Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 88) "Kebiasaan Buruk Luna"


__ADS_3


Riders, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya ETERNAL LOVE (CINTA TERLARANG IBLIS DAN PUTRI LANGIT) tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗🤗


-


"LUNA!!"


Zian memekik keras ketika tiba di rumah dan mendapati Luna tergeletak tak sadarkan diri di lantai ruang keluarga. Zian meletakkan sekantong buah segar yang baru saja dia beli secara asal, bahkan dia tidak peduli meskipun beberapa buah terlihat menggelinding ke lantai.


Zian meraih kepala Luna dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya. "Luna bangun... Hei, buka matamu," Zian terus menepuk pipi Luna sambil terus memanggil dan menyeruhkan namanya. Namun tidak ada respon. "Luna, buka matamu. Hei, jangan membuatku takut. Sayang, bangun," pinta Zian untuk yang kesekian kalinya.


Kelopak mata itu terbuka perlahan. Dahinya menyernyit, kemudian Luna menyapukan pandangannya. Dia merasa kebingungan kenapa bisa tidur di lantai dan Luna semakin bingung ketika melihat wajah cemas Zian.


"Luna," seru Zian kemudian membantu Luna untuk duduk.


"Oppa, kenapa kau terlihat begitu cemas? Oh astaga," Luna berseru kemudian menepuk jidatnya. "Sepertinya aku ketiduran di sini." Lanjutnya.


"Maksudmu?"


Luna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal."Tadi aku sedang menonton drama Korea favoritku. Ceritanya mengandung bawang sampai membuatku menangis dan larut dalam cerita. Dan karena kelamaan menangis, aku kelelahan dan kemudian malah ketiduran di lantai," ujarnya menjelaskan.


Zian mendengus. Ini bukan yang pertama kalinya Luna membuat panik dirinya hanya karena kebiasaan buruknya yang suka ketiduran di sembarang tempat. Dengan gemas Zian menjitak kepala coklat Luna hanya hanya di sikapi kekehan tanpa dosa oleh wanita itu.


"Puas kau sudah membuatku panik setengah mati!! Sekali lagi kau melakukan hal ini lagi aku akan mendiamimu selama tujuh hari tujuh malam. Kau paham!!" Luna kembali terkekeh dan kemudian mengangguk.


"Baiklah, baiklah, aku salah. Aku minta maaf," Luna mengalungkan kedua tangannya pada leher Zian. Manik coklatnya mengunci sepasang mutiara abu-abu milik Zian. "Apa tidak ada Kiss untukku?" Luna menunjuk bibirnya dengan jari telunjuknya. Dan detik berikutnya bibir itu sudah berada dalam pagutan bibir Zian.


Sebelah tangan Zian menekan tengkuk Luna dan tangan satu lagi memeluk pinggang rampingnya.


Luna mengalungkan kedua tangannya pada leher Zian. Zian mencium bibir Luna dengan lembut, ciuman hangat yang penuh perasaan. Bibir Zian terus ******* bibir Luna. Zian mengangkat kedua tangannya yang kemudian dia gunakan untuk membingkai wajah wanita itu dengan mata mereka sama-sama tertutup rapat. Ciuman yang awalnya begitu lembut berubah menjadi ciuman panas yang menuntut.


"Eeeuungghhh...!!"


Lengkungan panjang keluar dari bibir Luna ketika lidah Zian berhasil masuk ke dalam mulutnya dan mulai mengobrak-abrik rongga mulutnya, lidahnya mengabsen satu persatu deretan gigi putih Luna.


Tubuhnya memberikan respon yang luar biasa terhadap setiap sentuhan bibir Zian, reaksi dari tubuhnya mengirimkan getaran menuju pita suara Luna sehingga mulutnya berkali-kali meloloskan erangan. "Eeeungghhh!!" Wanita itu kembali menggerang ketika lidahnya mengajak lidahnya menari, seperti sebuah tarian sensual nan panas yang di iringi lagu erotis yang memikat.


Sebelah tangan Zian berada di pinggang Luna, menariknya untuk membunuh jarak di antara mereka. Zian menarik dirinya sesaat untuk menatap Luna. Mata abu-abunya memancarkan gairah seperti kobaran api yang di dalam kegelapan malam.


Hampir saja Luna terjatuh dari posisi berdirinya jika saja Zian tidak semakin mengeratkan pelukkannya. Kedua kakinya bertrasformasi menjadi jelly karna ciuman Zian yang semakin menggila.


Zian merubah posisi mereka dengan membaringkan tubuh Luna pada tempat tidur tanpa melepaskan tautan bibirnya. Zian menindih sebagian tubuh istrinya dan terus ******* bibir wanita itu tanpa henti. Perlahan tapi pasti, jari-jari Zian membuka resleting pada gaun itu dan menarik turun lengan gaunnya.

__ADS_1


Kemudian bibirnya berpindah menuju bahu bak porselen milik Luna dan mengecupinya, beberapa tanda merah Zian tinggalkan pada leher dan sekitar dada wanita itu. Tubuh Luna menggeliat hebat di iringi desahan saat jari-jari Zian memilin ujung dari buah dadanya.


"O-oppa, hentikan." Rancau Luna memohon."Ki-kita bisa menyakitinya jika melakukan lebih jauh lagi, setidaknya biarkan kandunganku berusia 3 bulan." Lanjutnya.


"Aaahh."


Zian tersentak dan segera menghentikan aksi gilanya. "Maafkan aku, Sayang. Aku hampir saja melewati batas." Ucapnya penuh sesal.


Luna menggeleng. "Bukan salahmu. Sebenarnya aku juga menginginkannya, tapi kita harus bisa menahannya. Aku benar-benar lelah dan mungkin memang bukan malam ini. Tidak masalah bukan?" ujarnya panjang lebar.


"Tentu saja tidak, aku bisa mengerti. Dan Jika lelah, sebaiknya kau istirahat saja. Aku harus pergi ke suatu tempat. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan dan aku berjanji akan pulang lebih awal," tutur Zian.


"Memangnya, Oppa mau pergi ke mana?" tanya Luna penasaran.


"Menemui teman lama." Jawabnya.


Luna memicingkan matanya. "Jangan bilang jika dia itu perempuan?" tebak Luna yang langsung dihadiahi sebuah jitakan oleh Zian."Yakk!! Kenapa kau malah menjitak kepalaku?" keluh Luna mencerutkan bibirnya.


"Siapa suruh kau asal bicara!! Dia bukan perempuan, tapi laki-laki. Dia menawarkan sebuah kerjasama dan aku berniat menemuinya untuk membicarakan proyek besar itu,"


"Sungguh?" Zian mengangguk. "Oppa tidak sedang membohongiku, bukan? Bagaimana jika itu hanya alasanmu saja supaya kau bisa bertemu dengan wanita lain di belakangku?" Luna menatap Zian dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Zian mendengus. "Mulai lagi," keluh pria itu bergumam. "Kau boleh ikut jika tidak percaya. Lagipula atas dasar apa aku sampai harus bertemu dengan wanita lain di belakangku," tuturnya.


Zian menakup wajah Luna kemudian menempelkan bibirnya lama-lama pada kening wanita itu. "Aku hanya milikmu, Sayang. Kau tidak perlu mencemaskan apapun. Jangan terlalu banyak pikiran apalagi kau tidak boleh sampai stres, kasian janin di dalam perutmu. Ya sudah aku pergi dulu," Luna mengangguk.


Dan selepas kepergian Zian, di dalam ruangan itu hanya menyisahkan Luna seorang diri. Tak ingin merasa kesepian sendirian di Villa. Luna memutuskan untuk menemui Paman dan Bibi penjaga kebun, dia tidak akan kesepian jika ada mereka berdua.


-


Malam semakin larut. Udara malam kian menusuk, tapi wanita itu tak jua menutup jendela kamarnya. Bintang-bintang bertaburan memenuhi langit malam. Berkerlap-kerlip layaknya jutaan permata. Bukan tampak sempurna di singgasananya.


Angin tak henti-hentinya menerpa wajah cantiknya, mengibarkan helaian panjangnya yang selembut sutra dan terurai di atas punggungnya. Kelopak matanya tertutup, menyembunyikan keindahan netranya, merasakan setiap hembusan angin yang menerpa setiap inci kulit tubuhnya yang terbuka.


Tubuh wanita itu sedikit tersentak saat merasakan kehangat seseorang yang memeluknya dari belakang. Kelopak matanya perlahan terbuka, menampilkan sepasang mutiara berwarna coklat yang menawan, sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk lengkungan indah di wajah cantiknya.


Tanpa menoleh pun, tentu Luna sudah tau siapa yang memeluknya dengan begitu hangat."Oppa kau sudah pulang? Maaf karena aku tidak menyambutmu," bisiknya penuh sesal. Jari-jari lentiknya menggenggam hangat jari-jari besar itu.


"Aku merindukannya, bisakah kau biarkan aku menyapanya."


Kemudian Luna melepaskan pelukkan suaminya lalu berbalik badan. "Tentu saja, Oppa, karna baby Qin juga sangat merindukan sentuhan papanya." Jawabnya tersenyum.


Zian menunduk dan mensejajarkan posisi wajahnya dengan perut Luna yang membuncit. "Hei, Nak, bagaimana kabarmu hari ini? Maaf karena Papa baru sempat menyapamu lagi. Sehat selalu di dalam sana, mama dan papa akan selalu menunggumu dengan sabar." Ucapnya seraya mengusap perut Luna kemudian mendongak membuat kedua netra berbeda warna itu saling bersiborok.

__ADS_1


Dan melihat sikap Zian membuat hati Luna menghangat, ia fikir pria dingin seperti Zian akan sulit membentuk ikatan dengan janin di dalam rahimnya, tapi ternyata tidak. Bahkan Zian selalu mengajaknya berbicara setiap saat dan hal itu membuat Luna begitu bahagia.


"Oppa, kau terlihat lelah. Aku akan menyiapkan air hangat untukmu. Setelah ini kau mandilah kemudian istirahat."


Baru dua langkah berjalan. Tapi langkah Luna kembali di hentikan oleh Zian. Pria itu menarik pergelangan tangan Luna lalu membawa wanita itu ke dalam pelukkannya


"Nanti saja, dan biarkan aku memelukmu sebentar saja. Aku benar-benar merindukanmu," ujarnya berbisik.


Luna mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukkan Zian. "Aku juga merindukanmu, sangat-sangat merindukanmu. Baru beberapa jam kau meninggalkanku tapi rasanya sudah seperti berbulan-bulan. Apalagi baby Qin, dia tidak pernah mau jauh dari papanya." Tutur Luna dan semakin mengeratkan pelukkannya pada tubuh Zian.


Zian melonggarkan pelukkannya lalu membawa Luna masuk ke dalam kamar. Udara di balkon sangat dingin dan Zian tidak ingin bila istrinya itu sampai sakit karna hal tersebut. Dan sesampainya di dalam. Luna pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk Zian.


Setelah menyiapkan air hangat untuk suami tercintanya, Luna tidak langsung pergi tidur. Wanita itu duduk bersila di atas tempat tidurnya sambil membaca novel favoritnya.


Cklekk..!!


Decitan suara pintu terbuka mengintrupsi wanita itu untuk menoleh pada asal suara. Terlihat Zian keluar dari kamar mandi. Aroma maskulin berkaur di dalam hidung mancungnya saat pria itu keluar dari sana sambil mengeringkan rambutnya yang basah. "Kenapa belum tidur?" Tegur Zian melihat Luna masih terjaga.


"Aku belum mengantuk, mungkin sebentar lagi." Jawabnya tersenyum.


Setelah berpakaian lengkap, Zian menghampiri Luna dan duduk di samping wanita itu. "Kenapa jika aku perhatikan kau tampak kurusan? Pasti karena makanmu yang tidak teratur akhir-akhir ini? Apa kau masih sering muntah-muntah saat seperti ketika masih hamil muda?" tanya Zian memastikan.


Luna mengangguk. "Ya, aku sering memuntahkan apapun yang ku makan, mungkin karna hal itu tubuhku jadi agak kurusan. Dan kau tidak perlu cemas, Oppa. Karna hal semacam itu sudah biasa terjadi pada wanita yang sedang hamil." Tutur Luna panjang lebar.


"Tetap saja, Luna. Dan bagaimana aku tidak merasa cemas melihatmu seperti ini. Mungkin memang lebih baik jika aku tidak meninggalkanmu supaya aku bisa menjagamu selama 24 jam penuh," Zian memang selalu sibuk akhir-akhir ini.


"Aku sangat setuju dan mendukung keputusanmu itu."


Kebahagiaan terpancar jelas dari sorot matanya setelah mendengar keputusan Zian. Ia merasa bahagia karna itu artinya Zian akan selalu ada di sampingnya selama masa kehamilannya. Kemudian Luna menggeser duduknya dan mengalungkan kedua tangannya pada leher Zian. Menyandarkan kepalanya pada dada bindang yang tersembunyi di balik pakaiannya.


"Oppa." Panggil Luna lirih.


"Hm." Sahut Zian menimpali.


Wanita itu menggeleng. "Tidak jadi, kau pasti sangat lelah dan ini sudah malam pula. Mana mungkin ada kedai yang menjual kue beras pedas yang masih buka. Aku masih bisa menahannya. Mungkin lain kali saja, sebaiknya sekarang kita tidur. Tiba-tiba aku mengantuk." Luna melepaskan pelukkannya pada leher Zian kemudian berbaring dengan posisi menyamping.


Dan bukan Zian namanya jika tidak peka. Ia tau jika saat ini Luna sangat ingin memakan makanan tersebut, dan akan sangat jahat bila Zian tidak menurutinyam "Ganti pakaianmu, mungkin masih ada 1-2 kedai yang masih buka." Matanya langsung berbinar dan wajahnya begitu sunringah setelah mendengar ucapan Zian.


"Baiklah, beri aku waktu 5 menit untuk bersiap." Ucapnya, Zian mengngguk.


Zian sendiri tidak mengganti pakaiannya hanya menambahkan long vest berlebel Gucci sebagai luaran tanktop putihnya. Dan sekarang dia hanya tinggal menunggu Luna yang sedang mengganti pakaiannya.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2