Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 14 "Akan Merebutmu Darinya"


__ADS_3

Berdiri di dek kapal sambil melihat pemandangan dan menikmati angin laut sudah menjadi rutinitas Viona selama berada di kapal pesiar. Gadis itu tidak pernah merasa jemu apalagi bosan selalu berdiri ditempat yang sama setiap harinya.


Rasanya seperti baru kemarin dia menaiki kapal pesiar ini. Namun perjalanannya hanya tersisa dua hari lagi, hari ini dan besok.


Dan setelah perjalanannya ini berakhir, semua akan kembali seperti sedia kala. Bekerja dan menghabiskan waktunya di rumah sakit untuk merawat dan menyembuhkan para pasiennya. Viona sangat berharap agar Leo bisa merubah keputusannya itu, dia sangat mencintai pekerjaannya sebagai seorang dokter dan terlalu berat untuknya meninggalkan pekerjaan yang sudah menjadi impiannya sejak kecil.


Gadis itu terlonjak kaget saat merasakan ada sepasang tangan kekar yang memeluknya dari belakang diikuti dengan seseorang yang meletakkan dagunya diatas bahunya. Gadis itu tersenyum tipis, mengangkat tangannya untuk menggenggam jari jemari yang memeluknya penuh kehangatan.


"Bagaimana kau bisa menemukanku dan tau jika aku ada di dek ini?" tanya Viona tanpa menatap lawan bicaranya.


"Karna hati kita selalu terhubung, itulah kenapa aku selalu tau dan bisa menemukan dirimu dimana pun kau berada." jawab orang itu. Viona kembali menarik sudut bibirnya kemudian menyandarkan kepalanya pada dada bidang yang tertutup kemeja hitamnya. "Mau menemaniku menikmati salah satu fasilitas di pesiar ini?" tawar orang itu kemudian melepaskan pelukannya pada tubuh Viona.


"Kemana?" tanya Viona.


"Kasino?"


Viona lantas membukatkan matanya. "Apa? Kasino? Kau ingin membuatku bangkrut?" Viona menatap Nathan tidak percaya.


Laki-laki itu terkekeh mendengar pekikan keras Viona yang begitu ketakutan akan kehilangan uang-uangnya karna kalah berjudi.


"Hahahah! Dasar kau ini. Bukan kau, tapi aku. Aku ingin melipatgandakan uangku bukan malah membuatmu bangktrut." paparnya.


"Kau ... bisa berjudi?"


"Jangan panggil aku Nathan Lu jika tidak bisa membuat bandar terdiam." ucapnya penuh percaya diri "Kenapa? Sepertinya kau tidak yakin padaku?" heran Nathan melihat kebungkaman Viona.


Nathan maju dua langkah kemudian berdiri tepat di depan gadis itu dalam jarak yang sangat dekat. Nathan membelai pipi Viona yang menatap matanya. "Ada apa?" tanyanya lembut.


Viona menurunkan tangan Nathan dari wajahnya kemudian berbalik dan berjalan menuju pagar pembatas , raut wajahnya tidak secerah sebelumnya seperti ada kabut mendung yang menyelimuti dan membuat sorot matanya meredup. "Aku takut. Aku benar-benar merasa takut." ucap Viona setengah bergumam.


Nathan menghampiri Viona kemudian memutar tubuh gadis itu agar menghadap padanya, namun Viona malah membuang muka dan menghindari tatapan Nathan. Ada kebimbangan dan ketakutan terpancar dari sorot mata hazelnya dan Nathan tau betul apa penyebabnya. "Viona, tatap mataku." Nathan menakup wajah Viona memaksa gadis itu untuk menatap padanya


"Katakan, apa yang membuatmu takut? Apa kau takut tunanganmu akan menghakimi kita?"


Viona kembali menurunkan tangan Nathan dari wajahnya. "Aku tidak ingin kau berada dalam masalah karna diriku. Aku mengenal dia dengan sangat baik. Dia itu laki-laki yang sangat berbahaya, dia tidak akan segan-segan menyingkirkan siapa pun yang berani membuat masalah dengannya dan aku takut dia akan melakukan sesuatu yang buruk padamu. Jadi aku mohon mengertilah." ujar Viona dengan mata berkaca-kaca. Nathan berbalik dan meninggalkan gadis itu beberapa langkah dibelakangnya.


"Jadi itu masalahnya? Aku ingin melihat seberapa menakutkannya dia sampai-sampai kau begitu ketakutan jika dia akan melakukan hal buruk padaku. Apa dia seberbahaya itu? Aku penasaran pada tunanganmu itu dan pasti hal ini akan menjadi semakin menarik." Nathan menyeringai tipis.


"Jangan bercanda, Nathan! Aku sangat-sangat ketakutan karna mencemaskan dirimu tapi kenapa kau malah menganggap hal ini sebagai lelucon dan sebuah permaianan." Viona sedikit naik pitam mendengar ucapan pemuda itu. Dia benar-benar tidak habis fikir dengan laki-laki bermarga Lu itu.


"Apa aku terlihat bercanda? Asal kau tau, aku tidak pernah seserius ini dalam hidup. Lagi pula tidak ada kamusnya dalam hidupku untuk takut pada seseorang." Nathan berbalik badan dan menatap lurus mata hazel Viona. Wajah laki-laki itu berubah serius "Aku pasti akan merebutmu dari pelukannya. Bahkan jika itu harus membunuhnya, aku akan melakukannya!!"


"Nathan," lirih Viona, mata Viina berkaca-kaca mendengar ucapan Nathan.


Nathan menghampiri Viona lalu mencium bibirnya. Gadis itu menutup matanya merasakan ******* bibir Nathan pada bibirnya, namun ciuman mereka tidak berlangsung lama dan Nathan segera membawa Viona kedalam pelukannya. "Aku pasti akan memperjuangkanmu, karna aku benar-benar mencintaimu." Viona menutup matanya dan membalas pelukan Nathan.

__ADS_1


.


.


.


.


"APA?? BANGKRUT? Bagaimana bisa?"


Leo tidak dapat menahan keterkejutannya setelah dia menerima telfon dari pamannya yang mengabarkan jika perusahaan milik ayahnya terancam mengalami kebangkrutan . Banyak sekali masalah yang terjadi akhir-akhir ini, mulai dari pencurian data yang dilakukan oleh orang misterius , para Investor yang mencabut sahamnya sampai para pegawai yang melakukan demo besar-besaran yang meminta gajinya segera di lunasi.


Laki-laki itu menceritakan semua yang terjadi pada perusahaan adiknya pada Leo melalui sambungan telfon. Laki-laki itu mengepalkan kedua tangannya, matanya berkobar penuh amarah. Leo ingin sekali menemukan Hacker misterius itu dan menghabisinya , Leo tidak bisa menerima hal itu begitu saja.


"Paman, temukan siapa Hacker misterius itu dan bawah dia kehadapanku." pinta Leo dan memutuskan sambungan telfonnya.


Tokk Tokk Tokk!!


Ketukan keras pada pintu mengalihkan perhatian Jinki. Pintu terbuka dan seorang pria masuk kedalam ruangan itu "Sir, are you calling me?" tegur laki-laki berwajah kebarat-barat pada Leo.


"Take care of my returns to Korea tonight too."


"Yes sir." jawab laki-laki itu dan meninggalkan ruang kerja Leo.


Leo menyeringai tajam. "Siapa pun dirimu, pasti aku akan segera menemukanmu dan aku akan menghancurkanmu sampai kau tidak akan berani melihat dunia lagi." Namun satu hal yang tidak Leo sadari, jika yang dia hadapi kali ini bukanlah orang sembarangan. Dia lebih licin dari seekor belut, dia cerdik dan licik. Dan menemukannya tentu bukan perkara yang mudah.


-


Tubuh Satya terjengkang kebelakang setelah tanpa sengaja bertabrakan dengan seseorang. Akibatnya dia merasakan sakit yang luar biasa pada pantatnya. "Aduh sakit." pemuda itu meringis sambil mengusap pantatnya.


"Ya Tuhan!! Cantik sekali gadis ini." Sontak saja Satya mengangkat wajahnya dan menatap laki-laki yang berdiri didepannya.


Laki-laki itu begitu terpesona dengan wajah cantik Satya dalam wujud wanita "Nona, mari saya bantu."


Glukkk!!


Susah payah Satya menelan ludahnya melihat kedipan genit laki-laki itu yang sesekali bermain lidah. Satya ngeri sendiri sampai-sampai bulu kuduknya berdiri "Tidak perlu." dengan kasar Satya menepis tangan laki-laki itu dan lekas berdiri.


"Bibi Sania , kenapa ditolak . Paman itu kan memiliki niat baik." seru Rio sambil mati-matian menahan tawanya. "Huaaaa!!! Paman, lihatlah Bibi Sania ingin menelanku hidup-hidup." teriak Rio melihat kedatangan Nathan dan langsung bersembunyi dibelakangnya.


"Yakkkk!!! Bocah." gerak Satya sambil mencerutkan bibirnya.


Nathan mendengus, menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka berdua. Tak lama berselang terlihat Frans datang sambil mendumal tidak jelas. Dress yang dia pake terlihat basah dibagian depannya. "Omo!" Frans memekik sambil menunjuk laki-laki yang baru saja menabrak Satya "KAU!!" sontak saja semua mata kini tertuju padanya termasuk laki-laki itu. Laki-laki itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat melihat Frans menghampirinya.


"Sakit, sakit, sakit." laki-laki itu memekik kencang saat sebuah tas berharga mahal mendarat ditubuhnya secara berulang-ulang

__ADS_1


"Nona hentikan , itu sakit."


"Kau?? Lihatlah karna ulahmu pakaianku jadi kotor dan basah. Kau harus bertanggungjawab dan ganti rugi." tuntut Franda pada laki-laki itu.


"Maaf Nona, tapi saya tadi tidak sengaja, sungguh." ucapnya penuh sesal. "Bagaimana jika kita berkenalan dan saling bertukar nomor ponsel?" usul laki-laki itu.


"Cih, aku tidak sudi." Franda mengibaskan rambutnya kemudian menarik Satya menjauh dari sana. Namun laki-laki itu sepertinya tidak mau menyerah dan mengejar mereka berdua.


"Hei Nona-Nona tunggu , setidaknya ijinkan aku mengenal kalian berdua." seru laki-laki itu dan mengejar kedua gadis jadi-jadian itu. Sementara itu, tawa Rio langsung pecah selepas kepergian Satya dan Frans. Rio geli sendiri melihat bagaimana laki-laki itu mencoba mendekati kedua pamannya yang kini menjelma sebagai wanita.


Nathan meninggalkan Rio saat merasakan getar pada ponsel yang ada didalam saku celana bahannya. Laki-laki itu memicingkan matanya melihat nama yang tertera dilayar ponselnya. "Ada apa Kai?"


'......'


"Sudah kuduga, lakukan tugasmu dengan baik. Selama aku tidak ada, aku percayakan keselamatan keluargaku padamu dan Alex terutama, Kak Senna."


'.......'


"Aku mengerti." Nathan memutuskan sambungan telfonnya dan kembali menghampiri Rio yang terlihat berbincang pada seorang gadis , Nathan mengulum senyum setipis kertas melihat gadis itu melambai padanya. "Kau disini? Aku fikir kau masih tidur dikamarmu." ucapnya lalu mencium kening gadis itu. Mereka batal pergi ke Kasino karna tiba-tiba Viona mengatakan jika dia tidak enak badan dan Nathan malas pergi sendirian.


"Mau berkeliling?" tawar Nathan yang langsung dibalas anggukan oleh Viona.


"Paman, Nunna. Jika kalian pergi lalu aku dengan siapa?" keluh Rio sambil menatap Nathan dan Viona bergantian.


"Hai tampan, dengan aku saja bagaimana?"


Dengan kaku Rio menolehkan kepalanya. Susah payah pemuda itu menelan salivanya melihat sosok seperti apa yang ada dihadapannya. Sosok itu mengedipkan sebelah matanya pada Rio. "Pait pait pait , hus jauh jauh sana." usir Rio pada sosok itu yang ternyata adalah seorang waria.


"Aisshh, kenapa sombong sekali. Ayolah tampan, kencan denganku yuk." ucap waria itu sambil mengedipkan sebelah matanya pada Jaemin.


"TIDAK SUDI, HUAAAAA!!! SIAPA PUN HEL ME, JAUHKAN WARIA ITU DARIKU. "teriak histeris Rio ditengah langkahnya.


Sedangkan Nathan dan Viona sama-sama mendengus geli sambil menggelengkan kepalanya. Dan Nathan sangat yakin jika itu adalah karma untuk Rio karna kejahilannya selama ini.


-


Lelah berkeliling, Viona memutuskan untuk ikut kekamar Natha . Pria itu tidak merasa keberatan sedikit pun dan mengijinkan Viona bermalam disana jika dia memang mau, namun tentu saja tidur secara terpisah. Mereka berdua tidak terlihat canggung lagi satu sama lain, Viona terutama. Bahkah gadis itu tidak lagi memanggil Nathan dengan embel-embel tuan melainkan oppa karna usia mereka yang terpaut empat tahun. Nathan sepantaran dengan Leo. Dan Nathan suka dengan panggilan baru Viona untuknya.


"Oppa, kau ingin makan atau minum sesuatu? Bagaimana jika kita makan malam disini saja?" usul Viona lalu mendaratkan pantatnya disamping Nathan.


"Aku rasa bukan ide buruk. Aku akan memesannya." Viona mengangguk. "Kau tunggu saja, aku akan membersihkan diri dulu." Nathan bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi.


Suara pintu diketuk mengalihkan perhatian Viona. Gadis itu meletakkan ponselnya diatas meja dan berjalan menuju pintu lalu kembali dengan makanan yang sebelumnya sudah dipesan oleh Nathan. Viona meletakkan dan menata makanan-makanan itu diatas meja.


Sambil menunggu Nathan selesai mandi. Gadis itu menyibukkan diri dengan bermain game diponselnya. Hampir lima belas menit Viona menunggu Nathan, namun tidak ada tanda-tanda laki-laki itu keluar dari kamar pribadinya. Dan Viona masih menunggu Nathan meskipun sebenarnya dia sudah merasa kelaparan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2