Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 113 "Kembar"


__ADS_3

"Oppa, aku...hamil," ucap Viona dengan wajah sudah banjir air mata.


Wajahnya saat ini telah terarah pada wajah Nathan yang juga memandang padanya dengan rasa tidak percaya, memandangnya dengan berbagai ekspresi yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Apalagi ketika Viona menunjukkan testpack yang tadi digunakannya padanya. Nathan sampai gemetar ketika menerimanya.


Dada Nathan ingin meledak ketika ia mengambil benda yang diserahkan Viona padanya. Tangan Nathan sedikir gemetar. Ada dua garis merah sejajar di tengah benda tersebut. Raut wajah pria yang selalu dingin itu menunjukkan kegembiraan sekarang.


"Kau, sungguh-sungguh hamil?" tanya Nathan memastikan.


Viona mengangguk, meyakinkan. "Benar Oppa, aku hamil," kata Viona sambil mengunci manik kanan milik Nathan. Senyum manis masih terpatri di sana.


"Viona, sungguh-" sekali lagi Viona mengangguk.


Setelah meletakan benda itu di atas meja, jari telujuk tangan kiri Nathan kemudian mengangkat perlahan dagu Viona. Diarahkan wajah cantik itu dan dengan perlahan ia menunduk mengecup lembut bibir tipis nan menggoda milik sang istri.


Dipagutnya dengan penuh perasaan bibir mungil itu selama beberapa detik. Ia tidak tahu harus berkata apa sekarang, semua perasaannya bercampur aduk. Nathan merasa senang, takjub, gembira dan semua membuncah menjadi satu di dalam dadanya.


Kini ia mulai mengerti kenapa akhir akhir ini emosi Viona selalu berubah-ubah. Terkadang dia menangis tanpa sebab yang membuat Nathan sampai kebingungan. Dan jangan lupakan permintaan aneh aneh Viona beberapa hari terakhir ini. Mulai dari ingin makan mangga langsung dari pohonnya sambil duduk ditangkal pohon, kemudian minta Nathan memakai style ala brandalan selama satu hari penuh.


Dan anehnya, Nathan tidak bisa menolak apalagi tidak mengiyakan permintaan Viona yang bisa dibilang sangat aneh tersebut. Nathan selalu mengabulkan apapun yang Viona inginkan selama dia masih bisa melakukannya, dan semua itu Nathan lakukan semata-mata karna dirinya terlalu mencintai Viona.


Nathan mengakhiri ciumannya dan menatap Viona yang juga menatap padanya. Ia merasa sangat bahagia dan seketika itu juga Nathan memeluk istrinya dengan sangat erat sambil sesekali mencium keningnya.


"Terimakasih, Sayang," ucapnya pelan sambil menempelkan kening keduanya.


Viona pun menyunggingkan senyuman hangatnya. Ia sendiri juga tidak menyangka jika akan ada miracle yang diberikan Tuhan untuk keluarga kecilnya ini.


Berjuta-juta rasa syukur tidak akan cukup untuk membalas anugerah ini. Tapi, ia berjanji akan menjaga kepercayaan Tuhan padanya dengan menjaga janin di dalam rahimnya, dia tidak akan membiarkan peristiwa yang sama kembali terulang untuk yang ketiga kalinya. Viona pasti akan menjaga titipan Tuhan dengan nyawanya. Dimana janin tersebut masih berupa embrio.


.


.


.


Pagi yang cerah telah tiba. Menggeser posisi malam dengan mengembalikan bulan pada peraduannya. Burung-burung bercicit saling bersahut-sahutan menyambut datangnya hari baru. Mentari telah membumbung tinggi, membagi sinarnya yang agung pada manusia kelelahan yang baru saja terbangun dari tidur lelapnya.


Saat ini Nathan dan Viona sedang melakukan sarapan berdua. Mereka duduk saling berhadapan dimeja makan, Bunyi dentingan sendok dan garpu menjadi pengiring bagi mereka berdua.


Tapi, Viona harus menghentikan kegiatan sarapannya karena rasa mual yang tiba-tiba melanda dirinya. Berlarilah ia menuju wastafel dapur dan memuntahkan segala isian yang ada di perutnya.


Dan Nathab yang terkejut pun menghampiri Viona. Dengan telaten ia mengelus punggung istrinya. Meski ia tampak tenang, namun di dalam hatinya Nathan sangat khawatir akan keadaan Viona saat ini.


"Sayang, hari ini aku akan mengantarmu menemui Senna Nunna," jelas Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Viona.


Viona memang belum sempat ke dokter kandungan sejak kemarin ia mendapat hasil positif dari test pack-nya. Selain itu ia juga merasa kepalanya semakin terasa berat dan tidak tahan mencium aroma sesuatu yang sangat menyengat.


Ia pun berdiri sambil kelimpungan. Membuat Nathan dengan penuh cekatan memapahnya menuju kursi ruang tamu dan memberi isyarat agar Viona menunggu sebentar.


Segera ia mengambil kunci mobil dan membawa mantel hangat yang kemudian disampirkan di pundak Viona. Mereka dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk menemui Senna.


.

__ADS_1


.


"Coba kalian berdua menghadap ke monitor!" titah Senna.


Nathan dan Viona pun seketika menghadap ke sebuah monitor. "Ini adalah benih kalian. Kapan terakhir kau mengalami menstruasi, Vi?" tanya Senna.


Tampak Viona berfikir. "Un, sekitar dua minggu yang lalu Eonni-ya," jawabnya


"Lalu, keadaannya bagaimana?" tanya Nathan penasaran.


"Tentu saja embrio di dalam rahim Viona sehat-sehat saja. Asal kalian memberinya asupan yang bernutrisi dan bergizi, jangan khawatir kalian bertiga pasti akan sehat. Dan jangan stres, sementara jgn angkat berat dulu." Nasehat Senna.


Sontak Nathan mengangkat wajahnya dan menatap Senna penuh selidik. "Apa kau bilang? Mereka bertiga? Apa artinya Viona sedang mengandung anak kembar?" tanya Nathan memastikan.


Senna mengangguk. "Bukan hanya satu embrio di sini, tapi dua,"


Nathan menoleh ke arah menitor. Ada perasaan campur aduk di dalam hatinya yang sangat sulit untuk mendiskripkannya. Antara senang dan haru mungkin seperti itulah perasaannya saat ini.


Viona pun menggenggam tangan suaminya. Jemari dingin Nathan berubah menghangat secara mendadak. Ia tahu istrinya selalu seperti ini. Kehangatannya selalu bisa melebihi matahari pagi setiap harinya.


"Sepertinya Tuhan nendengarkan doaku dengan memberikan sepasang anak kembar pada kita," ucap Viona sambil tersenyum lembut ke arah Nathan.


Nathan tertegun sejenak. Entah kenapa ia merasa ingin meneteskan sedikit bulir asin kebahagiaannya. Nathan menarik Viona kedalam pelukkannya sambil mengucapkan kata terimakasih secara berulang-ulang.


Sementara itu, Senna yang masih berada di dalam ruangan itu tidak dapat menahan rasa harunya, dan dia hanya bisa berdoa pada Tuhan semoga kebahagiaan mereka berdua bisa berlangsung selamanya.


-


Pria setengah baya yang dipanggil Tuan itu lantas menoleh. "Bagaimana perkembangannya, apa kau mendapatkan informasi yang aku minta?" tanya pria itu dengan nada dingin dan angkuh.


"Ya Tuan!! Seperti dugaan Anda, memang dia orangnya. Dan ada beberapa informasi yang berhasil saya dapatkan. Anda bisa melihatnya sendiri tanpa perlu saya menjelaskannya, karna informasi yang tertulis sangat terpetincih!!"


Pria itu menyeringai dingin. "Kerja bagus, kau boleh pergi sekarang,"


"Baik, Tuan,"


Pria itu melihat beberapa lembar foto kemudian melemparkan foto-foto itu ketas meja. "Anak haram itu, tidak disangka ternyata dia bisa tumbuh menjadi orang yang hebat. Dan itu membuatku semakin haus untuk bisa segera menghancurkannya!! Lihat dan tunggu saja, bagaimana aku akan menghancurkanmu!!"


-


"APA? BIBI VIONA HAMIL DAN KEMUNGKINAN BESAR ANAKNYA KEMBAR? KYYYAAA!! AKU AKAN SEGERA DIPANGGIL PAMAN,"


Rio tak dapat menyembunyikan keterkejutannya dan kebahagiaannya. Pemuda itu pun langsung berteriak histeris untuk mendeskripsikan bagaimana perasaannya saat ini. Tak jauh berdeba dari Rio, Satya dan Frans jiga langsung heboh. Kedua pemuda itu pun langsung jengkulitan di lantai untuk menunjukkan rasa bahagiannya yang berlimpah sehingga tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Vio, selamat ya untuk kehamilanmu," ucap Cherly dan kemudian memeluk Viona sembari tersenyum lebar. "Ini benar-benar kabar yang sangat membahagiakan, dan rasanya aku masih tidak sabar untuk menunggu hingga delapan setengah bulan kedepan," ujarya tersenyum.


"Nunna, Hyung, bagaimana kalau kita mengadakan sebuah pesta kecil-kecilan untuk merayakan kebahagiaan ini?" seru Satya berinisiatif.


"Dan khusus untuk hari ini, kami bertiga akan membuat sebuah pertunjukkan yang spektakuler dan terhebat sepanjang masa. Jadi, berikan kami sedikit waktu untuk bersiap," ujar Frans kemudian menarik Satya dan Rio untuk pergi bersamanya.


Cherly dan Viona berfikir keras akan pertunjukkan apa yang mereka lakukan. Kedua wanita cantik itu tau betul seperti apa ketiga pemuda itu, hanya saja mereka berharap itu bukanlah sesuatu yang menggelikan.

__ADS_1


BYUR...!!


Viona langsung menyemburkan minuman di dalam mulutnya setelah melihat wujud mereka bertiga. Dengan anggunnya Rio, Satya dan Frans melenggak-lenggokkan tubuhnya seperti sedang mengikuti Fashion Show . Mereka memakai pakaian wanita plus hils, make up dan wig panjang.


Mereka berjalan sambil sesekali melambaikan tangannya pada penonton yang hadir disana yang pastinya semua adalah anggota keluarga serta orang-orang terdekat saja.


Rio menghantikan langkahnya kemudian berputar di depan Viona dan menggerlingkan mata dengan gaya centilnya diikuti Satya dan Frans. Mereka tak kalah centilnya dari Rio. Dan apa yang mereka lakukan benar-benar sangat menghibur.


Nathan tiba-tiba memisahkan diri dari yang lain ketika merasakan getaran pada ponselnya. Dahinya menyernyit melihat nomor asing tertera dan menghiasi layar ponselnya yang menyala terang.


"Halo," Nathan menerima panggilan tersebut dan suara dinginnya langsung menyapa indera pendengaran si penelfon.


"Nathan Lu, aku akan datang sebagai mimpi burukmu!!"


"Siapa kau?"


"Tidak penting siapa aku, yang jelas aku adalah mimpi burukmu. Aku akan segera datang untuk menghancurkan keluargamu. Jadi bersiaplah,"


"Kau fikir aku adalah anak kecil yang akan ketakutan ketika kau gertak? Jika kau memang berani, sebaiknya datang dan hadapi aku secara jantan, jangan hanya menjadi pengecut saja!!"


"Aku pasti akan datang, jadi bersabarlah. Sebaiknya persiapkan dirimu dengan baik. Dan aku lihat kau memiliki istri yang sangat cantik. Mungkin dia yang akan menjadi sasaranku yang pertama!!"


"Jangan macam-macam kau. Karna aku akan menemukanmu dan menghabisimu sebelum kau berhasil menyentuh keluargaku!!" kemudian Nathan mematikan sambungan telfonnya begitu saja dan segera masuk ke dalam.


"Oppa, kau dari mana saja? Kenapa kau tiba-tiba menghilang?" tanya Viona penasaran.


"Tiba-tiba kepalaku pusing, kalian manjutkan saja. Aku mau istirahat," Nathan beranjak dari hadapan Viona dan pergi begitu saja. Dan sikap aneh Nathan yang begitu tiba-tiba memunculkan sebuah tanda tanya dibenak Viona.


Tanpa menghiraukan semua orang yang sedang menikmati pertunjukkan trio kadal. Viona memutuskan menggundurkan diri dan menyusul Nathan ke kamar. Dia berani bersumpah jika ada sesuatu yang Nathan sembunyikan darinya.


"Semua baik-baik saja bukan?" tanya Viona setelah berhadapan dengan Nathan.


"Hn,"


Viona merebut gelas kristal berisi wine dari tangan Nathan lalu membuangnya begitu saja hingga gelas itu pecah menjadi kepingan-kepingan kecil karna berbenturan dengan tembok. "Yakkk! Apa yang kau lakukan? Berani sekali kau mengambil minumanku!!" bentak Nathan dengan nada meninggi.


"Oppa, sebenarnya ada apa denganmu?Kenapa tiba-tiba kau jadi aneh begini? Aku tau kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku, jadi katakan ada apa?"


Nathan mendesah berat. "Tidak ada apa-apa, aki hanya merasa buruk saja. Mungkin karna pekerjaan kantor yang sedikit menumpuk," Nathan bangkit dari duduknya kemudian menarik Viona ke dalam pelukkannya. "Maaf sudah membentakmu, aku sungguh-sungguh tidak bermaksud," ucap Nathan penuh sesal.


Viona menggeleng. "Tidak apa-apa, Oppa. Baiklah jika kau memang merasa lelah, sebaiknya kau istirahat saja. Aku akan keluar sekarang,"


"Tidak, kau tidak akan kemana-mana. Tetap di sini dan temani aku," pinta Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Viona


"Baiklah,"


Nathan menutup mata kanannya. Helaan nafas berat berkali-kali dia hembuskan dari sela-sela bibirnya. Baru sebentar dia merasakan ketenangan dalam hidupnya, tapi malah muncul masalah baru. Dan tentu saja Nathan tidak akan tinggal diam. Dia pasti akan menemukan orang itu sebelum dia menyentuh keluarganya, terutama Viona.


Karna Nathan tidak akan mengampuni siapa pun yang berani mengusik ketentraman keluarganya apalagi sampai membahayakan nyawa mereka. Karna harga mahal yang harus orang itu bayar adalah dengan nyawanya!!


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2