Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 102) "Pulau Jeju"


__ADS_3


Riders tercinta, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya DIPAKSA MENIKAHI TUAN MUDA CACAT tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗


-


Luna diam termangu sesaat memandang ke ufuk barat. Setelah puas memandangi langit senja itu, Luna kembali menggoreskan jejak langkahnya di atas pasir pantai yang berwarna putih, jejak yang nantinya akan menghilang disapu air laut, sama seperti memori tentangnya.


Detik menuju menit, menit berganti jam dan matahari semakin beranjak meninggalkan dunia, tapi kenapa yang seperti itu terlihat indah? Sama seperti sang ayah yang bagi Luna selalu terlihat indah.


Luna terus berjalan dan tanpa dia sadari, dia telah sampai di area berbatu. Suara ombak berdebur menghantam karang memecah keheningan dalam pikiran dan hatinya yang kosong.


Dengan langkah perlahan-lahan dan hati-hati, Luna mulai menapaki batu-batu di pinggir pantai itu. Kemudian dia mendongakkan kepalanya ke arah langit, wanita itu mengulurkan tangan ke atas sambil tersenyum perih.


Sebuah senyuman terkembang di bibir tipisnya berharap orang yang dia rindukan tiba-tiba menampakan dirinya dan membalas senyumannya, kemudian dengan antusias aku bergegas menghampirimu.


Namun, Luna tersadar ini hanya khayalan saja, dan sampai kapanpun tak mungkin menjadi kenyataan.


Luna menyeka air matanya. Dia tau jika sosok itu tidak pernah lagi tersenyum sambil memeluknya untuk menyambut dirinya, seperti dulu. Sangat dulu.


Tapi, apakah dia tahu? Apakah dia melihatku dari langit senja itu?


Bahwa disetiap kali mengingat tenatangnya, Luna bagaikan dipaksa meneguk racun, terasa nikmat namun menyakitkan.


Bahwa disetiap ingatanya tentang ketulusan dan kasih sayangnya, ada sebuah pisau yang menyayat-nyayat hati dan batinnya.


Bahwa panas seolah membakar kedua matanya hingga mengalirkan sejuta tetes airmata ketika Luna membayangkanmu.


Luna terduduk begitu saja di atas batu-batu karang yang kasar, yang akan meninggalkan goresan luka pada kaki telanjangku, dia tidak peduli. Walaupun nantinya akan menjadi semakin perih terkena cipratan air laut.


Tak terasa setetes demi setetes airmata mengalir di pipinya, kepedihan dan rasa sakit kembali menguasai hati dan batin Luna.


Dia sudah hampir tak sanggup menahan semua derita yang di bebankan karena kepergian salah satu orang yang paling berarti dalam hidupnya. Orang yang telah mengajarkan dirinya tentang arti hidup yang sesungguhnya.


Rasa sakit yang terasa seperti di hujamkan disetiap relung hatinya. Walau Luna telah berjanji untuk selalu tersenyum, namun senyum itu hanyalah sebuah kepalsuan tanpa kehadirannya.


Sadar atau tidak. Tapi Tuan Leonil adalah energi, emosi, beserta perasaannya. Luna sangat menyayanginya. Dan memangnya putri mana yang tidak akan hancur oleh kepergian ayahnya


Dan tanpa Luna sadari matahari hampir tenggelam sepenuhnya. Sinar terakhir diujung barat perlahan menerobos helaian rambut panjangnya yang terurai, memantul di permukaan laut biru, tercermin pantulan bayangan pantai pada mata coklatnya yang sebdu.


Perlahan tapi pasti warna oranye yang terpantul pada permukaan air itu digantikan oleh pantulan titik-titik putih di atas hitam.


Sama seperti hati Luna, hitam kini berusaha merenggut paksa hari-harinya sejak kepergian sang ayah meskipun pada kenyataan ada sosok lain yang mampu memberikan warna baru dalam hidupnya.


Tapi tetap saja, dia mengharapkan kehadiran sosok yang selama puluhan tahun selalu ada untuk menguatkan dirinya ketika dia sedang rapuh, memberikan pelukan hangatnya ketika dia sedang ketakutan, mengulurkan tangannya ketika dia terjatuh, hatik maupun otak Luna terasa kosong tanpa diri kehadirannya dan dia tak bisa memungkiri hal itu.


Kini Luna tahu, walau meneguk racun, walau disayat-sayat, walau dibakar, itu jauh lebih baik dari pada hidupnya tanpa mengingat sang ayah.


"Papa, aku merindukanmu, sangat-sangat merindukanmu."Lirihnya dengan mata berkaca-kaca.


Terkadang Luna masih tidak percaya jika sang ayah telah pergi dari dunia ini untuk selamanya. Meskipun masih ada Hans sebagai ayak kandungnya, tapi rasanya begitu berbeda. Mungkin karena Luna tidak terbiasa oleh kehadirannya.


"Bibi,Luna..."

__ADS_1


Sontak saja Luna menoleh. Kedua matanya membelalak melihat Laurent yang berlari kearahnya.


"Aduh...."


"Laurent!!"


Dengan sigap Luna menangkap tubuh mungil Laurent sebelum berciuman dengan batu karang karena tidak sengaja tersandung kakinya sendiri. "Untung Bibi bisa sigap menangkapmu, kalau tidak pasti hidungmu sudah berciuman dengan batu karang. Apakah ada yang sakit dan terluka?" tanya Luna memastikan, Laurent menggeleng.


"Oya, Bibi. Semua orang panik mengira kau hilang di makan putri duyung. Ehh, ternyata kau ada di sini. Apa yang sedang Bibi lakukan?"


"Tidak ada, Bibi hanya ingin melihat langit senja saja. Oya, apakah paman Zian sudah datang?" Laurent mengangguk.


"Ya, dia baru saja tiba dan sekarang berbincang dengan papa." Jawab Laurent.


"Bagaimana kalau sekarang kita masuk dan menemui mereka?" usul Luna. Laurent mengangguk dengan antusias.


Saat ini mereka sedang berada di Pulau Jeju. Luna berangkat lebih dulu bersama kakak dan kakak iparnya serta si kembar. Dan Zian baru saja sampai karena harus mengurus beberapa pekerjaannya di kantor.


Ini adalah akhir pekan jadi wajar jika mereka memutuskan untuk pergi berlibur mengingat jika besok adalah hari libur.


"Oppa," Luna melambaikan tangannya pada Zian yang sedang berbincang dengan Nathan dan Viona.


Tanpa banyak berbasa-basi Luna langsung menubruk tubuh Zian hingga pria itu sedikit terhuyung kebelakang. "Akhirnya kau datang juga, apa kau tau jika aku sampai bosan menunggu kedatanganmu," Luna mencerutkan bibirnya.


"Maaf, Sayang. Pekerjaan di kantor lumayan menumpuk hari ini, makanya aku datang sedikit terlambat."Ucap Zian penuh sesal.


Luna menunjuk bibirnya. "Kiss, untukku mana? Itung-itung sebagai permintaan maaf,"


"Mama, jangan menutup mataku. Aku ingin melihatnya juga!! Mama tidak asik, padahal paman Rio dan paman Satya sering menunjukannya pada kami!!" protes Laurent dan membuat mata Nathan dan Viona membelalak.


"Apa kau bilang? Laurent, ulangi sekali lagi," pinta Viona menuntut..


"Iya, paman Frans dan paman Rio sering menunjukkannya pada kami," ulang bocah perempuan itu dengan polosnya.


"RIO, FRANS, KALIAN SUDAH BOSAN HIDUP RUPANYA!!!"


Hachu....


Sementara itu. Di tempat dan lokasi berbeda. Dua orang yang mereka bicarakan langsung bersin. Dan mereka berdua berani bersumpah jika ada yang membicarakan mereka.


Dan tanpa mereka sadar, saat ini mereka sedang dalam masalah besar karena sudah mengajarkan yang tidak-tidak pada si kembar.


-


Awan berarak dengan santai, seakan-akan ada roda otomatis yang membawanya melewati udara yang berembus pelan, beratapkan langit malam bertabur bintang yang luas tanpa batasan.


Angin menembus rimbunnya daun pepohonan, kehangatannya membawakan nyanyian penuh kebahagiaan di tengah musim kumpulan bunga berkembang.


Sesekali, akan ada warna pink terang tersebar lepas, mengingatkan dunia bahwa sekotor dan senista apapun kehidupan, akan selalu ada keindahan tak ternilai yang tersimpan. Ada warna-warni dalam hidup yang penuh arti.


Dua bola mata coklat jernih bereaksi pada gerakan dan warna tertentu, tangan yang terbuka diangkat dan terkatup untuk menangkap.


Pemilik mata itu menatap sekilas pada benda yang tergenggam jari-jari lentiknya, sehelai mahkota sakura dengan segarnya yang menjadi warna simbol dari musim semi.

__ADS_1


Telapak tangannya terbuka, membiarkan sang mahkota merah muda untuk kembali melanjutkan perjalanannya di udara. Yang kemudian terbawa angin dan terbang entah kemana.


Luna tersentak kaget saat ia rasakan sepasang tangan kekar melingkari pinggangnya dan memeluknya erat. Ia merasakan berat di pundak kanannya. Dan hembusan nafas seseorang. Ia tidak perlu membalikan tubuhnya, ia sudah tahu siapa yang melakukan ini.


"Oppa, bagaimana kau bisa tau jika aku ada di sini?" Luna melirik kebelakang melalui ekor matanya. Jari-jari lentiknya kemudian bertumpuh pada tangan Zian yang memeluknya.


"Tentu saja bisa, karena hati saling terhubung," jawabnya.


Luna menyandarkan kepalanya pada dada bidang Zian yang tersembunyi apik di balik vest abu-abunya. Kedua matanya perlahan tertutup ketika merasakan hangatnya pelukkan Zian pada tubuhnya.


"Lenganmu terasa dingin, Oppa."


"Tentu saja karena aku memakai pakaian lengan terbuka,"


"Ahhh, benar juga. Oppa, kau lihat bintang di sana? Aku yakin jika ketiga bintang yang paling terang itu adalah perwujudan dari mama, papa dan baby Qin. Dan jika saja dia masih ada, pasti sudah waktunya dia lahir ke dunia ini. Oppa, aku ingin suatu saat nanti di kembali ke dalam pelukan kita," tutur Luna. Suaranya terdengar sedikit parau seperti menahan tangis.


Zian melepaskan pelukannya kemudian memutar tubuh Luna. Zian menarik bahu Luna dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya.


"Kita berdoa saja pada Tuhan, karena Tuhan akan mengabulkan permintaan umatnya jika mereka meminta dan memohonya dengan sungguh-sungguh,"


Dan kali ini Luna tak menjawab lagi. Wanita itu membenamkan wajahnya dan kembali terisak dalam pelukan suaminya. Selama beberapa saat kebersamaan mereka hanya di isi keheningan dan kesunyian.


Saat di rasa mulai tenang. Zian melepaskan pelukannya. Jari-jari besarnya menghapus lelehan bening yang mengalir dari pelupuk mata Luna.


"Ayo masuk, aku tidak ingin jika kau sampai sakit jika terlalu lama berdiri di sini. Ucapnya yang kemudian di balas anggukan oleh Luna. Dan keduanya pun berjalan beriringan masuk ke dalam ruangan.


-


Tidak terasa, setelah melalui beberapa musim, akhirnya tibalah musim yang ditunggu-tunggu oleh Luna datang juga. Hamparan bunga Canola berwarna kuning ikut menghiasi indahnya musim semi di Pulau Jeju ini.


Di pulau Jeju, musim semi datang lebih awal dibanding dengan wilayah Korea lainnya. Alasan itulah yang membuat Luna lebih memilih mengunjungi Pulau Jeju agar ia bisa lebih cepat melihat datangnya musim semi.


Dengan tenang, Luna berjalan menyusuri hamparan bunga Canola sambil merentangkan sebelah tangannya. Tak jarang dia memotret objek yang menarik perhatiannya. Luna kembali melanjutkan langkahnya. Mata coklatnya tersenyum melihat sebuah pohon sakura yang terletak di bagian timur hamparan bunga tersebut.


Setelah mendapatkan posisi yang nyaman, ia pun duduk di bawah pohon sakura yang bunganya terus berguguran. Luna memejamkan matanya menikmati sejuknya udara musim semi yang begitu khas dan terasa harum oleh bunga-bunga yang bermekaran.


"Bibi...."


Luna menoleh setelah mendengar suara cempreng seorang gadis kecil yang memanggilnya.


Mata Luna membelalak melihat gadis itu berlari kemudian melompat kedalam pelukannya. Keduanya sama-sama terguling di atas hamparan merah muda kelopak bunga sakura yang terus berguguran.


Laurent tidak hanya datang sendirian saja. Dia datang bersama kedua orang tuanya serta Zian. Viona langsung bergabung bersama adik dan putrinya. Sementara Lucas memilih tetap bersama ayah dan pamannya, dia paling malas melakukan hal yang kekanak-kanakan.


"KYYYAAA!! MAMA, BIBI HENTIKAN. KALIAN MEMBUATKU NGOMPOL LAGI...!!" jerit Laurent histeris.


"Hahahaha..."


Nathan dan Zian tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum. Melihat kebahagiaan mereka bertiga membuat hati mereka menghangat....


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2