Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 82 "Aksi Kedua Nathan"


__ADS_3

Nathan melanjutkan misinya yang sempat ia tunda selama beberapa hari. Nathan berencana untuk menghabisi semua orang yang tergabung dalam organisasi Black Devil. Dendam kesumat yang tertanam dalam hatinya tak bisa Nathan hentikan begitu saja. Mereka harus menerima akibatnya karna sudah berani main-main dan mengibarkan bendera perang dengannya.


Nathan mulai bergerak secara perlahan dan mendekati kediaman targetnya. Kali ini yang menjadi targetnya adalah boss ketiga dalam organisasi hitam tersebut. Ia mencari targetnya melalui scope dan berhasil menemukannya. Namun ketika Nathan hendak menarik pelatuk senapannya, ia melihat seorang pria yang sangat dia kenal sedang berjaga didepan rumah targetnya.


"Tsk! Si bajingan itu lagi. Mau apa dia di sana?" Nathan kembali mengarahkan senapan sniper nya menuju target. Sebelum menarik pelatuknya, dia melihat Jonas berjalan menuju kearahnya. Nathan tidak mau mengambil resiko dengan bersinggungan dengan musuh lamanya tersebut. Nathan beringsut ketempat lain.


'Apa yang sebenarnya dilakukan Jonas di sana? Mungkinkah dia bekerja pada mereka,' Nathan membatin sambil memperhatikan Jonas menuju ke tempatnya berada sebelumnya. Jonas terlihat lebih baik, meskipun agak sedikit pincang akibat insiden yang terjadi satu tahun yang lalu.


"Aku tahu kau masih bersembunyi di sekitar sini, segeralah keluar," Jonas berbicara sambil mengamati sekeliling.


"Aku tahu kau baru saja ada disini, ku yakin anak kecil pun tahu karena sangat jelas bekas tempatmu berdiri sambil membidik sasaranmu disini,"


Nathan berfikir, ia bisa saja melawan Jonas disini. Tapi jika ia melakukannya maka ia akan memancing keributan. Dan bisa di pastikan jika semua rencananya akan gagal dan sia-sia.


Satu-satunya yang difikirkan Nathan adalah memancing Jonas menjauh dari situ. Nathan melompat dari atas pohon tempat ia bersembunyi tadi.


"Akhirnya kau muncul juga. Terus terang aku sangat penasaran pada sosok misterius yang membuat heboh seluruh kota. Dan malam ini sosok itu berdiri tepat di hadapanku!!"Jonas menyeringai. Sebenarnya Jonas masih belum mengetahui siapa yang berdiri dihadapannya ini. Karna kepalanya tertutup kain hitam yang dilingkarkan pada lehernya dan hanya menyisakan di bagian matanya saja.


Nathan tidak menyahut, ia malah berlari berharap Jonas mengejarnya.


Nathan dan Jonas pun akhirnya saling kejar mengejar sebelum akhirnya Nathan berhenti di suatu tempat. Nathan berbalik dan menghadap Jonas yang sedang mengatur nafasnya karna terlalu jauh dia berlari.


"Berani juga kau," nada Nathan sarkastik.


Dengan tatapan meremehkan, lantas Jonas menjawab, "kau pikir kalau hanya kau saja yang memiliki kemampuan diatas manusia normal, aku juga,"


"Begitu ya, kenapa aku sedikit meragukannya,"


"Aku sudah sangat tidak sabar untuk segera menghabisi mu, pria misterius yang meresahkan organisasi Black Devil. Dan jika aku berhasil membunuhmu, sudah dapat dipastikan jika aku akan mendapatkan sebuah penghargaan dari Boss pertama,"


"Sebaiknya jangan banyak bicara dan buktikan saja,"


Merasa tidak mungkin lagi menghentikan Nathan yang sudah seperti kerasukan Iblis. Jonas telah siap dengan memasang kuda-kuda bertarung.


Dibarengi pekikan, tubuh Jonas meluncur dengan gerakan yang cepat. Pedang di tangan Nathan berputar menimbulkan gesekan antara udara dan pedangnya. Sehingga Jonas harus mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menghadapi serangan Nathan yang begitu tiba-tiba. Pertarungan berlangsung sengit dan mendebarkan. Benturan antara pedang dan golok terdengar setiap kali keduanya bergerak, namun itu di awalnya saja.


Saat Nathan mulai menggunakan pistol ditangan kirinya. Jonas semakin tidak bisa berkutik, gerakan begitu seirama antara kedua tangan Nathan yang memegang senjata berlainan membuat Jonas semakin terpojok.


Beberapa saat kemudian Nathan bergerak menerjang tubuh Jonas dan mengejutkannya. Saat itu juga tubuhnya bergerak kembali setelah terlebih dahulu melambung ke atas dan mengayunkan pedangnya secara melintang.


Trang!

__ADS_1


Benturan dari kedua besi tajam untuk kesekian kalinya.


Gerakan Nathan lebih cepat lagi merubah posisi. Nathan kini sudah memegang pistol ditangan kirinya langsung mengacungkan pistol kearah perut Jonas. Dengan sangat cepat Jonas mengayunkan goloknya pada tangan kiri Nathan. Tapi sayangnya Nathan lebih cepat lagi, pedangnya diputar mengikuti arah gerakan tangan Jonas.


Pedang ditangan Nathan menggores cukup dalam tangan Jonas dan membuat golok dalam genggamannya terlepas.


Dorrr!


Meski Jonas sempat berkelit peluru mengenai bahu kirinya. Menimbulkan rasa panas seperti terbakar pada lukanya. Jonas meringis, salah satu tangannya mencengkram bahunya yang terus mengeluarkan darah.


Karena dirinya kini tak punya senjata di tangannya. Maka ia mau tak mau harus menghadapi Nathan dengan tangan kosong.


Sosok pria berambut gelap itu menatap Nathan, ia benar-benar kagum dengan sosok didepannya itu. Jonas merasa kalau ia masih jauh dibawah Nathan. Ia menyesal terlalu percaya diri sehingga ia melarang rekannya yang lain untuk membantu. Tapi nasi telah menjadi bubur.


Nathan kembali menerjang, tapi kali ini Jonas rupanya masih cukup gesit untuk menghindar. Gerakan tangan Nathan yang memegang pedang ternyata tidak kalah cepat dengan perubahan gerak Jonas yang sangat mudah terbaca olehnya.


Sabetan pedang Nathan dapat di patahkan oleh Jonas dengan menahan lengan Nathan. Nathan melepaskan pedangnya dan membiarkan jatuh ketanah. Tapi sebelum jatuhan pedang sampai ketanah, tangan kiri Nathan dengan cepat menangkap gagang pedangnya dan menyabetkan ke perut Jonas. Sempat melihat gerakan tangan Nathan, Jonas mencoba melompat kebelakang. Lagi-lagi dia terlambat.


Pakaian Jonas pada bagian perut robek, dan cairan merah tampak mengotori kain putih kemejanya. Tidak hanya itu, Jonas semakin merasakan perih pada bagian kulit perutnya. Jonas menurunkan tatapannya, matanya membelalak dan salah satu tangannya memegangi perutnya yang terluka karna sabetan pedang Nathan.


"Masih beruntung kau bukan targetku, sekarang menyingkir lah dan aku akan melakukan tugasku," suara Nathan terdengar jelas dan datar.


"Tapi aku tidak akan menyerah. Karna tugasku adalah melindungi orang yang menjadi targetmu," Jonas tidak menyerah.


Selesai berkata demikian, Nathan kembali menyerang dengan sabetan pedangnya. Menyadari hal itu Jonas segera meraih pistol yang dari awal ia selipkan di belakang pinggulnya.


Nathan berkelit menghindari jalur peluru Jonas yang mengarah padanya. Sabetan pedang Nathan dapat dielakkan tapi tendangan dan pukulan susulan Nathan yang tiba-tiba tidak dapat di hindari oleh Jonas.


"Aaahhhkk,"


Jonas terhempas jatuh kebelakang, dan belum sempat ia bangkit, Nathan telah bergerak cepat menusuk perut bagian kanan Jonas sambil menyumpal mulutnya dengan tangan kirinya sehingga Jonas tidak bisa berteriak.


Dari arah depan Nathan terdengar suara orang berlari, ia menyimpulkan kalau yang datang kali ini adalah rekan yang menyusul Jonas. Nathan mengabaikan Jonas lalu menyambut mereka baru datang dengan sangat meriah.


Dorr! Dorr! Dorr!


Terdengar beberapa kali tembakan di ikuti suara jerit kesakitan. Nathan menghabisi mereka yang lebih dari tiga puluh orang dengan brutal dan tak mengenal kata ampun. Perkelahian Nathan selesaikan kurang daru tiga puluh menit. Lantas dia berjalan menuju kediaman sasarannya. Yang pastinya di sana penjagaannya jauh lebih ketat dari penjagaan di luar.


.


.

__ADS_1


Nathan hanya menatap datar pada puluhan manusia yang tergeletak tak bernyawa di lantai. Lebih dari 90 nyawa baru saja melayang sia-sia ditangannya. Dan parahnya lagi Nathan melakukannya kurang dari satu jam.


Untuk menghilangkan barang bukti, Nathan menyiramkan bensin lalu membakar mansion itu dan melenggang pergi. Rumah itu meledak dan kemudian terbakar. Satu lagi berhasil Nathan singkirkan dan tersisa dua orang lagi.


Nathan meninggalkan lokasi dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari lokasi. Kemudian Nathan melepas semua atribut penyamaran yang melekat di tubuhnya termasuk wig dan kaca mata. Selanjutnya yang harus Nathan lakukan adalah menghilangkan jejak dengan menghilangkan barang bukti.


Kemudian Nathan menghidupkan mesin mobilnya. Dan dalam hitungan detik mobil itu melaju kencang pada jalanan malam yang legang. Mobil yang Nathan kemudikan mulai memasuki kawasan sepi di daerah pinggiran kota Seoul. Mobil itu kemudian menghilang di balik semak-semak belukar.


Namun tak lama berselang, sebuah mobil sport hitam metalik tampak melaju kencang dengan arah berlawanan dengan mobil yang Nathan kemudikan tadi.


Mobil itu kemudian melaju kencang menuju keramaian kota dan berbaur menjadi satu dengan kendaraan umum lainnya.


.


.


.


Nathan tiba dikediamannya pada pukul 00.00 tengah malam. Pria itu merebahkan tubuhnya yang terasa lelah lada sofa ruang keluarga. Pertarungannya dengan Jonas dan puluhan anak buah targetnya menguras hampir semua tenaganya.


"Oppa, kau baru pulang?" tegur Viona seraya menghampiri Nathan. "Kenapa malam ini kau pulang sangat-sangat terlambat? Apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Viona penuh selidik.


Nathan menggeleng. "Pekerjaan menumpuk,"


"Tapi kata Bima kau pulang dari jam 9, lalu kemana saja kau selama 3 jam ini? Kau tidak sedang melakukan-"


"Aku sangat lelah Viona! Jika ingin membahas sesuatu, sebaiknya besok saja," Nathan bangkit dari sofa dan pergi begitu saja.


Viona menoleh dan menatap punggung Nathan yang semakin menjauh dengan tatapan tak terbaca. "Oppa, sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku?" lirih Viona setengah bergumam.


Viona pergi ke kamarnya dan mendapati Nathan sedang berbaring dengan menggunakan salah satu lengannya untuk menutupi sebagian wajahnya. Viona menghampiri Nathan kemudian duduk di samping pria itu berbaring.


"Oppa, apa kau sudah tidur? Aku minta maaf karna sudah banyak bertanya padamu, aku hanya mencemaskan dirimu karna tidak biasanya kau pulang sampai selarut ini."


Nathan membuka matanya dan mendapati Viona yang sedang menundukkan wajahnya. Nathan meraih bahu Viona lalu membawa wanita itu ke dalam pelukannya.


"Tidak perlu dibahas lagi. Sebaiknya sekarang kita tidur, aku benar-benar lelah," ucap Nathan kemudian membawa Viona untuk berbaring disampingnya. Viona tidak menolak, dia tau jika suasana hati Nathan sedang dalam keadaan tidak baik.


Viona segera menutup matanya, dan pelukan hangat Nathan pada tubuhnya segera menghantarkan wanita itu ke dalam mimpi. Seperti Nathan, sebenarnya Viona juga sangat lelah, apalagi sejak kedatangan Tao. Pria itu tidak hanya membuatnya lelah secara fisik, tapi juga secara batin.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2