mencurigakan. Akhirnya kami meringkusnya. Dan ini yang kami temukan di dalam tasnya," jelas Bima. Bima menunjukkan benda-benda yang ada di dalam tas pria itu pada Nathan.
Nathan mendesah berat. "Dia aku serahkan pada kalian berdua. Pastikan dia buka mulut dan memberitau kita siapa yang mengirimnya. Aku masih ada urusan," setelah mengatakan kalimat itu, Nathan melanjutkan langkahnya dan pergi begitu saja.
"Iblis itu, untung kami bersahabat baik. Jika tidak pasti aku sudah menggantungnya hidup-hidup," geram Bima sambil berkomat-kamit tidak jelas. Lagi-lagi Nathan membuatnya dongkol.
Sontak saja Kai menoleh. "Memangnya kau berani?"
Bima menggeleng. "Tidak," jawabnya singkat.
Kai mendengus berat. "Sudah aku duga, lagi pula siapa yang berani membuat masalah dengan Boss." Kata Kai menimpali.
"Itu kau tau, aku tidak ingin di gantung hidup-hidup oleh Iblis tak berhati itu. Mukanya saja yang tampan seperti Malaikat, tapi aslinya Iblis. Dan jangankan mencari masalah dengannya. Melihat sorot matanya saja sudah membuat nyaliku ciut. Di tambah lagi sekarang dia selalu memakai penutup mata hitam sejak bola mata kirinya diangkat. Eyepacht itu malah membuatnya semakin misterius dan menyeramkan." Oceh Bima panjang lebar. Dan Kai setuju dengan pria jangkung tersebut.
Bima menjentikkan jarinya saat tiba-tiba dirinya mendapatkan ide. "Kai, aku punya ide," seru Bima yang sontak membuat Kai menoleh padanya.
"Ide apa, Hyung?"
"Bagaimana jika kita minta bantuan bocah-bocah setan itu untuk membuat dia buka mulut, bagaimana menurutmu?" tanya Bima.
"Ide yang bagus, Hyung. Kalau begitu tunggu apa lagi, cepat hubungi mereka berdua," pinta Kai yang lebih terdengar seperti sebuah perintah.
"Kenapa kau malah menyuruhku, Kai. Bagaimana pun juga posisiku itu lebih tinggi darimu!!" protes Bima tak terima.
Kai memutar mata jengah. "Kau ini berisik sekali Hyung. Sudahlah, cepat hubungi mereka atau kita akan mendapat masalah dari Boss. Kau ingin tidur di kamar mandi lagi malam ini?"
Mata Bima lantas membelalak. Bima menggeleng. "Idih, amit-amit tujuh turunan. Tidak lagi-lagi Kai. Aku sudah kapok setengah mati berurusan dengan Iblis itu. Iya..iya aku hubungi mereka sekarang." Ucap Bima pasrah.
"Nah gitu dong,"
-
"Vi, kau bilang suamiku mau kemari. Tapi kenapa sampai sekarang dia belum datang juga?" tanya Sunny.
"Mungkin masih di jalan atau mungkin pekerjaannya di kantor masih belum selesai. Bagaimana kalau sekarang kita keluar, sudah hampir jam makan siang," usul Viona yang kemudian di sambut baik oleh Sunny dan Kirana.
"Ide bagus, kebetulan aku juga sudah sangat kelaparan. Tapi bagaimana kalau Tuan Lu tiba-tiba datang dan mencarimu, dan kau tidak ada."
"Sunny benar, apalagi Senior juga sedang pergi ke luar kota untuk menghadiri Seminar,"
"Tidak perlu cemas, aku akan mengirimkan pesan padanya. Jangan buang-buang waktu lagi. Sebaiknya kita pergi sekarang,"
"Oke," keduanya menjawab dengan kompak.
Dan ketiga dokter cantik itu pun meninggalkan rumah sakit. Mereka terlalu malas untuk makan siang di kantin rumah sakit yang menunya hanya itu-itu saja pada setiap harinya.
Tak lama setelah kepergian Viona, Sunny dan Kirana. Segerombolan pria bersenjata tiba-tiba datang dan membuat kegaduhan. Mereka membunuh orang-orang yang berada di rumah sakit itu tanpa terkecuali.
DORR!!
DORR!!
"Kkkkyyyyyyaaaaaa!"
Suasana siang yang semula tenang seketika mencekam karna insiden berdarah tersebut. Semua orang berhamburan untuk menyelamatkan diri masing-masing. Dan sedikitnya sudah ada lima puluh orang yang terkapar memenuhi setiap titik dalam rumah sakit itu. Tidak tau apa alasannya sehingga orang-orang misterius melakukan pembantaian besar-besaran di rumah sakit tersebut.
__ADS_1
Tidak hanya menghabisi orang-orangnya. Tapi orang-orang itu juga menghancurkan sebagian besar gedung rumah sakit menggunakan sebuah bom. Korban bertambah lagi, bukan lagi puluhan melainkan ratusan. Ya, sekitar 130 nyawa melayang sia-sia.
Tak berselang lama para polisi mulai berdatangan dan membuat garis kuning di lokasi. Mayat-mayat yang bergelimpangan di lantai dibawah keluar dan di kumpulkan di satu titik. Empat terduga pelaku turut menjadi korban. Sedangkan yang lain berhasil melarikan diri sebelum polisi tiba di lokasi.
Dan sementara itu..
Nathan yang baru saja tiba dilokasi hanya nampu terpaku melihat rumah sakit milik Senna hampir rata menjadi tanah. Nathan seperti kehilangan sel-sel dalam tubuhnya melihat mayat-mayat berjajar di halaman rumah sakit.
"Viona," gumamnya lirih.
Nathan menyeka kasar air matanya dan berlari menuju retuntuhan itu untuk mencari Viona karna dia tidak mendapati istrinya di antara mayat-mayat tersebut. Hati dan batinnya bergejolak hebat, Ia hanya berharap ada miracle untuk wanita itu. Dan Nathan tidak mungkin bisa memaafkan dirinya sendiri jika hal buruk sampai menimpa Viona.
"VIONA!!!"
.....
"VIONA!!!"
....
"VIONA!!"
Nathan terus berteriak seperti orang gila menyeruhkan nama wanita itu, namun tidak ada sahutan dari sang empunya nama. Nathan mengedarkan pandangannya kesegala penjuru arah , bangunan itu bertingkat itu hampir rata menjadi ranah. Darah menggenang di mana-mana.
"Sayang, di mana kamu? VIONA!!!"
Berkali-kali Nathan menghentikan para relawan dan polisi yang melintas di depannya hanya untuk memastikan jika mayat yang mereka bawah itu Viona atau bukan. Nathan berlari dan terus mencari namun Ia tidak juga menemukan istrinya, sampai matanya melihat sosok wanita bersurai coklat panjang yang tubuhnya terhimpit di antara reruntuhan.
Dengan langkah sedikit diseret. Devan menghampiri sosok wanita itu. "Vi-Vi-Ona?" gumamnya terbatah.
Nathan memindahkan bongkahan-bongkahan itu dan tubuhnya lemas seketika saat melihat wajah mayat yang ada di hadapannya. Air matanya mengalir semakin deras, beberapa orang berdatangan dan mengangkut mayat wanita tersebut.
Nathan menundukkan wajahnya , salah satu tangannya mencengkram dadanya yang terasa sesak seperti di himpit bongkahan batu besar. Nathan memejamkan matanya, nafasnya naik turun tidak beraturan. Ketakutannya benar-benar menjadi kenyataan, Ia belum siap jika harus kehilangan wanita itu. Dan seketika Nathan teringat pada kata-kata Viona satu minggu yang lalu. Nathan tidak siap kehilangan Viona, dan dia tidak akan pernah siap.
Dengan hati hancur, Nathan berjalan meninggalkan reruntuhan itu menuju para mayat-mayat berjajar dan saat itu pula mata coklatnya tanpa sengaja melihat siluet wanita berparas barbie yang tampak tertegun melihat hal mengerikan yang ada di depan matanya. Nathan menghela nafas lega, meskipun ketakutan masih tampak jelas pada sorot matanya yang dingin. Dia lega melihat sosok itu baik-baik saja. Nathan menghampiri Viona dan langsung memeluknya.
"Viona,"
Tubuh wanita itu sedikit terhuyung kebelakang karna pelukan Nathan yang sangat tiba-tiba. "Aku fikir aku sudah kehilanganmu, Viona Lu." Bisik Nathan sambil mencium pucuk kepala Viona berkali-kali. Nathan menutup mata kanannya. Dentak jantungnya berdegup kencang dan nafasnya naik-turun tak beraturan.
Viona yang awalnya bingung kini menarik sudut bibirnya dan membalas pelukan Nathan. "Aku tidak akan pergi kemana pun, Oppa. Bagaimana bisa aku meninggalkanmu sementara kita berdua sudah berjanji untuk selalu bersama-sama sampai tua," bisik Viona sambil mengeratkan pelukannya.
Dalam hatinya Viona bersyukur karna pada saat kejadian Ia dan kedua sahabatnya tidak berada di tempat. Namun ia juga merasa sedih melihat banyak orang yang tidak selamat dalam insiden berdarah itu, dan rumah sakit tempatnya bekerja kini hampir rata menjadi tanah.
"Viona," Hans yang melihat berita di televisi langsung pergi kelokasi. Dan pria itu kini bisa menghela nafas lega melihat Viona baik-baik saja. "Paman fikir, Paman sudah kehilanganmu," ucap Hans berbisik
Viona mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukkan Hans. "Aku baik-baik saja Paman," balas Viona meyakinkan.
Nathan menatap Hans dengan tatapan tak terbaca. Melihat bagaimana cara Hans memperlakukan Viona serta panggilan sayang untuknya. Entah kenapa Nathan merasa jika hubungan di antara mereka bukan hanya sekedar paman dan keponakkan melainkan Ayah dan anak.
"Bisakah kau bawa Viona pulang. Ada sesuatu yang harus aku urus," ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Hans.
"Baiklah, kami pergi dulu,"
"Oppa,"
"Aku harus memastikan sesuatu. Sebaiknya sekarang kau pulang bersama Paman Hans, aku akan pulang sebelum jam makan malam tiba,"
"Janji?"
"Akan aku usahakan,"
Selepas kepergian Viona dan Hans. Nathan menghampiri salah satu mayat yang di duga sebagai pelaku. Nathan merobek lengan kemeja dan jasnya. Seperti dugaan Nathan, mereka adalah bagian dari Black Devil.
__ADS_1
Black Devi**l adalah organisasi hitam yang sudah lama berkecimpung dalam dunia kejahatan. Mereka di sangat kenal kejam, brutal dan tidak berhati. Dan mereka tidak ada bedanya dengan orang-orang dari organisasi Yakuza.
Awalnya mereka memang tidak memiliki masalah apapun dengan Nathan, tapi beberapa waktu yang lalu mereka baru saja mengibarkan bendera perang dengannya karna menjadikan rumah sakit milik kakaknya sebagai salah satu target kejahatan mereka. Dan Nathan tidak akan melepaskan mereka semua begitu saja, Nathan pastikan mereka akan membayar mahal untuk kejahatan yang mereka lakukan hari ini.
Nathan meninggalkan lokasi. Dengan berbekal rekaman CCTV, Nathan akan menemukan 7 orang pelaku yang masih hidup itu dan menghabisi mereka tanpa tersisa. Nathan akan membuat mereka membayar mahal perbuatannya dengan menggunakan nyawanya.
Mobil sport milik Nathan melaju kencang pada jalanan yang legang. Mobil sport mewah keluaran terbaru itu berusaha mengejar dua van hitam yang melaju kencang menuju area perbukitan. Dan sepertinya keberadaan Nathan disadari oleh mereka. Hal itu terbukti saat kedua Van itu tiba-tiba saja berhenti.
Nathan segera keluar dari mobilnya begitu pula dengan orang-orang itu. "Apa kau sudah tidak menyayangi nyawamu sendiri sampai-sampai berani mengikuti kami," ucap salah satu dari ketujuh pria itu.
"Atau mungkin kau ingin supaya kita membuat mata kananmu bernasib seperti mata kirimu?"
"Terlalu banyak bicara," sinis Nathan.
Dan tanpa banyak berbasa-basi Nathan langsung melepaskan tembakkannya pada orang-orang itu. Dua diantaranya tumbang setelah terkena terjangan amunisi yang Nathan lepaskan.
Dor!
Dor!
Dor!
Suara desing peluru saling menyahut menghantam keheningan diarea perbukitan. Percikan api timbul dari butiran logam yang terpental dari senjata masing-masing. Nathan terus menembaki orang-orang berbaju hitam yang berlindung di balik van hitam itu. Berhasil melumpuhkan tiga orang dan tersisa empat orang lagi.
Nathan membuang senjatanya begitu pula dengan keempat pria itu karna senjata mereka sama-sama kehabisan peluru. Nathan yang hanya sendiri di keroyok empat orang.
Nathan langsung mendorong pria berkepala plontos itu lalu menendang perutnya, sementara yang lainnya datang menyerang Nathan
Dengan gerakan yang indah, Nathan menghindari satu serangan yang mengarah ke ulu ati. Tidak sampai di situ saja, muncul lagi serangan lainnya juga ingin menghajar Nathan. Namun pria itu dengan lincah berkelit kesana kemari menghindari serangan yang serentak itu.
Serangan-serangan itu dapat dihadapi Nathan dengan sangat mudah. Sampai sejauh ini, pria itu sama sekali belum balas menyerang. Dia masih saja mengelak kesana dan kemari untuk menghindari serangan lawannya. Tentu saja hal ini membuat para pengeroyoknya menjadi semakin marah, bahkan makin memperhebat serangan-serangannya.
Melihat kelincahan Nathan, membuat mereka berempat menjadi geram sekali. Dengan satu teriakan nyaring salah satu dari keempat pria itu segera melayangkan serangan ke arah Nathan. Pria itu segera memalingkan wajahnya ketika ada serangan yang mengarah kepadanya. Sambil merundukkan tubuhnya, tangan Nathan berbalik membalikkan serangan itu.
Terdengar suara ketika kedua pasang lengan pria berambut hitam itu bertemu telapak tangan Nathan.
"Gila! ternyata si cacat ini sangat hebat!" dengus pria itu tak percaya.
Mereka kini mengurung Nathan dan bersiap menyerang. Nathan dengan tenangnya dapat mengelakkan semua serangan mereka. Betapa berangnya hati mereka Sebab telah dikeroyok tapi tak ada satu pukulan pun yang menyentuh tubuh Nathan itu.
"Baiklah, sekarang giliranku!" ucap Nathan yang akhirnya mulai jengkel.
Pria itu mulai bergerak. Nathan mulai balas menyerang. Kali ini Nathan tidak ragu-ragu lagi. Nathan mengeluarkan semua kemampuan hasil latihannya selama bertahun-tahun. Dan hasilnya hebat sekali.
Satu persatu tubuh pria-pria itu terhempas. Tubuh mereka bergulingan di aspal sambil mengerang kesakitan, bahkan kelihatan ada yang patah tulang.
"Dasar sialan! Ayo lawan aku!" pria berambut hitam itu tiba-tiba berteriak-teriak memaki lawannya.
"Ck. Kau terlalu berisik. Jangan berteriak-teriak seperti kerbau ompong. Bukankah kau yang memintanya?" sinis Nathan sambil tersenyum mengejek.
Dengan hati terbakar, pria itu pun melancarkan serangan secara beruntun. Kedua tangannya yang memukul itu bergerak teratur, ternyata ia sepertinya juga sudah terlatih.
Nathan menggeser kaki kanannya membentuk setengah lingkaran. Kedua tangannya bergerak secara berlawanan, guna mematahkan serangan lawannya. Nathan telah melepaskan tendangan kilat ke arah muka pria itu, ia tercekat melihat serangan yang tidak terduga mengarah padanya. Dan dengan cepat segera dimiringkan tubuhnya ke kanan.
Tubuh pria itu terhempas dan menghantam pohon dibelakangnya ketika tendangan Nathan menghantam bahu berniat mengirimkan kembali tendangannya. Ia ingin segera menyelesaikan permainan ini.
Bugh...
Dan serangan terakhirnya membuat pria itu pingsan seketika. Sebuah mobil yang datang mengalihkan perhatian Nathan. Terlihat Kai dan anak buahnya datang menghampirinya. "Urus mereka dan bawa mereka ke ruang bawa tanah. Sedangkan untuk mayat-mayat itu langsung rajam saja dan buang dagingnya ke dalam laut!!"
"Baik Tuan,"
-
__ADS_1
Bersambung.