Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 23) "Janji Zian"


__ADS_3

Zian tak beranjak sedikit pun dari sisi Luna. Pemuda itu menggenggan erat tangan Luna mencoba memberikan kekuatan padanya.


Zian tau jika yang Luna hadapi kali ini sangat berat. Dan tentu saja dia tidak akan mudah untuk menghadapinya jika hanya sendiri saja. Luna sangat membutuhkan kehadiran orang-orang terdekatnya.


Viona menghampiri Zian sambil membawa secangkir teh hangat yang kemudian dia letakkan di atas meja."Sampai kapan dia akan tak sadarkan diri seperti ini, Nunna?" Zian mengangkat wajahnya dan menatap Viona.


"Setelah efek dari obat penenangnya habis. Kau tidak perlu cemas, Zian. Luna akan baik-baik saja. Nunna, bawakan teh hangat untukmu," ucap Viona kemudian meletakkan cangkir teh itu di atas meja.


"Gomawo, Nunna-ya," ucap Zian.


Viona mengangguk. "Ya sudah, Nunna tinggal dulu. Tolong jaga, Luna. Nunna harus pulang sekarang, mungkin si kembar sedang haus dan membutuhkan Nunna,"


Zian mengangguk. "Baiklah,"


Dan selepas kepergian Viona. Di dalam ruangan itu hanya menyisahkan Zian dan Luna yang belum sadarkan diri karna masih berada di bawah pengaruh obat penenang.


Zian melepaskan genggamannya pada tangan Luna kemudian beranjak dari duduknya dan berdiri di depan jendela yang terbuka. Wajahnya mendongak menatap langit malam yang tampak gelap tak berbintang.


Semilir angin malam ini terasa lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Namun hal itu tidak lantas membuat Zian beranjak sedikit pun dari posisinya sampai ia merasakan sentuhan lembut pada lengannya. Lantas Zian menoleh dan mendapati Luna berdiri di sampingnya.


"Luna, kau sudah bangun?"


"Berapa aku tidak sadarkan diri? Dan ini ada di mana?"


"Kau berada di rumahku. Aku sengaja membawamu kemari karna aku fikir kau membutuhkan ketenangan. Lebih dari tiga jam kau tidak sadarkan diri. Dan apakah kau sudah merasa lebih baik?" tanya Zian memastikan.


"Kepalaku hanya sedikit pusing. Lalu bagaimana dengan bajing** itu?" tanya Luna.


"Dia sudah di bawah ke kantor polisi dan kemungkinan besar dia akan di penjara seumur hidupnya,"


"Kenapa hanya seumur hidup saja? Kenapa bukan hukuman mati? Karna hukuman mati lebih pantas bagi iblis seperti dia. Lalu bagaimana dengan Miranda? Apa wanita itu di penjara juga? Bagaimana pun juga dia adalah otak di balik semua peristiwa mengerikan yang menimpa keluargaku,"


Zian menggeleng. "Tidak ada yang tau keberadaannya saat ini. Miranda berhasil meloloskan diri, di duga kuat dia melarikan diri ke China bersama kekasihnya," jelas Zian.


Luna mendesah berat. "Seharusnya dia juga di penjara dan di hukum seberat-beratnya. Sampai kapan pun aku tidak akan melepaskan wanita itu, aku akan terus mengejarnya walaupun harus ke ujung neraka sekalipun. Para pembunuh papa harus mendapatkan balasannya!!"


Zian menarik bahu Luna dan membawa gadis itu ke dalam pelukkannya. "Untuk saat ini lebih baik tenangkan dirimu dulu. Aku pasti akan mencari dan menemukannya. Aku akan menyeret wanita itu ke hadapanmu, aku berjanji,"


Luna menutup matanya. Gadis itu mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Zian. "Gomawo, Zian. Karna kau selalu ada untukku. Aku tidak tau apakah aku sanggup melalui semua cobaan ini tanpa kalian ada di sampingku. Aku mohon, jangan pernah tinggalkan aku apapun yang terjadi. Kau adalah salah satu orang terpenting yang aku milik, berjanjilah,"

__ADS_1


"Aku berjanji padamu, Luna,"


-


Dean menyandarkan punggung dan kepalanya pada dinding sel penjara. Dan di tempat itulah dia harus mempertanggungkan semua perbuatannya.


Dean di tuntut dengan pasal berlapis yang semakin memberatkan dirinya. Tentang pembunuhan berencana, percobaan pembunuhan, penculikan dan menghilangkan nyawa seseorang. Bagus bukan hukuman mati yang dia terima, namun seumur hidupnya Dean harus merelakan dirinya mendekam di dalam penjara.


Dean merasa hancur dan terpuruk. Dia menyesali semuanya, dia menyesali perbuatannya. Jika saja dia tidak mempercayai Miranda dan terpengaruh olehnya, pasti semua masih baik-baik saja. Luna tidak akan membencinya dan ayahnya masih ada. Tapi nasi telah menjadi bubur, dan semua yang terjadi tidak mungkin bisa kembali.


Dan jika saja ia bisa memutar waktu. Dean ingin kembali ke masa lalu supaya dia bisa memperbaiki segala yang ia lakukan di masa lalu. Bahkan terkadang dia berharap


"Hei, kau anak baru. Kemari kau dan pijit punggungku," pinta salah seorang narapidana yang duduk di sudut ruangan bersama antek-anteknya.


Dean menoleh dan menatapnya tajam."Aku tidak sudi. Kau fikir aku babumu, minta saja anak buahmu yang melakukannya!!" Dean menolak dan melemparkan kata-kata sinis pada pria tersebut.


"Kurang ajar! Berani sekali kau menolak perintahku. Sudah bosan hidup kau rupanya?" teriak pria itu marah. "Berikan pelajaran dasar pada anak baru itu!!" perintah pria bertatto pada anak buahnya.


"Baik, Boss."


Dan tak bisa terhindarkan lagi. Dean yang hanya seorang diri di keroyok sedikitnya empat orang bertubuh besar. Dean di hajar, dipukuli dan di tendang dengan brutal oleh mereka. Dia tidak bisa berbuat apapun dan hanya bisa pasrah. Dean yang memang dasarnya tidak pandai berkelahi tentu akan sangat kesulitan melawan mereka.


"Diam kau!! Sebaiknya kau tidak usah ikut campur!!"


"Selalu saja kalian membuat masalah setiap ada orang baru, apa kalian merasa jika diri kalian itu yang paling berkuasa di sini?"


"Diam kalian, sebaiknya tak usah ikut campur jika kalian tidak ingin mampus di tangan kami."


"Yeee..!! Kita kan beda sel, memangnya apa yang bisa kalian lakukan? Memukul kami? Lakukan jika bisa,"


"Awas kalian semua,"


Sedikitnya empat petugas datang dan langsung memisahkan mereka. Dean di bawa keluar dari sel dan dipindahkan ke sel lain setelah luka-lukanya di obati pastinya. Dan apa yang Dean alami saat ini adalah buah dari semua perbuatannya.


-


Keheningan menyelimuti kebersamaan Luna dan seorang pria bernama James Andreas. Setelah memastikan keadaan Luna benar-benar membaik. Nathan pun menepati janjinya pada James untuk mempertemukan mereka berdua. Dan James pun merasa sangat senang setelah bertemu dengan Luna.


Awalnya Luna tidak tau siapa James Andreas dan apa hubungan laki-laki itu dengannya ayahnya sampai akhirnya Nathan memperkenalkan dan mempertemukan dia dengannya.

__ADS_1


"Luna, aku turut berduka atas kepergian, dokter Leonil. Aku sangat-sangat menyesalkan apa yang telah terjadi padanya,"


Luna tersenyum perih. "Mungkin itu sudah menjadi takdir papa. Tanpa banyak orang ketahui, sebenarnya papa tidak pernah dalam keadaan baik-baik saja. Hampir setiap hari papa merasakan sakit, hidupnya selalu di topang oleh obat-obatan."


"Papa selalu merasakan sakit setiap detik dan menitnya. Dan selama ini papa bertahan dan berusaha melawan rasa sakitnya hanya untuk kami berdua. Kami telah kehilangan mama dan papa tidak ingin jika kami harus kehilangan dia juga. Ya, meskipun pada akhirnya papa tetap pergi juga dengan cara yang begitu tragis. Tapi setidaknya sekarang papa sudah tidak akan merasakan sakit lagi." Ujar Luna panjang lebar.


"Luna, bagaimana pun juga aku banyak berhutang budi pada dokter Leonil. Dan biarkan aku menggantikan perannya untuk menjaga dan melindungimu. Kau bisa memanggilku paman, papa atau mungkin Oppa."


Luna terkekeh. "Jika aku memanggilmu, Papa. Orang-orang akan berfikir dan memganggapmu aneh. Pasti mereka akan menganggap jika kau menikahi seorang janda yang telah memiliki putri yang sudah dewasa. Tapi jika aku memanggilmu, Oppa. Sepertinya tidak terlalu pantas, baiklah,,, aku akan memanggilmu Paman saja,"


"Hahaha...!! Ternyata kau tidaklah sedingin yang terlihat ya, Luna. Kau adalah gadis yang hangat dan menyenangkan. Dan akhirnya aku memiliki keponakan yang sangat cantik. Dan karna kita adalah keluarga, mulai sekarang jangan pernah ragu untuk datang padaku jila kau membutuhkan sesuatu. Karna paman akan selalu ada untukmu,"


"Tentu, Paman. Dengan senang hati. Dan jangan mengeluh loh ya, kalau nanti aku akan sangat merepotkanmu,"


James mengacak rambut Luna dan menjitaknya gemas. "Sama sekali tidak. Pergilah, sepertinya jemputanmu sudah tiba," ucap James saat menyadari kedatangan seseorang di sana.


Sontak Luna menoleh dan senyum dibibirnya mengembang lebar. "Zian," serunya dan segera menghampiri pemuda itu. "Kau, bagaimana kau bisa tau jika aku ada di sini?" tanya Luna penasaran.


"Hanya kebetulan saja. Sepertinya akan turun hujan, kau mau pulang denganku atau tidak?" tanya Zian memastikan.


"Ikut, tidak mungkin bukan jika kau akan meninggalkan aku yang cantik ini sendirian di sini?" tanya Luna sambil mengibaskan rambut panjangnya. Zian mendengus geli, dengan gemas dia menjitak kepala Luna. "Zian, sakit!!!" jerit Luna sambil mengusap keningnya.


"Salahmu sendiri, kenapa kau jadi aneh begini. Tapi sepertinya sifat aslimu telah kembali, gadis barbar,"


Luna mencerutkan bibirnya. "Berhentilah menyebutku gadis barbar, Zian Qin. Lagipula itu tidak cocok denganku yang cantik dan menawan ini," sekali lagi Luna mengibaskan rambut panjangnya, dan Zian hanya bisa mendengus seraya menggelengkan kepala melihat sikap menggemaskan Luna.


"Berhentilah mengoceh, kita pulang sekarang,"


"Iya-iya, dasar Zian bawel. Paman, kami pergi dulu ya. Lain kali aku pasti akan datang menemuimu lagi dan merecoki hidupmu. Sampai jumpa," seru Luna sambil melambaikan tangannya pada James, James tersenyum dan menbalas lambaian tangan Luna.


Tapp...


Luna menghentikan langkahnya saat iris coklatnya tanpa sengaja melihat seorang wanita yang wajahnya sangat familiar turun dari sebuah mobil mewah bersama seorang pria asing. Luna terpaku, tubuhnya membeku dan lidahnya terasa keluh ketika dua pasang mutiara berbeda warna milik mereka saling mengunci dan bersiborok.


"Mama...."


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2